
"Ri-ri-ris, apa maksudnya..." tanya Juni sembari memegangi area pipinya.
"Bu-bukan apa-apa, aku cuman gemas aja..." sahut Risa menatap datar ke depan. Dia tidak sanggup memandang wajah Juni.
"Itu bukannya Agus sama Irfan ya?" Risa mengamati dengan seksama dua lelaki yang sedang berdiri di depan. Gadis itu sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Iya, kayaknya mereka!" ucap Juni seraya turun dari truck kecil Risa. Dia langsung melangkahkan kaki menuju Agus dan Irfan. Sontak Risa pun ikut menyusul.
"Kalian ngapain? nggak ke acara prom?" tanya Juni.
"Lah! seharusnya kita yang tanya itu ke kalian! iyakan Fan!" imbuh Agus, yang membuat Irfan menganggukkan kepala seketika.
"Kalian jadian ya?" goda Irfan menatap Juni dan Risa dengan wajah yang cengengesan.
"Hah? nggak..." Juni tergagap, bola matanya meliar kemana-mana.
"Loh, kenapa tadi ciuman?" tukas Irfan sembari menyilangkan tangan di dada. Alhasil Juni dan Risa langsung menampakkan pipi merah mudanya di wajah mereka masing-masing.
"Hiyaaak... sahabat jadi cinta kah?" goda Agus, yang di setujui Irfan dengan tawa gelinya.
Plak!
"Ini nggak seperti yang kalian pikirkan!" geram Risa seraya melayangkan cap lima jarinya ke pipi Agus.
"Perasaan aku mulu yang terus kena siksaanmu Ris!" kritik Agus menatap tajam ke arah gadis yang telah menamparnya.
"Ya sudah kita ngobrol di rumah aku aja yuk!" Juni berjalan menuju rumahnya. Risa, Agus, dan Irfan pun mengekorinya dari belakang.
***
"Gimana acara prom-nya Gus? bukannya kamu panitia? kok nggak di sana sampai acara selesai?" tanya Risa yang sudah duduk nyaman di sofa Juni.
"Acara payah! males aku lihat muka kakak-kakak kelas perundung itu. Biarin cepat-cepat lulus lah mereka!" sahut Agus. Sedari tadi lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke sofa. Matanya menatap ke arah langit-langit pelafon rumah Juni.
"Nggak seru sih, kalau jomblo!" imbuh Risa dengan sedikit kekehnya.
"Idih! bukannya kau jomblo juga ya?... oh kayaknya udah enggak ya!" Irfan menyenggol Agus dengan sikunya.
"Iya, kalian ngaku aja deh!" tukas Agus sembari mengangkat kedua alisnya.
"Apaan sih kalian!" Juni mengernyitkan dahinya.
"Tau... bilang aja iri!" geram Risa dengan seringainya.
"Ya udah kita ngalah aja deh Gus! nanti kalau mereka emang jadian pasti ketahuan kok! ckckck..." Irfan dan Agus saling cengengesan. Kedua lelaki tersebut tampak puas menggoda Juni dan Risa.
Plak! Plak!
Juni melayangkan pukulan pelan ke kepala Agus dan Irfan.
"Bagus Jun!" cetus Risa, tangannya reflek menepuk pelan pundak Juni.
"Hiyaaak... ciee..." ejekan Agus dan Irfan semakin menjadi-jadi. Alhasil warna merah muda kembali menghiasi pipi Juni dan Risa. Keduanya saling menundukkan kepala.
"Ngomong-ngomong keluargamu mana Jun? kok nggak ada kelihatan?" tanya Risa yang perlahan mendongakkan kepalanya. Lagi-lagi dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Bokapku lagi lembur, terus nyokap sama Sofi lagi di rumah nenek!" jawab Juni.
"Sayang banget, padahal aku mau godain adikmu yang imut itu..." celetuk Agus.
"Ngapain, bocah ingusan mau digoda juga! pacaran pun belum pernah!" kritik Juni, seakan melakukan pembalasan pada Agus.
"Tenang Ris! Sofi nggak bakalan mau sama cecunguk kayak dia!" sahut Juni, yang dilanjutkan dengan gelak tawa dari Risa dan Irfan. Kala itu Agus hanya bisa mengatup mulutnya rapat-rapat.
