The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 55 - Dress Baru Untuk Risa



"Ngomong-ngomong kau sebenarnya mau pergi kemana?" tanya Juni.


"Klub malam!" jawab Risa singkat, yang sontak membuat mata Juni membola.


"Sendirian? ke klub?" Juni meringiskan wajahnya.


"Kenapa? kau menganggapku gadis murahan?" Risa mengernyitkan dahi.


"Enggak! siapa bilang. Hanya saja aku tidak menyangka kau bisa seberani itu, apa kau sedang janjian dengan Jay?" ujar Juni yang ingin tahu.


"Pffft! kenapa? cemburu?" goda Risa yang sedikit terkekeh.


"Ish! enggaklah!" tegas Juni. "Ris, kau sering ke klub malam ya?" lanjutnya dengan dahi yang berkerut.


"Jujur saja, ini adalah yang pertama kalinya. Aku hanya penasaran!"


"Tetapi kenapa nekat pergi sendiri? kalau ada kejadian buruk yang terjadi bagaimana?" tukas Juni serius.


"Jun, kau lupa ya aku ini hebat karate? jadi kau tidak usah khawatir!" tegas Risa.


"Terserah! sekarang apa kau akan tetap pergi ke sana?" tanya Juni yang langsung mendapat anggukan kepala dari Risa.


"Mas, tolong antarkan kami ke pasar malam saja!" ucap Juni kepada sang sopir taksi.


"Eh! enak saja, aku sudah bosan ke pasar malam!" protes Risa yang tak terima. "Mas, nggak ja--"


Juni langsung menutup mulut Risa rapat-rapat. "Sudahlah Ris! jangan bikin ulah! nanti kalau ada apa-apa ayahmu marahnya ke aku loh!" ujar Juni yang perlahan melepaskan tangannya dari mulut Risa.


"Terserah!" Risa memutar bola mata jengah. Namun dari lubuk hatinya dia merasa sangat senang. 'Memang betul kata orang, sesuatu yang tidak terencana itu lebih berpeluang terjadi dari pada sesuatu yang sudah direncanakan,' batinnya.


"Tapi Jun, aku tidak akan mudah memaafkan perihal omonganmu tadi siang, itu menyakitkan!" gerutu Risa. Dia tengah menoleh ke jendela di sampingnya.


"Ini aku sedang melakukan permintaan maaf kepadamu. Coba sebutkan deh apa maumu!" tutur Juni.


"Untuk sekarang tidak ada!" sahut Risa dengan nada ketus.


"Ya sudah! kalau begitu lakukan rencanaku saja," ucap Juni santai.


Tidak lama kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan. Risa turun dari taksi dengan wajah cemberut. "Jun, aku berpakaian seperti ini bukan untuk ke pasar ya!" protes Risa.


"Makanya ikut saja, aku akan belikan baju baru!" Juni menarik tangan Risa, kemudian membawanya ke salah satu toko baju terdekat.


"Sekarang kau pilih saja!" titah Juni sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Ini aku tidak disuruh bayar sendiri kan?" tanya Risa dengan dahi yang mengernyit.


"Siapa bilang? aku dong!" sahut Juni yakin, perlahan dia mendekatkan mulutnya ke telinga Risa. "Tetapi jangan yang mahal ya!" lanjutnya, yang sontak membuat Risa meringiskan wajahnya.


"Idih! cupu banget kamu Jun, mau traktir malah ngatur-ngatur!" cibir Risa.


"Nanti kalau aku sudah banyak uang aku kasih yang mahal deh!" balas Juni. Risa yang mendengar reflek tersenyum tipis.


Juni tampak memilah-milih baju wanita yang ada di depannya. Hingga akhirnya dia menemukan dress berwarna merah maroon dengan motif yang indah. 'Baju ini mengingatkanku dengan . . .' pikir Juni sembari membayangkan ciuman Risa saat acara reuni. 'Ish! kenapa aku mikirin itu!' Juni langsung menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri.


"Kenapa Jun?" Risa berhasil memergoki gelagat aneh sahabatnya. Sontak Juni pun langsung tersentak kaget.


"Nggak apa-apa!" Juni berusaha tenang.


"Eh!" Risa merebut baju yang sedang dipegang Juni.


