
"Kamu ngapain sih bersikeras ngajak Amel segala, hubunganku lagi canggung tau sama dia," ungkap Juni.
"Kan sudah ku-bilang, biar seru!" balas Risa.
"Seru apaan, bukannya malah menghancurkan suasana. Jay ada di sini saja suasananya sudah setengah hancur!" terang Juni dengan wajah cemberut.
"Sudah dong sayang, jangan marah-marah terus. Pasti seru deh aku yakin. Toh supaya Jay tidak sendiri," ujar Risa.
"Jadi tujuan kamu ngajak Amel karena itu?" Juni mencoba memastikan.
"Apa salahnya dicoba kan." Risa tersenyum lebar hingga membuat kedua matanya menyipit. Perlahan mobil mereka pun berhenti tepat di tempat Amelia berada. Gadis berambut keriting tersebut segera membuka pintu mobil depan dengan percaya diri. Namun wajah semringahnya langsung berubah tatkala menyaksikan kehadiran Risa.
"Hai Mel, kau duduk di belakang ya!" suruh Risa sembari mengukir senyuman tak bersalah.
"What? kau ngajak orang lain lagi Ris?" Jay mengerutkan dahinya.
"Jay, dia cantikkan?" ucap Risa. Jay yang mendengar hanya bisa menggeleng tak percaya. Sedangkan Juni tampak terdiam seribu bahasa sedari tadi.
Dengan hela nafas terpaksa, Amelia sudah terlanjur basah menyetujui ajakan Juni. Dia melangkah berat menuju pintu mobil belakang. Alhasil dirinya sekarang duduk berdampingan dengan Jay.
Risa yang melihat pemandangan itu perlahan menyunggingkan mulutnya ke kanan. "Mel, kamu bisa bahasa inggris kan?" tanya-nya seraya menoleh ke belakang tepat dimana Amelia berada.
"Iya? kenapa?" Amelia sedikit meringis.
"Nggak cuman tanya aja, kenalin dia Jay temanku dari London!" tutur Risa sambil menunjukkan tangannya ke arah Jay.
Amelia dan Jay pun terpaksa saling tersenyum dan berkenalan. Suasana benar-benar terasa canggung kala itu. Keheningan terjadi dalam beberapa saat. Hanya Risa yang terlihat biasa saja, dia sedang asyik memainkan ponselnya.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana Jun?" tanya Amelia yang sontak memecah kesunyian.
"Risa katanya mau ke Dufan!" jawab Juni.
"Bagus juga idenya," sahut Amelia.
"Apa Jay tahu kita akan kemana?" tanya Juni pada Risa.
"Tahu dong, jalan-jalan ini kan memang dilakukan untuk menghiburnya. Toh dia akan tinggal satu bulan lebih di sini." Risa tampak masih memainkan gawai-nya.
"Apa?!" kaget Juni yang reflek membuatnya menginjak rem secara tiba-tiba. Alhasil semua orang yang ada di dalam mobil pun protes kepadanya.
"Jun, apa kau bisa menyetir?" timpal Jay.
"Juniii!" pekik Risa sembari memegangi jidatnya karena baru saja kepentok benda keras. Berbeda dengan Amelia yang terlihat santai dengan kejadian mengejutkan tersebut. Gadis itu malah tertarik terhadap ucapan yang telah Juni katakan kepada Risa.
"Kenapa kau sangat kaget Jun?" tukas Amelia yang menatap serius.
"Dia merasa terancam dengan keberadaan Jay, Mel!" jelas Risa singkat. Dia langsung mendapatkan pukulan dari Juni tepat di bahunya. Amelia yang mendengar hanya mampu merespon dengan hela nafasnya. Dia masih berusaha berprasangka positif.
"Ris, bukannya ini adalah momenku. Kenapa kau malah menikmati waktu bersamanya?" ungkap Jay seraya tersenyum simpul, lalu merangkul pundak Risa. Amelia yang menyaksikan kejadian itu, otomatis memakai kesempatannya untuk berjalan berdampingan dengan Juni.
'Ish! bukan ini rencana yang aku inginkan!' batin Risa sambil menggertakkan gigi dan menatap sinis ke arah Amelia.
