The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 54 - Tenggelam



Risa kembali ke stan-nya. Namun setelah bertengkar dengan Juni, dia tidak memiliki mood untuk kembali melukis.


"Ris, tinggal punyamu nih loh yang belum jadi," tegur Gita yang sedari tadi menyaksikan wajah cemberut Risa.


"Aku harus mencari inspirasi dahulu, masih sempat kan?" tanya Risa serius.


"Tinggal dua jam." Gita menengok ke jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Ya sudah, aku pergi dulu!" ucap Risa seraya bangkit dari tempat duduk.


"Ris, teman bule kamu itu sudah balik?" pertanyaan Winda sontak menghentikan langkah kaki Risa.


"Iya, baru saja!" balas Risa singkat.


"Oh, pergi gih! jangan lama-lama!" ujar Winda.


Risa menyusuri area pantai. Dia mencoba mencari titik sepi-nya. Gadis tersebut terus berjalan hingga menemukan tempat yang dirasa tepat.


'Juni, apa sebesar itu kebenciannya setelah aku membohonginya? bukankah sudah ada cinta di binar matanya? aku bisa melihatnya kala itu di rumah sakit. Sudahlah! mungkin aku harus move on darinya.' batin Risa seraya memejamkan matanya untuk menikmati terpaan angin dan desiran ombak.


Di stan-nya Juni masih mematung dengan kepala yang terus menunduk. Sudah puluhan kali dia memainkan ponselnya. Bahkan hari ini Amelia sama sekali tidak membalas pesannya. Bukannya pacar yang membuat pikirannya kalut tetapi Risa-lah.


'Apa aku keterlaluan ya terhadap Risa? astaga, aku tadi tidak bisa mengendalikan diri.' Juni bergumam dalam hati, lalu menoleh ke arah stan Risa. Dia sama sekali tidak menyaksikan keberadaan gadis itu. 'Loh! kemana dia? ish ngapain aku pikirin sih. Risa bilang dia tidak mau bicara lagi denganku. Lebih baik aku jalan-jalan saja.' lanjutnya. Dia sekarang melangkah menuju pantai dengan topi yang menutupi kepala.


Juni terlena dengan keindahan pantai, hingga tidak terasa berjalan sampai ke ujung nan sepi. Dia menghentikan langkahnya di sana. Atensinya tiba-tiba tertuju kepada seorang gadis berambut merah muda yang hampir bergerak ke tengah laut.


'Risa? apa yang dia lakukan? tenggelam? wah ini darurat!' ucap benak Juni dengan gelagapan.


"Risaaa!!!" pekiknya sambil mencoba menceburkan diri ke laut namun masih enggan, dikarenakan Juni masih tidak lihai berenang.


"Tolong!!!" pekik Juni yang kali ini berteriak ke arah keramaian, tetapi tak ada seorang pun merespon. Alhasil dia pun nekat menceburkan diri ke laut.


Byurr!


Setelah masuk ke dalam air, Juni sama sekali tidak mampu berenang. Dia langsung merasa kewalahan. Kali ini dialah yang membutuhkan pertolongan.


"Junii!!" pekik Risa yang segera bergegas berenang menuju ke arah sahabatnya.


Risa perlahan masuk ke dalam air untuk meraih Juni yang sudah tak sadarkan diri. Dia melingkarkan tangannya dan berusaha sekuat tenaga kembali berenang ke permukaan. Risa memeluk erat tubuh Juni yang sudah melemah.


"Huaah!" Risa langsung mengambil oksigen sebanyak-banyaknya ketika sudah keluar dari air. Selanjutnya ia segera membawa Juni ke bibir pantai.


"Jun! Juni!" Risa menepuk-nepuk wajah Juni untuk berusaha menyadarkan. Dia juga tidak lupa mengedarkan pandangannya ke sekitar, berharap ada seseorang yang bisa membantu. Nihil, hanya mereka berdua yang ada di tempat tersebut.


"Aku tidak punya pilihan lain!" ujar Risa, yang kemudian segera memberikan nafas buatan untuk Juni. Lalu menekan-nekan bagian dada sahabatnya beberapa kali.


"Ish kau memang bodoh Jun! tidak bisa berenang nekat main air!" gerutu Risa yang masih terus melakukan aksi pertolongan pertama-nya.


Setelah memberikan nafas buatan yang ke-empat kalinya barulah Juni tersadar. Lelaki itu langsung terbatuk sambil mengeluarkan air yang banyak dari mulutnya. Risa lantas beringsut mundur, lalu bergegas meninggalkan Juni tanpa sepatah kata pun.


