
"Sudah mukanya jangan sok sedih gitu!" Juni mencubit sebelah pipi sahabatnya. Risa lantas hanya memanyunkan bibirnya.
"Nonton yuk!" ajak Risa sembari melayangkan pantatnya ke sofa.
"Emang dari mana kamu tahu kalau Amel lagi sama cowok?" tanya Juni sambil memposisikan dirinya duduk di sebelah Risa.
"Tadi aku nggak sengaja ketemu dia. Amel kelihatan beda banget loh, dia kenapa sih?"
"Dia mau fokus sama karir katanya," jawab Juni santai.
"Idih! emang gila tuh orang, masa cowok kayak gini dibuang gitu aja!" Risa mencolek dagu Juni iseng.
"Haiss! jangan lebay ah!" respon Juni yang sedikit terkekeh.
"Kamu nggak apa-apa kan Jun? nggak sakit hati kan?" Risa menilik ekspresi yang ditunjukkan sahabatnya. Namun Juni hanya terdiam seribu bahasa, dan fokus dengan televisi yang menyala.
"Kalau sedih, sini deh biar aku hibur!" ucap Risa.
"Enggak kok, aku nggak sedih!" akhirnya Juni membalas.
"Oh, boleh aku tahu kenapa?" tanya Risa.
"Apanya?" Juni berbalik tanya.
"Ya alasan kamu tidak sedih itu kenapa?" sahut Risa dengan nada penuh penekanan. Juni sontak menoleh ke samping tepat dimana Risa berada. Dia perlahan mendekatkan mulut ke telinga sahabatnya dan berucap, "Rahasia!"
Plak!
Risa langsung melayangkan tamparan ke bahu sahabatnya. Dia menggeleng tak percaya, karena dirinya mengharapkan jawaban yang lain.
"Berarti kesempatanku makin besar dong!" celetuk Risa.
"Hah?" Juni dibuat bingung, karena dirinya hanya mendengar ucapan Risa samar-samar.
"Bukan apa-apa, fokus aja gih nonton-nya!" balas Risa yang dilanjutkan dengan decak kesal. Juni tersenyum memandangi Risa dengan binar dimatanya. Dia merasa gemas melihat raut wajah kesal sahabatnya.
"Jun, kamu kenapa--" Risa menjeda kalimatnya, kala tidak sengaja saling bertukar pandang dengan Juni. Perlahan lelaki yang ditatapnya mulai mendekatkan wajahnya. Kali ini Risa tetap diam dan membiarkan sahabatnya semakin mendekat.
'Awas aja kalau kali ini dia mau kentut lagi,' gerutu Risa dalam hati. Benar saja, Juni memang tengah membidik bibirnya. Namun Risa dengan sigap menahan bibir Juni dengan tangannya.
"Jun, kau mau menciumku kan?" tanya Risa blak-blakkan. Juni yang merasa terkejut lantas membulatkan mata, dia reflek menganggukkan kepala.
"Kenapa?" Risa kembali bertanya, dia melepaskan tangannya dari bibir Juni.
"Bukankah sudah jelas?" dahi Juni berkerut.
"Apanya yang sudah jelas? aku ingin kau mengatakannya dengan mulutmu!" tukas Risa.
"Bukankah kau bisa melihatnya dari mataku seperti yang kau bilang tempo hari?"
Risa menghela nafas panjang, dia ingin kejelasan dari sahabatnya. Juni yang menyaksikan kekesalan diwajah Risa malah terkekeh.
"Malah tawa lagi, aku serius!" ucap Risa dengan nada tinggi.
"Ya sudah!" kata Juni, lalu dilanjutkan dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Risa dan berbisik, "Aku mencintaimu!"
Risa yang mendengarnya tidak bisa membendung senyum bahagia di raut wajahnya. Tetapi bukan Risa namanya jika tidak pernah melakukan kejahilan, bahkan di momen pentingnya sendiri.
"Apa kau bilang Jun? bisa kau ulangi lagi?" Risa menampakkan ekspresi serius seolah tidak mendengar. Membuat Juni sontak mendengus kasar. Alhasil dia kembali mengulangi kalimatnya tadi. "Aku mencintaimu!" ujarnya.
"Apa?! aku rasa telingaku tadi agak gatal jadi hanya mendengar suara sayup-sayup!" Risa memukul-mukul bagian kupingnya.