"Jun, aku senang kau mau bertemu denganku lagi. Kau tahu? kalimat yang kau ucapkan saat di super market itu benar-benar menggangguku. Aku bahkan sampai tidak bisa tidur. Tolong katakan padaku apa yang kau katakan malam itu tidak benar," tutur Amelia yang menyentuh jari-jemari Juni lembut. Dia melayangkan tatapan penuh harap di matanya.
'Astaga, apa yang harus aku katakan? jujur aku tidak ingin mengulangi ucapanku malam itu untuk yang kedua kalinya!' gumam Juni dalam hati.
"Kita naik wahana itu yuk!" Risa tiba-tiba muncul tepat di tengah, dia mendorong Juni dan Amelia dengan santainya. Jarak di antara keduanya pun terpisah begitu saja. Amelia menatap Risa tak percaya. Sedangkan Juni tidak bisa membendung kesenangannya, karena berkat Risa dia tidak perlu menjawab pertanyaan yang tadi Amelia lontarkan kepadanya.
Juni dan Amelia pun melangkah menuju wahana yang ingin dinaiki Risa. Juni yang tadinya merasa bersyukur dengan ulah sahabatnya, kali ini mengurungkan perasaannya tersebut. Disebabkan Risa mengajaknya bermain di wahana yang sangatlah ekstrim.
"Ris, kita cari wahana lain saja ya!" Juni memegangi lengan Risa.
"Kenapa Jun? apa kau takut?" Jay yang bisa melihat ekspresi getir diwajah Juni sontak menyahut.
"Benar Jay, sepertinya Juni takut!" balas Risa, yang tak acuh terhadap rasa takut Juni.
"Tenanglah Jun, kita tidak usah naik saja!" ajak Amelia sambil mencondongkan kepalanya ke arah Juni, disertai senyuman simpulnya.
"Nggak! nggak boleh ada yang tidak ikut! kamu juga Mel!" desak Risa. Dia menarik tangan Juni dengan paksa. Amelia yang menyaksikan tingkah gadis berambut merah muda itu hanya bisa memutar bola mata malasnya.
"Ayo Mel, kau juga ikut kan?" Jay akhirnya mengeluarkan suaranya untuk Amelia. Namun gadis yang diajaknya bicara hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.
Ilustrasi wahana ekstrim yang dinaiki mereka :
Risa sengaja duduk tepat di sebelah Juni. Sedangkan Jay tentu saja memilih tempat duduk di samping Risa. Amelia yang datang agak terlambat terpaksa duduk di sebelah Jay. Kebetulan kursi di wahana tersebut pas dengan jumlah mereka.
Keringat panas dingin mulai menyelimuti tangan Juni. Lelaki itu memejamkan matanya cukup lama sambil mengeluarkan nafasnya lewat mulut. Entah sudah berapa kali dirinya harus menenggak saliva-nya sendiri. Berbeda dengan Risa yang agak santai. Dia malah tidak bisa membendung tawanya ketika menyaksikan raut wajah yang ditunjukkan oleh Juni.
"Ris, kau sama sekali tidak takut?" tanya Jay yang juga terlihat santai.
"Kau tahu kan Jay, hidupku lebih mengerikan dibanding wahana ini," balas Risa seraya menyenderkan badannya ke belakang. Jay hanya menggeleng maklum untuk meresponnya. Kemudian dia menolehkan wajah ke arah Amelia. Mata lelaki berperawakan jangkung tersebut melebar kala menyaksikan gelagat gugup Amelia. Gadis itu tampak sudah berpegangan dengan erat.
"Apa kau takut Mel?" tanya Jay.
"Aku? takut? tidak kok!" jawab Amelia. Dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Namun gerakan tubuhnya tidak bisa berbohong. Badan Amelia terlihat sudah gemetaran.
"Apa kalian siap? satu, dua, tiga!" ujar karyawan yang mengendalikan wahana.
Setelah hitungan ketiga-nya, wahana tersebut langsung beraksi. Putaran awalnya dilakukan dengan pelan. Tetapi lama-kelamaan temponya menjadi semakin cepat. Juni tampak menutup matanya rapat-rapat. Sedangkan Risa dan Jay malah menikmatinya dengan gelak tawa dan juga teriakan histeris.
Risa yang merasa tidak tega dengan ketakutan Juni, akhirnya mengaitkan tangannya pada tangan Juni. Jari-jemari di antara keduanya mengunci dengan rapat. Berbeda dengan Amelia, dia tidak sengaja memegangi tangan lelaki di sampingnya yang tidak lain adalah Jay.