The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 106 - Hati Yang Serasa Dihujam Pisau



Juni membelalakkan mata, karena menyaksikan dirinya menjadi salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ke London. Lelaki itu tak mampu membendung rasa senang yang teramat sangat. Entah kenapa matanya malah jadi berkaca-kaca. Sebab ia merasa sangat lega, karena perjuangan yang dilakukannya selama ini tidak berakhir sia-sia.


'Akhirnya aku bisa bertemu Risa lagi!' batin Juni sembari mengeluarkan nafas melalui mulut. Dia berusaha sebisa mungkin menahan tangisnya. Kemudian bergegas pulang ke rumah dan membawa kabar baiknya kepada keluarga.


Rahma, Sofi dan neneknya Juni merasa bangga dan ikut bahagia. Mereka memberikan ucapan selamat dan juga pelukan hangat. Terutama Rahma, hanya dia satu-satunya orang yang paling terharu dengan keberhasilan Juni. Wanita itu tidak mampu menahan tangisnya. Hingga menyebabkan Juni ikut-ikutan terbawa perasaan.


"Sudahlah Mah!" ungkap Juni sambil membawa ibunya masuk ke dekapannya.


"Oh iya, karena sebagian besar kuliahku akan dibiayai pihak penyelenggara beasiswa, maka Mamah bisa memakai uang kuliah yang ada untuk melunasi sisa hutang!" ujar Juni lagi, dia melepaskan pelukan secara perlahan. Dan berbicara dengan nada penuh semangat.


"Loh kau bisa menggunakannya untuk uang sakumu kalau sudah di London!" balas Rahma, yang masih bersikeras tak mau memakai uang peninggalan sang suami.


Juni menggeleng tegas. "Ya ampun Mah, kan hutangnya cuman tinggal lima juta, sisa uang kuliahnya masih banyak kok. Toh lagi pula, aku tidak cuman kuliah saja nanti pas di London. Aku juga akan nyambi kerja paruh waktu!" ujarnya yang bertutur kata lembut.


"Iya Mah, aku setuju sama usulan Kak Juni. Kalau hutangnya lunas, kan pikiran Mamah jadi plong!" Sofi ikut meyakinkan sang ibu. Pada akhirnya Rahma pun tersenyum dan mengangguk, pertanda ia menyetujui usulan kedua buah hatinya.


"Apa kalian sudah selesai? ayo kita masak besar untuk merayakan keberhasilan Juni!" ucap Asri, neneknya Juni dengan raut wajah semringah.


***


Waktu berlalu dengan cepat. Juni dan Ratih sudah tiba di London. Mereka sekarang sedang duduk bersebelahan di dalam mobil taksi.


"Aku nggak nyangka sudah menjejakkan kaki di negara ini," celetuk Juni sembari menoleh ke arah Ratih.


"Sama, aku juga. Apalagi ternyata perginya sama kamu, bukan Kak Ello. Aku benar-benar tak pernah menduga, padahal kau selalu tertidur saat pelajaran musik klasik!" sahut Ratih, yang di akhiri dengan tawa kecilnya.


"Haha! kau benar. Tetapi kali ini aku berjanji, tidak akan tidur lagi selama pelajaran!" balas Juni yang ikut terkekeh.


Mereka telah tiba di asrama yang telah disediakan pihak kampus. Di sanalah Juni dan Ratih harus berpisah dikarenakan asrama yang ada disediakan sesuai jenis kelamin.


Juni tiba dikamarnya, dia mendapati rekan sekamar yang bernama Gabby. Lelaki keturunan kulit hitam yang supel dan ramah. Karena hanya butuh beberapa menit, dia sudah berhasil mendapatkan kesamaan dengan Juni. Mereka sama-sama menyukai musik.


"Kau beruntung bisa kuliah sesuai dengan apa yang disukai. Lah aku? harus menuruti kemauan orang tua!" keluh Gabby dengan lidah berdecak kesal.


"Setidaknya kau adalah anak yang baik Gab!" balas Juni. "Eh maaf ya kalau bahasa inggrisku masih buruk. Soalnya aku masih harus banyak berlatih!" tambahnya.


"Buruk? are you kidding? kau terdengar sangat fasih!" Gabby mengemukakan pendapatnya.


Juni pun tersenyum dan berucap, "Terima kasih!"


Setelah berbincang cukup lama dengan Gabby dan merebahkan diri ke kasur. Juni pun bangkit, kala mengetahui Gabby telah tertidur pulas.


