
"Aaaarrkhh!!!" Risa sengaja berteriak agar membuat Juni terbangun. Rencananya itu pun berhasil membuat sahabatnya membuka mata dengan gelagapan.
"Risa?" Juni bangun dari sofa, dan tanpa sadar berlari menghampiri Risa. Raut wajahnya tampak sangat khawatir. "Kamu kenapa? kamu baik-baik saja?" sambungnya sembari menggenggam lengan sahabatnya.
"Aku tadi berimimpi buruk!" ujar Risa yang terlihat seakan tengah mengatur deru nafasnya. Dia sekarang merubah posisinya menjadi duduk.
"Mimpi buruk?" Juni mengernyitkan dahi.
"Aku berada dalam kegelapan sendirian, dan tiba-tiba ada secercah cahaya yang muncul dari kejauhan. Apa ini pertanda?" terang Risa, diakhiri dengan pertanyaan yang membuat mata Juni membola.
"Jangan bicara yang tidak-tidak ah!" tepis Juni, yang kemudian membawa Risa masuk ke dalam pelukannya.
'Omg! dia memelukku. Astaga, jantungku! plis deh, selalu nggak bisa di ajak kompromi kalau lagi dekat sama nih laki,' ucap Risa dalam hati dengan jantung yang berdebaran. Dia mencemoh detak jantungnya sendiri.
"Ris, kamu harus kuat ya, aku sekarang akan selalu ada untukmu." Juni mengelus kepala Risa dengan pelan.
"Benarkah? terus Amelia gimana? kamu nggak takut dia marah?" Risa mengeratkan pelukannya, yang sontak membuat Juni mulai agak kesulitan bernafas.
"Ris! Ris! aku tidak bisa bernafas!" protes Juni seraya berusaha melepaskan tangan Risa yang melingkar ke tubuhnya. Alhasil Risa pun segera menyudahi pelukannya. Gadis itu langsung memasang raut wajah cemberut.
"Masalah Amel, dia pasti mengerti. Aku akan jelaskan semuanya kepadanya!" ungkap Juni yakin.
"Oh. . ." respon Risa yang terlihat kecewa. 'Gila! aku kira dia pengen mutusin Amel!' lanjutnya dalam hati.
"Sekarang kau lebih baik kembali tidur. Mimpi buruknya nggak usah terlalu dipikirkan," imbuh Juni sembari memperbaiki selimut untuk Risa.
"Enggak! aku nggak bisa tidur lagi Jun, gimana dong?" kata Risa.
"Terus kamu mau ngapain di jam dua dini hari begini? sahur? besok mau puasa?" sindir Juni yang tidak ingin Risa mengada-ngada.
"Haiss! lebay kamu ah. Aku haus Jun!" ungkap Risa seraya menyentuh area dimana tenggorokannya berada.
"Ya udah aku ambilin air dahulu." Juni mengambil air mineral yang ada di atas nakas. Dan segera memberikannya kepada Risa.
"Air ini? ih! aku nggak mau!" tolak Risa dengan dahi yang berkerut.
"Emangnya kenapa sama air ini?" Juni ikut mengernyitkan dahinya.
"Kayaknya udah kelamaan itu Jun. Aku mau yang baru." Risa membuang muka dari Juni.
"Ya sudah aku akan coba belikan dulu." Juni segera bergegas keluar. Tidak lama kemudian dia pun kembali dengan membawa botol yang berisikan air mineral.
"Nih, cepat minum!" suruh Juni, yang segera membuat Risa meminum air mineralnya.
'Enak juga punya babu, pfft. . .' girang Risa dalam hati sembari tidak mengalihkan atensinya dari Juni. Bahkan ketika ia tengah menenggak minumannya.
"Uhuk! uhuk!" Risa kembali batuk, namun kali ini dia lakukan dengan sengaja.
"Ris, minumnya yang pelan dong!" ucap Juni lembut.
"Kamu kok kayak kucing lagi kelaparan Jun?" tanya Risa.
"Hah?"
"Lembut banget bicaranya sama aku," ujar Risa dengan raut wajah yang cengengesan.
"Aku khawatir banget tahu sama kamu!" Tutur Juni yang setelahnya menghela nafas panjang. "Sumpah aku khawatir banget!" sambungnya lagi. Juni tampak mengusap wajah frustasi.
"Oh gitu? kalau khawatir kenapa tadi kamu ingkarin janji kamu? aku nunggu kamu sampai pingsan gini, tega banget kamu!" terang Risa dengan segala keluh kesahnya.
"Tadi itu ibunya Amel sedang kritis. Ditambah tangisan Amel yang tidak berhenti membuatku tidak tega tinggalin dia begitu saja." Juni menatap serius.
"Terserah!" geram Risa sambil kembali merebahkan diri ke kasur, dan berpaling dari Juni.
