The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 59 - Kabar Buruk?



"Kamu kenapa jadi malu-malu gitu sih?" Risa tampak cengengesan. Dia mencondongkan wajahnya ke arah Juni.


"Eh, siapa yang malu!" bantah Juni dengan mengalihkan pandangannya dari lawan bicara.


"Aduh! lucu banget sih, sini ku-peluk!" ujar Risa sembari merentangkan tangannya dan berjalan mendekati Juni.


Grab!


Benar saja, Risa membawa sahabatnya masuk ke dalam pelukannya. Juni sontak membulatkan mata, jantungnya semakin berpacu lebih cepat. Tangannya perlahan terangkat untuk membalas pelukan Risa.


Ceklek!


"Kak Ju--"


Sofi menghentikan panggilannya ketika tidak sengaja menyaksikan sang kakak sedang berpelukan mesra dengan Risa. Juni sontak kembali menurunkan tangannya.


"Sofi! eh Ris! Ris!" Juni menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Alhasil Risa pun langsung melepaskan pelukannya.


"Teruskan saja Kak, nanti saja deh!" respon Sofi yang salah tingkah, lalu kembali masuk ke rumah.


"Sof!" panggil Juni yang takut membuatnya salah paham.


"Sudahlah Jun! kau mau membantah apa lagi hah?" ungkap Risa seraya memegangi lengan Juni.


"Kamu mandi dulu gih, bau keringat!" balas Juni sambil mengibaskan tangan ke depan hidung. Kemudian langsung berlari memasuki rumahnya.


"Apa?!" Risa membelalakkan mata, dia melayangkan tendangannya ke arah pantat sahabatnya namun me-leset begitu saja. Risa sekarang hanya bisa menggertakkan gigi.


Risa masuk ke dalam rumahnya. Dia segera memeriksa ponselnya, dan mendapatkan pesan dari sang ibu yang ingin bertemu.


'Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Apapun yang terjadi dia memang akan tetap menjadi seorang ibu untukku,' batin Risa, lalu melanjutkan dengan dengusan kasar. Setelah membersihkan diri, dia lantas pergi untuk menemui Anggun di sebuah restoran.


Risa menghentikan mobilnya pelan, kemudian segera memasuki area restoran. Dia mencoba mencari keberadaan ibunya. Hingga atensinya pun tertuju kepada wanita cantik dengan setelan kantoran yang melambaikan tangan ke arahnya. Risa pun bergegas mendekati sang wanita yang tidak lain adalah Anggun.


"Ya ampun Risa!" ucap Anggun sembari berdiri dari tempat duduk karena merasa sangat senang melihat kehadiran sang anak. Dia berusaha memeluk Risa, namun langsung mendapat tepisan.


"Nanti saja, ada banyak orang," ungkap Risa dengan senyuman yang sangat singkat.


"Oh, begitu." Anggun kembali duduk. Dia berusaha menahan air matanya yang terlihat ingin berjatuhan. "Ba-bagaimana kabarmu Ris?" tanya-nya.


"Baik. Seperti yang terlihat!" jawab Risa singkat.


"Syukurlah! maafkan Mamah yang tidak tahu sama sekali tentang penyakitmu. Ayahmu benar-benar tidak memberitahuku sama sekali," tutur Anggun.


"Itu memang keinginanku kok, toh aku tidak ingin penderitaanku membuat orang lain menderita," sahut Risa yang dilanjutkan dengan menenggak jus jeruknya.


"Kenapa begitu? aku ini tetaplah ibumu Ris!" tegas Anggun. Dia menatap Risa dengan nanar di sorot matanya.


"Bagaimana kabar Mamah? katanya sudah menikah lagi ya?" Risa sengaja mengubah topik pembicaraan.


Anggun tersenyum sejenak. "Iya, aku juga punya anak yang seumuran denganmu," ujarnya.


"Oh, Mamah dapat bonus?" tanya Risa.


"Bonus?" Anggun mengernyitkan dahi.


Risa menepuk jidatnya sendiri sambil tertawa kecil. "Maksudku Mamah menikah dengan orang yang sudah punya anak. Itu kan namanya bonus, ambil satu dapat satu!" jelas Risa singkat.


Anggun menggeleng tak percaya, namun dia berusaha sebisa mungkin memaklumi omongan dari anak kandungnya itu. "Kamu masih benci ya sama Mamah?" Anggun menampakkan raut wajah serius.


"Sudahlah, aku tidak ingin mengingat masa lalu lagi." Risa mengalihkan pandangannya dari Anggun. Hingga dirinya tidak sengaja melihat kehadiran seorang gadis yang terasa tidak asing.