"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu . . ."
Risa yang mendengarnya merasa sangat puas, dia tertawa geli dengan pipi yang merah merona.
"Puas?!" timpal Juni sembari menyenderkan kepalanya ke sofa. Wajahnya juga tak kalah merona dari sahabatnya.
"Sekarang ayo!" ucap Risa yang sudah berhenti tertawa.
"Apanya yang ayo?" Juni mengernyitkan dahi.
"Ini!" Risa memajukan bibirnya sambil memejamkan mata seolah memberikan kode bahwa dirinya telah siap dicium.
"Idih! aku dah nggak minat, siapa suruh tadi menyuruhku berhenti di tengah jalan!" Juni sedikit bergeser menjauh dari Risa.
"Nanti saja kalau begitu, toh kita juga sedang berada di rumahmu. Ada Ibu dan adikmu yang menjadi mata-mata!" imbuh Risa dengan nada pelan.
"Jangan lebay ah!" tukas Juni. Dia melihat Risa yang tampak memegangi kedua pipinya seraya terus tersenyum.
"Maaf ya Jun, aku kalau lagi bahagia jadi hiperaktif!" terang Risa dengan wajah merahnya bak kepiting rebus. "Jadi sekarang kita pacaran kan?" tambahnya.
"Benarkah?" Juni memanyunkan bibirnya, karena ingin menggoda Risa.
"Ish!" Risa mendorong bahu Juni karena merasa kesal dengan respon sahabatnya yang seakan tidak tahu maksudnya.
"Tentu saja, kau pikir apa lagi hah? kau itu ya kadang liar tapi kadang juga menggemaskan!" ujar Juni yang sudah tidak bisa membendung hasratnya lagi. Dia mencoba kembali mencium sahabatnya. Namun ketika hampir tiba di dermaga suara jejak kaki dari tangga perlahan terdengar. Juni dan Risa pun membatalkan aktifitasnya.
"Eh ada Risa! kalian sedang tidak ada kerjaan ya malam ini?" Rahma datang sambil melangkahkan kaki menuruni tangga.
"Begitulah Tante!" sahut Risa seraya mengusap tengkuknya tanpa alasan.
"Emangnya kenapa Mah?" tanya Juni santai.
"Pas banget, Mamah ada janji penting malam ini. Kalian mau nggak ke super market beli barang keperluan bulanan?" jelas Rahma yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Ah Mamah, kami--"
"Tentu saja bisa Tante, sekalian juga kan jalan-jalan." Risa menyambar perkataan yang hendak di ucapkan Juni. Alhasil dia dan Juni pun benar-benar pergi ke super market bersama.
"Kau benar-benar hiperaktif ya sekarang!" ungkap Juni sembari fokus dengan alat kemudinya.
"Iya, jantungku terus berdebar-debar dari tadi." Risa memegangi area dada kiri tepat dimana jantungnya berada.
"Tenanglah Ris!" ucap Juni dengan kekehnya.
"Kau sendiri juga sedang berdebar-debar kan?" tanya Risa, yang dilanjutkan dengan memegangi bagian dada kiri Juni dengan tangannya.
"Haiss! nih anak! aku sedang nyetir, nanti saja kenapa?!" tegur Juni masih dengan tawa kecilnya. Namun sama sekali tidak dihiraukan Risa. Gadis itu tetap fokus dengan detak jantung sahabatnya. Benar saja, jantung Juni juga tak kalah berdebar lebih cepat dari dirinya.
"Aduuuh! senangnya, hahaha!" gumam Risa yang lagi-lagi menangkup wajahnya sendiri dan tersenyum tidak karuan.
'Astaga Risa sebegitu sukanya dia denganku? Kenapa perasaan bahagia ini sangat berbeda ya dengan saat aku pertama kali berpacaran sama Amel?' batin Juni yang sesekali melirik ke arah sahabatnya.
Drrt. . . Drrt. . .
Risa tiba-tiba mendapatkan telepon dari ayahnya. Dia tampak sangat terkejut dengan kabar yang diberikan Bayu. Juni yang penasaran lantas bertanya, "Ada apa Ris?"
"Kata Ayah, Jay akan datang ke rumahku!" tutur Risa datar.