
"Sudah jam tujuh malam nih, lebih baik kita bergegas!" ujar Risa setelah memeriksa jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Benar juga. Ngomong-ngomong kau punya rekomendasi restoran yang bagus?" tanya Jay dengan mimik wajah polosnya.
"Hah? aku kira kamu sudah siapin semuanya Jay!" Risa terperangah. Dia pun segera mengambil ponselnya untuk mencari info restoran yang bagus. "Kenapa kau tidak mencarinya lewat internet?" tambahnya.
"Bisa aja Ris, tapi kau tahu kan aku tidak percaya sepenuhnya dengan internet. Lebih baik bertanya langsung sama orang asli sini, iyakan?" tutur Jay.
"Terserah." Risa menghela nafas berat dan kembali melanjutkan, "nih! tempat ini sepertinya bagus. Aku juga pernah ke sana." dia menunjukkan restoran yang ditemukannya lewat internet.
"Benarkah? bareng Juni?" tebak Jay.
"Bukan. Kamu nggak perlu tahu-lah! ayo jalan!" balas Risa seraya membuang muka dari Jay. Sebenarnya restoran yang ia beritahukan kepada Jay adalah tempat pertemuan dirinya dengan sang ibu tempo hari.
"Ya sudah." Jay memutar setir mobil dengan pelan.
Perjalanan menuju restoran tidak begitu lama, mereka sampai dalam durasi waktu sepuluh menitan.
Syuut. . .
Jay memarkir mobilnya pelan. Dia memusatkan atensinya pada bangunan yang ada di depannya, tampaklah mewah dan bergaya.
"Kau benar! sepertinya ini restoran yang bagus. Lumayan romantis juga!" ungkap Jay.
"Ya kalau bagus, ayo kita lekas-lekas masuk ke dalam!" usul Risa sembari keluar lebih dahulu dari mobil.
Risa dan Jay duduk satu meja dan saling berhadapan. Jay kembali tidak mampu menghentikan matanya untuk memandangi gadis di hadapannya. Sorot matanya benar-benar menunjukkan pancaran terkagum.
"Jay! bisakah kau berhenti menatapku begitu?" kritik Risa yang sengaja bersuara agak pelan.
"Tidak. Aku tidak bisa berhenti." Jay bersikeras. Membuat Risa harus mengeluarkan nafas dari mulutnya, karena dia tidak dapat mencegah tingkah sang lelaki berambut perak itu. Beberapa saat kemudian, pelayan datang menghampiri meja mereka.
"Mau pesan apa ya Mas, Mbak?" tanya si pelayan dengan gaya rambut kuncir kuda tersebut.
"Aku--"
"Ada paket romantis tidak?" Jay menjeda kalimat yang hendak di ucapkan Risa.
"Romantis? untuk perayaan anniversary Mas sama Mbaknya ya?" balas si pelayan yang untungnya lihai berbahasa inggris.
"Tid--"
"Iya! apakah ada?" Jay lagi-lagi membuat Risa urung berbicara.
"Ada! tetapi kami hanya menyajikan musik romantis dan makanan yang spesial."
"Bagus! aku akan pesan itu!" Jay terlihat bersemangat. Selanjutnya pelayan tersebut langsung melakukan tugasnya.
"Romantis? apaan sih! biasa aja kali Jay!" Risa mengerutkan dahinya.
"Hei! bukankah ini hari spesialku? jadi biarkan aku membuat rencananya sendiri!" sahut Jay dengan senyuman yang tak henti memudar.
Pemusik di restoran mulai memainkan melodi romantis. Menu makanan istimewa pun telah sampai ke meja Risa dan Jay. Terdapat steak sebagai makanan utamanya.
Risa perlahan mengiris daging yang sudah ada di hadapannya. Dia memang lumayan agak lapar, gara-gara seharian harus menunggu mobilnya diperbaiki.
"Aku lapar Jay!" tegas Risa yang menunjukkan raut wajah cemberutnya. Jay yang menyaksikannya sontak merasa gemas. Tanpa disangka dia bangkit dari tempat duduknya.
"Eh! kau mau kemana?" tanya Risa keheranan.
"Bernyanyi untukmu-lah!" kata Jay yang dilanjutkan dengam melangkahkan kaki menuju panggung dimana para pemusik berada. Risa yang melihat aksinya terkesiap, karena dirinya tidak menyangka Jay akan melakukan hal seperti itu.
