
Jay pun berjalan memasuki rumah Juni. Dia segera mendapat sambutan hangat dari Rahma. Toh wanita paruh baya itu hampir tidak pernah melihat penampilan bule secara langsung di depan matanya.
"Wah. . . hellow?" Rahma tampak mengatupkan kedua tangannya. Jay yang menyaksikan aksinya lantas tersenyum ramah untuk sekedar menyapa.
"Ya ampun, temanmu tampan sekali Ris! aku heran sama kamu, kok malah sukanya sama anakku yang lebih mirip curut yang ada di gudang!" tutur Rahma seraya menepuk pundak Risa.
"Ish! apaan sih Mah!" Juni yang ternyata mendengar sudah keluar dari kamar. Dia terlihat sibuk mencicipi sedikit nasi goreng sang ibu.
"Pfffft!" Risa berusaha menahan tawa, kala mendengar kalimat yang disebutkan oleh Rahma.
"Dia bilang apa?" Jay bertanya kepada Risa.
"Ibunya Juni bilang, kau sangat tampan!" terang Risa singkat. Jay pun semakin melebarkan senyumnya dan mengucapkan terima kasih dengan gelagat sopan. Juni yang menyaksikan pemandangan tersebut hanya bisa meringiskan wajah.
"Ris, kamu ya!" Juni menatap Risa dengan sorot tajamnya. Sang gadis yang dipandangnya hanya merespon dengan mimik wajah mengejek. Dia memajukan bibir bawahnya dengan sengaja.
"Eh, Juni ikut lari pagi juga?" tanya Jay seraya mengernyitkan keningnya. Risa pun menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman tak bersalah.
"Why?" protes Jay.
"Biar seru lah Jay!" sahut Risa santai.
"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang!" ajak Juni sembari berjalan menuju pintu.
"Eh tunggu Jun, kita tunggu Sofi!" cegat Risa, yang sontak membuat Juni menghentikan langkahnya.
"Dia ikut juga?"
"Iya. . . nah, tuh udah siap!" ucap Risa yang akhirnya melihat kemunculan Sofi menuruni tangga.
Sofi tampak siap dengan senyuman yang mengembang diwajah. Namun ketika dirinya baru menyadari kehadiran Jay, barulah ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi tegang.
"Kenapa? kayak lihat hantu aja? pffft!" timpal Juni yang tidak kuasa menahan tawa kala melihat tingkah sang adik.
"Kenapa kalian nggak sarapan aja dulu," ungkap Rahma ramah. Dia mengajak semuanya untuk mendekati meja makan.
"Enggak usah Tante, kami mau tancap gas saja!" ujar Risa beristilah. Sofi tiba-tiba berjalan menghampiri dan mendekatkan mulutnya ke telinga Risa.
"Kak Risa, aku nggak jadi ikut ya. . ." bisiknya.
"Kenapa?" Risa mengerutkan dahi.
"Pokoknya nggak jadi Kak!" jawab Sofi ambigu.
"Ya elah, plin plan banget sih kamu Sof!" tukas Juni. Dia segera menyeret adiknya keluar ikut bersamanya. Risa dan Jay pun otomatis mengekori.
"Kak Jun! aku nggak jadi ikut!" Sofi berusaha mengelak dan melepaskan cengkeraman sang kakak.
"Emangnya kenapa Adikku yang cantik!" Juni mengacak-acak rambur Sofi secara brutal.
"Aku ogah kasih tahu Kak Jun!" tolak Sofi sembari berbalik badan, dan tanpa disangka dirinya menabrak Jay karena ketidaksengajaan. Lagi-lagi mata Sofi terbelalak dan terkesiap ala binatang merkaat. Juni dan Risa yang menyaksikan adegan itu, hanya bisa mengerutkan dahi. Tetapi, tidak butuh waktu lama Risa lebih dahulu menyadari alasan dibalik tingkah Sofi.
"Sudah, sudah! ayo kita lari saja. Nanti keburu siang, kepanasan lagi!" usul Risa sambil membawa Sofi bersamanya. Dia sekarang berlari secara berbarengan dengan adik perempuan dari Juni tersebut.
"Ayo Jun!" ujar Jay yang tengah berlari kecil dari belakang Risa dan Sofi.
'Malas banget aku padahal. Astaga. . ." keluh Juni dalam hati, kemudian terpaksa ikut menggerakkan kakinya untuk berlari. Dia tidak sengaja melajukan larinya se-irama dengan Jay. Alhasil keduanya sekarang tengah berlari bersama.
