The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 53 - Festival Saling Benci



Langit tampak membiru, hanya ada sedikit awan yang berarak. Seolah merestui jalannya festival yang sedang dilaksanakan di dekat Pantai Kuta.


Risa dan teman-temannya sedang merapikan barang kebutuhannya. Termasuk kanvas, cat air, kuas dan alat melukis lainnya.


Berbeda dengan Juni yang tengah berkutik dengan peralatan musiknya. Jurusan Seni Musik kena giliran di sore hari menjelang malam. Karena itulah mereka terlihat sangat santai.


Kebetulan stan Juni dan Risa saling berhadapan. Sedari tadi kedua sahabat itu saling bertingkah tak acuh. 'Kenapa dia di sana coba? menurunlan mood-ku saja!' kesal Juni dalam hati sembari menyunggingkan mulut ke kanan.


'Kenapa aku jadi kesal ya sama Juni! aku rasa dia benar-benar tidak mau memperdulikanku lagi! kalau sudah begini aku juga nggak akan peduli lagi dengannya!' batin Risa seraya mencoret-coret kanvasnya dengan cat.


"Ris, kamu gambar apa? setan?" tegur Winda pada Risa yang sedang menggambar manusia bertanduk di kanvasnya.


"Kok tahu? tuh aku sedang gambar tuh orang!" balas Risa yang menunjuk Juni dengan dagunya.


"Juni?" Gita yang baru saja datang sontak mengernyitkan dahi. "Bukannya kamu bilang menyukainya?" tanya-nya.


"Aku menyerah! aku sekarang membencinya!" tegas Risa yang melotot ke arah Juni.


"Tapi Juni masih tampan ya meski ada tanduk di kepalanya!" ucap Gita seraya mengamati gambaran Risa yang mulai menampilkan wajah Juni.


"Apa? masih tampan?!" Risa menggertakkan giginya, lalu menghempaskan kanvas ke tanah dan menginjak-injaknya puluhan kali.


"Eh! eh Ris!" Winda dan Gita berusaha menenangkan Risa.


"Eh Risa kenapa tuh!" imbuh Ello yang menatap bingung ke arah Risa. Juni yang mendengar sontak ikut mengalihkan atensinya kepada gadis berambut merah muda tersebut. Setelah berhasil menjadi pusat perhatian orang, Risa segera berlari entah kemana.


"Aku nggak jadi deh naksir dia, kayaknya tuh cewek emosian!" ungkap Ello sembari menggidikkan bahunya. Alhasil Juni langsung melayangkan pelototannya.


"Kenapa Jun? bukannya kamu juga benci sama Risa?" timpal Ello yang tidak terima dirinya mendapatkan pelototan dari juniornya. Juni lantas menundukkan kepala dan kembali menyibukkan diri dengan alat musiknya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris dari kaum hawa. Juni yang mendengar hal itu langsung mencari penyebab teriakan tersebut. Hingga atensinya terpusat pada Jay yang sedang berjalan sambil membawa buket bunga. Lelaki tampan keturunan Inggris itu terlihat celingak-celingukan untuk mencari Risa.


'Ish! sebelum dia mengenaliku lebih baik aku pergi dari sini!' kata Juni dalam hati seraya bergegas pergi dari stan-nya.


Berbeda dengan Risa yang sedang menenangkan diri sendirian di tempat yang teduh.


"Oh kau di sini!" suara yang tidak asing menyadarkan Risa dari lamunannya.


"Jay?" Risa mengerutkan dahinya. Jay menghampiri Risa dan ikut duduk di sampingnya, lelaki tersebut langsung memberikan buket bunga yang sedari tadi dia bawa.


"Ish! apaan nih? lebay banget, aku nggak suka yang kayak beginian Jay!" timpal Risa yang meringiskan wajahnya.


"Aku tahu, tetapi aku punya alasan membawa buket ini," tutur Jay pelan.


"Apaan?"


"Ya kau tahu, ini mengenai perasaanku. . ." balas Jay, yang kemudian menghela nafas gugupnya.


"Kau jatuh cinta padaku?" tebak Risa yang sudah tahu.


"Terima kasih, aku tidak perlu mengucapkannya lagi karena kau bisa menebaknya!" keluh Jay yang agak sedikit kecewa.


"Hahaha! sudahlah Jay. Jujur aku tidak mencintaimu, tetapi aku akan memberimu kesempatan. Karena aku sekarang sedang sangat membenci orang yang ku-cinta. Jadi gunakan kesempatanmu baik-baik!" ungkap Risa, yang langsung membuat Jay mengukir senyuman semringah diwajahnya.


