
[Flashback On]
Sebelum Juni muncul mendatangi Risa ke butik. Tepatnya ketika Risa baru saling menautkan cincin dengan Tom dihari pertunangan mereka. Kala itu orang-orang yang hadir hanya keluarga dan teman dekatnya. Termasuk Jay, dia lagi-lagi harus merelakan Risa bersama lelaki lain.
"Jay, aku sangat senang bisa melihatmu di sini!" sapa Risa sembari tersenyum tipis. Dia sebenarnya agak merasa bersalah kepada Jay.
Jay membalas senyuman Risa dan berkata, "Aku tidak ingin melewatkan hari bahagiamu!"
"Aku benar-benar minta--"
"Sudahlah! jangan membahas mengenai perasaan lagi. Lebih baik kau fokus pada acara pernikahanmu yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi," ucap Jay lembut seraya menepuk pundak Risa pelan, lalu pergi begitu saja.
"Apa dia pulang?" Tom tiba-tiba muncul dari belakang, dan berhasil membuat Risa menoleh ke arahnya.
"Mungkin." Risa menjawab singkat.
"Ayo ikut aku!" Tom membawa Risa ikut bersamanya. Tepatnya ke balkon favorit di rumah mewahnya tersebut.
"Kau mau apa Tom?" tanya Risa sambil terkekeh.
Tom tiba-tiba berhenti, kemudian menghadapkan diri ke arah Risa. Sekarang keduanya saling bertukar pandang sejenak.
"Aku hanya ingin bermesraan denganmu tanpa ada seorang pun yang melihat." Tom berterus terang. Tanpa basa-basi dia mencoba mencium bibir kekasihnya pelan. Bahkan tangannya pun mulai nakal, dan membuat Risa merasa tidak nyaman. Gadis itu pun langsung menjauhkan Tom secara halus.
"Tom! a-aku belum siap untuk itu!" jelas Risa, yang sontak menyebabkan Tom diselimuti perasaan kecewa.
"Tapi kita sebentar lagi akan menikah kan?" balas Tom.
Risa mendengus kasar, lalu mendekati Tom. Sebelah tangannya mengusap-usap bagian kepala lelaki tersebut.
"Aku ingin pernikahan kita lebih bermakna. Pokoknya nanti setelah menikah, kita akan benar-benar berbulan madu!" tutur Risa, yang berhasil membuat Tom mengukir senyuman.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan turuti maumu," sahutnya, kemudian segera mengacak-acak rambut Risa. "Kau membuatku semakin tidak sabar saja untuk menikahimu!" tambahnya seraya tertawa kecil bersamaan dengan Risa.
[Flashback Off]
..._____________...
Juni merebahkan diri di atas kasur. Sudah dua hari berlalu, semenjak pertemuannya dengan Risa. Dia ingin menemui Risa lagi, tetapi tak sempat karena jadwal padat kuliahnya. Sekarang waktu Juni agak lowong jika mendekati akhir pekan.
'Rasanya sakit banget, kala menyaksikan Risa sudah mengenakan cincin dari lelaki lain. Tetapi aku kan sudah di sini, aku tidak mau menyerah begitu saja!' batin Juni yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Dia segera mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang dapat dia percaya untuk curahan hatinya. Dan terpilihlah Agus. Juni pun segera mengirimkan pesan melalui aplikasi di handphone-nya.
•Juni
[Gus, kamu nggak sibuk kan?]
^^^•Agus^^^
^^^[Kagak! cieee yang sudah jadi orang London. Jujur aja Jun, kau ke sana nyari Risa kan?]^^^
•Juni
[Alasan utamanya emang itu, tapi dia sekarang sudah mau nikah sama orang. Aku bingung nih mau bikin rencana apa.]
^^^•Agus^^^
^^^[Anji*r! kau telat banget Jun! 😑]^^^
•Juni
[Kenapa kau malah mengutukku bahlul! aku kan nanya!]
^^^•Agus^^^
^^^[Habis aku kesal sama kamu. Kenapa nggak dari dulu juga gadis se-sempurna gitu dijaga.]^^^
•Juni
[Sudahlah yang berlalu jangan dibahas lagi 😒. Sekarang kamu punya saran nggak buatku?]
^^^•Agus^^^
^^^[Rencana karma Jun! 🤣]^^^
•Juni
[Hah?]
^^^•Agus^^^
•Juni
[Dasar! kok malah ngetawain sih! aku lagi di keadaan mendesak nih!]