'Amel? hah? ngapain dia di sini?' batin Risa dengan melebarkan matanya. Dia reflek berdiri dari tempat duduknya. Apalagi kala menyaksikan Amelia tengah bergandengan mesra dengan seorang lelaki.


Anggun yang melihat gelagat aneh anaknya pun menatap bingung. "Ris, kamu mau kemana?" tanya-nya dengan mengerutkan dahi. Tetapi Risa tak acuh, dia langsung berjalan menghampiri Amelia.


"Risa?" respon Amelia singkat.


"Kamu ngapain di sini? bareng cowok lagi?" Risa menatap tak percaya.


"Siapa dia Mel? temanmu?" tanya lelaki yang sedang bersama Amelia.


"Diam kamu!" tukas Risa, menunjuk ke arah sang lelaki.


"Ris, ikut aku!" Amelia mencoba menyeret Risa ke suatu tempat. "Tunggu sebentar ya Mas!" ujarnya lagi yang sekarang mengubah lawan bicara. Kemudian benar-benar pergi ke tempat yang lumayan jauh dari keramaian.


"Lepas!" Risa menarik tangannya kembali sebelum tiba di tempat yang di inginkan Amelia.


"Ris, aku akan jelaskan kepadamu!" tutur Amelia yang berusaha menahan amarahnya.


"Jelasin apa? tentang pengkhianatan kamu sama Juni?" balas Risa dengan nada penuh penekanan. Dia menyilangkan tangan di depan dada.


Amelia menggeleng tak percaya. "Apa Juni belum memberitahumu?" sambungnya dengan ukiran seringai diwajahnya. Risa yang melihat ekspresi tersebut semakin dibuat geram. Emosinya semakin melonjak naik. Alhasil dia pun langsung menjambak rambut Amelia.


"Jangan sok cantik!!" pekik Risa yang semakin menguatkan tarikannya terhadap helaian rambut Amelia.


"Aaaaarrkkh!" erang Amelia ketika merasakan kesakitan di area kepalanya. Dia pun reflek melakukan perlawanan, dan membalas perlakuan Risa terhadapnya. Sekarang keduanya saling menjambak rambut satu sama lain. Orang-orang yang ada disekitar pun bergegas melerai perselisihan di antara keduanya.


Untung saja, perkelahian itu tidak berlangsung lama. Risa dan Amelia berhasil dipisahkan. "Awas kamu kalau berani menemui Juni lagi!!!" teriak Risa sembari melayangkan pelototannya. Namun Amelia hanya mendiamkannya, dia tampak beranjak pergi dari restoran bersama pria yang tadi bersamanya.


"Kamu kenapa Ris?" tegur Anggun sambil merapikan rambut Risa yang sudah berantakan. Dia berusaha menenangkan anaknya dengan menyuruhnya duduk kembali. Belum sempat sedetik, Risa sudah menyisihkan tangan sang ibu dari rambutnya. Wajahnya tampak masih cemberut.


"Aku pulang saja, mood-ku sudah hancur!" ucap Risa seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Biar Mamah antar ya!" tawar Anggun sambil mencoba menyamakan langkahnya dengan Risa.


"Tidak usah, aku ingin sendiri!" ketus Risa. Dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan salam dengan sopan.


Brak!


Pintu rumah Juni tiba-tiba dibanting begitu saja. Juni yang kebetulan berada di sofa sontak tersentak kaget.


"Juni!" panggil Risa, yang masuk setelah bunyi bantingan pintu terdengar.


"Risa?! kamu ngapain banting-banting pintu rumahku sih!" protes Juni yang sudah berdiri menatap ke arah Risa.


Grab!


Risa lagi-lagi mendekap sahabatnya tiba-tiba. Namun kali ini berbeda, raut wajah gadis tersebut terlihat lebih serius.


"Ada apa Ris? apa ada hal yang buruk terjadi?" tanya Juni dengan dahi berkerut.


"Buruk! sangat buruk!" tegas Risa seraya melepaskan pelukannya dan menatap Juni.


"Hah? benarkah?" Juni menatap penuh tanya.


"Amel selingkuh Jun!" jelas Risa singkat. Juni yang mendengar terlihat biasa saja, dan menampakkan raut wajah datar.


"Terus kenapa?" ujar Juni.


"Kenapa? kamu nggak marah?" Risa berbalik tanya.


"Kami sudah putus Ris!" ungkap Juni. Risa yang mendengar merasa agak terkejut.


"Benarkah? maaf ya Jun aku tidak bermaksud. . ." raut wajah Risa terlihat sendu.


'Putus? putus? ini kabar bagus! haha!' girang Risa dalam hati, yang sangat berbeda dengan ekspresi yang ditampakkan oleh wajahnya.