
Juni menyenderkan tubuhnya perlahan, sembari menatap Risa lewat ujung mata. Gadis itu tampak lebih cantik dari biasanya. Sekali lagi Juni hampir lupa diri bahwa gadis di sampingnya adalah sang sahabat yang sering berpenampilan acak-acakan.
"Ris rencanamu apa nih?" akhirnya Juni mencoba memecah kesunyian yang terjadi dalam sesaat.
"Udahlah kau ikut aja!" titah Risa dengan ukiran seringai diwajahnya. Juni hanya bisa mendengus kencang, saat Risa lagi-lagi tidak mau mengatakan rencana yang sebenarnya.
***
"Nah kita sampai!" ujar Risa seraya menghentikan mobilnya dengan pelan.
"Pasar malam?" Juni mengedarkan pandangannya pada tempat yang dipenuhi dengan wahana permainan tersebut. Namun tidak beberapa lama, diwajahnya segera terukir sebuah senyuman.
Juni dan Risa langsung berlari penuh semangat ke arena pasar malam. Keduanya tidak henti mengukir tawa diwajah. Kenangan masa kecil mereka seakan terulang kembali. Kala itu keduanya menghabiskan waktu dengan bermain beberapa permainan. Serta tidak lupa menaiki salah satu wahana hiburan paling menonojol di tempat itu, yang tidak lain adalah bianglala.
Juni dan Risa naik wahana itu bersama, mereka duduk saling berhadapan. Bianglala tersebut berputar dengan lambat. Keduanya bisa menikmati suasana seraya mengistirahatkan diri setelah terlalu banyak bermain.
"Ris, parah sekali kita hari ini, haha! kayak anak kecil aja!" ujar Juni dengan kekehnya.
"Seru kan? aku sudah lama tau mau ngajak kamu ke sini!" balas Risa, dia menatap Juni dengan raut wajah serius.
"Napa? tatapan apa tuh!" Juni meringis saat melihat tatapan Risa.
"Jun, aku. . ." perlahan tangan Risa mencengkeram kerah baju Juni. Gadis itu menarik Juni agar bisa lebih dekat dengannya. Sekarang jarak wajah Juni dan Risa hanya helat beberapa inci.
Deg!
Jantung Juni berdebaran tidak karuan. Matanya bahkan membola kala melihat perlakuan Risa. Ditambah penampilan Risa malam itu terlihat sangat berbeda. Meskipun begitu Juni tetap berusaha tenang, dia berjaga-jaga dengan kejahilan yang akan dilakukan sahabat perempuannya tersebut.
Juni mengubah ekspresinya menjadi datar dan berkata, "Kamu mau cium aku Ris? sini!" sekarang Juni yang menarik Risa agar bisa lebih dekat dengan wajahnya. Dia berniat mengerjai sang sahabat.
Tanpa sengaja keduanya saling bertukar pandang satu sama lain. Tubuh mereka mematung, bahkan waktu seolah terhenti. Juni dan Risa saling menatap lekat.
Rasa canggung mulai menyelimuti, keduanya pun langsung saling melepaskan diri. Dan berusaha tenang sembari mengalihkan pandangan dengan gelagapan.
Risa mengigit bibir bawahnya karena merasakan malu yang teramat sangat. Sedangkan Juni hanya bisa melampiaskan rasa malunya dengan menggaruk kepala bagian belakang.
Dub!
Listrik tiba-tiba mati, hal itu sontak membuat bianglala yang sedang berputar berhenti. Seluruh pasar malam tampak gelap. Juni dan Risa yang masih berada di dalam wahana juga dibuat kaget. Apalagi bianglala berhenti saat posisi mereka sedang ada di puncak.
"Jun!" Risa sekarang duduk berpindah ke samping Juni. Gadis itu melingkarkan tangannya dengan erat ke lengan Juni.
"Tenang Ris, bentar lagi pasti nyala," ucap Juni yang mencoba menenangkan Risa yang phobia akan kegelapan.
Tidak lama kemudian, listrik kembali menyala. Perlahan wahana bianglala kembali berjalan. "Nah tuh kan, bentar doang!" kata Juni yang tampak lega.
"Apaan nih! tangan aku bisa memar nih!" kritik Juni seraya melihat cengkeraman tangan Risa yang begitu erat di lengannya.
"Ih! Maaf!" Risa menampakkan wajah cemberut.
***
"Kayaknya Juni sama Risa nggak datang!" ucap Irfan yakin, sembari menyilangkan tangan di dada.
