
Mendengar kabar bahwa namanya didaftarkan untuk ikut tampil di acara prom. Juni merasa sedikit geram dan menatap tajam Agus. Alhasil Agus pun berbalik dan segera berlari menjauh dari Juni secepat mungkin.
Juni langsung berlari mengejar Agus. Risa dan Irfan pun mengikuti dari belakang. Namun beberapa saat kemudian lari Juni mulai melambat, nafasnya tersengal-sengal. Hal itu sontak membuat dia segera menghentikan langkah kakinya. Lelaki itu memegang kedua lututnya dengan tangan. Dia tampak berusaha mengatur deru nafasnya.
Risa menepuk pundak Juni pelan, dan langsung berlari melewatinya. Gadis tersebut mengambil alih keinginan Juni yang ingin segera menyusul Agus. Berbeda dengan Risa, Irfan menghentikan larinya dan bergabung bersama Juni. Dia melingkarkan tangannya ke pundak sahabat karibnya itu. Perlahan keduanya langsung melayangkan pantat mereka ke kursi panjang yang ada di dekat sana.
"Risa..." ujar Irfan yang tersengal-sengal seraya menunjuk ke arah Risa yang sudah berlari.
"Biarkan dia yang mengurus Agus!" sahut Juni pelan.
"Dia... lebih galak dari aku soalnya!" sambungnya lagi, yang sekarang memegangi dadanya.
***
Agus terus berlari, dia beberapakali hampir menabrak orang-orang yang ada didepannya. Namun, dia bisa menghindarinya dengan gesit. Setelah mentok hingga ke belakang sekolah, barulah Agus menghentikan larinya. Raut wajahnya terlihat sangat lega. Namun ketika berbalik ke belakang, dia langsung tersentak kaget dengan keberadaan Risa. Gadis itu tampak mengernyitkan dahi sambil menyilangkan kedua tangannya. Kaki sebelah kanannya tampak dia gerak-gerakkan, seakan mendesak Agus untuk segera berbicara.
"Oke Ris! aku bisa jelasin!" ujar Agus yang perlahan mendekati Risa.
"Kalau begitu kamu harus bicara sama Juni!" sahut Risa dengan pelototannya. Namun Agus hanya terdiam, seakan dia tidak ingin menerima ajakan Risa. Tanpa pikir panjang, Risa pun segera menyeret Agus agar bisa ikut dengannya menemui Juni.
"Ris! Ris! Ris!" Agus terdengar terus mengeluh. Tenaganya sebagai seorang lelaki, tidak bisa melepaskan cengkeraman Risa di baju putihnya. Agus mulai merasa malu ketika gadis itu sudah menyeretnya di tengah-tengah murid lainnya. Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian.
Ada beberapa siswa yang mengejek Agus, karena tidak cukup kuat melawan Risa. Namun Agus tahu betul bahwa teman-temannya tersebut, hanya bermaksud bercanda padanya.
Dari jauh tampak Juni dan irfan berlari kecil yang perlahan mendekat. Saat melihat Agus, Juni pun langsung mempercepat larinya agar bisa lebih cepat menghampirinya.
Tanpa pikir panjang Juni segera mencengkeram kerah baju Agus dengan sebelah tangannya. Risa pun secara perlahan langsung melepaskan tangannya dari baju Agus.
"Gus kenapa kau lakukan itu?! kamu sebagai temankan harusnya tahu apa yang aku mau dan yang tidak aku mau!!!" Juni terlihat marah dengan dahi yang berkerut.
"Sudah! sudah Jun! kita omongin baik-baik dulu!" Risa mencoba menengahi perselisihan antara Juni dan Agus.
"Iya Jun! kita bicarakan baik-baik!" sahut Irfan juga yang tidak ingin melihat kedua sahabat baiknya saling berselisih.
Akhirnya Juni pun melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Agus. Mereka berempat pun mencari tempat yang tenang agar bisa meredakan kekesalan Juni. Mereka berkumpul di salah satu gazebo yang berada di halaman sekolah, dan pastinya tidak jauh dari kelas.
***
"Sebenarnya ini bukan masalah besar sih, tapi ini hal yang besar buat Juni," Risa mencoba mengawali pembicaraan. Juni hanya terdiam, meskipun belum berada di panggung, dia sudah terlihat gugup. Sesekali dia mengusap keringat yang perlahan menetes di kedua pelipisnya.
