
"Kenapa bengong?" tegur Juni pada Risa yang tampak melamun. "Baper ya?" tambahnya.
"Kalau iya, kenapa?" timpal Risa dengan raut wajah cemberutnya.
"Malah marah, aneh!" balas Juni sembari meringiskan wajah.
"Siapa yang marah, enggak juga." Risa memanyunkan mulutnya. Dia sebenarnya hanya merasa salah tingkah dengan kejadian yang terjadi beberapa saat sebelumnya.
"Ya sudah pulang gih! aku mau ngomong sama Sofi dulu," ujar Juni.
"Aku ikut, aku juga mau jelasin sama dia." Risa segera berdiri dan berjalan lebih dahulu menuju kamar Sofi. Alhasil Juni pun hanya bisa diam dan menggeleng maklum. Sekarang keduanya sama-sama berada di depan pintu kamar Sofi.
"Buka aja langsung!" saran Juni. Membuat Risa sontak mengerutkan dahi.
"Ketuk dulu lah!" Risa mengingatkan, namun tak mendapat hirauan dari Juni. Lelaki tersebut langsung membuka pintu kamar yang memang tidak sedang dikunci itu.
"Kakak!" pekik Sofi yang terlihat sangat terkejut dengan kemunculan Juni dari balik pintu.
"Aku mau bicara!" Juni berderap menghampiri sang adik yang sedang memegangi sebuah buku.
"Eh, jauh-jauh sana!" hardik Sofi pada kakaknya.
"Sof, kami cuman mau jelasin apa yang telah kamu lihat tadi." Risa yang sudah masuk mencoba memberikan penjelasan lebih dahulu.
"Emang kamu mikir apa sih Sof?" Juni menatap serius ke arah sang adik.
"Ya mikir a-a-anu-lah!" balas Sofi tergagap.
"Dasar! ternyata otakmu itu--"
"Apa?!!" Sofi mengangkat dagunya seraya melotot kepada kakaknya.
"Yang jelas, apa yang sudah kamu lihat itu bukan apa-apa. Dan sama sekali tidak seperti yang kau duga!" terang Risa dengan nada penuh penekanan.
"Iya, jadi jangan berpikir macam-macam sama kakakmu ini!" Juni ikut menimpali.
"Gimana nggak curiga coba, Kak Jun kan tadi nggak pakai baju. . ." terang Sofi yang masih kekeh dengan pendiriannya.
"Ini gara-gara kamu Ris! padahal sebelumnya aku mau pakai baju loh, tapi kamu!" Juni menggertakkan giginya disertai tatapan tajamnya ke arah Risa.
"Loh, kok aku? kamu-nya aja yang mesum!" Risa tak ingin kalah.
"Apa?! jelas-jelas kamu yang mesum!"
"Enak aja!" Risa tampak melakukan pose berkacak pinggang.
"Jujur, aku belum maafin kamu perihal kencan kamu sama Jay itu ya!" balas Juni. Menyebabkan Sofi yang tidak sengaja mendengar, membulatkan matanya.
"Kak Risa kencan sama Kak Jay?!" Sofi terperangah, dia merasa tak percaya.
"Iya tuh Sof, mereka jalan seharian, terus--"
"Cukup ya Jun! kan aku melakukannya karena dia akan kembali ke London!" Risa menghentakkan sebelah kakinya. Dia sudah lelah menjelaskan kebenaran. "Lagi pula, kencannya nggak berjalan lancar kok. Mobil kami mogok di jalan, aku bahkan sempat bertengkar dengan Jay!" tambahnya agar lebih meyakinkan.
"Apa? Kak Jay mau balik?" Sofi kembali melebarkan matanya, lalu dilanjutkan dengan menundukkan wajah.
"Kenapa kamu?" Juni terheran menyaksikan ekspresi yang ditunjukkan adiknya.
"Sof, . . Jay akan segera pergi lusa, jika ada yang ingin kau katakan kepadanya lebih baik temui dia secepatnya, oke?" Risa memegangi kedua bahu Sofi.
"Kamu sebagai kaum cowok nggak bakalan ngerti lah!" tukas Risa sambil menyunggingkan mulutnya ke kanan dan melayangkan tatapan sinis. "Ayo, kau mau aku temani ketemu sama Jay?" dia kembali berbicara pada gadis polos di depannya.
