
"Nah sudah jadi, mirip sama Kak Juni kan?" Risa memperlihatkan hasil gambarannya kepada Elsa.
"Hahaha! nggak mirip Kak, kan Kak Juni ganteng!" tepis Elsa dengan tawa gelinya. Juni yang mendengar lantas dibuat penasaran.
"Gambar apaan sih!" Juni mencoba melihat gambaran Risa, namun tidak berhasil. Dikarenakan Risa menjauhkan buku gambarnya dari tangan Juni. Gadis itu tersenyum girang dengan kejahilan yang ia lakukan.
"Ris! ayolah, jangan bikin aku penasaran!" geram Juni yang masih berusaha meraih buku gambar. "Elsa, bantuin Kak Juni dong!" lanjutnya, yang sekarang memohon pada Elsa.
"Jangan mau El!" titah Risa. "Sudah sana pergi kembali ke kamarmu saja!" lanjutnya lagi seraya mendorong pelan Elsa agar segera pergi. Alhasil anak kecil tersebut pun berlari keluar ruangan.
"Elsa!" panggil Juni, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Elsa. Lelaki itu langsung memasang wajah merengut, lalu menatap sinis ke arah sahabatnya.
"Puas? puas kamu?" ujar Juni seraya mencondongkan kepala.
"Bangeeeet!" Risa mencubit sebelah pipi Juni.
"Haiss! sakit tau!" Juni melepaskan tangan Risa dari pipinya. "Ya sudah aku pergi dahulu, mau kerja!" sambungnya.
"Ya sudah, sana!" balas Risa santai.
Setelah Juni pergi, Risa kembali sendirian. Jujur saja, dirinya mulai merasa bosan terus berada di rumah sakit. 'Besok aku akan akhiri saja kebohongan ini. Toh Juni sepertinya sudah menyukaiku, itu semua terlihat jelas dari sorot matanya!' batin-nya, yang dilanjutkan dengan senyum simpul karena mengingat tatapan lekat Juni.
Bayu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Saat itu dia tidak sengaja berpapasan dengan Juni. "Eh Jun!" sapanya sambil melangkah untuk mendekati.
"Om!" balas Juni dengan senyumnya.
"Mau pulang kamu?" tanya Bayu santai.
"Iya Om!" jawab Juni singkat.
"Jun, kamu punya waktu sebentar nggak? Om mau ngomongin sesuatu!" ungkap Bayu, yang segera mendapatkan persetujuan dari Juni. Keduanya pun duduk di kursi terdekat untuk saling bicara.
"Mau bicara apa Om?" tanya Juni.
"Kamu kalau sama Risa, tolong dijaga makanan yang dia makan ya! soalnya dia baru aja sembuh, dan masih harus makan-makanan yang sehat. Si Risa ini orangnya susah sekali dibilangin. Nggak tahu deh kalau sama kamu!" jelas Bayu.
"Sembuh? Maksud Om?" Juni mengerutkan dahi. Karena dari sepengetahuannya Risa sedang sakit keras dan butuh waktu yang lama untuk sembuh.
"Risa baru aja sembuh dari penyakitnya Jun. Tetapi dia beruntung cuman kena stadium satu, coba kalau empat mungkin akan sulit sembuh. Makanya Om minta tolong kamu!" balas Bayu. Juni yang mendengar sontak membulatkan mata. Dia masih berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Tapi Risa bilang dia kena stadium empat!" imbuh Juni dengan nada tinggi.
"Loh! nggak Jun!" tegas Bayu, dahinya mengernyit.
"Berarti dia bohongin aku?" Juni menunjukkan jari telunjuk ke dadanya sendiri.
"Risa bohongin kamu?" Bayu juga ikut dibuat kaget.
"Ya sudah Om, aku mau pergi dahulu!" ucap Juni yang bergegas berjalan ke suatu tempat, tepatnya ruang Dokter Andi. Sebab dia sangat ingat betul Dokter Andi-lah yang memberitahukannya mengenai penyakit Risa.
Tok! Tok! Tok!
Juni mengetuk pintu ruangan Dokter Andi. Namun malah mendapat jawaban dari seorang perawat, yang menyuruhnya untuk melakukan janji dahulu sebelum berkonsultasi.
"Aku hanya ingin bicara sebentar!" tegas Juni, tetapi malah kembali mendapatkan penolakan. Alhasil dia pun berbalik dan melangkah menuju kamar Risa.