"Apa?" Juni melirik selintas ke arah Jay.
"Do you love Risa? (Apa kau mencintai Risa?)" tanya Jay.
"Hah?" Juni menatap bingung.
"Love! Jun, Love. Risa!" Jay mengartikan kalimatnya dengan isyarat. Dia menunjuk bagian dadanya, lalu dilanjutkan mengarahkan tangannya kepada Risa yang sedang berlari di depan.
"Risa?" Juni berpikir sejenak. Setidaknya dia memahami makna 'Love' dan 'Risa'. Dia pun lantas menganggukkan kepala dan menjawab 'Yes' kepada Jay.
"Aku juga!" ungkap Jay dengan senyuman tak bersalah. Juni yang mendengar sontak membulatkan mata. Dia sebenarnya sudah menduga dari awal, tetapi kepastian yang diucapkan oleh Jay membuat semuanya lebih jelas sekarang.
"Tetapi dia mencintaiku Jay, bukan dirimu!" balas Juni dengan bahasa indonesia-nya.
"What?" Jay menampilkan mimik wajah seakan menuntut jawaban dari Juni
"Risa. . ." tangan Juni menunjuk ke arah Risa. "Juga," Juni menepuk area dadanya dua kali. "Mencintaiku!" lanjutnya yang disertai isyarat tangan menyatu. Dia berusaha memberitahu Jay, bahwa dirinya dan Risa saling mencintai.
Jay yang memahami penuturan Juni hanya terdiam beberapa saat. Dia malah berakting seakan tidak mengerti penjelasan lelaki di sampingnya. "Sudahlah Bro, aku tidak paham!" tukas Jay sembari menggelengkan kepala. Juni yang melihat responnya hanya bisa menggertakkan gigi geramnya.
"Jun, larimu sangat lambat. Aku duluan sedikit ya!" kata Jay seraya melambaikan tangan, lalu segera meninggalkan Juni. Dia sekarang melewati Risa dan Sofi.
Deg!
Jantung Sofi tiba-tiba berdetak dalam tempo yang lebih cepat, tatkala menyaksikan Jay berlari melingus dari samping kanannya. Lelaki asing tersebut tampak semakin mempesona dengan keringat yang mulai membasahi badannya. Langkah Sofi reflek mempercepat larinya untuk mengikuti Jay.
'Sudah ku-duga, si Sofi kayaknya suka sama Jay. Eh tunggu, Juni kok nggak kelihatan?' batin Risa, kemudian segera menoleh ke arah belakang. Betapa kagetnya dirinya, ketika melihat Juni tertinggal lumayan jauh.
"Astaga, tuh anak nggak pernah berubah. Padahal badannya sudah ringan!" guman Risa. Dia pun berlari menghampiri Juni.
"Kok kamu lambat banget sih!" tegur Risa yang semakin mendekati keberadaan Juni.
"Aku mau nikmati suasana pagi Ris!" kilah Juni yang berusaha menampakkan ketenangannya. Padahal nafasnya sudah mulai ngos-ngosan.
"Bener nggak tuh!" Risa menatap serius.
"Bener kok!" Juni mencubit sebelah pipi Risa.
"Ya sudah, ayo lanjut lagi. Adik kamu di ambil sama Jay tuh!" kata Risa, yang reflek membuat mata Juni membola.
"Maksudmu?"
"Cowok emang nggak peka ya. Jelas-jelas adikmu itu suka sama Jay, kelihatan dari sikapnya," tutur Risa sambil kembali berlari bersamaan dengan Juni.
"Yang benar?" Juni terlihat biasa saja.
"Kok kamu nggak takut?" tanya Risa.
"Enggaklah. Sofi orangnya gampang jatuh cinta. Paling kalau ketemu cowok yang lebih tampan dari Jay, dia bakalan langsung pindah hati tuh!" jelas Juni. Risa lantas terkekeh kala mendengarnya.
Jay yang terlalu terlena dengan lari kecilnya akhirnya menyadari kalau Risa tertinggal. Alhasil dia pun segera menoleh ke belakang, dan benar saja gadis yang dia sukai tengah berlari bersama Juni. Jay menampakkan raut wajah cemberutnya, dia berniat menghampiri Risa.
"Kak Jay!" panggil Sofi, yang mana kehadirannya tidak di acuhkan oleh Jay sedari tadi.
"Eh, kau!" respon Jay, yang segera mengalihkan pandangannya kepada gadis di sampingnya.