The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 45 - Kecurigaan Amelia



Bayu tersenyum dengan semringah ketika mendengar keadaan Risa yang semakin membaik. "Wah terima kasih Dok! syukur kami setelah dari London langsung ke sini dan menemukan Dokter," ujar Bayu lembut.


"Saya hanya melakukan pekerjaan semaksimal mungkin," Dokter Andi memberikan senyumannya, dan menatap ke arah Risa yang tampak sedang memikirkan sesuatu. "Tapi Risa kok kayaknya nggak senang?" lanjutnya, yang sontak membuat Risa tersadar.


"Iya, kok kamu kelihatan biasa-biasa aja?" Bayu mengernyitkan dahi.


"Eh enggak, aku senang kok!" bantah Risa dengan raut wajah yang meyakinkan.


Tring. . . Tring. . .


Ponsel Bayu tiba-tiba berdering, dia pun segera permisi sebentar untuk mengangkatnya keluar ruangan. Sekarang hanya ada Risa dan Dokter Andi.


"Dok, apa aku sudah diperbolehkan pulang?" tanya Risa.


"Boleh banget dong!" balas Dokter Andi dengan wajah yang terlihat senang.


"Tetapi bukannya masih harus rutin melakukan pemeriksaan ya?"


"Iya harus itu, tapi bisa kok bo-"


"Ya sudah, aku mau di sini dahulu sampai pemeriksaan fix benar-benar bersih!" jeda Risa yang sengaja memotong kalimat Dokter Andi.


"Haiiss! baru kali ini aku menemui pasien yang betah tinggal di rumah sakit!" Dokter Andi menggeleng tak percaya. "Oh iya, kamu membohongi temanmu itu dengan asal-asalan ya?" sambungnya yang diakhiri dengan pertanyaan.


"Maksudnya aku tidak sepenuhnya berpura-pura sakit kan, dan tidak sesuai dengan penyakit yang Dokter sebutkan sama Juni," sahut Risa sambil menyilangkan tangan di dada.


"Iya!"


"Anggap saja itu petunjuk untuk Juni," Risa tersenyum kecut.


"Kamu tega banget sama temanmu sendiri! nanti kalau dia tahu bakal marah besar tuh, aku saranin cepat akhiri saja!" usul Dokter Andi yang berusaha menyadarkan Risa.


"Sebentar lagi Dok! sebentaaaar aja, rencanaku hampir berhasil soalnya!" mohon Risa dengan raut wajah memelasnya.


Di sisi lain, Juni dan Amelia sedang melakukan makan malam bersama. Keduanya memilih warung di pinggiran jalan sebagai tempat kencan. Namun sedari tadi Juni hanya terdiam.


"Kamu kenapa sih Jun? dari tadi kok diam terus, kalau ada masalah cerita aja," tegur Amelia yang merasa aneh dengan tingkah sang pacar.


'Apa yang harus aku lakukan? sepertinya aku sudah jatuh cinta dengan Risa. Fix! kenapa begitu terlambat aku menyadarinya? terus bagaimana caranya aku putusin Amel?' ucap Juni dalam hati sembari menatap ke hidangan nasi gorengnya.


"Jun!" panggil Amelia sekali lagi, yang sontak membuat Juni tersadar dan menoleh ke arahnya.


"Kenapa Mel?" tanya Juni, mencondongkan kepalanya.


"Idih! kamu mikirin apa sih? sampai berapa kali dipanggil nggak denger!" Amelia sedikit tertawa kecil.


"Bukan apa-apa kok Mel, aku cuman mikirin film tadi. Kok akhirnya gantung gitu ya?" Juni berkilah, lalu sengaja terkekeh enggan.


"Ih! ngapain film dipikirin, itu cuman kebohongan yang dilakukan orang-orang dibalik filmnya!" tutur Amelia seraya mengutak-atik kuah baksonya.


"Penasaran aja gitu, hehe!" Juni menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


'Apa harus aku katakan sekarang ya? jika semakin lama dibiarkan, takutnya masalah akan menjadi parah!' pikir Juni, dia tengah menyusun rencana pengakuannya.


"Jun, kamu merasa ada yang aneh sama Risa nggak sih?" tanya Amelia yang sekarang menampakkan ekspresi serius. Juni yang mendengar nama sahabatnya disebutkan langsung tertarik.


"Kenapa memangnya?" Juni penasaran.


"Bukankah dia sedang kena penyakit kanker? stadiumnya tinggi lagi, tetapi dia kelihatan baik-baik saja." Amelia terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan, "dan jika dia menderita kanker nasofaring, kenapa pendengaran dan suara Risa baik-baik saja? dia terlihat sangat sehat Jun!"