"Pasti! aku tidak akan menyia-nyiakannya!" sahut Jay.


"Tapi bukannya kau akan kembali ke London nanti?" tanya Risa.


"Aku masih punya banyak uang, jadi kemungkinan masih lama baliknya. Mungkin nanti aku akan mengunjungi rumahmu di Jakarta!" kata Jay sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Beberapa hari lagi!"


"Kamu nggak usah pulang sama rombongan deh, nanti aku aja yang antar!" usul Jay.


"Idih! modus banget!" Risa menggeleng tak percaya dengan sedikit terkekeh. "Aku mau ke toilet dahulu ya!" lanjutnya, lalu bergegas melangkahkan kaki.


Ketika hendak berjalan menuju toilet, Risa tidak sengaja bertemu dengan Juni. "Sini Ris, aku mau bicara!" Juni tiba-tiba menarik tangan Risa dengan paksa untuk membawanya ke suatu tempat.


"Apa sih Jun! bukannya kau sudah nggak peduli sama aku?" Risa menarik tangannya.


"Kamu kenapa tadi mengamuk begitu hah? kamu tahu nggak orang-orang jadi pada ngejek kamu?!" tukas Juni.


"Terserahku dong! aku bilang ya sama kamu Jun, aku nggak bakalan cinta lagi sama kamu. Mungkin saja aku akan pergi lagi ke London!" balas Risa yang tak ingin kalah.


Juni memutar bola mata jengah. "Siapa suruh jatuh cinta kepadaku? siapa suruh kamu kembali lagi?" ucapnya yang terdiam untuk menghela nafas, lalu melanjutkan dengan memekik nyaring, "aku nggak pernah meminta!!!"


Risa mulai melangkah mundur, dia merasa sangat kecewa dengan pernyataan yang baru saja dituturkan Juni. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca, namun gadis itu tidak akan dengan mudahnya membiarkan air matanya terjatuh begitu saja.


"Oke, jangan pernah bicara lagi denganku!!!" geram Risa seraya mengatur nafasnya yang mulai naik turun akibat amarahnya.


"Itu hal yang mudah!" balas Juni. Selanjutnya keduanya pun saling berpisah dan pergi ke tujuannya masing-masing.


Di sisi lain, Rahma sedang bersolek di depan cerminnya. Ibu kandung dari Juni itu hendak menikmati makan malam bersama seorang pria. Iya, dia hendak pergi berkencan.


"Hufh! tidak apa sekali-kali mencoba kan? atau aku tanya sama anak-anakku dahulu ya?" gumam Rahma yang berbicara kepada pantulannya sendiri.


Ceklek!


"Sofi?" Rahma membuka pintu kamar anak bungsunya. Alhasil Sofi pun segera terperanjat dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba.


"Mamah! bikin aku kaget aja!" keluh Sofi sembari menyimpan ponselnya ke bawah bantal.


"Memang kamu sedang apa? sampai segitu terkejutnya?" Rahma mengerutkan dahi.


"Nggak apa-apa kok!" bantah Sofi tanpa menatap lawan bicaranya. Tetapi dia baru sadar bahwa penampilan sang ibu agak berbeda kala itu.


"Mamah mau kemana?" tanya Sofi.


"Itulah yang ingin Mamah bicarakan padamu," Rahma perlahan duduk di samping Sofi.


"Apa kamu berkenan jika. . . ji-jika. . ." Rahma terdiam sejenak karena merasa enggan bicara.


"Jika apa Mah?" desak Sofi yang semakin dibuat penasaran.


"Jika Mamah memulai hubungan baru, maksudnya. . ." Rahma masih enggan menjelaskan.


"Pffft! Mamah kenapa jadi gugup begitu? aku setuju kok kalau Mamah bisa memulai lagi. Asal lelaki itu baik seperti Ayah! kan beberapa tahun ini Mamah kesulitan mencari uang untukku dan Kak Juni. Apalagi membayar biaya kuliah Kak Juni yang mahalnya minta ampun!" balas Sofi panjang lebar, yang sontak membuat mata Rahma berembun.


"Kok Mamah malah nangis?" protes Sofi, yang kemudian langsung mendapatkan pelukan dari sang ibu.


Tak! Tak! Tak!


Rahma melangkahkan kakinya. Dia sudah sampai di restoran tempat makan malamnya. Hingga seorang lelaki yang duduk sendirian melambaikan tangan kepadanya. Alhasil Rahma pun segera menghampiri lelaki tersebut yang tidak lain adalah Bayu.


"Sudah lama?" tanya Rahma.


"Enggak! baru aja!" jawab Bayu lembut.