"Ya sudah, kamu tidur lagi deh!" Juni menyentuh pundak Risa lembut. Namun langsung mendapatkan tepisan dari sahabatnya.
"Hedeh! katanya nggak mau tidur, dasar!" ucap Juni yang sedang memandangi wajah Risa yang sedang terlelap. Perlahan tangannya membelai pelan kepala sahabatnya. "Pokoknya kau harus sembuh Ris!" Juni masih berada di posisi yang sama.
Keesokan harinya, Risa harus kembali melakukan pemeriksaan. Dia sekarang tengah bersama dengan Dokter Andi.
"Remisimu berjalan sangat lancar Ris, tetapi setelah hasil tesmu keluar. Aku melihat ada kandungan obat anti-depresan dalam tubuhmu. Apa kau benar meminumnya?" jelas Dokter Andi, yang berakhir dengan sebuah pertanyaan.
"Oh itu, aku hanya meminumnya sedikit," sahut Risa singkat.
"Kenapa? kenapa kau meminumnya? seharusnya obatmu yang harus kamu minum?" Dokter Andi mengerutkan dahi. Dia menggeleng tak percaya.
"Akhir-akhir ini aku merasa stress aja!" tutur Risa santai.
"Kamu kalau stress mending ketemu psikolog aja," usul Dokter Andi dengan ekspresi seriusnya.
"Tenang aja Dok, sekarang udah nggak lagi kok!" ucap Risa yakin. 'Soalnya kan ada Juni yang menjagaku," sambung-nya dalam hati.
"Terserah! aku hanya melakukan pekerjaanku," balas Dokter Andi dengan nada malas. Dia terlihat cemberut sedari tadi.
"Ish Dokter! jangan cemberut terus mukanya. Masa sama pasiennya gitu?" sindir Risa sembari sedikit terkekeh.
"Kamu ya! kalau kebohongannya aku bongkar baru tahu rasa!" geram Dokter Andi.
"Dokter ya! kalau rahasianya bocor baru tahu rasa!" balas Risa, yang sontak membuat Dokter Andi gelagapan untuk segera menyuruhnya diam.
***
Sekarang Risa sedang duduk santai di atas kasurnya. Dia menikmati potongan apel dari sang ayah. "Ayah sudah buang semua obatmu," celetuk Bayu seraya memotong lebih banyak apel.
Risa membulatkan mata, dia menatap ke arah ayahnya dengan raut wajah gelisah. "Ayah tahu?" tanya Risa.
"Baru kemarin." Bayu terdiam sejenak, lalu menambahkan, "kamu jangan pernah lagi meminum obat yang begituan, itu mungkin saja bisa mengganggu proses remisimu yang sedikit lagi berhasil. Ayah nggak mau melihat kamu tambah sakit!"
"Iya Ayah! aku nggak bakalan melakukannya lagi." Risa menatap serius.
"Bagus!" Bayu mengelus kepala sang anak dengan lembut.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka. "Halo?" Juni muncul dari balik pintu. Risa yang melihat wajah itu langsung mengukir senyum semringah. Namun senyuman tersebut pudar kala dirinya melihat Amelia menyusul masuk setelah Juni.
'Menyebalkan sekali. Kenapa Juni ngajak setan kembang ini sih!' keluh Risa dalam hati sambil menyunggingkan mulutnya ke kanan.
"Wah ada Juni sama Amel, pas banget datangnya," sapa Bayu ramah.
"Iya Om!" balas Juni seraya mengukir senyuman diwajahnya.
"Ya sudah, Om mau keluar sebentar. Kalian ngobrol aja dahulu," ujar Bayu, lalu melangkah keluar ruangan.
"Ris, gimana keadaanmu?" tanya Amelia yang tampak khawatir.
"Yah, seperti yang terlihat." Risa menjawab dengan nada malas.
"Eh Mel, kamu jaga Risa sebentar ya. Aku mau ngambil makanan yang ketinggalan di mobil!" ungkap Juni, yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Amelia.
"Jangan lama-lama ya!" kata Risa dengan nada tinggi, tepat sebelum Juni keluar.
Hening menyelimuti suasana di antara Risa dan Amelia. Hingga akhirnya Amelia buka suara untuk memecah suasana canggungnya.
"Ris, aku minta maaf atas kelakuanku yang selama ini membuatmu marah. . ." Amelia menundukkan kepala. "Aku nggak nyangka kamu sedang mengidap penyakit yang parah begini. Dan aku tahu betul rasanya," lanjutnya dengan ekspresi sedihnya.
"Kamu benar sedang meminta maaf kepadaku?" tanya Risa serius. Dia langsung mendapatkan anggukan kepala dari Amelia.
"Kalau mau maaf dariku, kau harus bersedia putusin Juni!" ujar Risa, yang sontak membuat mata Amelia membelalak.