'Sekarang saatnya mencari Risa!' gumam Juni dalam hati dengan semangat yang menggebu. Dia menjelajah ke internet untuk mencari tahu lewat postingan-postingan foto di akun Jay. Benar saja, dia dapat menemukan lokasi yang tercantum di postingan fotonya.


Tanpa ba bi bu Juni pun bergegas bersiap-siap untuk pergi. Hanya memerlukan waktu sepuluh menit untuk tiba ke cafe milik Jay. Sekarang dia dan Jay saling bertatap muka. Raut wajah Jay terlihat sangat kaget kala menyaksikan kehadiran Juni. Bahkan rasa marah juga menyelimuti perasaannya.


Namun Jay sudah tak memikirkan lagi mengenai masalah yang terjadi di antara Juni dan Risa. Dia hanya berusaha melakukan yang seharusnya.


"Aku ingin bertemu Risa!" jawab Juni, mencoba tenang.


Jay terdiam untuk sesaat. Sebab dirinya tengah memikirkan tentang apa yang seharusnya dia beritahu. Terutama mengenai rencana pernikahan Risa yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi. 'Sepertinya jika Risa yang memberitahu Juni secara langsung akan lebih baik!' pikirnya.


"Risa tidak bekerja di sini lagi. Sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan perancang busana. Tepat di butik yang jaraknya sekitar 200 meter dari sini!" Jay memberitahu sambil menuliskan sebuah alamat untuk Juni.


"Terima kasih Jay! kau tidak marah kepadaku kan?" tanya Juni, karena melihat raut wajah Jay tampak datar saja.


"Sedikit. Tetapi sudahlah, meskipun aku marah kepadamu, Risa tetap tidak akan menerima cintaku!" sahut Jay, lalu segera beranjak pergi meninggalkan Juni.


Selanjutnya, Juni meneruskan perjalanannya. Tepatnya menuju ke butik tempat Risa bekerja. Awalnya dia di usir, karena tidak membeli satu pun produk yang ada. Alhasil Juni pun hanya bisa menunggu di luar sambil terus mendesak kepada karyawan yang berjaga.


Ella yang kebetulan sedang berjaga di depan lantas dibuat geram, dan segera memberitahu Risa.


Tak! Tak! Tak!


Suara langkah kaki perlahan mendekat dari belakang. Juni pun langsung berbalik dan mendapati Risa sudah berdiri di belakangnya. Pupil mata keduanya sama-sama membesar. Hening terjadi beberapa saat.


"Risa, kau--"


"Mau apa kau ke sini?" tanya Risa sambil melangkah mundur untuk menjauh dari Juni.


"Tentu saja mencarimu, aku ingin menjelaskan semuanya!" sahut Juni pelan. Dia bergegas menghampiri Risa. Namun gadis yang di dekatinya lagi-lagi menjauh.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Jun! karena sebentar lagi aku akan menikah." Risa terdiam sejenak lalu memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya dan berucap, "Aku sudah bertunangan!"


Deg!


Jantung Juni berdegub kencang. Hatinya serasa seperti dihujam pisau. Dia sekarang hanya bisa membisu. Membiarkan Risa terus memberikan penjelasan.


"Jadi jangan temui aku lagi! pulanglah!" saran Risa, kemudian segera kembali masuk ke butiknya.


Juni masih berdiri mematung menatap punggung Risa yang semakin menjauh.


'Risa tidak terlihat seperti biasanya. Padahal dia dahulu adalah sosok gadis yang selalu dipenuhi semangat. Bukankah itu membuktikan kalau dia sekarang tidak bahagia dengan pilihannya?' batin Juni, yang perlahan mengukir senyuman. Dia merasa masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kembali hati Risa.


"Ya sudah, besok aku akan ke sini lagi!" gumam Juni yang sekarang berceletuk melalui mulutnya.


Di sisi lain Risa sudah kembali memasuki ruang kerjanya. Pikirannya tentu sedang memikirkan Juni. Gadis tersebut tampak memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


'Aku sebenarnya benci Juni, tetapi kenapa hatiku merasa sedikit senang ya saat melihat wajahnya lagi. . .' ucap Risa dalam hati. Tetapi dia lekas-lekas menggelengkan kepala untuk menepis jauh-jauh pikirannya itu.


'Sadarlah Ris, sebentar lagi kau akan menikah dengan Tom, dan dia lelaki yang sangat baik!' Risa berusaha menetapkan tekadnya kepada pilihan yang sekarang sudah dipilihnya.