
Risa sudah merapikan semua barangnya. Dia bersiap pergi meninggalkan rumah sakit. "Kamu nggak mau pamitan dulu sama anak kecil itu?" tanya Bayu.
"Nggak usah!" sahut Risa.
"Kamu sepertinya memang nggak suka mengucapkan salam perpisahan ya!" ungkap Bayu sembari menggeleng tak percaya. "Ris, harusnya kamu tidak perlu sampai berbohong begitu sama Juni," lanjutnya.
"Ayah kalau nggak mengerti lebih baik tidak usah ikut campur!" balas Risa seraya keluar dari kamar lebih dahulu.
Ceklek!
Risa masuk ke dalam ruangan Dokter Andi. "Eh Ris, aku sedang ada pasien!" protes Dokter Andi yang merasa kaget dengan kedatangan Risa.
"Dok, aku cuman memberitahu secara singkat kok. Jangan beritahu ayah mengenai psikolog kemarin ya!" ucap Risa, kemudian segera melingus pergi keluar ruangan. Dokter Andi yang melihat kelakuannya hanya bisa terperangah, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Risa berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tiba-tiba suara anak kecil memanggilnya dari belakang.
"Kak Risa!" pekik Elsa, namun sama sekali tidak mendapatkan respon dari orang yang sedang dipanggilnya. Risa hanya terus melangkah dengan ekspresi datar.
"Kak Risa! hiks!" Elsa mulai merengek, dia tidak diperbolehkan perawat berlari karena penyakitnya. Alhasil gadis kecil itu hanya bisa menangis ketika menyaksikan kepergian Risa.
'Astaga, aku merasa tidak enak.' batin Risa, yang pada akhirnya berbalik dan menghampiri Elsa, lalu memeluknya lembut.
"Selamat atas kesembuhannya ya Kak!" ujar Elsa yang perlahan melepaskan pelukannya. Risa pun merespon dengan anggukan kepala.
"Kamu pasti akan menyusul kok!" Risa mengelus kepala Elsa, dia mencoba tersenyum. "Nanti aku akan sering-sering ke sini," sambungnya. Elsa yang mendengarnya sontak merasa sangat girang.
Syut. . .
Bayu menghentikan mobil dengan pelan, karena sudah tiba di depan rumah. Terlihat Juni, Rahma dan Sofi yang rapi dengan pakaiannya. "Loh, udah pulang Ris? padahal kami ini mau berangkat ke rumah sakit untuk jenguk kamu!" imbuh Rahma yang merasa dibuat agak kaget dengan kembalinya Risa.
"Risa udah sembuh, jadi bisa pulang," ucap Bayu.
"Sudah ku-bilang kan Mah!" celetuk Juni, kemudian bergegas masuk ke rumahnya lagi.
"Eh, eh! tuh anak! Jun!!" geram Rahma yang merasa kesal dengan sikap tak acuh anaknya.
"Kak Risa! maaf ya kami telat jenguknya, tapi untung Kakak sudah sembuh. Aku senang banget!" kata Sofi seraya memeluk Risa pelan.
"Iya!" jawab Risa singkat, lalu melangkah masuk ke rumahnya.
"Kak Risa sama Kak Juni bertengkar ya?" tebak Sofi, yang merasa menyaksikan gelagat aneh Juni dan Risa.
"Begitulah Sof, tapi Om yakin bentar lagi mereka baikan kok!" sahut Bayu sambil mengambil tas dari bagasi.
"Ayo Sof, kita bantuin Om Bayu!" ajak Rahma pada sang anak.
"Eh nggak usah!" tepis Bayu, namun sama sekali tidak digubris oleh Rahma. Janda ber-anak dua tersebut dengan sigap membawakan barang-barang Bayu. Kemudian di ikuti oleh Sofi setelahnya.
"Hari ini makan-makan ke rumah kami yuk! aku ingin mengadakan syukuran kecil terhadap kesembuhan Risa," ujar Bayu yang langsung mendapat respon positif dari Rahma.
"Ayah, nggak perlu lah!" tepis Risa. Dia tidak sengaja mendengar omongan sang ayah. "Suka-suka Ayah dong! ajak Juni juga ya!" tambahnya, yang sekarang mengubah lawan bicaranya, tepatnya kepada Rahma.
"Pasti dong! dia nggak akan menolak!" sahut Rahma yakin. Risa yang tidak mampu lagi berkilah hanya bisa menggelengkan kepala.
Bruk!
Risa merebahkan diri ke kasur, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dia melihat banyak sekali pesan masuk. Terutama dari Jay, lelaki yang sempat dekat dengannya saat di London.