Jay duduk di depan sebuah piano. Jari-jemarinya mulai dikepakkan untuk melakukan pemanasan. Selanjutnya ia pun segera menekan bilah-bilah berwarna hitam dan putih menjadi lantunan melodi yang indah. Setelah instrumen musik berpadu, barulah Jay mengeluarkan suaranya. Dia menyanyikan lagu romantis milik Bruno Mars yang berjudul Just The Way You Are. Irama akustik nan lembut memang adalah sesuatu yang dia tonjolkan dalam penampilannya.
Risa terdiam seraya menopang dagu dengan tangannya. Entah kenapa dirinya menikmati pertunjukkan seorang Jay. Akhirnya sebuah lagu romantis ditujukan untuknya, meskipun bukan dari Juni.
Di sisi lain Amelia tengah di panggil atasannya ke ruangan. Sepertinya ada informasi penting yang harus diberitahukan kepadanya.
"Maafkan kami Amelia, perusahaan kita mengalami penurunan drastis. Jadi kami terpaksa mengurangi karyawan, terutama untuk yang belum berpengalaman." Kepala Manajer menjelaskan dengan lembut.
"Bagaimana bisa? aku bahkan baru bekerja dua bulan di sini. Aku sudah berharap banyak!" mata Amelia mulai dipenuhi cairan bening yang perlahan berjatuhan.
"Kami benar-benar minta maaf. Tidak ada yang bisa memprediksi kebangkrutan sebuah perusahaan, kau dapat kembali lagi jika kondisi perusahaan investasi kami lebih baik. Oke?" sang Kepala Manager mengelus pundak Amelia pelan. Agar gadis tersebut bisa sedikit tenang.
"Ba-ba-baiklah kalau begitu. A-aku berterima kasih untuk segalanya, karena sudah diberi kesempatan. . ." ujar Amelia sambil bangkit dari sofa dengan kepala yang tertunduk. Setelah mengambil beberapa barang, ia pun segera pergi keluar dari perusahaan.
Tangis Amelia pecah seketika, hingga menyebabkan dirinya terduduk di tanah. 'Kenapa kebahagiaanku tidak pernah bertahan lama. Kenapa? padahal aku selalu berusaha keras dan melakukan segalanya!' Amelia membatin dengan perasaan yang dipenuhi kekalutan. Gadis itu beberapakali menepuk-nepuk dadanya sendiri agar bisa tenang.
***
Juni yang baru saja pulang dari kampus langsung beranjak pergi menuju rumah kekasihnya.
Tok! Tok! Tok!
Dia mengetuk pintu rumah Risa. Namun tidak ada sama sekali jawaban dari dalam.
'Aneh, perasaan Jay ada di rumah deh,' batin Juni sembari celingak-celingukan di depan jendela.
"Juni. . ." suara seorang wanita membuat Juni reflek menoleh ke belakang, dan penglihatannya langsung disambut dengan seorang gadis berambut ikal yang sedang terisak.
"Amel? kamu kenapa?" Juni bergegas menghampiri Amelia karena merasa khawatir.
"Aku tidak bisa memikirkan siapapun selain dirimu Jun. Maafkan aku jika mengganggu. . . hiks! hiks!" Amelia berterus terang sembari sesekali mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Iya, nggak apa-apa kok Mel. Ayo bicara di rumahku saja ya." Juni memegangi pundak Amelia lembut.
Sekarang Juni dan Amelia telah berada di ruang tamu. Amelia sudah menceritakan keluh kesahnya kepada lelaki yang selalu dia anggap paling peduli kepadanya itu.
"Terima kasih ya Jun, sudah mau meladeni-ku. Padahal kita sekarang tidak memiliki hubungan apapun." Amelia masih menampakkan semburat sendunya.
"Siapa bilang? Kau bisa menganggapku saudaramu kok. Kau datang saja kalau sedang kesulitan, dan ceritakan semuanya kepadaku. Aku akan membantu sebisa mungkin," ujar Juni dengan nada pelan. Dia memposisikan diri duduk tepat di samping Amelia.
"Terima kasih! hiks!" tangis Amelia kembali lagi. Padahal tadi dia sudah sedikit tenang untuk beberapa saat.
"Mel, kau sudah makan?" Juni mencoba menenangkan.
"Aku sedang tidak bernafsu Jun. . ." jawab Amelia lirih, dia terdiam sejenak lalu melanjutkan, "bolehkah aku memelukmu?"
Juni yang merasa tidak tega menolak, memilih menganggukkan kepalanya. Kemudian membawa Amelia masuk ke dalam pelukannya.