Juni mengerjapkan matanya untuk menyadarkan diri. Dia menoleh ke berbagai arah, hingga matanya menyaksikan Risa yang berjalan semakin menjauh.


"Risaaa!" panggilnya, namun sama sekali tidak mendapat hirauan. Juni sontak hanya bisa menghela nafas panjang. Dia segera bangkit untuk berdiri.


Risa kembali ke stan-nya dengan keadaan basah kuyup. Gadis tersebut tampak santai seperti biasa, dan tidak menghiraukan puluhan pasang mata yang menatapnya bingung.


"Ini hasil inspirasi-ku," jawab Risa singkat seraya mencoretkan cat-nya ke kanvas.


"Wah aku sudah tidak sabar!" ungkap Gita yang sudah memposisikan dirinya berdiri di sebelah Risa.


"Ris!" Juni tiba-tiba datang ke stan Risa. Gita yang mengagumi sosoknya sontak membulatkan mata. Dia perlahan melangkah mundur, untuk memberikan Juni tempat untuk bicara.


"Ris, a-a-ada Juni!" ujar Gita sembari menarik-narik baju Risa yang basah. Namun Risa sama sekali tidak merespon. Juni yang melihat gelagat sahabatnya tak acuh segera bersuara.


"Ris, aku--"


"Anggap saja itu permintaan maafku!" Risa langsung menyambar kalimat yang hendak dilontarkan Juni.


"Ris!" sekali lagi Gita mencoba menegur Risa agar tidak terlalu cuek. Alhasil Juni pun hanya mengangguk pelan, kemudian beranjak pergi menuju stan-nya.


"Ris, kamu kenapa nggak ladenin dia? katanya ngefans!" celoteh Gita dengan memanyunkan mulutnya.


"Sudahlah Ta! kamu bikin aku nggak fokus. Sana gih nyebur ke pantai kek!" hardik Risa yang masih berkutik dengan lukisannya.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Risa akhirnya menyelesaikan karyanya. Dia melukis lautan yang dihiasi dengan bayangan warna pelangi.


Juni tampil dengan memuaskan hari itu. Bahkan dia banyak menarik beberapa penonton baru. Tidak seperti biasa, kali ini Risa terlihat tidak bersemangat ketika menyaksikan penampilan sahabatnya.


Dikarenakan sudah melakukan gilirannya, para mahasiswa/i yang sudah tampil bisa menikmati waktunya sampai festival berakhir. Risa menggunakan momen tersebut sendirian. Entah kenapa gadis itu bersolek semaksimal mungkin dengan mengenakan dress di atas lutut.


"Yah, apapun yang aku lakukan Juni tidak akan peduli!" gumam Risa terhadap pantulannya di cermin. Selanjutnya dia segera berjalan keluar.


Juni yang kebetulan berada di lobi, tidak sengaja melihat penampakan Risa dengan tampilan yang berbeda. Lelaki yang sedari tadi berusaha menghubungi pacarnya akhirnya menyerah. Dia mengubah haluan, dan segera bergegas mengekori Risa.


'Risa mau kemana? jangan bilang dia mau kencan dengan Jay. Loh? kok naik taksi?' batin Juni, lalu berlari masuk ke dalam taksi yang Risa masuki.


"Eh! ngapain kamu Jun!" Risa menatap tajam.


"Aku mau jalan-jalan sendirian! kau?" balas Juni.


"Kau tidak perlu tahu! bukankah kau tidak peduli?" Risa menyilangkan tangan di dada. Dia membuang muka dari Juni.


"Ris, aku minta maaf perihal omonganku tadi siang. Aku tidak bermaksud begitu!" tukas Juni penuh harap.


Risa mendengus kasar, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Juni. "Buktikan!"


"Aku sudah membuktikannya!" tegas Juni, yang sontak membuat dahi Risa berkerut. "Sekarang aku sedang menemanimu!" sambungnya sembari mengukir senyuman.


"Bukannya kamu mau jalan-jalan sendiri?" Risa mencoba memastikan.


"Enggak! aku khawatir aja sama kamu. Dengan pakaian seminim itu jalan-jalan sendirian, di kota orang lagi!" Juni menilik penampilan Risa dari ujung kaki hingga kepala.


"Lihat apa kamu Jun!" Risa mencengkeram kerah baju Juni. Sopir yang tidak sengaja mendengar nada tinggi Risa lantas tersentak kaget.


"Ris, ingat! aku ini lelaki normal loh. Kau paham kan?" balas Juni yang segera membuat Risa melepaskankan cengkeramannya. Lalu menarik dress-nya agar pahanya lebih tertutupi.


"Nih pakai ini saja!" Juni melepaskan jaketnya untuk menutupi paha Risa.