
Juni mengacak-acak rambut frustasi, beberapa kali dia menendang-nendang mobilnya yang sedari tadi tidak bisa menyala.
"Arggh! kampret sekali nih mobil!" sumpahnya sembari berkacak pinggang.
"Kenapa Jun?" tegur Risa yang tengah memanjangkan kepalanya di jendela.
"Ini mobilku nggak bisa nyala!" sahut Juni.
"Benarkah? tunggu!" Risa bergegas keluar dari rumahnya. Dia segera menghampiri Juni. "Emang kamu mau kemana?" tanya Risa yang sudah berdiri di samping sahabatnya.
"Ke rumah nenek, Mamah dan Sofi minta di jemput." Juni mendengus kasar.
"Pakai mobilku aja yuk, aku anterin!" ajak Risa.
"Nggak usah Ris, aku panggil tukang bengkel saja." Juni menepis.
"Idih! ayolah, ini sudah hampir malam loh. Nanti Mamah kamu sama Sofi pulangnya larut lagi!" Risa segera berlari kecil masuk ke rumahnya untuk bersiap dan mengambil kunci mobil. Alhasil Juni pun terpaksa menyetujui usulan Risa, keduanya segera beranjak pergi.
"Jun, boleh aku tanya?" Risa memecah kesunyian yang sedang terjadi di antara dirinya dan Juni. Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apa?"
"Kamu dan Amel pernah ciuman di bibir?" tanya Risa, yang sontak membuat Juni membulatkan mata.
"Eh bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membicarakan hal itu?" timpal Juni yang masih tampak begitu terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan sang sahabat.
"Hah? aku kan bicarain tentang kamu dan Amel, pikiranmu emang kemana Jun? haha!" balas Risa dengan kekehnya.
"Terserah!" pipi Juni tiba-tiba memerah, dia berusaha memalingkan wajah dari Risa yang tengah menyetir. Terlintas dalam bayangannya adegan Risa mencium bibirnya. Juni pun mencoba menyadarkan diri dengan menepuk-nepuk salah satu pipinya.
"Kenapa Jun? lagi bayangin aku ya!" terka Risa yang sekarang tertawa geli.
"Risaaaa!" pekik Juni sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Ketahuan banget deh kamu Jun!" celetuk Risa.
"Apa?!" balas Juni dengan nada tinggi.
"Ketahuan masih polos banget." Risa tersenyum sejenak lalu menambahkan, "Berarti yang kemarin itu ciuman pertamamu ya?"
"Apaan sih Ris, kenapa ngomongin itu, males banget. Yang fokus nyetirnya!" Juni berkilah.
"Haha! maaf ya Jun, harusnya aku selidiki dulu ya. Jadi bukan Amelia tuh yang dapat untuk pertama kalinya!"
"Ris! cukup!!" geram Juni, yang segera membuat Risa menutup mulutnya rapat-rapat.
***
Juni dan Risa masih dalam perjalanan. Kala itu hujan turun lumayan deras. Meskipun rumah neneknya Juni tidak begitu jauh, namun jalan yang mereka lewati cukup sulit. Tidak hanya terhalang kemacetan, tetapi juga jalanannya yang rusak.
"Macet lagi. . . udah capek Ris?" Juni menoleh ke arah Risa.
"Lumayan, kamu mau tukeran?" tanya Risa yang langsung direspon dengan anggukan kepala dari Juni. Keduanya pun bertukar tempat duduk, dan masih menunggu lalu lintas yang masih saja tersendat.
"Bakalan lama nih, sore menjelang malam gini emang pada banyak yang pulang." Risa mendengus kasar, lalu perlahan melirik Juni. Jantungnya mulai berdebar tidak karuan, gadis tersebut tidak ingin mengalihkan pandangannya lagi. Tanpa diduga Juni tiba-tiba saja menoleh ke arahnya. Keduanya saling bertukar pandang untuk beberapa detik.
Bip! Bip!
Suara klakson mobil langsung menyadarkan Juni, dia segera memalingkan wajah dari sahabatnya. "Ih! nggak seru kamu Jun." Risa memutar bola mata jengah.
"Emang kita lagi main ya? tiba-tiba bilang nggak seru!" tukas Juni seraya mendenguskan nafas.
"Uhuk! uhuk! uhuk!" Risa tiba-tiba terbatuk-batuk dengan begitu keras hingga membuat matanya memerah.
