The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 79 - Permintaan Jay



"Jay akan pulang lusa Ris!" celetuk Bayu, yang sontak membuat atensi Risa teralih.


"Benarkah?" Risa melebarkan matanya.


"Dia pasti senang Om! biar bisa leluasa berduaan sama Juni!" sekali lagi ucapan Jay benar-benar merisihkan Risa.


"Jay, kamu bisa berhenti nyindir-nyindir Juni segala nggak?" timpal Risa seraya menggertakkan gigi.


"Memangnya siapa sih Juni?" tanya Helen yang sepertinya mulai penasaran.


"Dia pacarnya Risa Mom. Risa juga menolakku karena tuh cowok!" jelas Jay.


"Jay! kau!" Risa mengangkat kepalan tinjunya dengan mulut yang mengulum geram. Hampir saja tonjokannya kembali melayang, karena hanya sebuah kalimat. Namun dia sadar diri, ketika Helen memandangi dirinya dengan kerutan di dahi.


"Ya sudah Helen, lebih baik kau istirahat dahulu ke kamar. Semua ini biar Risa yang beresin, dia sangat ahli melakukannya!" ujar Bayu, sengaja mengalihkan perhatian Helen dari kelakuan Risa.


"Tidak, tidak! aku akan membantu Risa!" tepis Helen yakin.


"Enggak usah Tante, ayahku benar! aku sangat ahli melakukannya!" Risa berusaha meyakinkan. Helen tampak berpikir, biji matanya bergerak secara perlahan. Pada akhirnya wanita tersebut mengalah, dan segera mengistirahatkan diri ke kamar.


Sekarang hanya ada tinggal Risa di dapur sendirian. Pertama-tama ia harus membereskan piring dan gelas yang ada di atas meja. Lalu berniat mencuci-nya di wastafel. Jay terlihat muncul lagi dari tangga, dia segera mendekati Risa.


"Kenapa? mau bantuin?" tegur Risa dengan hela nafas beratnya.


"Iya deh, kalau di ijinkan!" sahut Jay sambil melirik ke arah gadis yang masih bergumul dengan piring-piring kotor.


"Ya sudah, nih! kamu susun piringnya saja!" titah Risa. Dia sekarang menggosok gelas dengan spon kuning yang dipenuhi busa.


"Kau tau. . . aku pasti akan merindukanmu Ris," ungkap Jay. Dia menatap lekat ke arah Risa, meski gadis yang dipandangnya tidak membalas tatapannya.


Risa tersenyum singkat. "Aku juga pasti akan merindukanmu. . ." lirihnya.


"Kau tidak perlu membohongiku!" kritik Jay. Dia merasa tidak percaya dengan kalimat yang diucapkan Risa barusan. "Aku sadar tidak memiliki tempat di hatimu, bahkan untuk seorang sahabat!" tambahnya yakin.


Risa mendengus kasar, dia akhirnya membalas tatapan Jay. "Siapa bilang? apa kau tidak tahu? dirimulah yang pertama kali tahu mengenai depresiku!" tuturnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dada Jay. Busa-busa sabun di tangannya tidak sengaja beralih ke kaos yang tengah dikenakan Jay.


"Oh astaga, aku nggak sengaja!" Risa segera mengambilkan kain kering untuk me-ngelap busa yang menempel di pakaian Jay.


"Tidak apa-apa, diginiin aja sudah hilang." Jay mengusap busa di kaosnya dengan satu tangan.


"Ya sudah, kamu tidur saja gih!" suruh Risa yang kembali menekuni spon dan piring-piringnya.


"Aku boleh meminta satu permintaan kepadamu nggak, sebelum aku benar-benar pergi?" Jay berharap. Menyebabkan Risa harus menoleh ke arahnya lagi.


"Permintaan? apa?" kening Risa mengernyit.


"Kencan. . . setidaknya satu hari saja, kau bersedia?" tawar Jay dengan binar harap yang terpancar pada manik biru miliknya.


"Kencan?" Risa membulatkan matanya.


"Aku hanya ingin membuat perasaan yang aku rasakan berkesan. Meskipun orang yang aku suka tidak menyukaiku, itu saja." Jay berterus terang.


Risa terdiam seribu bahasa, pertanda dirinya tengah berpikir akan permintaan Jay terhadapnya. Jujur saja, dia juga merasa tidak enak jika menolaknya. Tetapi bagaimana dengan Juni? tidak mungkinkan Risa memberitahunya?


