
Kedua sahabat itu sekarang berada di halaman rumah. Keduanya bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sebelum itu, Risa tampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Jun, kemaren kau lupa rebut ini dariku ya?" tanya Risa sembari memperlihatkan buku bersampul hitam di tangannya.
"RISAA!!" pekik Juni yang berusaha sekuat tenaga merebut buku hitamnya dari tangan Risa.
"Dasar! tega banget kau!!" gerutu Juni, raut wajahnya tampak marah. Sekarang buku hitam itu berada di genggamannya.
"Idih!... apaan sih, isinya cuma coretan gitu kok, sampe dirahasiakan segala!" keluh Risa seraya meletakkan tangannya di pinggang.
"Wualah!... jangan bohong Ris, aku tahu isinya nggak cuma coretan doang!" raut wajah Juni masih terlihat cemberut.
Risa memutar bola matanya, dan langsung memasang sepatu roda. Gadis itu sama sekali tidak menyahut ucapan sahabatnya. Dahi Juni pun mengerut, dia menatap tajam Risa dari belakang.
"Baiklah kalau begitu.... berjanjilah sama aku Ris! kamu nggak bakal bocorin sama siapa pun!" ucap Juni berusaha mengejar Risa dengan sepedanya.
"Iya! Iya deh!" sahut Risa santai, dengan cengirannya yang dia sembunyikan dari Juni.
***
Hari itu sang surya tampak bersinar terang, langit pun tampak membiru ditemani dengan sedikit desiran angin. Juni, Irfan, dan Agus saat itu tengah berada di ruangan musik yang sedang kebetulan kosong.
"Ayo sana gih nyanyi!" titah Agus mendorong Juni dengan pelan ke arah gitar yang tergeletak.
"Sekarang?" tanya Juni, sembari menampakkan raut wajah yang ragu.
"Setahun lagi..., ya sekarang lah bawel!" geram Agus yang tak tahan melihat keraguan Juni.
"Ish kamu Gus, teman lagi gugup bukannya diberi semangat, malah dimarahin!.... yang maksa Juni nyanyi kamu juga kan?" Irfan menggertakkan giginya seraya menyilangkan tangan di dada.
"Sumpah, perut aku tiba-tiba sakit nih!... aku nggak sanggup!" ujar Juni sambil memegangi area perutnya.
"Haaah..." Agus menghela nafas panjang, tampaknya dia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Juni benar-benar bernyanyi.
"Coba dulu lah Jun, mumpung nggak ada orang!" saran Irfan, tangannya menepuk-nepuk pundak Juni dengan pelan.
"Ya udah, aku coba..." Juni pun melangkahkan kakinya untuk mengambil gitar.
Tring...🎵
Juni memetik gitarnya perlahan, diikuti dengan menelan salivanya karena berusaha menenangkan diri. Dia juga beberapakali berdehem sebelum mengeluarkan suara merdunya.
Pertama-tama Juni memejamkan matanya, lirik lagu favoritnya mulai terbayang di matanya. Lagu Gajah dari Tulus pun langsung dinyanyikannya dengan sepenuh hati.
Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal
Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit perangkat
Wajahmu tak akan pernah kulupa 🎶
BRAK!
Suara hempasan pintu, langsung membuat Juni menghentikan nyanyiannya. Gadis berambut pendek yang sedang berdiri di depan pintu berhasil membuat Juni hampir jantungan.
"RISA!!!" pekik Juni seraya menggertakkan giginya.
Prok! Prok! Prok!
Risa bertepuk tangan sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati Juni. Gadis tersebut menatap Juni dengan penuh kekaguman.
"Aku kira lo tadi Okan dan bandnya Ris!" tegur Irfan yang juga tampak begitu dibuat kaget dengan kedatangan Risa.
"Ayo lanjut Jun!" ucap Risa yang sudah berdiri tepat di depan Juni.
"Eh ternyata ada yang mau nyanyi nih!" tiba-tiba kedatangan Okan dan teman-temannya langsung membuat Juni melepaskan gitar dari genggamannya.
Wanto yang melihat kehadiran Risa di depan matanya, langsung semringah.
"Bagus juga suaramu ndut!" tegur Agung dengan sarkasnya, di ikuti dengan gelak tawa dari Okan dan juga Jaka.