"Eh kenapa Ris?" Juni menatap khawatir.
"Sepertinya ada yang lagi gosipin aku nih!" ucap Risa yang masih berusaha menahan batuknya.
"Haiss! masih saja percaya sama takhayul." Juni tersenyum smirk.
"Terserah aku dong." Risa tidak ingin mengalah.
Hujan semakin deras disertai angin dan juga petir. Membuat Juni maupun Risa mulai merasa bergidik ngeri untuk melanjutkan perjalanan.
Syuuut!
Juni menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, dikarenakan ada binatang yang sedang menyeberang. Alhasil Risa yang tidak menduga hal tersebut harus rela menahan sakit di jidatnya akibat kepentok benda keras.
"Jun!!!" geram Risa sambil memegangi bagian dahinya.
"Ris, mending kita singgah ke tempat itu saja." Juni menunjuk salah satu bangunan terdekat. Dia tidak menghiraukan keluhan sahabatnya.
"Ide bagus, sepertinya terlalu sulit untuk melanjutkan perjalanan. Toh aku tidak yakin mobil ini bisa bertahan dengan air hujan. Mana udah lama lagi kehujanan saat macet tadi," imbuh Risa. Juni pun perlahan memarkirkan mobil ke bangunan yang tadi ingin dia tuju. Tempat itu terlihat sepi dengan cahaya lampu remang-remangnya.
Juni dan Risa berlari ke teras bangunan yang lebih mirip sebuah villa tersebut. Keduanya sedang sama-sama memeluk tubuhnya masing-masing akibat cuaca dingin yang menusuk.
"Kok seram ya Jun!" Risa menggidikkan bahunya, perlahan dia menghimpitkan tubuhnya ke dekat Juni.
"Hooh! sial sekali kita hari ini!" ungkap Juni sembari menghela nafasnya. Kemudian menggosok-gosok telapak tangannya untuk menghangatkan badan.
"Jun, gimana kita ketok aja nih rumah," usul Risa seraya mengamati bangunan yang tengah menjadi tempat berteduhnya.
"Kayaknya nggak ada orang deh! sepi banget." Juni ikut mengamati. Kebetulan dia melihat ekspresi Risa yang sedang meringiskan wajahnya. Juni sangat tahu kalau sahabatnya tengah ketakutan.
"Ris, apa kau lihat tadi di jendela itu ada seseorang?" Juni berbisik ke telinga Risa.
"Jun, jangan bercanda ah!" tepis Risa dengan dahi yang berkerut. Gadis itu memang selalu takut dengan hal-hal yang berbau mistis dan juga kegelapan.
"Apa wajahku terlihat bercanda?" wajah Juni tampak serius. Risa pun terdiam, dia terlihat bertambah takut.
"Dooorr!!! hahaha!" Juni sengaja mencengkeram kedua bahu Risa. Kelakuannya itu pun berhasil membuat sang sahabat hampir jantungan.
"Nggak lucu!" Risa menggertakkan giginya. Namun Juni masih saja tertawa geli, seakan telah puas menjahili sahabatnya.
Risa yang melihat tawa lepas Juni perlahan tersenyum simpul. Tubuhnya reflek memeluk Juni dengan erat. Rasa hangat yang diberikan Risa membuat Juni mematung. Dia pun akhirnya melingkarkan tangannya ke punggung sang sahabat.
"Jun, aku kangen banget sama kamu," ujar Risa sambil memejamkan matanya. Tangannya mengusap pundak Juni dengan lembut.
"Sama!" Juni membalas singkat dan tersenyum tipis.
"Kau beneran tidak mencintaiku?" tanya Risa mencoba memastikan. Lantas pertanyaan itu pun membuat Juni segera melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa bicarain masalah itu lagi sih!" Juni membuang muka, dia tidak ingin menatap wajah Risa.
"Soalnya kau tidak pernah menjawab. Jadi aku tidak punya kepastian!" tukas Risa, yang segera mengalihkan wajah Juni untuk memaksanya menatap dirinya.
"Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku!" titah Risa dia mendekatkan wajahnya ke wajah Juni. Jarak mereka hanya beberapa senti saja.
"Aku. . . tidak mencintaimu." Juni mengucapkannya dengan raut wajah datar. Risa pun mengalah, dia menundukkan kepala. Hatinya serasa dihujam dengan sebilah pisau.