The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 46 - Pengakuan Yang Harus Diurungkan



Suasana berkabung menyelimuti semua orang. Kala itu Amelia dan yang lain sedang berada di tempat pemakaman. Bahkan Juni dan Risa tampak ikut untuk melihat proses dikebumikannya ibu Amelia.


'Kasian sekali Amel, aku jadi benar-benar bersalah sekarang. Aku harus mengakhiri kebohonganku secepatnya. Mungkin Amel lebih pantas bersama Juni dibandingkan aku. Masalah ciuman kemarin, aku yakin itu adalah kesalahan. Juni bahkan tidak mengatakan apapun setelah melakukannya' hati Risa berhenti bergumam sejenak, lalu melanjutkan, 'toh aku memang sangat agresif. Mungkin berlebihan, cowok mana yang mau menolak jika seorang cewek menyerahkn dirinya! aku rasa itu juga berlaku untuk Juni. Kau murahan sekali Ris!'


Risa bersumpah serapah pada dirinya sendiri. Kemudian menundukkan kepala pelan. Matanya bahkan mulai berembun akibat menyaksikan kesedihan diwajah Amelia.


Perlahan tanah menutupi jenazah ibunya Amelia. Sekarang hanya terlihat gundukan tanah yang dilengkapi dengan batu nisan. Orang-orang pergi satu per satu meninggalkan pemakaman. Sedangkan Amelia masih setia berdiri di samping kuburan sang Ibu.


Juni dan Risa tengah duduk di bawah pohon. Keduanya sedang menunggu Amelia yang masih belum selesai berpisah dengan ibunya.


"Ris, kamu kalau merasa sakit, bilang aja ya. Supaya aku bisa anterin langsung!" ucap Juni yang memecah kesunyian yang terjadi cukup lama.


"Aku baik-baik saja," sahut Risa datar.


"Syukurlah. . ." Juni tersenyum tipis.


"Kasihan ya Amel. . ." lirih Risa.


"Aku juga kasihan sama kamu, menurutku keadaan dirimu lebih darurat darinya Setidaknya kita masih bisa menghiburnya kan? berbeda dengan dirimu yang harus berjuang sendirian untuk bertahan," ujar Juni serius.


"Kamu sudah lupa Jun, bagaimana sedihnya dirimu saat ayahmu meninggal? kau bahkan tidak menghiraukanku sama sekali!" Risa mengerutkan dahinya.


Juni mendengus kasar. "Aku tahu, bahkan aku butuh waktu hampir satu bulan untuk memulihkan diri. Tetapi seiring berjalannya waktu, rasa duka bisa sembuh Ris!" balas Juni sembari menatap ke arah sahabatnya. "Kau pokoknya harus sembuh dari penyakitmu!" lanjutnya.


'Apa aku harus berkata jujur sekarang ya?' pikir Risa.


"Jun aku--" Risa terdiam seketika, saat tangan Juni menggenggam erat jari-jemarinya.


Deg!


Jantung Risa berdetak dalam tempo lebih cepat.


'Gilaa! aku selalu suka perasaan berdebar begini. Oke! aku butuh waktu lagi untuk mengatakan yang sebenarnya. Maafkan aku Mel, aku tidak bisa melepaskan Juni semudah itu!' gumam hati Risa. Perlahan dia ikut menggenggam lembut jari-jemari sahabatnya. Juni yang merasakan, jantungnya tak kalah berdebaran.


'Astaga, kesalahan besar! kenapa aku tiba-tiba menggenggam tangan Risa? di depan ada Amel lagi,' pikir Juni, yang segera melepaskan genggaman tangannya. Hal itu sontak membuat Risa menatap bingung.


"Aku lupa kita sedang di kuburan," celetuk Juni. Risa hanya merespon dengan sedikit kekehnya.


***


Juni menghentikan mobil di depan rumah sakit. Risa lantas segera turun dari mobil.


"Mel, aku antar Risa dahulu ya?" ujar Juni, yang langsung mendapatkan persetujuan dari sang pacar. Dia pun sontak turun dari mobil dan mengekori Risa.


"Jun, lebih baik kau temani Amel saja. Dia sekarang sedang membutuhkan teman. Kamu mau dia jadi seperti kau dulu?" imbuh Risa.


"Benar, ya sudah!" sahut Juni yang masih terdiam di posisinya.


"Sana gih!" paksa Risa yang mendesak Juni untuk segera pergi. Namun sama sekali tidak dihiraukan. Juni sepertinya ingin memastikan keadaan Risa hingga menghilang dari pandangannya.


Selanjutnya, Juni kembali masuk ke mobil dan mengantar Amelia pulang.


"Mel, kamu mau makan dahulu? kamu belum makan sejak kemarin loh!" ungkap Juni sambil tersenyum tipis.


