The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 102 - The Story Of Juni (Viral)



Grab!


Amelia langsung memeluk Juni, kala dirinya mendengar kabar kalau lelaki itu sudah lolos audisi. Dia merasa ikut senang dan bangga.


"Mel! banyak orang yang--" kalimat Juni terjeda, karena Amelia tiba-tiba saja mengeratkan dekapannya. Alhasil Juni pasrah dan hanya bisa menegurnya lewat tepukan dipundak.


"Mereka balikan lagi ya?" tanya Chika yang tak sengaja menyaksikan pemandangan tersebut. Dia berbisik ke telinga Ervan. Namun Ervan hanya merespon dengan gidikkan bahunya.


"Yah, kesempatanku hilang lagi kalau gitu!" gumam Chika yang merasa kecewa, lalu berlalu pergi begitu saja.


Audisi telah selesai. Sekarang hanya tinggal maju ke tahap audisi terakhir. Juni akan disaingkan lagi dengan orang-orang berbakat terpilih seperti dirinya.


Sekarang Juni sedang berada di dalam kamar, dia berlatih memainkan biola yang kebetulan sudah dibelinya. Nada yang timbul karena gesekan alat musik itu mengalun indah. Membuktikan kalau Juni sudah semakin baik memainkannya.


Ceklek!


Rahma tiba-tiba membuka pintu dengan keadaan mata yang terbelalak. Di belakangnya terlihat ada Sofi yang juga sedang menunjukkan mimik wajah sama. Kening Juni sontak mengernyit bingung.


"Kenapa?" tanya Juni. Namun Rahma tidak menjawab sama sekali, dia malah membawa Juni masuk ke dalam pelukannya. Sedangkan Sofi tampak menampakkan ekspresi terharunya.


"Kalian kenapa sih?" sekali lagi Juni bertanya akibat semakin dirundung penasaran.


"Kak Jun, kenapa nggak bilang kalau sedang ikut kontes The Real Singer 8?" ujar Sofi.


"Iya! kenapa kau tidak bilang!" Rahma ikut menimpali sembari melepaskan dekapannya dari sang putra.


Juni agak kaget ketika mendengar ucapan ibu dan adiknya. "Dari mana kalian tahu?" tanya-nya seraya mengusap tengkuknya tanpa alasan.


"Dari ini!" Sofi memperlihatkan video yang ada di ponselnya. Benar saja, Juni dapat menyaksikan video dirinya sedang di audisi tempo hari.


"Masuk trending sepuluh loh Kak!" tambah Sofi lagi sambil melompat-lompat kegirangan. Sedangkan Rahma tampak merangkul pundak Juni dengan senyuman bangga yang terukir di raut wajahnya.


'Hais! aku lupa kalau kontesnya ditayangkan di televisi dan bisa dilihat di internet,' batin Juni, yang dilanjutkan dengan menghela nafasnya.


"Kak Jun kayak tinggal di gua aja, masuk trending pun nggak tahu!" tukas Sofi.


"Idih! itu karena aku lebih sibuk di dunia nyata dibanding di dunia maya. Toh kebiasaan terus berada di dunia maya itu nggak baik kan!" balas Juni yang tidak ingin kalah.


"Tetapi ada dampak negatifnya juga kan kalau nggak terlalu aktif. Kak Jun jadi ketinggalan berita baru!"


"Sudah ah! aku nggak mau berdebat denganmu. Ayo Mah, hari ini kita jual mobil kan?" ucap Juni yang di akhiri dengan pertanyaan kepada sang ibu.


"Iya, sekalian beli motor juga. Bersiaplah!" jawab Rahma sembari beranjak keluar dari kamar Juni.


Ponsel Juni tiba-tiba bergetar. Di sana dia melihat pesan Amelia baru saja masuk.


•Amelia


[Jun, kau sudah beli biola ya? ish! katanya mau ditemenin sama aku. Malah beli bareng Ervan.]


^^^•Juni^^^


^^^[Maaf Mel, soalnya kemarin sekalian pulang dari kampus. Toh supaya nggak bolak-balik juga.]^^^


•Amelia


[Jun, video audisi kamu viral loh ♡♡♡]


^^^•Juni^^^


^^^[Iya sudah tahu. Ibuku sama Sofi jadi tahu gara-gara video itu!]^^^


•Amelia


[Namanya juga kontes menyanyi terkenal Jun. Toh mereka berdua keluargamu, tentu wajib tahu.]


^^^•Juni^^^


^^^[Aku hanya takut mereka terlalu berharap.]^^^


•Amelia


[Semoga Risa bisa lihat videonya ya.]


Deg!


'Amel benar, kemungkinan Risa bisa saja melihat video audisiku, semoga saja. . .' batin Juni seraya mendengus kasar. 'Setidaknya, itu bisa membuatnya berubah pikiran dan tidak memblokir kontakku lagi.' Juni melanjutkan dengan penuh harap.


"Juni! ayo kita berangkat!" pekik Rahma dari luar. Alhasil Juni pun bergegas untuk pergi. Dia dan Rahma segera berangkat untuk menjual mobil.


***


Juni sekarang pergi ke kampus dengan menggunakan motornya. Dia perlahan memarkirkan transportasi beroda dua tersebut. Ketika dirinya melepas helm, Juni langsung menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada disekitarnya.