^^^•Agus^^^
^^^[Soalnya aku yakin one hundred persen, kalau kamu bakalan berhasil!]^^^
•Juni
[Jangan membuatku terlalu percaya diri, takut malah berakhir buruk lagi.]
^^^•Agus^^^
^^^[Sudahlah Jun, lakuin aja!]^^^
•Juni
[Ya sudah kalau gitu makasih ya! mmmuuaach!]
^^^•Agus^^^
^^^[Mengerikan 🤢, London kayaknya punya pengaruh buruk gitu ya sama pendatangnya. Risa juga terlihat berubah tuh, habis datang dari sana.]^^^
•Juni
[Hahaha! 🤣]
Setelahnya Juni segera bersiap-siap pergi ke butik Risa lagi. Namun ketika sudah tiba di sana, dirinya tidak menemui Risa. Karena katanya Risa sedang pergi bersama tunangannya ke sebuah restoran.
Dengan perasaan kecewa, Juni sekarang menyusuri jalanan sendirian. Kepalanya menunduk lesu ke bawah, menatap pergerakan kakinya sendiri yang terus melangkah maju. Ia berjalan cukup lama. Hingga langkahnya pun terhenti di depan sebuah restoran, dan mengingat Risa kembali.
'Dia pasti makan enak sekarang bareng tunangannya,' terka Juni dalam hati. Dia mengamati orang-orang yang ada di restoran sejenak.
Tanpa disangka atensinya tertuju kepada gadis yang sangat dikenalnya. Risa! dia tidak pernah menduga kakinya berjalan ke arah restoran yang tepat.
Bruk!
Seorang pria berseragam pelayan tiba-tiba keluar sambil menghempaskan pintu. Wajahnya tampak merengut dan marah. Dari belakang seorang lelaki paruh baya bertubuh berisi berusaha mengejarnya.
"Kev come on! kita hari ini sedang kekurangan pelayan. Apa kau benar-benar tidak ingin merubah pikiran?!" pekik lelaki paruh baya itu, namun sama sekali tidak dihiraukan.
'Pelayan? aku sekarang punya alasan yang tepat untuk menghampiri Risa!' gumam Juni dalam hati. Kemudian bergegas menghampiri sang lelaki paruh baya.
"Apa kalian benar-benar sedang membutuhkan pelayan?" tanya Juni memastikan.
"Iya, apa kau berminat?" si lelaki paruh baya berbalik tanya.
"Tentu!" jawab Juni yakin.
"Ya sudah, karena kami sekarang sangat membutuhkan, kau bisa bekerja sekarang. Bisa kan?"
"Itulah yang aku mau! ngomong-ngomong, namaku Juni!" Juni memperkenalkan dirinya.
"Nama yang bagus! kau bisa memanggilku Andrew!" balas lelaki paruh baya tersebut sambil berderap memasuki restoran. Kala itu Risa dan Tom terlihat duduk di tempat khusus dan agak jauh dari pintu masuk. Makanya Risa sama sekali tidak menyadari kehadiran Juni.
Juni sekarang sudah mengenakan seragam pelayan. Tanpa pikir panjang, dia mencoba menanyakan pesanan makanan Risa dan Tom kepada juru masak yang bertugas.
"Oh meja yang itu? kebetulan baru selesai!" ujar sang juru masak. Dia segera menyerahkan hidangan yang harus di antarkan kepada Juni.
'Kali ini takdir benar-benar berpihak sepenuhnya kepadaku!' Juni mengulum senyum, lalu langsung berjalan menuju meja makan Risa dan Tom.
Risa tampak sedang bercengkrama dengan Tom sambil menunggu hidangan disajikan. Tidak lama kemudian, Juni pun datang. Risa awalnya tidak begitu memperhatikan wajah pelayan yang mengantarkan makanan kepadanya.
"Silahkan!" suara Juni berhasil membuat Risa langsung menoleh untuk menatap wajahnya. Matanya sontak terbelalak tatkala menyaksikan kehadiran Juni di hadapannya.
Juni pun ikut melebarkan matanya, dan tangannya menunjuk ke arah Risa. "Kau!" ujarnya.
Deg!
Jantung Risa berdegub kencang. Apalagi dahi Tom terlihat sudah berkerut bingung.
"Kau mengenal Risa?" tanya Tom pada Juni, yang tentu menyebabkan perasaan Risa semakin diliputi perasaan gugup.