
Gerimis menyelimuti suasana berkabung di rumah Juni, seolah ikut bersedih dengan kepergian Fadli. Semua raut wajah terlihat sendu dan sembab. Melihat jenazah yang telah terbaring dan siap untuk dikebumikan.
Kebaikan hati Fadli terbukti dari banyaknya orang yang datang melayat. Rekan dan sahabatnya datang silih berganti. Pakaian warna putih mendominasi suasana kala itu.
Sedari tadi Juni hanya mengurung diri di kamar. Dia masih belum bisa mempercayai apa yang telah terjadi pada sang ayah. Kepalanya terus menunduk.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah kaki perlahan mendekat. Satu-satunya gadis yang berpakaian hitam berdiri mematung menatap Rahma dan Sofi yang masih meratap. Gadis itu sekarang berjalan menuju kamar sahabatnya.
"Juni..." panggilnya lirih, saat melihat sang sahabat duduk dengan wajah yang sedih. Juni pun perlahan mendongakkan kepalanya untuk menatap Risa dan mencoba memaksakan tersenyum.
Alhasil Risa segera duduk di sampingnya dan berucap, "Jun, kamu nggak perlu makasain diri untuk tersenyum," gadis itu sekarang membawa Juni ke dalam pelukannya dengan lembut. Tangis Juni pecah seketika.
"Ini cuma mimpi kan?" ucap Juni di sela-sela isakan tangisnya. Namun Risa terdiam, dia hanya mampu mengelus pelan pundak sang sahabat.
Waktu untuk mengkebumikan jenazah telah tiba. Semua orang bersiap untuk ikut mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir. Kala itu Agus baru saja datang dengan gelagat menkhawatirkan. Lelaki tersebut langsung menyeret Risa, agar bisa berbicara empat mata dengannya.
"Apaan sih Gus! enggak tahu suasana berkabung ya!" geram Risa sembari menarik paksa lengannya dari cengkeraman Agus.
"Ris, aku cuman mau bilang sesuatu... sesuatu yang mungkin bakalan bikin kamu tambah syok!" dahi Agus terlihat berkerut.
"Apa?" Risa menatap lelaki di depannya dengan ekspresi serius.
"Dina... meninggal..." lirih Agus seraya memandang Risa dengan getir.
"Hah? maksudmu? Dina Anggita?"
"Iya, dia..."
"Gus! aku mohon kalau kamu mau bercanda, kau mesti bisa menyesuaikan tempat dan suasananya," kata Risa pelan.
"Kamu pikir aku bohong? aku kasih tahu karena katanya Dina nyari kamu sebelum dia meninggal!"
"Nyari aku? udah Gus, aku nggak percaya!" Risa menggertakkan giginya sembari membuang muka dari Agus.
"Oke kalau kamu nggak percaya, ini buktinya!" Agus memperlihatkan artikel yang ada di dalam ponselnya. Pupil mata Risa langsung membesar, tatkala melihat artikel tersebut.
"Bunuh diri? Dina melakukannya?" Risa menatap Agus dengan nanar. Sontak lelaki itu merespon dengan anggukan kepala. Risa pun memejamkan matanya sembari mencengkeram erat rambutnya. Hatinya serasa semakin sesak.
"Eh kalian berdua! ayo cepat! sebentar lagi mau berangkat ke pemakaman!" panggil Irfan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
***
Risa hanya bisa menatap Juni dari jauh. Gadis itu sangat mengerti dengan keadaan sahabatnya. Meskipun telah mengetahui kepergian Dina, dia tetap setia memilih berada di samping Juni.
Gerimis perlahan berubah menjadi hujan yang lebat. Untunglah proses pemakaman sudah selesai. Namun kala itu Juni bersikeras ingin tetap di samping kuburan sang ayah. Alhasil sang ibu membiarkan anak sulungnya tersebut tetap diam di sana. Toh dia tahu betul betapa terpukulnya Juni dengan kepergian ayahnya.
