
Ceklek. . .
Juni masuk ke rumah dengan menutup pintu secara perlahan. Dia melakukannya agar tidak menimbulkan suara berisik yang dapat membuat ibunya terbangun. Senyuman di wajahnya terlihat belum memudar. Jujur saja sensasi debaran jantungnya masih terasa membara.
Klik!
Lampu yang tadinya mati mendadak menyala. Juni tahu itu adalah ulah sang ibu. Dia pun membalikkan badan, dan benar saja Rahma tampak berdiri di belakangnya dengan ekspresi merengut.
"Apa pacarmu lebih penting dari Mamah?" timpal Rahma sembari menyilangkan tangan di dada.
"Mah, aku--"
"Jun, Mamah akan menjual rumah ini!" celetuk Rahma, yang sontak membuat mata Juni membulat sempurna.
"Jangan bercanda deh Mah!" Juni masih merasa tak percaya dengan ucapan sang ibu.
"Ini serius Jun, sekarang sedang banyak perusahaan mengalami kebangkrutan, dan salah satunya adalah tempat Mamah bekerja. Parahnya Mamah juga harus menutupi semua kerugiannya!" mata Rahma mulai berkaca-kaca, ia perlahan mendudukkan diri ke sofa. "Sudah seminggu Mamah memendam ini sendiri, sekarang Mamah baru mampu memberitahumu. . ." tambahnya.
Juni yang merasa tidak tega menyaksikan ibunya menangis langsung bergegas menghampiri. "Tenanglah Mah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."
"Bagaimana baik-baik saja Jun, Mamah sudah membuat kita tidak punya apa-apa lagi. Untuk sementara kita akan tinggal di rumah nenekmu," Rahma masih menahan tangisnya. Meskipun terdapat dua tetes cairan bening berhasil lolos dari matanya.
"Keluarkan saja tangisan Mamah, itu lebih baik. Aku tidak pernah menyuruh Mamah berlagak sok kuat!" sahut Juni berusaha menenangkan. Perasaan yang tadinya melambung tinggi ke langit terhempas begitu saja ke lapisan tanah paling bawah.
"Maafkan Mamah Jun. . . hiks!" Rahma akhirnya mengeluarkan semua kesedihan melalui tangisnya. Juni perlahan membawa ibunya masuk ke dalam pelukan.
"Oh iya, Mamah dengar kamu mau ikut Risa ke London?" Rahma mendadak melepaskan pelukan putranya seraya menghapus air mata yang bercucuran dipipi.
"Om Bayu kasih tahu Mamah?" Juni berbalik tanya.
"Iya."
Juni membisu, dia kembali memikirkan keputusannya lagi. 'Aku memang sudah terlanjur setuju. Tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk meninggalkan Mamah dan Sofi. . .' batin Juni yang dilanjutkan dengan helaan nafas kasarnya.
"Jun? kalau kau mau pergi--"
"Tidak Mah! aku tidak akan pergi. Apalagi dalam kondisi Mamah seperti ini!" tutur Juni, menyambar begitu saja ucapan ibunya yang belum selesai.
"Tidak! justru itu malah baik untukmu Jun, kamu akan--"
"Keputusanku bulat Mah!" Juni menegaskan, dia kembali memotong kalimat Rahma. Selanjutnya ia pun segera beranjak pergi menuju kamar.
Drrrt. . . Drrrt. . .
Gawai Juni bergetar, dia langsung mengangkat panggilan tanpa menengok layar di ponselnya.
"Halo?" sapa Juni malas. Hatinya sedang dilanda gundah.
"Ini dengan saudara Juni? wali sementara dari pasien atas nama Amelia Susan?" suara wanita dari seberang telepon membalas.
"Iya, apa ada sesuatu yang mendesak?" Juni mulai merasa cemas.
"Amelia sepertinya sedang memiliki banyak pikiran, sejak kepergianmu dari rumah sakit, dia sudah melakukan dua kali percobaan bunuh diri." Juni membulatkan mata kala mendengar kabar yang diberitahukan seorang wanita tersebut.
"Bagaimana bisa. . . dia padahal mengatakan padaku kalau dirinya sedang baik-baik saja!" Juni berpendapat.
"Mungkin dia hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Ngomong-ngomong apa kami bisa menghubungi orang terdekatnya selain dirimu?" balas sang wanita di telepon.
"Aku akan ke sana secepatnya!" ujar Juni. Dia langsung mematikan saluran telepon secara sepihak. Perlahan lelaki itu mendudukkan diri ke atas kasur. Sekarang ia memegangi kepala dengan kedua tangannya.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Juni segera bergegas untuk menjenguk Amelia.
