The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 40 - Dalam Benak Juni



'Memang harus aku akui bahwa Risa mulai menarik perhatianku. Meskipun begitu, rasa cintaku masih tetap bertahan untuk Amel. Apa aku egois? membiarkan mereka terus berada di dekatku? Aku tidak bisa meninggalkan Amelia yang sudah menemaniku di masa-masa kesulitan. Sama halnya Risa, dia sudah seperti orang yang tidak mampu aku tinggalkan sejak kecil. Ya Tuhan, bantulah aku untuk memberi kepastian. Bagaimana pun caranya.' Juni memejamkan mata sambil merebahkan diri dengan pikiran yang berkecamuk.


"Kak Juni. . ." suara bisikan seketika membuat Juni terperanjat dan langsung membuka mata lebar-lebar. Penglihatannya disambut dengan keberadaan adik perempuannya yang sudah duduk di sampingnya.


"Sofi? kamu kenapa datangnya kayak hantu gitu sih!" geram Juni yang melotot kepada sang adik.


"Ish! kakaknya aja yang nggak dengar-dengar aku panggil! lagi mikirin apa Kak?" Sofi ikut merebahkan diri di sebelah kakaknya.


"Urusan orang dewasa, anak ingusan nggak boleh tahu!" balas Juni dengan nada datar.


"Idih! aku udah SMA loh Kak, sudah dewasa banget." Sofi menatap Juni sinis.


"Huaaaah. . . aku ngantuk." Juni perlahan memejamkan mata.


"Eh, kok malah tidur? Kak Juni! ada yang mau aku tanyakan nih!" Sofi menggoyangkan badan kakaknya sekuat tenaga.


"Dasar nih anak! tanya apa?"


"Cowok itu kalau diberi hadiah, baiknya di kasih barang apa ya? aku ingin minta pendapat Kakak," ujar Sofi dengan penuh harap.


"Ih! mau ngapain kamu?" Juni meringiskan wajah.


"Adalah ya, orang tua nggak perlu tahu urusan anak muda!" balas Sofi sembari memanyunkan mulutnya. Namun segera mendapatkan pukulan dari sang kakak.


Plak!


Juni memukul Sofi tepat di bibir. Yang seketika membuat adiknya mengernyitkan dahi. "Sakit Kak! ayo cepat beritahu aku lah!"


"Entahlah, mungkin sabuk segitiga bisa berguna. Hahaha!" canda Juni seraya bergelak tawa.


Bug!


Sofi memukuli kakaknya dengan bantal karena merasa dibuat begitu kesal. "Ih! membuang waktuku saja!" geram Sofi sambil bangkit dari kasur.


"Eh kok pergi? ya udah sini-sini aku kasih tahu!" Juni mengubah posisinya menjadi duduk.


"Bener ya? awas kalau bohong!" Sofi kembali duduk di samping sang kakak. Alhasil Juni pun berbisik ke telinganya dan berkata, "Kamu itu masih kelas sebelas SMA, lulus dahulu baru pacaran ya!"


Bruk!


Sofi mendorong sang kakak dengan wajah cemberut, lalu beranjak pergi keluar kamar. Juni yang menyaksikan kekesalan sang adik menikmati tawa gelinya.


Tidak beberapa lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Juni yang sedang memejamkan mata, tetapi belum tertidur merasakan seseorang duduk di sebelahnya.


"Ya elah, ngapain balik lagi. Sudah aku bilang, kamu belajar dahulu baru boleh pacaran!" ucap Juni yang menduga orang di sampingnya adalah Sofi.


"Jun!" suara Risa membuat Juni segera membuka matanya kembali.


"Risa! ngagetin aj--" Juni terkesiap melihat penampilan Risa yang sudah rapi dengan dress berwarna merah, ditambah jaket berbahan kain jeans sebagai pelengkap. Maskara dan eyeliner yang tidak pernah ia pakai tampak terpadu indah menambah kecantikan diwajahnya. Rambut merah mudanya juga tergerai dengan rapi.


"Ka-kamu mau kemana?" tanya Juni yang sudah merubah posisi menjadi duduk.


"Kamu lupa lagi dengan janji kemarin?" Risa berbalik tanya.


"Oh itu? kamu mau pergi sekarang?"


"Pakai itu untuk kencan kita!" titah Risa dengan wajah serius. Dia memberikan baju khusus untuk dipakai oleh Juni.


