The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 92 - The Story Of Juni (Hadiah)



"Huh! akhirnya selesai juga. Aku harap Risa suka!" ujar Juni. Dia telah menjadikan rekamannya menjadi satu dalam sebuah kaset. Juni menyiapkan hadiahnya itu dengan keberanian dan kerja keras. Bahkan dirinya juga rela memakai uang dari tabungannya untuk melakukan pembayaran di dapur rekaman. Juni merekam lagu yang telah dia tulis sendiri spesial untuk Risa.


Ceklek!


Pintu perlahan terbuka, muncullah Sofi yang mengajak Juni untuk makan malam. Sekarang mereka sudah berada di meja makan bersama sang ibu.


"Kalian sudah mengemas barang-barang?" Rahma menatap kedua anaknya secara bergantian.


"Sudah Mah, aku melakukannya sedikit demi sedikit!" jawab Sofi, yang dilanjutkan dengan melahap sesendok nasi dan sayurannya. Sekarang Rahma menatap ke arah Juni, karena anak sulungnya itu belum juga bersuara sedari tadi.


"Jun?" panggil Rahma, hingga menyebabkan Juni membalas tatapannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rahma cemas, karena menyaksikan semburat sendu yang ditunjukkan oleh sang putra.


Juni mengangguk yakin. "Iya!" sahutnya seraya tersenyum singkat.


"Amel katanya sudah agak mendingan ya?" Rahma kembali bertanya.


"Begitulah Mah, mungkin sebentar lagi dia akan diperbolehkan pulang ke rumah. Sebelum itu, dia juga harus konsultasi dengan dokter psikolog demi kesehatan mentalnya." Juni menjelaskan sambil mengobrak-abrik nasi yang tersedia di depannya.


"Terus, kalau Kak Risa gimana?" kali ini Sofi yang bertanya. "Sejak beberapa hari ini, rumahnya kelihatan sepi banget tuh. Terus Kak Juni juga--"


"Sofi, kamu mau tambah ikannya lagi nggak?" Rahma mencoba menghentikan celotehan Sofi.


"Aku ke kamar duluan ya. Sof kamu yang giliran hari ini kan, untuk bantuin Mamah?" ujar Juni sembari bangkit dari tempat duduknya. Kemudian segera beranjak pergi menuju kamar.


"Sof, untuk sementara jangan bicarakan mengenai Risa dulu di hadapan kakakmu!" Rahma berbicara pada Sofi dengan nada sangat pelan, agar Juni tidak mampu mendengar.


"Kenapa Mah?" tanya Sofi penasaran. Dia ikut merendahkan nada suaranya.


"Nanti di kamar saja Mamah bicarakan. Kita beresin piring kotor ini dulu!" balas Rahma sambil menumpuk beberapa piring kotor menjadi satu.


***


Waktu berlalu dengan cepat, sekarang Risa benar-benar telah pergi. Juni hanya mematung di atas kasurnya. Dia berharap Risa bisa mendengar semua isi hatinya melalui lantunan lagu-lagu yang telah direkamnya.


Pikiran Juni melayang untuk sesaat, karena mencoba membayangkan dan menerka respon Risa ketika mendengarkan lagunya. Ada rasa malu dan juga percaya diri bercampur aduk. Kala Juni sedang asyik memikirkan melodi-melodi lagunya barulah dirinya teringat dengan janji hari ini. Dia harus latihan bermain biola bersama teman-teman kelompoknya.


Juni segera bergesakan untuk pergi ke kampus. Setibanya di ruangan latihan, semua pasang mata sontak tertuju kepadanya. Benar saja, dia adalah orang yang paling datang terlambat.


"Kamu kenapa telat Jun? padahal kamu yang paling tidak bisa menguasai instrumen musikmu, malah sengaja bermalas-malasan lagi!" tukas Ratih yang selalu terkesan sewot.


"Santai dong Tih, manusia kalau lupa itu kan wajar! kayak nggak pernah aja!" balas Juni seraya menatap sinis. Dia pun langsung mengambil biola yang tergeletak di sekumpulan instrumen musik lainnya.


"Mainkanlah secara perlahan, dan berhati-hatilah. Takutnya biolanya rusak lagi," tegur Ratih.


"Ish, kamu negatif thinking mulu sih!" kritik Juni yang tak terima. Alhasil dia pun sekarang mencoba menggesekkan biolanya secara pelan. Namun pendengarannya langsung disambut dengan nada sumbang.


"Juni!" semua teman-temannya melakukan aksi protes. Juni hanya bisa merespon dengan senyuman kecut.


'Astaga, moodku sedang buruk ditambah sekarang aku sama sekali tidak bisa memainkan biola. Aduh! aku pusing banget!' Juni menggerutu dari dalam hatinya. Setelahnya ia kembali memainkan biolanya. Kali ini dia melakukannya sesuai petunjuk yang ada di buku.


