
Juni menghentikan sepeda di depan halaman rumah Risa. Dia menatap rumah itu dengan wajah sendu. Dirinya masih tidak percaya Risa telah pergi tanpa memberitahunya.
'Dia bahkan pergi tanpa ucapan selamat tinggal... apa Risa mengira aku marah?... astaga, harusnya kemarin aku tidak bersikap begitu kepadanya. Risa tidak pantas menjadi pelampiasan rasa sakitku' batin Juni yang masih menatap rumah mewah Risa.
Dari jauh tampak mobil sedan berwarna putih perlahan mendekat. Ternyata orang yang ada di dalamnya adalah Anggun, ibunya Risa. Wanita paruh baya tersebut langsung turun dari mobil karena melihat keberadaan Juni.
"Juni..." sapa-nya lirih.
Juni mengukir senyuman diwajahnya dan berucap, "Halo tante, saya cuman mau menanyakan tentang Risa, apa benar dia..."
"Iya Jun, Risa sudah pergi ke London seminggu yang lalu... ayo, kita bicarakan di dalam saja ya!" sahut Anggun ramah.
"Nggak usah tante, saya..."
"Juni, ada barang titipan Risa untuk kamu, jadi lebih baik kita bicara di dalam," jeda Anggun, lalu segera membuka pintu pagar rumahnya. Alhasil Juni pun terpaksa menyetujui, toh dirinya juga merasa tidak enak menolak tawaran Anggun.
Juni duduk menunggu di sofa ruang tamu, matanya mengedar ke seluruh sudut ruangan. Sebab dia sudah lama tidak berkunjung ke rumah sahabat kecilnya itu.
Tidak lama kemudian, terlihat Anggun tengah menuruni tangga, dia memegang sebuah buku ditangan kanannya. "Jun, Risa kasih buku ini buat kamu..." ujar Anggun sembari menyodorkan buku yang tampak tidak asing bagi Juni.
"Iya Tante, makasih!" sekarang buku bersampul merah muda tersebut sudah berada ditangan Juni. Setelah itu Juni dan Anggun hanya saling bicara dengan singkat.
***
Bruk!
Juni merebahkan dirinya ke kasur seraya mendengus lega. Dia juga mengambil buku bersampul merah muda pemberian Risa. Seperti yang dia duga, buku tersebut berisi puisi-puisi dan gambar-gambar sang sahabat.
Kala itu Juni membalik lembar demi lembar buku. Banyak curhatan Risa yang sengaja dijadikan bait puisi. Tangannya berhenti saat melihat beberapa puisi yang ditujukan khusus untuk dirinya.
[Puisi pertama]
Bermain Bersama Juni
Aku tahu kita lebih sering bermain dibawah sinar mentari.
Tetapi bagiku kamu persis seperti bulan.
Lebih bercahaya dan menjadi tuju atensi.
Bintang-bintang kecil yang mengelilingimu tampak ciut dengan pesonamu.
Senyuman itu, memunculkan secercah harapan.
Membuat benih cinta perlahan tumbuh dihati.
Iya, aku mengakui telah jatuh cinta padamu.
Padahal kala itu umurku masih sepuluh.
Namun siapa yang bisa menghentikan anugerah rasa cinta?
Andai waktu bisa berhenti, aku ingin selamanya bermain denganmu.
Berjuang dan berlari bersama, untuk sekedar menerbangkan layang-layang.
Juni, tahukah kamu? sahabatmu ini tidak sengaja menjadikanmu sang pemilik hati.
Deg!
Jantung Juni otomatis berdebar tidak karuan saat membaca puisi pertama Risa. Matanya bahkan membulat, karena saking dibuat kagetnya dia.
"Astaga Risa! ini nggak mungkin kan? kamu? astaga...." gumam Juni sambil mengacak-acak rambutnya, dia sangat sulit menerima kenyataan yang baru diketahuinya.
Setelah sedikit tenang, Juni kembali membaca puisi kedua dengan kernyitan di dahinya.
[Puisi kedua]
Satu Sekolah Bersamamu
Kamu memperkenalkan semua teman-temanmu.
Tetapi aku hanya ingin lebih mengenalmu.
Kamu memperlihatkan tempat favoritmu.
Deg!
Kamu memberitahukan Amelia sebagai pemilik hatimu.
Aku bisa apa?
Menangis?
Atau haruskah aku marah? apakah pantas aku marah Jun?
