
'Aku benar-benar masih tidak pantas. Hanya saja, bolehkah aku berlogika? bahwa jika kita berusaha lari dari kenyataan maka resikonya akan lebih besar?. . . seperti yang dilakukan orang tuanya Amel misalnya, aku tidak ingin Risa seperti itu. Meskipun menyakitkan untuknya, tetapi aku hanya mencoba menjadi lebih dewasa. Sebab aku sangat tahu betul, tanggung jawab seorang lelaki begitu besar untuk perempuan!' Juni membatin sembari terus berjalan menuju rumahnya. Panggilan Risa hanya terdengar samar-samar di telinganya.
Berbeda dengan Risa, dia tampak menangkup wajahya sendiri. Gadis itu sekarang terduduk di lantai meratapi apa yang telah ia lalui. 'Kenapa Juni tega? benarkah dia mencintaiku? sekarang kenapa aku meragukannya?,' keluhnya dalam hati.
"Risa. . ." Bayu memanggil lirih. Dia sedang berdiri di depan pintu dan memperhatikan kesedihan yang ditunjukkan putrinya.
"Ayah! hiks! aku merasa sendirian lagi!" ucap Risa yang dibarengi dengan rengekannya. Bayu lantas membawa Risa untuk berdiri, lalu memeluknya dengan lembut.
"Katakan saja apa yang kau pendam sayang. Ayah tahu kau menutupi banyak hal!" ujar Bayu sembari mengelus-elus kepala Risa.
"Aku ingin Ayah tidak terlalu sibuk lagi. Aku mau menjadi bagian jadwal penting Ayah, itu saja!"
"Maafkan Ayah, karena semenjak kembali ke sini Ayah sudah melupakan waktu kebersamaan kita." Mata Bayu mulai berembun. Dia sudah terbawa suasana.
"Kalau begitu, berjanjilah Ayah akan melakukannya jika kita kembali ke London!" ungkap Risa.
Bayu yang mendengar merasa terkejut, dia pun reflek melepaskan pelukannya. "Kau. . . setuju kembali ke London?" tanya-nya mencoba memastikan.
"Mungkin. . ." Risa mengusap air mata di pipinya, sepertinya ia mencoba menghentikan tangisnya. "Memangnya kapan kita akan berangkat ke sana?" tambahnya.
"Mungkin sekitar satu minggu lagi. Ayah harus membereskan pekerjaan di sini terlebih dahulu," jelas Bayu.
"Oke, itu waktu yang sangat cukup bagiku untuk berpikir." Risa mengangguk-anggukkan kepala. Dia sepertinya menekadkan sesuatu dalam kepalanya. Sedangkan Bayu hanya merespon dengan senyum tipisnya.
"Ayah, bisakah Juni ikut bersama kita?" tanya Risa dengan binar penuh harap pada sorot matanya.
"Tentu saja, kalau dia setuju!" sahut Bayu yakin.
"Ayah tidak usah khawatir mengenai keuangan, aku bisa membantu!" Risa tiba-tiba kembali bersemangat.
"Dasar kamu!" respon Bayu, dia merasa gemas dengan sikap putrinya yang mendadak merubah emosinya.
***
Keesokan harinya, kala Juni hendak memasuki mobilnya, dia dikejutkan dengan kemunculan Risa. Gadis tersebut terlihat menyilangkan tangan di dada, tidak lupa matanya juga menyorot tajam tepat ke arah Juni.
"Ris. . . maafkan aku mengenai tadi malam," Juni lebih dahulu bersuara. Karena dia sadar bahwa dirinya memang sudah keterlaluan.
"Tidak ada gunanya maaf, kalau itu cuman berasal dari mulutmu saja!" sahut Risa yang semakin berjalan mendekati Juni.
"Aku berusaha semampunya Ris," jawab Juni.
"Tapi itu kurang maksimal Jun."
"Ris, aku--"
"Ikut aku ke London saja, di sana seniman seperti kita sangat dihargai. Belum lagi kalau kita pergi ke negara-negar tetangganya!" tutur Risa, dia sengaja memotong kalimat lelaki yang tengah berdiri di depannya.
Juni hanya tersenyum dan berkata, "Kau yakin?"
"Iya." Risa menjawab singkat. Akhirnya mulutnya mengukir senyuman simpul.
"Biarkan aku memikirkannya lagi ya?" jawab Juni pelan. Risa pun menganggukkan kepala untuk mengiyakan.
"Kau mau kuliah?" tanya Risa.