Tanpa kesengajaan, Juni bertemu dengan Dokter Andi saat berjalan di lorong. "Dok!" panggil Juni, yang segera mendapatkan senyuman dari Dokter Andi.
"Ada apa?" tanya Dokter berbadan jangkung tersebut.
Dokter Andi yang merasa tertangkap basah sontak membelalakkan mata. Dia tidak bisa berkilah lagi, dan mengatakan yang sebenarnya. "Jun, aku sudah memperingatkan Risa untuk menghentikannya tetapi dia sepertinya--"
"Makasih!"
Belum selesai Dokter Andi bicara, Juni sudah langsung melingus pergi dengan amarah yang menggebu.
"Jun, kau harus dengar penjelasanku, Risa adalah gadis yang--" Juni yang mendengarkan penjelasan Dokter Andi dari belakang terus berjalan, hingga akhir kalimatnya hanya terdengar samar-samar.
Ceklek!
Juni masuk ke kamar Risa dengan wajah memerah. Nafasnya mulai naik turun dalam tempo cepat.
"Loh Jun, kok balik lagi? udah kangen aja ya?" Risa terlihat cengengesan duduk di atas kasurnya.
"Katakan kau sedang tidak membohongiku!" ungkap Juni yang berjalan semakin dekat terhadap keberadaan sahabatnya.
"A-a-apa maksudmu?" balas Risa yang tergagap.
"Kau benar kena kanker stadium empat? kalau benar ikut aku untuk melakukan pemeriksaan!" Juni menarik tangan Risa dengan paksa.
"Jun! kamu kenapa?!" Risa berusaha melepaskan cengkeraman sahabatnya. Namun Juni tetap bersikeras, dan terus menyeret Risa keluar dari kamar.
"Jun!" Risa mencoba menarik dirinya sekuat tenaga.
"Oke! oke Jun! aku akui!" pekik Risa, yang perlahan mulai merengek. Hingga membuat semua orang disekitar memperhatikannya. Termasuk Dokter Andi yang baru saja hendak memasuki ruangan.
"Mengakui apa?" Juni menatap tajam Risa dengan keadaan mata yang juga sudah terlihat berkaca-kaca.
"Aku berbohong!" Risa menundukkan kepala dengan air mata yang mulai menetes. Dia tidak berani melihat ke arah lawan bicaranya.
"Tega kamu! jangan harap kau bisa menghabiskan waktu lagi denganku!" ujar Juni, yang segera beranjak pergi dari hadapan Risa.
"Mel? apa kamu masih kerja?" Juni menghubungi Amelia melalui ponselnya.
Setelah pengakuannya, Risa masuk ke dalam kamar dengan deraian air mata. Dia mencoba mencari obat anti depresannya. Namun gadis tersebut baru teringat, kalau dirinya sudah tidak memiliki obat itu lagi.
Risa mengacak-acak rambut frustasi. Perasaan sepi dan sendirian mulai menghantuinya. 'Aku ingin mati saja, kenapa aku selalu merasa tidak berguna dan kesepian. Kenapa? padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk bahagia!' batin Risa. Dia masih menangis histeris.
"Sudah ku-bilang kau butuh psikolog!" Dokter Andi tiba-tiba muncul dari pintu. Lelaki tersebut menatap iba Risa. Lalu menepuk pundaknya pelan.
"Aku hanya tidak ingin sendirian lagi. Aku lelah, aku harap diriku benar-benar kena stadium empat!" keluh Risa sambil berisak tangis.
"Hus! jangan ngomong gitu, masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu. Ayahmu, aku, dan. . ." Dokter Andi mencoba mencari nama lain.
"Hanya sedikit kan?" sahut Risa, yang menatap dengan sudut matanya. Sesekali ia menghapus air mata yang menetes di pipi.
***
Amelia masuk ke dalam mobil Juni. Rambut gadis itu terlihat sedang di kuncir kuda. Dia langsung memberikan senyuman semringah untuk sang kekasih.
"Kenapa Jun? wajahmu kok sedih gitu?" Amelia menilik raut wajah pacarnya.
Juni menyentuh pipi Amelia dengan lembut, yang sontak membuat sang kekasih terkesiap. "Mulai sekarang, aku akan bersamamu saja!" ujar Juni. Amelia yang mendengar lantas menatap penuh tanya. Kemudian memegangi tangan Juni yang sedang menempel di pipinya.
"Bukankah kita memang selalu bersama?" ungkap Amelia, lalu mengukir senyum simpul.