"Gus! kamu nggak mau ngajak Chika dansa?" tanya Irfan dengan berbisik ke telinga Agus.
"Kamu nggak lihat Chika? tuh dia lagi dansa sama si kampret Jaka!" sahut Agus seraya menatap sinis Jaka dari jauh.
"Eh Gus! bentar lagi acara pertunjukkan nyanyi, si gendut temanmu itu mana? dia mau nyanyi kan?" Okan tiba-tiba datang dari samping, dia langsung melingkarkan tangan ke bahu Agus.
"Em. . . Ju-ju-juni nggak dateng Kak!" balas Agus dengan tergagap.
"Hah? terus siapa adik kelas yang mau nyumbang nyanyi dong? masa nggak ada?... kalian nggak menghargai semua kakak kelas kalian? hah?" Okan semakin menguatkan cengkeramannya terhadap Agus. Tampaknya lelaki itu mencoba kembali merundung juniornya.
"Kak! gimana kalau aku saja yang tampil?" ujar Irfan yang berniat menyelamatkan sahabatnya Agus. Perlahan Okan mulai melepaskan cengkeraman dari Agus, dia menatap Irfan dengan senyuman lebar.
"Ide bagus! kau mau menampilkan apa?" tanya Okan seraya menatap Irfan dari kepala hingga ujung kaki.
"Menyanyi, aku bisa sedikit. Tetapi aku akan tampil sama Agus!" jawab Irfan sambil menarik Agus ke sampingnya. Agus yang tidak menyangka dengan keputusan Irfan tersebut, langsung menatap sahabatnya itu dengan pupil mata yang membesar. Dia juga menggelengkan kepala dengan pelan, untuk memberikan isyarat bahwa Irfan telah melakukan keputusan yang salah.
"Oke! aku akan bilang sama panitia!" Okan seketika berbalik dan berjalan menuju panitia prom saat itu.
"Fan! kau gila ya!" pekik Agus, dia mendorong Irfan menjauh.
"Maksudmu? aku cuman nyelametin kamu dari si Okan! apa yang salah! hah?" Irfan membalas memekik.
"Tapi Okan nggak bercanda! dia pasti benar-benar akan menyuruh kita tampil!" Agus mengernyitkan dahi.
"Maka itu, ayo kita pergi dari sini sekarang!" bisik Irfan yang berjalan mendekat dengan pelan. Agus yang mendengarnya perlahan tersenyum tipis. Ide cemerlang dari Irfan seakan meredakan amarahnya saat itu.
***
"Nih es krim enak banget sumpah!" puji Juni pada sebuah es krim cokelat yang sudah dia makan setengah.
"Hedeh, perasaan kau selalu bilang enak ke semua makanan!" sarkas Risa memandang Juni dengan sinis.
"Lah! kok tahu, kamu emang sahabat sejati ya!" Juni menyenggol bahu Risa dengan pelan untuk sekedar menggodanya.
"Idih! apaan sih! dasar gendut!" ejek Risa yang sedikit terkekeh.
"Nggak boleh body shaming, entar aku viralkan! kamu mau tahu rasanya dihujat netizen?" Juni menampakkan raut wajah seriusnya.
"Aku ejek kamu biar tobat Jun! tobat makan lemak dan gula! entar kena diabetes!" Risa tak mau kalah.
"Ih! dasar troublemaker!" Juni kembali mendorong Risa pelan. Keduanya tertawa geli bersama, hingga tak terasa sudah tiba di depan parkiran. Mereka segera masuk ke dalam truck kecil.
Juni dan Risa menghela nafas panjang bersamaan. Hingga keduanya saling terkejut saat menyadari mereka melakukan hal yang sama secara bersamaan. Keduanya kembali tertawa kecil, lalu segera beranjak pergi untuk pulang ke rumah.
***
Risa menginjak rem dengan pelan ketika telah tiba di depan rumah Juni. Tanpa pikir panjang Juni pun segera bersiap keluar dari truck Risa.
"Jun!" tiba-tiba Risa mencengkeram erat tangan Juni. Gadis tersebut seolah berusaha mencegah kepergian sang sahabat. Hal itu sontak membuat Juni menampakkan kerutan dahinya.
"Ada ap--" Juni langsung menjeda kalimatnya kala bibir Risa menempel di pipi kirinya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dia juga semakin dibuat kaget, ketika melihat Agus dan Irfan berdiri menyaksikan adegan tak terduga yang dilakukan Risa padanya.