"Maaf Jun, aku cuman mau kamu lebih beraksi aja gitu. Aku nggak mau bakat yang kau punya jadi sia-sia dan dipendam terus..." jelas Agus dengan pelan.
"Gimana Fan, Ris? kalian juga yakin kan kalau itu pilihan yang terbaik buat Juni. Zona nyaman itu nggak selalu bikin nyaman loh!" sambung Agus lagi yang terdengar meyakinkan bagi Risa dan juga Irfan.
"Agus bener kok Jun!" Risa menyahut dengan lantang, dan langsung membuat Juni tertegun.
"Aku juga capek liat kamu di ejek orang mulu, setidaknya kamu bisa nunjukkin sama mereka bahwa kau juga punya kelebihan!" sambung Risa lagi dengan kernyitan dahi dan menatap tajam Juni.
"Tapi aku kan nggak sehebat yang kalian pikirkan!" Juni membalas tatapan tajam Risa.
"Kamu lumayan hebat kok!" celetuk Irfan tiba-tiba menatap Juni yang sedang duduk tepat di sampingnya.
"Lumayan doang kok, nggak sehebat itu!" sahut Juni ketus.
"Nah mulai lagi kan, plis deh sekali ini aja!" Risa memohon sambil memegang lengan Juni lembut.
Juni hanya terdiam seraya membuang muka dari ketiga sahabatnya itu. Perlahan dia berdiri dan segera beranjak pergi tanpa sepatah kata pun.
"Jun! aku akan beri kamu waktu satu hari ya buat berpikir!!!" pekik Agus pada Juni yang sudah berjalan jauh.
Plak!
Mendengar teriakan Agus, Irfan langsung memukul pundaknya, karena merasa apa yang dikatakannya akan memperkeruh masalah.
"Sudahlah Gus! kayaknya Juni marah tuh, kamu sudah tahu betul kan dia nggak suka hal beginian! jangan terlalu memaksakan!" tegur Irfan sembari mengernyitkan dahinya.
"Fan, biarkan saja dulu. Aku setuju kok sama pilihan Agus, kita tunggu saja besok keputusan Juni!" sahut Risa yang mencoba meyakinkan. Irfan hanya menganggukkan kepala dengan pelan, karena terpaksa menyetujui pilihan telak dari kedua temannya itu.
***
Saat bel pertanda pulang sudah berbunyi, Juni tampak masih terdiam di bangkunya. Mencoba membiarkan Risa pulang lebih dulu. Risa tampak berjalan begitu saja keluar kelas, seakan sudah paham bahwa Juni tidak ingin pulang bersamanya hari ini.
Saat suasana sekolah sudah sepi, barulah Juni melangkahkan kakinya keluar kelas. Tidak ada kekalutan dalam pikiran Juni kala itu, karena keputusannya sudah sangat bulat agar tidak ikut tampil menyanyi di acara prom nanti.
Ketika Juni melangkahkan kaki ke arah parkiran, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang gadis yang duduk sendirian di gazebo. Dia adalah gadis yang sering diperhatikan Juni akhir-akhir ini. Dialah Amelia, wajahnya tampak lesu seakan ada sesuatu hal yang mengganggunya.
Juni langsung berhenti melangkah, menatap Amelia dari samping. Hatinya sedikit berdebaran saat melihat gadis tersebut. Dia bahkan merasa kebingungan apakah harus berjalan melewatinya atau tidak, karena satu-satunya jalan menuju parkiran adalah melewati gazebo itu.
Juni menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha mengumpulkan rasa percaya dirinya. Agar bisa berjalan dengan normal didepan Amelia. Namun, tanpa diduga mata Amelia dan Juni tiba-tiba bertemu. Amelia tampak memberikan senyuman manisnya pada Juni.
Deg!
Jantung Juni berpacu lebih cepat, dia berusaha bersikap senormal mungkin untuk bisa membalas senyuman Amelia.
Dari seberang jalan tampak seorang gadis yang menonton kejadian itu. Gadis tersebut menampakkan raut wajah serius seraya memegang sepatu roda ditangan kanannya.