"Boleh. . ." balas Amelia dengan lirihnya. Juni yang mendengar jawaban itu terlihat sangat lega. Juni memilih cafe yang bagus dan nyaman untuk makan siangnya bersama Amelia. Keduanya duduk saling berhadapan.


"Kamu mau makan apa Mel?" tanya Juni.


"Terserah, kamu pilihkan saja!" jawab Amelia datar. "Jun. . ." lanjutnya lagi lirih.


"Kau tidak akan meninggalkanku kan?" Amelia menatap Juni dengan nanar. "Aku rasa, aku sudah tidak sanggup lagi kehilangan orang yang aku sayangi, hiks. . . hiks. . ." sambungnya yang tiba-tiba kembali menangis.


"Mel. . ." Juni berpindah duduk ke samping Amelia. Lagi-lagi lelaki tersebut harus berusaha menenangkan tangisan pacarnya yang sangat sulit dibendung.


"Plis jangan tinggalkan aku Jun!" Amelia memeluk erat Juni.


'Sepertinya aku tidak bisa putus dengan Amel untuk sekarang,' ucap batin Juni seraya mengusap pundak Amelia pelan.


Hari itu Juni membawa Amelia ke taman bermain. Perlahan Amelia mulai tersenyum lewat permainan-permainan yang ia naiki bersama Juni. Hingga waktu tidak terasa sudah malam. Keduanya tengah berada di depan rumah Amelia, dan berdiri di dekat mobil.


"Jun, mau bermalam di rumahku hari ini?" tanya Amelia.


"Hah?" Juni sangat dibuat kaget dengan mata yang membola.


"Pffft. . . aku cuman bercanda! karena saat ini aku hanya membutuhkan teman bicara," jelas Amelia yang sedikit tertawa kecil.


Grab!


Amelia memeluk Juni. "Makasih untuk hari ini!" ungkapnya, lalu mendongakkan kepala untuk menatap wajah kekasihnya. "Jun, kali ini kau tidak akan menolak ciumanku kan?" tambahnya dengan tatapan yang berisi.


"Mel, a-aku harus ke cafe setelah ini," balas Juni dengan tergagap, dia membuang muka dari Amelia.


"Kau sudah tidak menyukaiku lagi ya?" Amelia melepaskan pelukannya. Namun Juni hanya menundukkan kepala dan terdiam seribu bahasa.


"Jika kau terpaksa denganku katakan saja!" dahi Amelia mengernyit.


"Mel, bukan saatnya untuk membicarakan ini," tepis Juni dengan nada pelan. Dia menggenggam lengan Amelia lembut.


"Aku ingin membicarakannya sekarang!!!" Amelia menghempaskan tangan Juni dengan paksa.


Juni kembali terdiam, bisa saja dirinya mengatakan yang sebenarnya. Namun masih belum sanggup, semuanya demi penderitaan yang dirasakan Amelia tidak bertambah. Toh Juni sangat tahu rasanya duka.


"Mel, aku tentu menyayangimu, kenapa kau bertanya!" tegas Juni. Amelia sontak terdiam, Juni pun memeluknya pelan. Alhasil gadis tersebut sekarang kembali tenang.


Keesokan harinya seorang gadis berambut merah muda tengah duduk bersama Elsa. Keduanya saling bercengkerama. Juni yang menyaksikan pemandangan itu lantas tersenyum simpul.


"Ris! anak siapa kau mainin?" tegur Juni yang sudah ada di hadapan Risa.


"Dia Elsa, Jun!" sahut Risa. Dia bangkit dari tempat duduknya.


"Hai Kak Juni!" sapa Elsa ramah.


"Loh, kok tahu namaku?" Juni mengernyitkan dahi.


"Tahu dong!" Elsa mengedipkan sebelah mata kepada Risa. Juni yang melihat tingkahnya sedikit tertawa kecil.


"Sudah, sudah! Kakak pergi duluan ya!" Risa melambaikan tangannya untuk Elsa, lalu segera menggandeng tangan Juni.


"Gimana keadaan kamu Ris?" tanya Juni.


"Membaik, tetapi harus melakukan beberapa pemeriksaan!" Risa menatap lekat sahabatnya.


Juni dan Risa telah sampai ke kamar. Entah kenapa keduanya saling terdiam, dan hanya melempar tatapan di sela-sela waktu tertentu.


Tiba-tiba Elsa muncul dari balik pintu, dia mencari Risa, dan membawa buku gambarnya. Anak kecil itu ingin melihat Risa menggambar. Sekarang keduanya sedang sama-sama duduk di atas kasur menatap ke buku gambar. Risa tampak sibuk mengolah sketsa-nya dengan lihai.


Juni tak henti memandangi wajah sahabatnya tersebut. 'Hari ini kenapa Risa cantik sekali ya?' gumamnya dalam hati.