"Nggak mungkin Mel, soalnya kalau dia berbohong berarti harus kerjasama dengan pihak rumah sakit dong. Aku bahkan ragu dokter mau berbohong untuk hal yang sepele!" penjelasan Juni terdengar meyakinkan.


"Benar juga sih," Amelia menyetujui pendapat Juni.


"Mungkin karena dia semakin membaik, makanya dia terlihat baik-baik saja. Yang aku tahu Risa adalah gadis yang kuat!" ucap Juni dengan binar di iris matanya. Amelia yang melihat ekspresi di wajah pacarnya sontak tersenyum tipis.


'Mungkin ini saatnya aku mengatakannya!' tekad Juni dalam hati. "Mel!" panggilnya yang sekarang disuarakan lewat mulut.


"Kenapa Jun?" jawab Amelia.


"Eee--"


Drrrt. . . Drrrt. . .


Ponsel Amelia yang bergetar membuat Juni harus rela menyimpan kalimatnya terlebih dahulu. Dahi gadis itu langsung mengernyit ketika melihat nama pihak rumah sakit di layar ponselnya.


Sebelum mengangkat panggilan telepon, Amelia memejamkan mata sejenak. Berharap tidak mendapatkan kabar buruk. Namun tangis pecahnya sontak membuat Juni gelagapan dan juga penasaran.


"Mel? ada apa?" tanya Juni. Dia tampak sangat khawatir. Tetapi Amelia tidak menjawab, dan hanya menangis dengan histeris. Gadis tersebut terlihat linglung, tubuhnya bahkan seakan melemah.


'Tangisan dan ekspresi itu! aku rasa ibunya Amelia meninggal?' terka Juni dalam hati. "Ayo Mel, kita ke rumah sakit sekarang!" sambungnya seraya menarik Amelia ikut bersamanya.


Selama di perjalanan, Amelia terus menangis hingga sesegukan. Sedangkan Juni tidak bisa berbuat apapun, karena dirinya tahu rasanya ditinggalkan oleh orang terkasih.


***


Risa sedang duduk santai di tempat perkumpulan untuk pasien. Dia duduk di sebelah seorang anak kecil bernama Elsa. Anak kecil itu sedang fokus menonton kartun.


"Coba tebak, siapa yang lebih pintar di antara spongebob dan patrick?" tanya Risa, yang membuat Elsa menoleh ke arahnya dan membalas, "Spongebob?"


"Hahaha! ding, salah! jawabannya 'tidak ada'." Risa menyilangkan tangan di dada.


"Aneh!" Elsa meringiskan wajahnya.


"Hei, aku kan berguru dengan kerang ajaib!" tepis Risa sembari memanyunkan mulutnya. "Hidup kerang ajaib!" lanjutnya dengan berbisik ke telinga Elsa, yang sontak membuat anak kecil dengan berambut panjang tersebut tertawa.


"Sekarang kau benar-benar aneh!" ucap Elsa dengang menggelengkan kepala.


Risa yang mendengar ejekan dari seorang anak kecil hanya mendengus kasar. "Kau tahu, jatuh cinta memang bisa membuat seseorang menggila," celetuknya. Elsa hanya merespon dengan menggelengkan kepala.


Tiba-tiba adanya gelagat para perawat yang terlihat sibuk membuat Risa penasaran. Alhasil dia pun berdiri dan mencoba mencari tahu.


"Eh Kakak mau kemana?" Elsa memegangi tangan Risa.


"Kakak mau memeriksa sesuatu dulu ya!" ujar Risa, kemudian segera berlari kecil.


Risa terus mengekori perawat yang tergesak-gesak hingga akhirnya ia berani untuk bertanya. "Mbak, apa ada pasien kecelakaan?"


"Oh ada pasien yang meninggal, terus karena pasiennya lama ada di sini jadi semua pekerja di rumah sakit sedang pada sedih Mbak!" jelas sang perawat dengan mata yang sudah berembun.


Dari kejauhan, Risa bisa melihat keberadaan Juni. Sahabatnya tersebut berusaha menenangkan Amelia yang sedang menangis histeris. Risa pun segera berjalan untuk mendekati.


"Jun, Amel kenapa?" tanya Risa.


"Ibunya, Ris. . ." lirih Juni dengan wajah sendu. Risa sontak memasang ekspresi datar. Setelahnya Amelia yang tidak sanggup lagi menahan sakit hatinya akhirnya pingsan.