"Jun! pinjam kaosmu dong! nggak nyaman banget pakai baju kayak gini!" Risa menampakkan ringisnya.
"Kenapa mau ganti? nanti nggak ada yang enak di pandang lagi dong!" Agus memanyunkan bibirnya.
"Jangan didengerin Ris! dia otak mesum!" ujar Irfan sembari menarik helaian rambut Agus.
"Nggak perlu dibilang pun aku tahu!" tukas Risa.
"Nih! pakai ini aja!" Juni menyodorkan setelan pakaian untuk Risa. Sekarang gadis itu kembali dengan tampilan tomboy-nya.
Detik terus berjalan, ke-empat insan tersebut hanya mengisi waktu mereka dengan menonton televisi.
Tring... Tring...
Telepon rumah tiba-tiba berdering. Alhasil Juni pun segera berdiri untuk mengangkat panggilan telepon itu.
Setelah melakukan pembicaraan singkat di telepon, raut wajah Juni terlihat berubah. Tubuhnya mematung di tempat. Seakan dirinya telah menerima kabar yang begitu mengejutkan.
"Jun, kamu kenapa? kesambet setan?" tegur Irfan.
"Jun?!" panggil Risa, dahinya tampak berkerut.
"Ris! cepat anterin aku ke rumah sakit!" Juni tiba-tiba menarik tangan Risa. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca.
"Jun, ada apa?"
"Juni apa yang terjadi?" Irfan dan Agus sontak ikut khawatir.
"Oke Jun! kamu tenang dulu..." Risa mencoba menenangkan Juni dengan menggenggam erat jari-jemari lelaki itu.
Tanpa pikir panjang mereka ber-empat pun pergi ke rumah sakit dengan mengendarai truck kecil Risa. Kala itu baik Risa, Irfan maupun Agus sama sekali belum mengetahui apa yang telah terjadi. Tetapi yang jelas ekspresi Juni menunjukkan betapa serius masalahnya.
Dalam perjalanan mereka terdiam seribu bahasa. Juni terlihat tak henti meneteskan air matanya. Risa yang melihat keadaan sang sahabat ikut dirundung perasaan khawatir.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di tujuan. Juni segera berlari memasuki rumah sakit. Sontak membuat Risa dan yang lain ikut berlari mengikuti Juni.
Tak! Tak! Tak!
"Kakak!" Juni berhenti berlari, ketika mendengar suara panggilan Sofi. Adik perempuannya itu langsung berlari kepelukan sang kakak. Air matanya tampak mengalir deras di pipi.
Risa yang melihat keadaan tersebut mematung di tempat. Dia mulai merasakan firasat buruk. Parahnya lagi, Rahma ibunya Juni tampak terbaring lemah dengan wajah sembabnya. Di sekitar area itu juga terdapat polisi yang berjaga. Alhasil Risa pun segera menghampiri salah satu polisi di sana.
"Permisi Pak, apa yang terjadi ya?" tanya Risa pelan, yang di ikuti oleh Agus dan Irfan dari belakang.
"Temannya anak itu ya Dik?" polisi itu berbalik tanya seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Juni. Risa meresponnya dengan mengangguk pelan.
"Oh... ayahnya meninggal karena kecelakaan, dia juga merupakan atasan saya Dik..."
Deg!
Jantung Risa serasa di sambar petir. Matanya bahkan mulai berembun, perlahan gadis itu tidak bisa membendung air matanya. Dia berlari menjauh dari keramaian. Tangisnya pecah seketika. Risa menepuk-nepuk bagian dadanya, karena berusaha menghilangkan rasa sesak yang mengganjal.
Di sisi lain, Juni menangis sejadi-jadinya kala melihat jasad sang ayah dengan mata dan kepalanya sendiri. Hatinya semakin sakit ketika melihat jasad ayahnya berlumuran dengan cairan kental berwarna merah. Kakinya langsung lemas, Juni pun terduduk di lantai. Salah seorang perawat dan juga rekan sang ayah mencoba menenangkannya.
"Ayah!... tidak! ini nggak mungkin!... hiks... hiks... hiks..." Juni menangis dengan sesegukan. Bahkan dia beberapa kali mencoba menggoyangkan tubuh ayahnya, berharap keajaiban akan terjadi. Namun sayang, sang ayah sudah berhenti bernafas, jantungnya pun tidak berdetak lagi.