"Ayo kita pergi!" Risa yang merasa kesal dengan ucapan Agung, langsung menyeret Juni keluar ruangan bersamanya. Alhasil kaki Juni pun ikut menyamakan langkah kaki Risa, yang terus berjalan dengan tempo cepat.
Wush!
Risa dan Juni melingus begitu saja dari hadapan kakak kelas mereka. Wanto yang sedari tadi ingin menyapa Risa, langsung mengurungkan niatnya. Karena perkataan rekan dari bandnya sudah menghancurkan kesempatan emasnya.
"Misi Kak..." ujar Agus yang berlaku sopan ketika melewati kakak-kakak kelasnya. Dia terpaksa melakukannya, karena harus menjaga hubungan dengan Okan yang juga merupakan bagian dari anggota Osis.
"Eh Gus!" teguran Okan seketika langsung membuat Agus memalingkan wajah.
"Sini!" titah Okan sembari memberi isyarat dengan tangannya, agar Agus berjalan mendekatinya.
"Ada apa Kak?!" tanya Agus, yang perlahan berjalan mendekati Okan.
"Si gendut itu jadi mau nyanyi di acara prom?"
"Iya Kak, jadi!"
"Oh gitu?... baguslah!" Okan tampak tersenyum puas sambil menyilangkan tangan di dadanya. Sedangkan Agus yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut. Karena dia merasakan firasat yang buruk, jika Juni benar-benar bernyanyi di acara prom nanti.
***
"Ris udah lepasin!" ujar Juni sambil mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Risa. Gadis itu pun langsung melepaskan cengkeramannya seketika.
"Semua orang lihat kita tau!" Juni berbicara dengan nada pelan, matanya melihat ke sekeliling tempat itu.
"Memangnya kenapa?" dahi Risa mengernyit.
"Lah.., nanti orang-orang gosipin kita macem-macem!" dahi Juni membalas mengernyit.
"Aku nggak pernah peduli sama yang di omongin orang!" sekarang gadis berambut pendek tersebut berdecak kesal, dilanjutkan dengan membuang muka dari tatapan sahabat kecilnya.
"Tapi aku peduli Ris..." sahut Juni, lalu berjalan melingus melewati sahabatnya.
Risa yang melihat respon Juni merasa kecewa. Gadis itu menatap punggung sang sahabat yang terus melangkahkan kakinya.
Mata Risa mengerjap beberapakali, kemudian kepalanya menunduk. Pikirannya langsung berkecamuk, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Ris!" suara tidak asing itu berhasil membuat kepala Risa kembali terangkat. Bibirnya langsung membentuk senyuman tipis.
"Kenapa diam di tempat?... ayo kita ke kantin!" ajak Juni yang ternyata kembali.
"Lah! kamu kenapa balik?" Risa sedikit terkekeh, tangannya langsung melingkar di pundak Juni.
"Aku malas ke kantin sendiri!" balas Juni santai.
"JUNI!" pekik Agus yang terlihat ngos-ngosan dari belakang.
"Kenapa?" tanya Juni menatap bingung Agus.
"Ada yang mau aku omongin!... ikut aku!" titah Agus sembari menyeret Juni ke suatu tempat.
"Eh Gus! aku nggak diajak?" geram Risa, raut wajahnya terlihat cemberut.
"Ini khusus pembicaraan lelaki, kamu ke salon aja sana!" sahut Agus seraya terus menyeret Juni untuk ikut bersamanya.
Tak!
"Idih!... dasar cowok!" Risa menghentakkan sebelah kakinya, karena merasa begitu kesal.
"Jangan marah-marah nanti cepat tua!" Wanto tiba-tiba muncul dari samping Risa.
"Eh Kak Wanto, nggak jadi latihan band?" tanya Risa, dia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan.
"Kau pikir kami ke ruang musik, cuman bermain musik?... di sana juga tempat nongkrong kami loh!" jawab Wanto, yang tengah menatap Risa dengan binaran matanya.
"Kamu juga sering ngejek Juni ya?" Risa kembali melemparkan pertanyaan.
Mendengar hal itu mata Wanto langsung membola yang di ikuti dengan gelengan kepalanya. "Nggaklah!... aku bukan tipe cowok yang suka bully orang!"