Tak! Tak! Tak!
Dia menuruni tangga dengan langkah yang tergesak-gesak.
"Loh, kamu mau pergi lagi?" tegur Rahma, dia masih duduk setia di sofa dengan wajah sendunya.
"Mamah belum tidur?" bukannya menjawab, Juni malah berbalik tanya.
"Mamah belum ngantuk. Kamu mau kemana?! ini sudah larut malam!" Rahma berusaha tegas.
"Aku harus menjenguk Amel Mah, dia tadi siang mengalami kecelakaan!" Juni berterus terang.
"Benarkah? bagaimana keadaannya?" Rahma menunjukkan raut wajah khawatir.
"Dia baik-baik saja, tetapi katanya dia beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri."
"Kenapa?"
"Entahlah. Mungkin karena pekerjaan. . . Amelia juga terkena dampak kebangkrutan perusahaan Mah, dia dipecat dari pekerjaannya." Juni menjelaskan.
Mata Rahma membola. Dia telah lama mengenal seluk beluk Amelia, terutama mengenai keluarga dan keuangan gadis itu. Makanya Rahma terkesan tidak setuju putranya terus berdekatan dengan Amelia. Dia bahkan tahu, kalau Juni telah banyak meminjamkan uang. Tetapi sekarang setelah mendengar keadaan Amelia, Rahma tahu gadis tersebut mengalami masalah yang berat.
"Ya sudah, kalau begitu Mamah akan ikut bersamamu. Toh Mamah juga sedang tidak bisa tidur!" Rahma bangkit dari tempat duduknya.
"Yang benar?" Juni memastikan sembari mengangkat kedua alisnya.
"Iya, tunggu. Mamah mau bersiap-siap dahulu!" ucap Rahma sambil berderap menuju kamarnya untuk mengganti baju.
Juni menunggu ibunya di luar rumah. Dia terlihat menyandarkan tubuhnya ke kap mobil. Matanya menyorot ke jendela kamar Risa yang terang benderang. Gadis itu memang tidak pernah tidur dalam keadaan gelap, karena alasan phobianya.
'Apa yang harus aku katakan pada Risa. Astaga. . . aku tidak ingin melihat dia menangis karena diriku lagi. . .' kata Juni dalam hati sembari memejamkan mata.
Rahma melangkah keluar dari rumah, mulutnya sudah menganga karena ingin menyapa sang putra. Namun ia urungkan akibat berhasil memergoki Juni melamun sambil memandangi rumah Risa.
"Jun, pasti berat untukmu kan?" ungkap Rahma, hingga menyebabkan Juni tersadar dari renungannya.
"Kamu memang tidak seperti Sofi, yang selalu menceritakan masalahnya kepadaku. Tetapi Mamah selalu tahu apa yang kamu alami, kau bisa menceritakan semuanya padaku." Rahma berbicara serius. Tetapi Juni malah tersenyum seraya menundukkan kepala.
"Mamah sudah punya masalah yang harus di urus, aku tidak ingin menambahnya lagi. Ayo kita pergi!" ungkap Juni. Dia lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Alhasil Rahma hanya mampu menghela nafas beratnya.
Risa membuka mata, karena mendengar suara mobil Juni yang bunyi khasnya tersimpan dalam memorinya. Dia segera membuka tirai jendela, dan dapat menyaksikan mobil Juni yang berjalan semakin jauh.
'Ish, Juni kemana malam-malam gini?' benak Risa bertanya-tanya, dia melampiaskan rasa penasarannya dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Kemana ya?" gumam Risa, kali ini dia sudah memposisikan diri duduk di atas kasurnya. "Apa aku telepon saja?" Risa menatap ke arah handphone-nya yang tergeletak di atas nakas.
Pada akhirnya ia memutuskan mengambil ponsel dan langsung menghubungi Juni. Panggilan pertama tidak dijawab sama sekali. Setelah percobaan kedua, barulah kekasihnya tersebut menjawab.
"Jun, kamu kemana? aku melihat mobilmu pergi tadi?" timpal Risa.
"Eh, kamu belum tidur?" sahut Juni seraya meringiskan wajah.
"Bagaimana aku bisa tidur setelah mendapat ciumanmu tadi. . ." goda Risa yang tak kuasa menghentikan semburat tersipu malu.
Juni yang mendengar sontak menjauhkan ponsel dari telinga, dan menutupi dengan tangan sebelahnya. 'Ya ampun aku harus bagaimana. . .' ucapnya dalam hati.