'Alasanku kembali ke Jakarta, ya cuman karena Juni. Dia lelaki terbaik yang pernah ku-temui dalam hidupku. Sopan, perhatian, dan baik bicaranya. Dia benar-benar tipeku, hingga membuatku terlalu bersikeras mendapatkannya. Mungkin sekarang aku hanya bisa membiarkan waktu yang menjawab. Aku akan diam, dan membiarkan seperti seharusnya.' batin Risa seraya mengerjapkan mata beberapa kali menatap ke langit-langit atap. Lama-kelamaan ia pun tidak sengaja tertidur. Gadis tersebut tertidur cukup lama, hingga malam tiba.
"Cepat bantu Ayah menyiapkan makanan!" perintah Bayu sambil mengeluarkan makanan dari salah satu kantong plastik hitam.
"Ayah baru aja pesan?" tanya Risa.
"Iya!"
"Ish! Ayah ngapain bikin makan malam gini sih. Aku males banget!" keluh Risa sembari menata makanan dengan terpaksa.
"Kamu ya! harusnya berterima kasih sama Ayah." Bayu menatap anaknya dengan sudut matanya.
"Terserah!" sahut Risa singkat.
Di sisi lain, Rahma sudah tampak siap untuk pergi ke acara makan malam. Dia kemudian melangkah menuju kamar Juni.
"Juni, ayo siap-si--" kalimat Rahma terjeda, ketika tidak melihat keberadaan Juni di kamarnya. "Loh! kemana tuh anak? awas aja kalau pulang nanti!" lanjutnya dengan dahi yang berkerut.
"Ya sudah Sof, berarti kita berdua saja yang berangkat!" pekik Rahma, yang mengajak anak bungsunya.
Meskipun tanpa Juni makan malam berjalan sangat lancar. Toh Risa bisa menjadi leluasa untuk menjadi dirinya sendiri.
"Kak Risa bertengkar sama Kak Juni ya?" Sofi menatap serius sambil membilas piring dengan sabun.
"Biasa lah, toh ini semua karena aku," terang Risa singkat.
"Baru kali ini ya pertengkaran Kakak terlihat serius, soalnya kan biasanya cuman bercanda," ucap Sofi.
"Yah begitulah sebuah hubungan. Tidak ada yang selalu berjalan mulus." Risa mendengus kasar seraya merapikan piring dan gelas.
***
Fakultas Seni dan Budaya tengah mencari mahasiswa/i dari tiap jurusan yang ada untuk mengikuti festival. Dan beruntunglah mereka yang telah lolos audisi atau tes, karena akan dipilih secara otomatis. Sekarang para mahasiswa/i yang terpilih sedang berkumpul di aula.
"Ris, kamu juga ikut?" sapa Ello yang baru saja muncul di sebelah Risa.
"Iya!" Risa memaksa dirinya tersenyum.
"Jun!" Ello tiba-tiba memanggil Juni yang baru saja datang. Dia melambaikan tangannya. Dikarenakan sulit untuk menolak, Juni pun lantas terpaksa melangkah ke arah Ello yang tengah berdiri tepat di samping Risa.
"Udah lama Kak?" tanya Juni, yang sama sekali bertingkah seolah tidak mengenal Risa.
'Aku sebenarnya sangat jengkel! tetapi aku memang pantas diperlakukan seperti ini oleh Juni,' gumam Risa dalam hati. Dia tidak mampu menoleh ke arah sahabatnya.
"Hei Ris, kenalkan ini Juni. Dia seangkatan denganmu!" ujar Ello santai. Juni hanya terdiam seribu bahasa, dia tidak menatap sedikit pun ke arah Risa.
"Sudah kenal Kak!" balas Risa seraya tersenyum tipis.
"Benarkah?" Ello menatap Juni dan Risa secara bergantian.
"Iya Kak, tetapi Juni sedang marah besar. Jadi lebih baik aku pergi saja!" imbuh Risa yang segera beranjak pergi.
"Eh!" Ello berusaha mencegah, namun dia urungkan. Lelaki itu hanya menatap Juni dengan penuh tanya.
"Kamu sama Risa punya hubungan khusus ya?" Ello menjeda sejenak. "Jun, kamu sepertinya sangat membenci Risa. Kalau begitu, dia buat aku saja ya?" lanjutnya dengan rangkulannya. Juni yang mendengar lantas agak sedikit terkejut.
*Catatan : Nama Fakultas hanya imajinasi penulis semata. Tidak nyata adanya.