The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 109 - Berlari Namun Tak Bisa Lari



Juni masih bekerja di restoran, meski Risa dan Tom sudah pulang. Dia sekarang terjebak dengan rencananya sendiri. Apalagi Andrew terdengar tidak berhenti mengomeli semua bawahannya. Bahkan termasuk Juni sendiri. Sekarang Juni sadar alasan kenapa pria yang ia lihat berhenti tadi marah kepada Andrew.


"Aku berhenti!" celetuk Juni tiba-tiba, sambil melepaskan pita kupu-kupu yang telah menjadi bagian seragamnya.


"Apa?! jangan coba-coba!" balas Andrew dengan keadaan mata yang melotot.


"Kau belum memberikanku surat kontrak, jadi aku bisa berhenti kapan saja!" sahut Juni yang segera beranjak pergi meninggalkan restoran. Andrew terlihat hanya bisa menghentakkan sebelah kaki kesal.


Drrrt... Drrrt...


Ponsel Juni bergetar, ternyata dia mendapat panggilan telepon dari Amelia.


"Iya Mel?" sapa Juni.


"Jun! kamu tega!" sahut Amelia dari seberang telepon. Dia menekankan nada suaranya.


"Eh, masalah ke London ya? maaf Mel, aku tidak sempat memberikan kabar kepadamu."


"Aku bukan orang terpenting lagi ya untukmu?"


"Bukan begitu. Kemarin aku dengar kamu sedang sibuk dengan pekerjaan barumu. Ngomong-ngomong selamat ya! kau sudah dapat pekerjaan lagi. Aku mendengar kabar dari Sofi," puji Juni sambil mengukir senyuman.


"Iya Jun, terima kasih. Tetapi aku tetap tidak memaafkanmu perihal kau sudah tidak mengabari apapun semenjak mendapat beasiswa!" sahut Amelia.


"Iya maaf deh!"


"Cepat kembali pulang kalau kau mau dimaafkan!" balas Amelia yang bermaksud bercanda.


"Hah?" Juni terperangah.


"Pffft! nggak kok, aku cuman bercanda. Ngomong-ngomong kau sudah bertemu Risa?"


"Sudah!"


"Lalu?"


"Sekarang..." Juni berpikir sejenak, karena sebenarnya untuk saat ini, ia tak ingin Amelia mengetahui perihal rencana pernikahan Risa. "Dia masih marah kepadaku, jadi aku harus berusaha sebisa mungkin untuk memperbaikinya!" sambungnya.


"Oh, kamu mau aku bantuin untuk memberikan penjelasan?"


"Nggak perlu Mel, aku akan mengurusnya sendiri. Terima kasih." Panggilan mereka berakhir di situ. Selanjutnya Juni segera melanjutkan jalannya menuju asrama kampus.


Keesokan harinya, tepatnya sehabis pulang dari kuliah. Juni langsung berjalan menuju toko butik Risa. Tujuannya tentu hanya untuk menemui gadis pujaan hatinya.


Juni sengaja menunggu di jarak yang lumayan jauh. Hal yang terpenting untuknya adalah bisa mengamati dengan jelas toko butik. Sudah satu jam lebih dirinya harus menunggu Risa selesai bekerja.


Dalam beberapa saat kemudian, Risa akhirnya menampakkan batang hidungnya. Gadis itu tampak menyusuri jalanan sendirian. Alhasil Juni pun bergegas menggerakkan kakinya untuk mengikuti Risa.


"Risaaa!" panggil Juni sembari berlari menghampiri Risa.


"Juni?" Risa menoleh dengan dahi yang berkerut.


"Aku sudah lama menunggu!" ucap Juni yang sudah memposisikannya berdiri di hadapan Risa.


"Ngapain kamu nunggu?!" tukas Risa.


"Menunggu kejelasan darimu. Kapan kita akan jalan-jalan bersama?" Juni merekahkan senyum simpul. Hingga berhasil membuat jantung Risa kembali berdebaran.


'Astaga, aku tidak boleh begini!' batinnya sambil menggelengkan kepala.


Risa menghela nafasnya sejenak lalu berucap, "Jun, kali ini aku akan bicara baik-baik kepadamu. Aku sudah mengikat hubungan serius dengan Tom, dan sebentar lagi kami akan menikah. Aku harap kau berhenti, atau kau bisa kembali lagi bersama Amel."


Risa yang sudah merasa lelah, akhirnya hanya bisa kembali melangkahkan kakinya. Meskipun Juni terus saja mengekorinya bagaikan anak ayam dan induknya. Sekarang mereka sedang duduk berdampingan di dalam kereta.