Sedangkan dirimu hanya menganggapku gadis biasa.
Sekarang aku meragu pada sang bulan...
Mungkin hanya bisa menatapnya dari jauh,
Membiarkan satu bintang kecil membesar dan berdiri mendampingimu.
Juni menghela nafas panjang, entah kenapa hatinya terasa berat. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perlahan dia menutup buku bersampul merah muda itu.
Juni bangkit dari kasurnya dan segera mengambil ponselnya. Dia mencari nama Risa di jejeran kontak smartphone-nya. Saat telah menemukan nama yang dicari, Juni malah terdiam. Terlintas dalam pikirannya tentang kenangan bersama Risa.
'Jadi selama ini Risa...' ucap Juni dalam hati, lalu menundukkan kepala dengan pelan.
Hari itu Juni kembali mencoba menghubungi Risa, baik lewat telepon dan media sosial. Namun dirinya sama sekali tidak mendapatkan balasan dari sang sahabat. Juni begitu menyesal, seharusnya dia menghubungi Risa lebih awal. Nasi sudah jadi bubur, penyesalan Juni tidak berarti apa-apa sekarang.
***
Hari silih berganti, Juni sudah mulai bisa menjalani harinya dengan normal, meskipun keceriaan diwajahnya telah hilang. Berat badannya turun drastis akibat kepergian sang ayah dan Risa secara mendadak.
Anehnya, efek sakit hati yang telah membuatnya menderita malah memberikan aura berbeda kepadanya. Seperti yang pernah Sofi katakan (lihat Bab 2), jika Juni berdiet dan memiliki badan ideal maka kakaknya itu otomatis akan menjadi tampan. Siapa sangka, hal tersebut benar-benar terjadi pada Juni. Padahal dirinya sama sekali tidak melakukan diet apapun untuk menghilangkan lemak ditubuhnya.
Sudah setahun, Juni menjalani kehidupannya tanpa sang ayah dan juga Risa. Dia sudah kelas tiga SMA sekarang, dan beberapa bulan lagi ujian akhir akan segera tiba.
Karena penampilan barunya, Juni telah membuat beberapa gadis terpincut kepadanya. Terutama siswi-siswi kelas satu, yang sama sekali belum pernah mengetahui penampilannya saat berbadan gendut.
"Jun! ayo bikin band lah! udah jadi ganteng gini, masa masih nggak pede?" ajak Agus sembari melingkarkan tangannya ke pundak Juni.
Juni mendengus kasar dan berkata, "Gus, sebentar lagi ujian! berani sekali kamu ngajakin aku bikin band!" terukir kerutan di dahi Juni.
"Emang dia begitu, mentang-mentang selalu masuk peringkat tiga besar, tingkahnya jadi santai-santai aja!" timpal Irfan yang selalu berada di sisi Juni.
Agus memutar bola mata malas. "Kamu itu ya Jun, nggak seru lagi semenjak..." Agus langsung terdiam ketika Juni melayangkan tatapan tajamnya.
Brak!
Juni memukul meja dengan tangan sembari berdiri dari tempat duduknya, dia pun segera berjalan keluar dari kelas.
Plak!
Irfan melayangkan cap lima jari pada pipi Agus. "Kamu sih Fan! kamu tahu kan Juni sensitif banget sama kejadian satu tahun yang lalu!" geram Irfan.
"Ini kan sudah setahun Fan, aku kira Juni sudah sembuh dari sakit hatinya..." balas Agus yang merasa sedikit bersalah.
"Benar juga sih! seharusnya kalau satu tahun sudah berlalu, seharusnya Juni sudah melupakan semuanya..." imbuh Irfan yang sekarang menyetujui pernyataan Agus.
***
Juni menghentikan langkahnya di depan sebuah cafe. Dia mendapatkan panggilan pekerjaan paruh waktu di cafe tersebut. Hari itu dia sudah bisa langsung bekerja.
"Ini seragam pelayannya! dipakai dulu!" titah Rani, wanita paruh baya pemilik cafe.
"Iya! makasih Mbak!" sahut Juni santai.
"Kalau ada apa-apa kamu tanyakan saja sama Amel ya!... Amelia! sini!"
Deg!
Jantung Juni berpacu lebih cepat tatkala mendengar nama gadis yang dia suka dari mulut Rani.
"Iya Mbak!" Amelia mendekat dengan berlari kecil, dia segera melemparkan senyuman manis untuk Juni.