Sofi terdiam untuk sejenak. Dia hanya mencoba memikirkan baik-baik tentang keinginannya. Namun pada akhirnya gadis tersebut malah mengukir rengekan diwajahnya.
"Hiks! padahal aku. . ." ujar Sofi yang tak mampu melanjutkan kalimatnya. Juni yang mendengar hanya bisa memutar bola mata malas.
"Ayo ikut aku!" ajak Risa sembari mencoba menarik Sofi untuk ikut bersamanya. Tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan respon dari gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu.
"Aku butuh waktu buat menyusun kata-kata. Apalagi kan Kak Jay nggak bisa bahasa indonesia," tutur Sofi dengan keadaan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dia benar Ris, mending kamu pulang saja gih!" kata Juni, dia berusaha menampakkan ekspresi tenang-nya.
"Ya sudah kalau gitu Sof!" ujar Risa seraya mendengus kasar.
Plak!
Entah tidak ada angin atau hujan, Risa mendadak melayangkan cap lima jarinya tepat ke pipi Juni. Kemudian langsung berlari secepat yang ia bisa untuk menghindari balasan Juni.
"Risaaa!!!" geram Juni. Benar saja, dia memang lekas-lekas mengejar kekasihnya. Risa yang merasa Juni tertinggal jauh di belakang, tampak tergelak senang dan berhasil sampai ke rumahnya tanpa hambatan dan cegatan. Juni pun kembali berjalan malas kembali ke kamarnya. Dirinya dikejutkan dengan penampakkan Sofi yang tengah berlinang air mata.
"Astaga! Sofi kamu jangan lebay deh!" geram Juni.
"Kakak nggak pernah tahu rasanya di ghosting gebetan. Aku sudah mengalaminya dua kali, dan sekarang akan menjadi tiga! hiks!" Sofi terlihat menangis tersedu-sedu.
"Ghosting?" Juni mengernyitkan kening, karena tak paham dengan kata yang terdengar asing di telinganya.
"Itu loh Kak, pas kita lagi sayang-sayangnya tetapi orangnya langsung tiba-tiba menghilang tanpa kabar! hiks! sakit tau Kak rasanya digituin!" Sofi kembali berterus terang.
"Ya elaah, bukannya sekarang kamu sudah tahu kalau Jay akan pergi? jadi bagus dong kamu bisa punya kesempatan bicara sama dia."
Sofi menghela nafasnya sambil mengusap cairan bening yang berjatuhan di pipinya. "Kalau Kak Jun sama Kak Risa nggak kasih tahu, mana aku bisa tahu!" tuturnya.
"Sudahlah, nanti aku jodohin sama teman kuliahku deh. Ganteng-ganteng loh!" ujar Juni, yang sontak membuat Sofi menghentikan rengekannya.
"Nggak! aku sekarang maunya Kak Jay aja! lagian mana pernah Kakak mau ngenalin aku sama temannya, jangan bohongin aku lah!"
"Lah, aku serius. Kamu jangan mikirin si Jay itu lagi, dia sukanya sama Risa!" balas Juni seraya mengusap pundak Sofi pelan.
"Aku tahu kok! makanya aku nggak mau nyerah, karena kan Kak Risa sukanya sama Kakak. Jadi aku punya banyak peluang!" ucap Sofi yakin.
Juni lantas mengacak-acak rambut sang adik karena merasa jengkel dengan ucapannya. "Aku nggak bakalan kasih restu kalau kamu jadinya sama dia!" tegasnya.
"Terserah! yang pasti Mamah bakalan restuin, dia kan juga kagum pada Jay!" Sofi sekarang menunjukkan mimik wajah cengengesan. Menyebabkan kakaknya kembali melakukan serangan, namun kali ini ia membidik telinga Sofi.
"Aaaaa!" erang Sofi yang kesakitan akibat jeweran dari sang kakak.
"Kamu kalau nggak dapat restu dariku bakalan hidup sengsara loh!" tukas Juni serius.
"Eh jangan gitu dong Kak!" bantah Sofi, dia memegangi lengan baju sang kakak.
"Makanya nurut dong!"
"Tapi aku sudah jatuh cinta sama Kak Jay! aku juga sudah belajar bahasa inggris demi dia!" Sofi bersikeras. Hingga akhirnya Juni pun mengalah dan mengangkat kedua tangannya pertanda kalau ia sudah menyerah.
"Sana pergi ke kamarmu gih! aku dah capek!" hardik Juni pada adiknya.