"Menurutku Tom tipe orang yang membosankan. Pantas saja sikapmu berubah menjadi begini," celetuk Juni seraya melirik ke arah Risa.


"Apanya yang berubah?!" tanya Risa penasaran.


"Sikapmu. Kau berubah menjadi gadis yang lebih anggun dan peduli dengan aturan. Aku kira kau memimpikan kehidupan yang berjiwa bebas!"


"Jiwa bebasku masih ada kok! aku bisa berkarya dari rancangan baju yang ku-buat." Risa membantah.


"Aku kira kau mau menjadi pelukis," balas Juni.


"Jun, aku bisa melukis kapan saja, meskipun itu bukan pekerjaan utamaku!"


"Terserah. Yang jelas sekarang kau sangat membosankan!" pernyataan Juni berhasil membuat Risa melayangkan tatapan tajam.


"Kalau begitu, ngapain kamu ngikutin orang yang membosankan ini sekarang? hah?!" timpal Risa.


"Justru itulah, aku ingin membantumu agar tidak menjadi orang yang membosankan lagi!" sahut Juni yakin.


Risa tersenyum remeh. "Idih! emangnya kamu orang yang nggak membosankan gitu? kamu sudah lupa betapa membosankannya dirimu ketika aku tidak ada di sampi--" Risa tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia juga tengah mengingat jati dirinya ketika Juni tidak ada di sampingnya. Jujur saja, Risa benar-benar kehilangan aura semangatnya.


'Tidak! aku tidak boleh lupa diri!' Risa berusaha menyadarkan dirinya lagi.


"Di sampingku?" Juni menebak. Namun Risa hanya membisu. Dia segera bangkit dari tempat duduknya, karena kebetulan kereta sudah berhenti. Juni tetap tak menyerah, dia masih saja berjalan mengikuti Risa.


'Astaga! Juni memang sudah gila. Aku tidak punya pilihan lain selain lari, toh larinya Juni sangatlah lambat. Jadi tidak mungkin dia bisa mengejarku.' batin Risa, kemudian langsung berlari sekuat tenaga.


"Ris!" Juni kaget kala menyaksikan Risa berlari semakin menjauh. Dia pun terpaksa ikut berlari untuk mengejar.


"Risaaaaa!" pekik Juni sambil terus berlari secepat yang ia mampu. Bahkan Juni tak peduli dengan banyak pasang mata yang terheran melihatnya.


Benar saja, Iari Juni memang lebih lambat dibanding Risa. Lama-kelamaan keberadaan Risa pun menghilang dari pandangannya.


Risa yang sudah berlari sangat jauh mencoba menoleh ke belakang untuk memastikan posisi Juni. Entah kenapa tawanya pecah begitu saja. Untuk sekian lama, ia tak pernah merasakan tawa lepas yang dilakukannya sekarang.


"Juni memang selalu lambat! haha!" gumam Risa sambil tergelak.


Tring...


Ponsel Risa mendadak berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari Tom. Tanpa pikir panjang gadis tersebut langsung mengangkatnya.


"Iya Tom?" jawab Risa.


"Kau kemana? apa kau lupa malam ini kita akan dinner bersama para orang tua?!" sahut Tom dari seberang telepon dengan nada yang lumayan tinggi. Menandakan dia agak sedikit kesal kepada kekasihnya.


Risa menepuk jidatnya sendiri. Gara-gara Juni, dia jadi lupa rencananya malam ini. Padahal awalnya tadi ia berniat pergi langsung ke rumah Tom. Harusnya Risa memilih jalur kereta yang berbeda sejak awal.


"Maafkan aku Tom, pikiranku tadi sedikit terganggu! sekarang aku menuju ke sana, oke?!" ujar Risa, yang segera bergegas memanggil taksi yang kebetulan lewat.


"Ya sudah, berhati-hatilah!" balas Tom. Kemudian mematikan panggilan teleponnya lebih dahulu.


Satu hari berlalu, keesokan harinya Juni kembali lagi menunggu Risa keluar dari butik. Namun belum juga ia menghampiri, Risa sudah lebih dahulu masuk ke dalam taksi.


'Sepertinya Risa tetap bersikukuh sama pilihannya sekarang. Tetapi aku tidak akan menyerah sebelum acara pernikahannya terjadi!' Juni bertekad.


Di hari berikutnya Juni melakukan hal yang sama. Namun kali ini, dia dengan cekatan masuk ke dalam taksi yang dinaiki Risa.


"Jun! kau!" geram Risa dengan keadaan mata yang menyalang kesal.