
Sesampai dirumah Risa langsung merebahkan dirinya ke kasur untuk beristirahat. Dia terus saja memikirkan kejadian di kereta tadi. Hatinya berandai bagaimana jika Juni benar-benar datang. Risa tidak menyangka dengan dirinya sendiri yang selalu mengharapkan kehadiran Juni.
'Aku harus bisa move on, aku tidak bisa begini terus!' batin Risa sembari memegangi area jidatnya.
Malam berganti siang, sekarang Risa sudah siap mengawali harinya di tempat kerja baru. Seperti biasa, dia tidak pernah bangun kesiangan. Gadis itu datang lebih awal. Semuanya berjalan lumayan lancar. Bahkan kedua saingan Risa dapat bekerja sama dengan baik. Sekarang mereka sedang duduk bersama dalam satu meja.
"Aku berharap kita semua bisa diterima!" ucap gadis berambut pirang bernama Olive.
"Aku rasa itu mustahil, Hans katanya hanya mencari satu orang fashion designer!" Diana si gadis berkulit hitam menyahut sambil memegangi secangkir kopi di tangannya.
"Lakukan saja yang terbaik, bagiku tidak ada yang mustahil!" Risa ikut masuk ke dalam pembicaraan kedua rekan barunya tersebut.
"Kau benar! tapi, sepertinya kamu deh yang akan dipilih, soalnya semua karya buatanmu berhasil memukau Hans tadi." Oliver berpendapat, dia berbicara kepada Risa.
"Jangan menyimpulkan dahulu, toh kita baru satu hari di sini," ujar Risa, kemudian dilanjutkan dengan menyedot minuman dinginnya.
"Risa benar Liv! kita bisa menerkanya, kalau sudah bekerja satu minggu di sini. Lagi pula tidak ada yang akan tahu selera Hans kan?" tutur Diana yang lantas mendapatkan anggukan dari Risa dan Olive.
***
Risa dan kedua rekannya sudah satu minggu bekerja. Dan tepat hari ini Hans akan memberitahukan mengenai siapa yang akan diterima menjadi karyawan tetap.
"Sebelum aku melakukan pengumuman, aku sangat berterima kasih kepada kalian karena sudah menyediakan waktunya untuk bekerja di sini. Tetapi sangat disayangkan bosku menyuruh untuk memilih satu orang saja di antara kalian." Hans menunjukkan raut wajah sedihnya. Dia menatap Risa, Olive dan Diana.
"Aku harap kalian bisa menerima keputusan apapun dengan lapang dada, oke?" lanjut Hans yang langsung mendapat anggukan tegas dari ketiga gadis yang berdiri di hadapannya.
Hans tampak menghela nafasnya terlebih dahulu, sebelum mengumumkan, kemudian langsung berucap, "Maaf Olive dan Diana, kalian tidak lolos. Aku harap kalian bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di luar sana," Hans menyalami Olive dan Diana secara bergantian.
Risa yang mendengar kabar tersebut langsung menatap nanar ke arah kedua rekannya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Namun dirinya mendapatkan pelukan hangat baik dari Olive maupun Diana.
"Aku--"
"Sudahlah Ris, kau tidak perlu mengucapkan apapun. Yang jelas aku merasa ikut bahagia dengan keberhasilanmu. Selamat ya!" ucap Olive setelah puas memberikan pelukan hangatnya.
"Olive benar Ris! selamat!" Diana ikut bersuara.
"Apa kalian sudah selesai? aku masih di sini loh!" Hans tiba-tiba menegur momen mengharukan yang sedang terjadi di depannya.
"Maaf Hans, ya sudah kami segera pergi. Terima kasih!" ungkap Olive.
"Iya, terima kasih untuk kesempatannya Hans!" Diana tampak berjalan lebih dahulu keluar ruangan. Kemudian di ikuti oleh Olive dari belakang.
Sekarang atensi Hans terfokus pada Risa yang masih menampakkan ekspresi bingungnya. "Selamat Risa! tetapi kau sepertinya tidak terlihat senang?" tegur Hans, yang sontak membuat Risa membelalakkan mata dan menggelengkan kepala.
"Tidak! aku malah sangat senang sekali! aku sangat berterima kasih! aku hanya bingung harus berkata apa. Aku merasa semuanya seperti mimpi," terang Risa gelagapan.
