The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 24 - Hari Kelulusan



Juni membalas senyuman Amelia dengan canggung. Kala itu dirinya merasa sedikit bersemangat setelah mengetahui keberadaan Amelia yang ternyata juga bekerja di cafe.


"Wah baju itu sangat pas di badanmu!" tegur Amelia. Baju ukuran 'M' sekarang terasa longgar dibadan Juni, padahal biasanya dia harus mengenakan baju yang berukuran 'XL'.


"Benarkah?" balas Juni dengan senyum malunya. Amelia pun merespon dengan anggukan kepala.


"Oh iya Jun! tugasmu adalah mencatat pesanan dan mengantarkan makanan untuk pelanggan, kamu bisa memulainya saat mereka sudah berdatangan. . ." terang Amelia lembut.


"Baiklah!" Juni menyahut dengan sedikit semangat.


Juni dan Amelia segera melakukan pekerjaan mereka, hingga waktu tidak terasa telah larut malam. Keduanya bahkan sudah lumayan akrab, mereka sekarang sedang duduk istirahat bersama-sama.


"Sepi sekali hari ini! biasanya selalu ramai loh!" ujar Amelia sembari memandangi berbagai sudut ruangan.


"Benarkah? aku kira setiap harinya memang begini," balas Juni.


"Enggaklah! kayaknya Kak Danu dan bandnya sedang tidak bisa hadir hari ini!"


"Oh jadi biasanya ada yang menyanyi ya?" Juni bertanya dengan mengangkat alisnya.


"Iya!" Amelia mengangguk pelan.


'Sepertinya Amelia masih belum tahu aku bisa menyanyi, syukurlah. . .' gumam Juni dalam hati.


***


Ujian telah berlalu, hari ini adalah acara kelulusan semua murid kelas tiga. Mereka terlihat bersemangat, karena menerima kabar membahagiakan tersebut. Tak terkecuali Juni yang saat itu tengah tersenyum lebar melihat namanya dijejeran daftar nama lulus.


Suasana begitu riuh, semuanya tampak seperti slow motion bagi Juni. Meskipun dirinya merasa mensyukuri kelulusannya, tetapi segalanya terasa hampa.


'Aku memang sangat bahagia sekarang, namun aku merasa ada yang hilang. Akhir-akhir ini dunia terasa kosong melompong. Aku tidak tahu semuanya itu karena ayah atau Risa, yang jelas sejak kepergian keduanya aku tidak bisa lagi menjalani kehidupan seperti biasanya. Sia-sia saja penampilanku berubah, jika aku tidak bisa merasakan keceriaan dan kebahagiaan kembali. . .' ucap Juni dalam benaknya, dia masih berdiri di tengah teman-temannya yang melompat kegirangan satu sama lain. Kala itu hanya Juni yang masih berdiri mematung dengan pikiran berkecamuk.


"Juni! kamu lulus! aku sudah melihatnya di daftar!" Irfan memeluk Juni dengan erat dengan ekspresi penuh semangat. Juni merespon dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.


"Kawan-kawan! kita lulus!" Agus ikut bergabung sambil merangkul bahu Juni dan irfan. Lelaki tersebut membawa kedua temannya ke dalam pelukan.


"Hentikan Gus! apaan sih kamu ih!" Juni melepaskan pelukan Agus pelan seraya sedikit terkekeh.


"Ayolah Jun, kali ini saja! aku ingin lihat kamu bahagia!" ungkap Irfan.


"Bagaimana kalau kita rayakan semuanya hari ini!" Agus masih tidak bisa membendung rasa semangatnya yang menggebu-gebu.


"Setuju! ide baguuuusss sekali!" Irfan mengacungkan jempolnya ke arah Agus. Keduanya pun segera menatap Juni dengan penuh harap, agar bisa mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.


Juni memutar bola matanya ke kanan, lalu menghela nafas panjang dan berkata, "Ya sudah! tetapi jangan kemalaman ya!"


"Akhirnya!" Irfan menyahut dengan penuh gairah.


Ketiganya segera kembali ke kelas untuk mengambil tas dan pulang. Mereka langsung melakukan rencana perayaan. Ketika di parkiran, dari jauh tampak Amelia yang berlari kecil sambil memanggil nama Juni. Sontak Agus dan Irfan pun segera menjauh, karena sengaja membiarkan pendekatan Juni lebih lancar.


"Amel? kenapa?" Juni menatap Amelia serius.


"Selamat ya! kamu lulus!" kata gadis itu yang sedang mengatur deru nafasnya.