'Sumpah nggak nyaman sekali diliatin banyak orang kayak gini!' keluh Juni dalam hati sembari menutupi wajahnya dengan enggan.


"Juni!" Ervan mendadak muncul dari belakang. Seperti biasa, dia melingkarkan tangannya ke pundak Juni.


"Astaga! kau membuatku kaget!" protes Juni sambil melepaskan tangan Ervan yang merangkul pundaknya.


"Jangan marah dong! nanti gantengnya jadi hilang!" tukas Ervan, yang sontak membuat lidah Juni berdecak kesal.


"Ngomong-ngomong kau sudah berlatih biola? soalnya dua minggu lagi kan kelompokmu akan tampil!" kata Ervan sambil melangkahkan kaki berbarengan dengan Juni.


"Sudah! aku lumayan mengerti cara bermainnya sekarang."


"Bagus deh! oh iya, kau kan lusa akan akan melakukan tahap audisi terakhir ya?"


"Iya, sumpah Van. Aku menjadi terbebani, apalagi sekarang ibu dan adikku sudah mengetahuinya." Juni mengungkapkan.


"Malah bagus dong! kan jadi semakin banyak yang support kamu. Oh iya, Risa ada merespon nggak?"


"Entahlah." Juni menjawab singkat. Sebenarnya dia sangat berharap Risa bisa melihat dan mengabarinya se-segera mungkin.


Ervan berdecak, dan berucap, "Sepertinya pertengkaranmu sama Risa serius banget ya? kau bahkan tidak pernah menbicarakannya semenjak putus."


"Itu karena aku merasa sakit hati jika mengingat dia sudah tidak bersamaku lagi." Juni berterus terang.


"Nah begitu dong, cerita!" respon Ervan. Dia merasa senang, karena Juni sudah mulai mau menceritakan isi hatinya.


Juni dan Ervan sekarang tiba di kelas. Lagi-lagi Juni harus menerima kenyataan kalau dirinya telah menjadi pusat perhatian semua orang. Apalagi dia menjadi satu-satunya mahasiswa seni musik, yang berhasil lolos di tahap audisi pertama. Telinganya sudah kelebihan mendengar banyak pujian.


"Kau boleh senang dengan keberhasilanmu di kontes menyanyi, tetapi jangan lupakan penampilan kelompok kita yang akan terjadi sebentar lagi!" ujar Ratih, yang tiba-tiba muncul dari belakang Juni.


"Tenang saja Tih, aku tidak lupa kok!" sahut Juni yakin.


"Bagus deh kalau gitu! ngomong-ngomong selamat ya, atas keberhasilanmu!" balas Ratih sembari tersenyum tipis. Hingga membuat Juni dan Ervan saling menatap bingung.


"Kau memecahkan rekor Jun! membuat Ratih tersenyum, bagaimana caranya?" ungkap Ervan.


"Mungkin moodnya sedang baik kali!" Juni mencoba berpikir positif.


***


Waktu berlalu cepat, Juni sudah melewati audisi tahap akhir dengan baik. Sekarang dia menjadi bagian dari dua puluh kontestan terbaik. Namanya semakin dikenal baik di lingkungan kampus dan juga tempat tinggalnya.


Hingga saat ini, Juni belum juga mendapatkan kabar dari Risa. Sepertinya gadis itu tetap bersikukuh untuk melupakan Juni.


'Aku harap bisa mendapatkan uang secepatnya agar bisa segera pergi mencari Risa ke London.' Juni berharap dalam hatinya sambil mempersiapkan diri untuk melakukan penampilan perdana dipanggung.


"Sekarang kita saksikan penampilan Juni Anugerah!" pembawa acara sudah memberikan kode, agar Juni segera bersiap dan naik ke atas panggung. Dia menunjukkan bakat terbaiknya kala itu. Bahkan beberapa juri memuji penampilan yang disuguhkannya.


Namun siapa sangka, kali ini keberuntungan sudah tidak berada dipihak Juni lagi. Dia menjadi orang pertama yang ter-eleminasi dari dua puluh kontestan lainnya. Bukan karena kesalahan juri Juni bisa keluar, tetapi voting yang diterimanya paling rendah dibanding semua saingannya.


Raut wajah Juni terkesan datar kala proses eleminasinya terjadi. Dia mendapatkan beberapa pelukan hangat dari teman-teman yang baru dikenalnya. Setidaknya itulah yang orang lihat ketika Juni berada di keramaian. Tetapi saat sendirian, Juni menangis penuh sesal.


'Tidak! aku masih tidak rela berpisah dengan Risa. Pokoknya aku tidak rela!' batin Juni sambil menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa sesak sekali, dia sudah kebingungan harus berbuat apa.


Juni sekarang duduk sendirian di tempat pemakaman. Tepatnya di bawah pohon nan rindang di dekat kuburan sang ayah. Entah kenapa, ketika Juni merasakan kesedihan yang mendalam, alam seolah selalu mendukungnya.


Tes... Tes... Tes...


Hujan turun lumayan deras. Menemani kekalutan yang sedang dirasakan oleh Juni.


Juni bahkan tidak menggerutu dalam hatinya. Ia hanya menangis, dan sudah cukup lama dirinya sudah melakukannya. Rasanya sebanyak apapun air matanya keluar, hal itu tidak mampu membendung rasa kesedihannya.


"Juni!" tiba-tiba suara perempuan memanggilnya dari belakang.