"Iya, kau tidak kuliah Ris?" Juni berbalik tanya.
"Hari ini kena jam siang Jun!"
"Oh, pantesan. Ya sudah aku pergi dulu!" ujar Juni sambil masuk ke dalam mobilnya.
'Sepertinya Risa sangat bersikeras. Aku sebenarnya sangat ingin memiliki dia sepenuhnya. Tetapi, aku butuh waktu untuk membuktikan diri. Ke London? ikut bersamanya? bukankah aku malah semakin menjadi beban untuknya?' ucap Juni dalam hati, kemudian mengeluarkan nafas lewat mulutnya.
***
Juni menyandarkan tubuhnya saat perkuliahannya sudah usai. Wajahnya terlihat sendu, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ervan yang menyaksikan tingkah temannya mengernyitkan keningnya.
"Kau kenapa Jun?" tanya Ervan.
"Aku lagi pusing saja," jawab Juni dengan nada malas.
"Pasti karena Risa ya?" tebak Ervan.
"Kau benar. Aku sangat bingung menghadapi gadis itu."
"Memangnya apa yang terjadi? dia ngebet minta nikah ya?" Ervan kembali menerka.
Juni yang mendengar sontak menegakkan badannya karena tebakan Ervan. "Sejenis itu lah!" ujarnya.
"Ya nikahin aja lah, apa susahnya! dia cantik, kaya raya, pintar, berbakat, terus dia juga adalah sahabatmu sejak kecil, hingga bisa dipastikan dia akan selalu membuatmu nyaman. Kurang apalagi Jun? kamu tidak akan menemukan cewek sepertinya dimana-mana!" tutur Ervan sembari mengangkat kedua tangannya.
"Dia sangat sempurna kan?" balas Juni, yang sama sekali tidak sesuai prediksi Ervan.
"Kamu nggak mau ya?" Ervan sekali lagi bertanya dengan raut wajah keheranan.
"Dia yang sempurna tidak pantas untuk orang sepertiku. Aku bahkan belum mampu membahagiakan keluargaku sendiri. . ." Juni berterus terang. Ervan terdiam sejenak, sebagai lelaki tentu dirinya sangat paham dengan pemikiran Juni.
"Benar juga sih, kita sebagai lelaki harus matang-matang memikirkannya. Apalagi jika cewek yang kita nikahi terkesan lebih hebat. Aku paham maksudmu Jun!" ungkap Ervan, dia memanggut-manggutkan kepalanya.
"Masalahnya, jika aku tidak setuju maka kemungkinan hubunganku dan Risa akan berakhir!" imbuh Juni.
"Sepertinya itu dua hal yang harus kau pilih!"
"Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" Juni melontarkan pertanyaannya.
"Emmm. . . mungkin aku akan melihat situasinya dahulu," balas Ervan. Dia menepuk-nepuk pelan pundak sahabatnya. "Pokoknya aku mendoakan yang terbaik untuk hubunganmu dan Risa, oke?" tambahnya.
Drrt. . . Drrt. . . Drrt. . .
Ponsel Juni bergetar, dia langsung menjawab panggilan telepon yang tengah dilakukan oleh Amelia tersebut.
"Iya Mel?" sapa Juni.
"Maaf Mas, saya cuman mau memberitahukan kalau pemilik ponsel ini telah mengalami kecelakaan. Sekarang dia sedang berada di ruang operasi, saya menelepon karena hanya nama Mas yang berada di panggilan masuk!" sahut suara seorang lelaki dari seberang telepon.
"A-apa? kecelakaan? bagaimana keadaannya sekarang?" Juni reflek bangkit dari tempat duduknya.
"Aku harap baik-baik saja, yang jelas ia sekarang tengah berada di ruang operasi!"
"Ya sudah, aku akan ke sana!" Juni bergegas memasang tas ranselnya ke punggung.
"Kenapa Jun?" tegur Ervan yang penasaran karena menyaksikan kepanikan Juni.
"Ada urusan mendadak Van! aku duluan ya, oh beritahu Ratih kalau aku tidak akan ikut latihan hari ini!" tutur Juni, lalu segera beranjak pergi.
"Oke!" balas Ervan singkat.
Setelah memakan waktu sepuluh menitan, Juni pun tiba di rumah sakit. Amelia masih ada di ruang operasi. Juni lantas melayangkan pantatnya di kursi yang ada di ruang tunggu.
"Sekarang keadaan semakin rumit saja!" gumam Juni sambil menekan bagian jidatnya.