Pipi Amelia tiba-tiba memerah, karena melihat senyuman dan tatapan Juni yang terasa berbeda. Sebenarnya dia sudah merasakan hal tersebut, sejak pertama kali bertemu Juni.


"Ya sudah, sa-sampai bertemu di cafe besok ya!" ucap Amelia yang malu-malu, kemudian segera beranjak pergi.


"Waaah! akhirnya bro! kapan kamu dekat sama dia sih!" Agus menghampiri Juni dengan meninggikan kalimatnya, yang di ikuti oleh Irfan dari belakang.


"Apaan sih kalian! kami bekerja di tempat yang sama, makanya bisa dekat!" sahut Juni santai.


"Oh pantesan! aku kira Amelia cuman dekatin karena kamu sudah tidak gendut lagi. Kalau memang begitu, menurutku dia bukan gadis yang baik!" imbuh Irfan menatap datar Juni.


"Kenapa kamu Fan! bilang aja iri lihat Juni bisa dekat sama gebetannya! enggak kayak kamu yang masih berjalan di tempat! ckckck!" timpal Agus, yang sontak membuat Irfan geram dan melayangkan cap lima jarinya.


"Sudah ah kalian! ayo kita pergi!" jeda Juni, mencoba menengahi perdebatan antara Agus dan Irfan.


"Oh iya! tujuan kita kemana?" Juni menatap Agus dan Irfan secara bergantian.


Plak!


Agus memukul jidatnya. "Astaga! aku juga nggak tahu!" dia menatap kedua temannya dengan sudut matanya.


"Kurang ajar punya teman kayak gini!" geram Irfan yang berusaha menjambak rambut Agus.


"Kamu ya Gus! mau bikin perayaan tetapi malah nggak ada rencana!" Juni ikut-ikutan menyerang Agus. Alhasil semuanya pun berakhir dengan gelak tawa satu sama lain.


***


"Aku nggak menyangka perayaan kita berakhir di warung Pak Ali . . ." ungkap Irfan dengan ekspresi datar.


"Kita isi perut dahulu lah, sebelum perayaan puncak!" sahut Agus sambil menyendok bakso pedas di hadapannya. Berbeda dengan Agus dan Irfan, kala itu Juni tampak terdiam dan mematung.


'Kenapa aku jadi ingat sama perkataan Risa dahulu ya, dia berjanji akan membantuku diet. Dan aku tidak menyangka dirinya benar-benar mewujudkannya, namun tidak pernah ku-duga Risa akan melakukannya dengan cara yang sakit. Oh Tuhan. . . lagi-lagi aku tidak tahu perasaanku terhadap Risa. Ada rasa marah dan juga rindu," Juni menghela nafas setelah memikirkan banyak kenangan dengan Risa.


"Jun! ternyata kamu memang sudah nggak doyan makan lagi ya! tuh bakso-mu sedang bernyanyi 'Ku-menangis' karena nggak kau makan!" celetuk Irfan, berusaha mendorong Juni untuk segera makan.


"Sudahlah Fan! Juni sedang memikirkan Risa, mereka kan sering makan bersama di sini," imbuh Agus.


"Hush!" Irfan melebarkan matanya kepada Agus, untuk menyuruhnya diam.


"Salah satu dari kalian, ada yang kontak sama Risa?" pertanyaan Juni membuat Agus dan Irfan terkejut, karena setelah setahun lamanya baru kali ini dia menyebut nama Risa dari mulutnya.


"Enggak Jun! setelah kepergiannya, kami sudah tidak pernah lagi tahu kabar Risa!" sahut Irfan dengan nada pelan.


"Aku tahu kamu pasti marah pada Risa, karena dia sudah pergi tanpa memberitahu. Tetapi aku yakin dia punya alasan yang jelas akan hal itu!" ujar Agus pelan.


"Aku tahu, semuanya salahku. . ." lirih Juni, yang langsung membuat Irfan dan Agus terdiam sejenak. Hening tiba-tiba menyelimuti suasana di antara ketiganya.


"Sudah! sudah! kenapa jadi begini sih! bukankah kita sekarang sedang merayakan?. . . ayolah Jun, lupakan kesedihanmu sejenak! ayo kita nikmati waktu kita hari ini!" Irfan mencoba memberikan energi semangat untuk kedua temannya, terutama Juni.


"Benar Jun! kita nikmati saja, toh kita juga kita tidak tahu kan setelah lulus nanti, masih bisa ngumpul atau tidak!" Agus ikut menyahut dengan senyuman semringah.


"Apaan kamu Gus! kenapa ngomong hal yang bikin sedih lagi!" kritik Irfan dengan meringiskan wajahnya.