"Jun, ayo kita pulang! hujannya deras banget!" Risa menarik-narik lengan baju Juni. Berharap mendapatkan sedikit respon. Namun sahabatnya itu masih diam mematung.
"Jun! sudahlah... hmm? kita nanti sakit loh kalau kelamaan kehujanan!" ujar Risa lagi, sekarang dia menggenggam erat jari jemari Juni.
"CUKUP RIS! pergi kamu dari sini! plis! aku ingin sendiri!" timpal Juni sembari menghempaskan tangan Risa dari jemarinya. Lelaki itu menatap tajam ke arah sang sahabat dengan dahi yang mengernyit.
Sontak Risa pun ciut, perlahan dia menundukkan kepala. Akhirnya dia mengalah dan memilih mundur, gadis itu segera beranjak pergi meninggalkan Juni.
Risa melangkah menyusuri jalanan dengan isak tangisnya. Dia tidak menyangka dengan bentakan Juni terhadapnya. Baru pertama kali dirinya melihat sang sahabat semarah itu kepadanya.
'Oke, aku akan mencoba memahami Jun. Tapi aku mohon jangan biarkan kepergian ayahmu merubah semuanya. Aku nggak pengen ada yang berubah sedikit pun dari kamu Jun! plis, jangan jauhin aku setelah ini...' harap Risa dari dalam hatinya.
Risa berhenti melangkah, sekarang tangannya memegangi kedua lututnya. Derasnya hujan membasahi seluruh tubuhnya. Bahkan ikut menyamarkan tangisannya. Gadis tersebut sekarang terduduk di tanah, masih meneruskan tangisannya.
***
Juni masih berdiam diri di samping makam sang ayah. Lebatnya hujan tidak menjadi penghalang kekerasan kepalanya. Lelaki yang doyan makan itu bahkan belum mengisi perutnya sejak dirinya mengetahui kabar kepergian ayahnya di rumah sakit. Rasa sakit di hatinya membuat dia memuntahkan seluruh makanan yang mencoba masuk ke mulut.
Di sisi lain, terdapat keluarga yang begitu menyesali kepergian anak bungsu mereka. Keluarga tersebut baru menyadari bagaimana penderitaan Dina selama ini. Tangisan di rumah itu lebih histeris dibandingkan suasana pemakaman Fadli.
"Maafkan Bunda sayang... seharusnya kami tidak memarahimu, maafkan kami... hiks! hiks!" raung ibunya Dina dengan linangan air mata yang terus mengalir di pipi.
Pilihan Dina yang memilih untuk cepat pergi, tentu saja membuat semua orang terpukul. Terutama bagi kedua orang tuanya, mereka orang terdekat Dina yang paling merasakan penyesalan begitu dalam. Sebab keduanya sadar, kalau mereka telah bersikap terlalu keras dengan anak bungsunya itu.
Kabarnya, setelah orang tua Dina mengetahui kehamilan sang anak. Mereka tanpa pikir panjang menghukum anaknya tanpa ampun. Memaksa Dina untuk terus sekolah, serta menjauh dari semua teman-temannya. Hal itu mereka lakukan untuk menutupi aib yang ada pada sang anak.
Dina yang menerima respon tersebut, merasa semakin tertekan. Setelah menerima penolakan mentah-mentah dari lelaki yang sudah menghamilinya. Dirinya juga harus menerima penolakan dari kedua orang tuanya sendiri. Dia bahkan rela diam dari semua teman dekatnya, demi menuruti kehendak ayah dan ibunya.
Penyesalan ayah dan ibunya sudah tidak berarti, karena waktu akan terus berjalan dan tidak bisa kembali datang seperti desiran angin. Penerimaan harus terpaksa dilakukan oleh orang-orang yang ditinggalkan. Meski mungkin akan membutuhkan waktu yang lama, namun tetaplah setiap insan harus menuruti hukum waktu.
Hujan perlahan reda, Juni sekarang bersimpuh di samping nisan sang ayah. Lelaki itu memeluk erat nisan ayahnya dengan di iringi tangis yang sudah sesegukan.