"Haha! aku mengerti. Tetapi itulah kenyataannya, kau punya selera seni yang sangat bagus! sepertinya itu sudah mengalir dalam dirimu. Pokoknya selamat, dan bersiaplah untuk bertemu dengan direktur besok!" tutur Hans.
"Besok?" Risa memastikan. Dia merasa sedikit terkejut.
"Iya. Kau tidak usah takut, karena aku akan menemanimu!" ujar Hans dia menjeda ucapannya sejenak, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Risa. "Ngomong-ngomong direktur kita masih lajang, dan dia sangat tampan!" tambahnya seraya mengukir senyuman centil bak seorang wanita yang sedang tersipu malu.
"Pfftt! tidak. Dia tidak menyukai lelaki, haha!" sahut Hans dengan gelak tawa menjengkelkannya. Sehingga mengharuskan dirinya untuk ikut tertawa. Namun sebenarnya dia memang merasa geli juga dengan celotehan Hans.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Risa segera bergegas untuk pulang ke rumah. Saat dia keluar dari toko, penglihatannya langsung disambut oleh kehadiran Jay. Lelaki berambut perak itu sepertinya sudah menunggu lama.
"Jay? ngapain kamu di sini?" tanya Risa dengan dahi yang berkerut.
"Kangen!" jawab Jay singkat. Hingga berhasil menyebabkan Risa harus melayangkan cap lima jarinya ke pipi Jay.
"Apa aku pantas mendapatkan itu?" protes Jay sembari memegangi area pipinya yang sakit.
"Aku hanya sedang tidak mood untuk menerima gombalan! berhentilah begitu Jay!" tegas Risa.
"Padahal aku cuman menyebutkan satu kata loh!" Jay mendekatkan wajahnya, dan membuat Risa reflek melangkah mundur.
"Jay, ayo berbicaralah yang serius!"
"Aku sedang serius sekarang. Kau-nya saja yang berlebihan!" bantah Jay seraya memajukan bibir bawahnya.
"Terserah. Aku ingin pulang saja sekarang." Risa segera berderap lebih dahulu. Jay pun otomatis mengikutinya dari belakang.
Keesokan harinya Risa dan Hans sedang dalam perjalanan menuju kantor pusat. Hans terlihat menyetir mobilnya dengan pelan.
"Apa kau gugup?" tanya Hans seraya menatap ke arah Risa selintas.
"Sedikit. Memangnya siapa nama direktur itu?" Risa menatap penuh tanya.
"Namanya Thomas Watson, tapi kami biasanya memanggilnya Tom. Oh iya, aku ingin memberitahukanmu kalau Tom orangnya tidak mudah di dekati."
"Benarkah? bolehkah aku tahu apa yang akan dilakukannya terhadapku nanti?" kegugupan Risa mulai bertambah.
"Dia cuman akan menanyaimu beberapa pertanyaan, itu saja. Jangan takut, Tom bukan orang yang berengsek!" Hans menjelaskan. Risa pun merespon dengan anggukan kepala.
Tidak lama kemudian sampailah Risa dan Hans di tempat tujuan. Risa terperangah kala menyaksikan gedung yang ada di depannya sekarang. Dia tidak menyangka akan menjadi salah satu karyawan yang memiliki kantor berupa gedung sebesar itu.
"Ayo kita masuk!" ajak Hans yang berjalan lebih dahulu masuk ke dalam gedung. Dia dan Risa langsung menuju kantor direktur utama.
Bukan bagian luarnya saja yang membuat Risa terpana, pemandangan di dalam gedung pun tampak luar biasa. Risa bisa tahu ketika melihat terdapat beberapa lukisan unik yang menarik perhatiannya. Atensinya juga sempat teralihkan pada seni patung dan ukiran yang dipoles cantik di dinding.
Setelah menaiki elevator untuk beberapa saat, Risa dan Hans pun telah tiba di depan ruangan Tom.
"Ayo Ris!" Hans kembali berjalan memimpin. Risa pun lantas mengekorinya. Dia dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri direktur Tom sekarang. Benar saja, lelaki itu terlihat gagah, berambut pirang dan memiliki iris mata berwarna biru. Dia berpakaian rapi seperti para direktur pada umumnya.
Risa memang mengakui ketampanannya, tetapi dia sama sekali tidak tertarik untuk berdekatan dengan Tom.
..._______________...
Catatan : Cerita Juni dan Risa akan berakhir dalam beberapa bab lagi ya. Jadi jangan sampai ketinggalan untuk mengetahui bagian akhirnya. ♡