"Eh tapi Ris! hari ini aku ada ujian tertulis, gimana dong?" Juni merasa tidak enak.


"Ya sudah, kau bisa pergi ujian dahulu. Nanti kita bertemu di tempat yang sudah aku pilih ya. Aku akan kirimkan alamatnya lewat aplikasi pesan." Risa mulai mengutak-atik ponselnya.


"Baiklah!" Juni mengangguk pelan.


***


Setelah menyelesaikan ujian, Juni bergegas pergi ke toilet untuk mengganti pakaian. Dia memakai baju yang diberikan oleh Risa. Kemudian segera merapikan rambutnya di depan cermin.


Drrrt. . . drrrt. . .


Ponsel Juni tiba-tiba berdering. Dia melihat nama kekasihnya di layar. Tanpa pikir panjang Juni langsung mengangkat panggilan dari Amelia. Dirinya mendengar suara sang kekasih yang sedang menangis sesegukan. Juni pun segera pergi ke rumah sakit secepat mungkin.


Di sisi lain, Risa masih setia duduk di sebuah cafe populer yang dia pilih. Beberapa kali gadis itu menoleh ke jam yang melingkar di tangan kirinya. Dia hanya bisa menghela nafas kala melihat waktu sudah larut.


"Ih! Juni kemana sih! aku hampir lumutan gini!" gumam Risa dengan dahi yang berkerut. Dia lantas mencoba menghubungi Juni, namun ponsel sahabatnya tersebut tidak aktif.


"Misi Mbak, lagi sendiri?" seorang lelaki muda yang tampan menghampiri Risa.


"Nggak Om! aku nunggu pacarku!" tegas Risa dengan sarkasnya, yang seketika membuat si lelaki tampan menggeleng kesal.


Waktu terus berlalu, Juni masih berusaha menenangkan Amelia yang tak berhenti menangis. Akibat keadaan ibunya yang kritis, ditambah karena sedang dirundung kebingungan membayar biaya operasi.


"Mel, aku akan membantu. Kamu tenang saja!" Juni membawa Amelia masuk ke pelukannya.


"Nggak, nggak perlu Jun. Aku sudah banyak berhutang kepadamu!" Amelia menggeleng, dia mengingat pengorbanan Juni yang sudah banyak membantu membayar biaya pengobatan ibunya.


"Aku tulus kok! sudahlah Mel, ibumu pasti baik-baik saja." Juni kembali menenangkan.


"Hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki Jun," ujar Amelia sembari mengusap air mata yang menetes di pipi. Juni hanya terdiam, dan mengelus pelan pundak sang kekasih.


Bruk!


Risa memukulkan tangannya ke meja. Nafasnya mulai naik turun, sekarang hari sudah malam. Bahkan pelanggan yang ada di cafe sudah datang silih berganti. Hanya dirinya yang masih setia duduk sendirian menunggu.


"Juni kemana sih!" sudah puluhan kali Risa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Berharap bisa menyaksikan kemunculan sahabat yang ia cintai.


Malam semakin larut, hingga pelayan memberitahukan bahwa cafe akan segera tutup. Risa merespon dengan anggukan pelan kepalanya. Perlahan gadis itu matanya mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya air matanya menitik ke pipi.


Risa mencoba membendung tangis, namun dia tidak bisa melawan sakit hatinya. Alhasil dia pun membiarkan tangisnya pecah. Para pelayan yang tidak sengaja menyaksikan hal tersebut, sengaja memperlambat penutupan cafe. Mereka merasakan empati terhadap seorang gadis yang tengah menangis sendirian.


"Uhuk! uhuk! uhuk!" Risa terbatuk. Tetapi lebih parah dari biasanya.


"Eh Mbak-nya nggak apa-apa?" salah satu pelayan sontak menghampiri karena merasa khawatir.


"Tidak, uhuk! uhuk! aku. . . uhuk!" Risa mencoba bangkit dari tempat duduknya. Pandangannya mulai kabur, sekarang dia berjalan dengan sempoyongan. Batuk terus berlanjut. Rasa pusing mulai menusuk kepalanya, namun dia terus memaksakan diri untuk melangkah.


"Mbak!" pelayan pun memekik keras saat menyaksikan Risa sudah terjatuh ke lantai.