Ceklek!


Pintu ruangan mendadak terbuka, tampaklah seorang lelaki yang memegangi sejenis karton besar ditangannya. Juni dan teman-teman kelompoknya sontak mengerutkan dahi.


Semua orang yang ada di dalam ruangan lantas tertarik dengan poster itu. Mereka saling berdahuluan untuk melihat apa isi dari posternya. Juni yang tengah mengalami mood buruk, hanya berdiam diri di tempatnya. Dia malas bergerombol dengan teman-temannya. Alhasil setelah semua orang menjauh, barulah Juni berjalan untuk mengamati posternya.


Ternyata isi poster itu merupakan kontes menyanyi yang bertajuk The Real Singer 8. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah dan juga kesempatan bernyanyi di dapur rekaman ternama. Sebenarnya kontes tersebut merupakan acara terkenal, bahkan sampai tayang di televisi. Para penyanyi yang pernah mengikuti kontes itu memang kebanyakan berhasil.


Plak!


"Huhh!" Juni menggeplak poster yang tertempel di mading tersebut. Dia ingin ikut, tetapi sama sekali tidak memiliki semangat. Setelah puas melihat poster, Juni segera membalikkan badan karena berniat ingin keluar ruangan.


"Kak Jun!" mata Juni membola ketika menyaksikan penampakan Chika yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Gadis itu terlihat tersenyum malu-malu.


"Eh, Chika. Sendirian aja?" tanya Juni enggan.


"Iya, kebetulan sendirian Kak! Kak Juni ikut ya?" Sofi menunjuk ke arah poster yang tadi dilihat Juni.


"Kayaknya enggak deh!" sahut Juni dengan gelengan kepala.


"Kenapa enggak Kak? kalau ikut aku yakin pasti Kak Jun menang! karena kontes itu nggak cuman mencari penyanyi yang suaranya bagus, tetapi penampilan rupawan juga!" tutur Chika.


"Ya elah, kamu bisa aja!" Juni tertawa kecil seraya menepuk pelan bahu Chika. Kemudian segera beranjak pergi.


"Astaga, Kak Jun menyentuhku!" respon Chika seraya menangkup pipinya sendiri. Dia memandangi punggung Juni yang berjalan semakin jauh.


Juni berderap di koridor kampus, saat itulah ada suara lelaki yang tidak asing memanggilnya.


"Juni!!" pekik Ervan yang tampak semakin mendekat. Dia berlari dengan kecepatan penuh untuk menghampiri Juni, kemudian merangkul pundak sahabatnya yang tengah galau tersebut.


"Apaan sih Van! petakilan banget!" hardik Juni. Dia merasa terganggu dengan kelakuan nyeleneh Ervan.


"Aku terlalu senang Jun! inilah kesempatan kita beraksi, iyakan?" ungkap Ervan sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal dan melepaskan rangkulannya.


"Coba tenang dulu Van, tarik nafas. . ." suruh Juni, yang ikut-ikutan merasa lelah akibat menyaksikan gelagat Ervan.


"Kamu ikut kan Jun?" tanya Ervan.


"Kamu membicarakan perihal kontes itu?" Juni menebak. Alhasil Ervan pun membalas dengan anggukan penuh keyakinan.


"Aku sedang nggak mood ngapa-ngapain nih Van!" ujar Juni seraya menggaruk tengkuk tanpa alasan.


"Pasti karena Risa ya? kamu tahu nggak? kabar putusnya hubunganmu sama dia sudah menyebar luas!" imbuh Ervan yang merentangkan kedua tangannya untuk memperagakan perkataannya.


"Lebay banget kamu! aku nggak seterkenal itu kali!" balas Juni sambil membuang muka dari sang lawan bicara.


"Kamu aja yang nggak tahu. Chika pasti dekatin kamu lagi kan ya?"


"Sudah ah! aku mau ke rumah sakit nih!" Juni mengalihkan pembicaraan.


"Jenguk Amel ya? kayaknya kalian putus gara-gara dia ya? pasti Risa cemburu." Ervan kembali menerka, karena merasa begitu penasaran terhadap masalah sahabatnya. "Ayolah Jun, ceritakan! masa aku harus mendengar semuanya dari mulut orang lain terus?" tambahnya dengan kerutan di dahinya.


"Pokoknya aku tegaskan ya! putusnya hubungan kami itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Amel!" kata Juni, yang sekarang melingkarkan tangannya ke pundak Ervan.


"Aku kalau jadi Risa, juga pasti marah. Soalnya kamu terkesan lebih peduli sama Amel dibanding pacarmu sendiri!" Ervan mengkritik.


"Sudah Van! diam aja kenapa!" Juni menyahut dengan lidah yang berdecak kesal. Dia sudah kelelahan menanggapi segala dugaan dan pendapat yang dilontarkan Ervan.