"Wah ini mirip dengan bajuku di rumah!" ucap Risa seraya mencocokkan baju dengan badannya.


"Jun, baju ini mengingatkan kamu sama sesuatu ya?" tanya Risa.


"Hah? eng-enggak kok!" bantah Juni gelagapan.


"Benarkah?" Risa mencondongkan kepalanya ke arah Juni.


"Ris! kali ini aku tidak akan takut dengan tatapan itu!" tegas Juni.


"Kenapa kau mengubah topik pembicaraan? coba katakan saja padaku apa yang kau pikirkan Jun? baju ini mengingatkanmu dengan apa?" timpal Risa.


"Ciuman pertamaku!" balas Juni singkat, lalu membuang muka dari Risa.


"Apa itu berkesan?" Risa memandang wajah Juni. Alhasil keduanya pun saling bertukar pandang.


"Terus bagaimana denganmu? aku yakin itu bukan ciuman pertamamu! kau bahkan berciuman dengan Jay di depan umum tanpa malu sedikit pun!" ungkap Juni.


"Kau cemburu?" goda Risa. Juni mengalihkan pandangan dari Risa.


"Lebih baik ganti bajumu secepatnya, biar setelah ini kita bisa makan-makan!" titah Juni yang kembali mengubah topik pembicaraan. Selanjutnya dia segera melingus pergi dari hadapan Risa untuk mencari baju lain.


Setelah lumayan lama, Risa akhirnya memilih baju yang dia inginkan. Yaitu hanya dress polos berwarna cokelat biasa, bertangan sebahu dan panjangnya selutut.


"Aku cantik kan?" Risa mengaitkan rambut ke sebelah kupingnya.


"Lumayanlah!" respon Juni tak acuh. Risa yang merasa geram segera menendang pergelangan kaki Juni dengan kekuatan sedang. Alhasil Juni pun langsung mengerang kesakitan.


"Ris! kali ini benar-benar sakit loh! sakit dari pada pukulanmu biasanya!" keluh Juni sambil memegangi pergelangan kakinya yang sakit.


"Makanya puji aku sekali-kali dong! jangan dibully terus!" tukas Risa.


"Kau itu memang cantik dari lahir, apa perlu aku puji terus tiap hari. Kamu emangnya butuh berapa banyak pujian hah?" Juni menggertakkan gigi.


'Haiss! kenapa perasaanku kembali menggebu sih sama nih cowok! padahal beberapa jam yang lalu aku sangat membencinya! cinta dan benci memang beda tipis!' batin Risa yang menatap Juni dengan sudut matanya.


"Ya sudah, kita makan di sana saja yuk!" ajak Juni. Dia dan Risa segera berjalan menuju warung makan terdekat, dan duduk saling berhadapan.


"Jun, kamu sekarang beneran udah nggak doyan makan lagi ya?" Risa menopang dagu dengan tangannya.


"Sepertinya begitu, kau tahu? bahkan aku mulai suka berolahraga!" ujar Juni dengan ukiran senyumnya.


"Di gym?" tanya Risa.


"Di kamarlah! ngapain ke gym buang-buang uang!" ketus Juni, yang sontak membuat tawa Risa pecah.


"Kau lucu sekali Jun! aku pikir kamu mau pamer seperti cowok lainnya yang selalu bangga berolahraga di gym. Ini? dikamar? haha!" Risa memegangi perutnya karena kelucuan Juni menggelitik perutnya.


"Haaiss! katanya nyuruh aku nggak nge-bully, tetapi kau pun juga bully aku!" ungkap Juni.


"Maaf Jun, ini tanpa kesengajaan loh!" Risa berusaha menghentikan tawanya. "Kita tanding makan yuk!" usulnya kepada sang sahabat.


"Kamu mau bikin aku gendut lagi?" dahi Juni berkerut.


"Iya!" jawab Risa singkat.


Juni yang mendengar sedikit terkekeh. "Hanya kau yang menyukai penampilanku saat itu!" ucapnya.


"Iya, sampai-sampai aku bikinkan puisi loh!" tutur Risa, yang langsung membuat Juni tersenyum tipis. Keduanya lagi-lagi saling bertukar pandang.