'Kalau Juni tahu, mungkin dia tidak akan membiarkan kencannya terjadi. Tetapi aku juga tidak tega menolak Jay, toh dia sudah mendapatkan penolakan dariku beberapa kali.' Risa membatin sambil mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya beberapa kali.


"Bagaimana?" Jay mencondongkan kepalanya untuk memperhatikan wajah Risa. "Kalau kau tidak--"


"Haha! untuk apa aku memberitahu Juni. Itu sama saja dengan bunuh diri," imbuh Jay masih dengan senyuman yang belum memudar.


"Jadi kapan?" tanya Risa seraya mengepakkan kedua tangannya untuk membuat air yang menempel berjatuhan.


"Besok?"


"Baiklah!" Risa menganggukkan kepala. Selanjutnya Risa langsung beranjak pergi ke kamar dan mengambil ponselnya. Dirinya menyaksikan beberapa panggilan tidak terjawab dari Juni. Dia mulai menggeser-geser layar ponselnya untuk berusaha menelepon kembali sang kekasih.


"Kenapa Jun? kau sudah pulang?" ucap Risa yang sudah memposisikan gawainya di telinga.


"Sudah, aku lihat ada mobil asing di depan rumahmu. Siapa?" tanya Juni dari seberang telepon.


"Oh, itu ibunya Jay. Sepertinya mau jemput anaknya!"


Juni yang sedari tadi rebahan di kasur langsung merubah pose menjadi duduk. Pupil matanya membesar tatkala mendengar kabar mengenai kepergian Jay. "Oh jadi si Jay akan kembali ke London?" tebaknya untuk memastikan.


"Iya, dia akan pergi nanti lusa. Senang banget kamu ya?!"


"Eh enggak! siapa bilang." Juni berkilah, dia menampakkan ekspresi bingung walau tidak berbicara saling berhadapan.


"Tega kamu ya, bahagia di atas penderitaan orang lain!" tukas Risa yang sekarang mendekatkan ponselnya ke mulut. Agar Juni mampu mendengar suara yang ditekankan olehnya.


"Jangan berprasangka buruk begitu, kan sudah ku-bilang aku nggak senang!" Juni kembali membantah.


"Oh, kalau begitu kamu mau Jay tinggal di sini aja dong!" Risa menarik kesimpulan.


"Astaga Ris, bukan gitu juga kali. Kamu jangan bicara berputar-putar ah!" geram Juni yang kembali merebahkan diri.


"Haha! ya sudah tidur sana. Aku dah ngantuk nih!"


"Oke. . ." Juni masih belum mematikan panggilannya. Sama halnya dengan Risa, keduanya masing-masing sedang menunggu.


"Loh, kok kamu nggak matiin?" tanya Risa terheran.


"Aku nunggu kamu matiin lebih dahulu lah!" balas Juni.


"Gara-gara kamu, kantukku jadi hilang. Dasar kopi cinta!" imbuh Risa. Membuat Juni tertawa jijik.


"Hahaha! ngomong-ngomong, kapan kambing bisa bertelur Ris? biar aku nyiapin lagu romantis buat kamu," canda Juni.


"Gilaaa!!!" geram Risa, sebenarnya dirinya juga mencoba menahana tawanya. "Kau pikir kapan hah? aku rasa sampai kau menjadi fosil pun itu tak akan terjadi, CURUT!" lanjutnya yang menekankan nada pada kata terakhir.


"Hahaha!" Juni hanya tertawa.


"Idih! malah tawa lagi. Dasar! ya sudah aku saja yang matikan panggilannya lebih dulu," ujar Risa.


"Tunggu Ris!" cegah Juni.


"Apa?!!!"


"Emmm. . . nggak jadi deh. Ya udah matiin aja!" kata Juni, yang sontak membuat Risa kembali kesal.


"Ish!" begitulah suara Risa sebelum dia benar-benar mematikan panggilan telepon. Juni yang mendengar masih belum mengalihkan ponsel dari telinganya. Sebenarnya lelaki tersebut hanya ingin memberitahu bahwa dia telah menuliskan beberapa lagu untuk Risa. Namun hingga sekarang Juni masih tak mampu mengungkapkannya secara langsung.


'Aku masih tidak percaya diri. Mungkin saja Risa malah mentertawakan hasilnya,' pikir Juni sembari mengusap wajahnya beberapa kali. "Risa memang tidak bisa ditebak!" sekarang ia bergumam lewat mulutnya.