The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 9 - Diskusi Tiga Sahabat



Juni berlari untuk segera masuk ke kelasnya, namun saat dia sudah tiba di depan pintu, lonceng istirahat malah berbunyi. Lelaki itu sontak mengurungkan niatnya untuk masuk ke kelas, dan duduk di kursi panjang yang ada di depan.


Teman-temannya terlihat saling berebutan untuk segera lekas keluar kelas. Tak terkecuali Risa, dia terlihat diseret oleh teman sesama perempuannya untuk segera pergi ke kantin.


'Benar kata Irfan, sekarang Risa telah menjadi pusat perhatian untuk semua orang' ucap batin Juni. Video perkelahian Risa dan Dina itu pun seakan menghilang di telan bumi.


Juni tersenyum melihat Risa bisa memiliki teman yang banyak. Dia hanya bisa menatap gadis tersebut terus berjalan menjauh bersama teman-teman barunya.


***


"Di sini kau Jun, ke toilet lama banget sih!" tegur Irfan sembari duduk di samping Juni.


"Aku tadi di rundung Kak Okan sama gengnya tau!" keluh Juni dengan wajah masam.


"Sudahku duga! benerkan apa yang aku bilang! pasti mereka nanyain kamu tentang Risa kan?" Irfan merasa yakin. Juni hanya menganggukkan kepala untuk merespon.


"Untuk sementara, mungkin kalian jangan terlalu sering bareng dulu deh!" kata Irfan dengan raut wajahnya serius.


"Kamu ga suka kan sama Risa?" sambung Irfan lagi menatap ke arah Juni dengan ujung matanya.


"Nggak lah!" jawab Juni yakin.


"Baguslah kalau begitu, kau tidak bakalan sakit hati kalau dia punya pacar!" tukas Irfan.


"Oh iya aku lupa, kamu kan sukanya sama A..."


Juni seketika langsung menutup mulut Irfan. Sebelum lelaki itu menyebut nama gadis yang dia sukai.


"Fan, kalau kau bicarain itu lagi, aku bakalan bocorin ke orang-orang tentang gebetanmu!" ancam Juni yang perlahan melepaskan tangannya dari mulut Irfan.


"Wualah! bercanda kok!" desah Irfan.


***


Risa punya teman-teman baru yang menyenangkan. Gadis itu seakan di ingatkan kembali dengan sekolah lamanya, yang hanya mementingkan status kekayaan sebagai penarik segala hal. Termasuk mendapatkan teman.


Menurut Risa teman-teman seperti itu adalah teman yang palsu. Mereka hanya berusaha mendekat ketika dirimu terlihat hebat di mata semua orang.


Di hari itu Juni dan Risa tidak bersama seharian. Keduanya mulai bergaul dengan teman-temannya masing-masing.


"Woy! kita bikin band yuk!" ajak Agus tiba-tiba mendatangi Juni yang sedang duduk santai bersama Irfan.


"Ngapain? mana ada orang yang mau nonton pecundang kayak kita di panggung," ujar Irfan menatap sinis Agus.


"Bener, entar dilempar sama tomat, gimana?" sambung Juni.


"Belum dicoba juga, kenapa malah pesimis lebih dulu sih! ayolah Jun suaramu kan bagus!" ujar Agus mencoba meyakinkan Juni.


"Haha, suaranya bagus sih! tapi kau lihat juga dong penampilan Juni," sindir Irfan, melirik ke arah Juni pelan.


"Jelek kan?" sahut Juni pasrah dengan kekehnya. Agus dan Irfan pun tertawa geli mendengarnya.


"Bukan aku ya yang bilang gitu!" bela Irfan berharap Juni tidak marah.


"Aku sadar diri kok!" balas Juni sambil cengengesan.


"Tenang... aku juga sadar diri kok!" Irfan merangkul Juni dengan perlahan.


"Kampret lo Gus! kaya yang paling ganteng selautan aja tingkah lo!"


"Emang aku ganteng!" sahut Agus yakin.


"Udah! udah! yang paling ganteng di sekolah ini ya cuma Kak Wanto pokoknya!" imbuh Juni mencoba menenangkan kedua temannya.


"Iya sih, cowok kayak kita aja kagum liat kegantengannya apalagi cewek!" Irfan menyahut, terlintas dalam pikirannya wajah Wanto yang tampan.


"Wualah! biasa aja tuh!" sahut Agus santai. Juni dan Irfan yang mendengarnya langsung melayangkan pukulan. Keduanya tidak tahan lagi melihat tingkahnya yang terlalu percaya diri. Agus hanya bisa tertawa geli, sebab usahanya berhasil untuk membuat kedua temannya tersebut geram.


Bagi Juni di ejek oleh teman dekat sangat berbeda dengan ejekan orang yang tidak mengenalnya. Dia sangat membenci orang asing yang tiba-tiba mengejeknya, padahal dia tidak mengenal orang tersebut sama sekali. Orang seperti itu memang seringkali bertingkah sok akrab dengan cara yang salah.


***


"Ris, kamu sudah selesai makannya?" tanya Chika pelan. Risa hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum kecut. Dia sangat lelah dengan kepura-puraan itu.


Hubungan Risa terhadap Chika dan teman-temannya, bagaikan air dan minyak. Tidak menyatu, dan sama sekali tidak ada kecocokan. Gadis-gadis itu memang sudah dari awal mengincar Risa untuk masuk ke dalam geng pertemanannnya.


Padahal bagi Risa cara pertemanan mereka sangatlah membosankan. Chika dan teman-temannya terlalu banyak membicarakan tentang gaya hidup mereka. 'Mungkin bertengkar dengan Dina terasa lebih menyenangkan dari ini' keluh Risa dalam hati.


Risa seakan terjebak di dalam geng pertemanan itu. Chika dan teman-temannya terus menempel padanya seperti permen karet. Sangatlah sulit untuk dilepaskan. Bahkan saat dirinya mencoba mendekati Juni untuk sekedar berbicara, mereka juga ikut ke dalam pembicaraan.


Risa sudah beberapakali menghela nafas panjang, untuk sekedar mengurangi kelelahannya dalam menghadapi gadis-gadis tersebut. Bahkan hari itu mereka mendesak Risa untuk pulang bersama. Padahal tujuannya, cuma ingin pulang dengan mengendarai mobil bersama Risa.


***


Keesokan harinya Risa mengunci mobilnya di garasi dengan rapat. Dia tidak akan memakai mobil lagi ke sekolah. Gadis itu kembali mengenakan sepatu rodanya dan berangkat ke sekolah bersama Juni seperti biasa.


"Jun, kau akan ikut berpartisipasi di acara prom minggu depan ya? kata Agus kalian mau bikin band?" tanya Risa penasaran.


"Kamu tahu kan Ris, aku itu demam panggung! mana sanggup aku tampil di sana, bisa kacau balau lah pokoknya!" sahut Juni sembari memarkirkan sepedanya.


"Dasar! kalau begitu terus kapan bakatmu bisa maju!" ujar Risa sinis. Juni hanya bisa mendengus kencang untuk meresponnya.


"Hei!" seorang lelaki tiba-tiba datang menghampiri Juni dan Risa.


"Kak Wanto?" Juni tersenyum tipis. Sedangkan Risa tampak celingak-celingukan, kebingungan karena tidak mengenal lelaki itu sama sekali.


"Iya, aku mau bicara sama dia..." sahut Wanto pelan.


"Hah?" Juni mengernyitkan dahi, karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Wanto.


"Maksudnya aku mau bicara berdua sama dia..." jelas Wanto lagi sembari menunjuk tangannya ke arah Risa. Juni pun langsung paham sambil beranjak pergi dan tersenyum lebar pada sahabatnya.


"Kenapa ya?" ucap Risa ketus pada Wanto.


"...Nggak, mau kenalan aja kok, boleh kan?" balas Wanto seraya melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Aku Risa!" jawab Risa singkat.


"Aku Wan..."


"Wanto kan? tadi udah denger kok dari Juni!" Risa menyela karena ingin segera beranjak pergi ke kelas.


"Nah kenalan aja kan To, ya udah aku mau ke kelas dulu!" Risa berjalan melingus begitu saja melewati Wanto. Kakak kelasnya tersebut hanya bisa tersenyum tipis melihat respon Risa. Matanya tampak berbinar ketika melihat gadis yang perlahan beranjak pergi darinya itu.