
Juni dan Risa berjalan menyusuri jalanan bersama. Mereka menatap pemandangan pantai Brighton yang dipenuhi dengan banyaknya wisatawan.
"Aneh ya, kita selalu berbaikan ketika berada di dekat pantai!" celetuk Risa, yang memecah keheningan di antara dirinya dan Juni.
"Iya, dahulu waktu di Bali juga," respon Juni.
"Ngomong-ngomong aku sudah mengabulkan keinginan pemenang ya!" ujar Risa sembari menatap serius ke arah Juni.
"Oke, aku akui deh!" balas Juni.
"Aku sudah nggak perawan lagi Jun, gimana dong? Tom sudah..." Risa hanya bermaksud menggoda lelaki yang sekarang berdiri di sebelahnya. Juni yang mendengar lantas merubah raut wajahnya menjadi serius. Dia tampak sedang berpikir.
"Aku nggak peduli!" yakin Juni seraya merekahkan senyumannya.
"Uwu... yang bener?" Risa menatap kagum Juni.
"Iya! yang terpenting kan kau bersamaku sekarang!"
"Enggak Jun, aku cuman bercanda. Aku nggak bakalan pernah membiarkan Tom melakukannya sebelum menikah. Meskipun itu hal wajar di negara ini, tetapi tidak bagiku." Risa berterus terang.
"Ish! aku tadi hampir mau kabur darimu loh!" Juni mengelus-elus puncak kepala Risa gemas.
"Padahal Tom hampir saja mau melakukannya loh saat acara pertunangan selesai!" Risa kembali bercerita.
"Benarkah?" tanya Juni, yang langsung mendapat anggukan kepala dari Risa. "Makanya jangan pacaran sama bule!" tambahnya.
"Idih! sirik aja!" balas Risa sambil menjulurkan lidah karena bermaksud mengejek.
"Emang! banget malah!" Juni mengakui. Hingga keduanya pun tertawa lepas bersama.
Juni dan Risa benar-benar menikmati waktu mereka di Brighton. Hingga tak terasa hari berlalu dengan cepat. Keduanya harus kembali lagi ke kenyataan, bahwa banyak hal yang mesti segera diselesaikan.
Sekarang Juni dan Risa tengah berada di dalam taksi. Risa menyenderkan kepalanya ke pundak Juni. Perasaannya mulai gelisah kala mobil terus melaju dan semakin mendekati lokasi tempat tinggalnya. Gadis itu beberapa kali menggerak-gerakkan kepalanya, pertanda dirinya sedang dirundung gelisah.
"Kau tidak apa-apa kan Ris?" tanya Juni cemas.
"Aku hanya sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk bicara kepada Tom," jawab Risa.
"Jujur saja Ris, jika kau memang butuh bantuanku. Tom tidak akan melakukan hal buruk kan, kalau marah?"
"Tidak. Dia lelaki yang baik. Sangat malah, karena itulah aku semakin kesusahan menyusun kata-kata untuknya."
"Jangan membuatku merasa bersalah ah!" Juni mengernyitkan kening.
"Jangan baper Jun!" Risa memeluk Juni lembut.
Tidak lama kemudian, Juni dan Risa pun tiba di London. Keduanya segera berpisah ke tujuan yang berbeda.
"Kau dari mana saja Ris? Tom mencarimu!" tutur Bayu yang juga ikut-ikutan berdiri. Tom yang merasa khawatir segera memeluk Risa dengan erat.
"Aku kira kau tidak mau menikahiku!" ucap Tom seraya menangkup wajah Risa.
'Astaga, kenapa ucapannya pas sekali. Sekarang aku semakin merasa kesulitan.' Risa membatin.
"Lebih baik kalian selesaikan berdua ya, aku mau mandi dahulu!" ujar Bayu, yang langsung bergegas beranjak pergi.
Risa dan Tom pun sekarang duduk bersama di sofa. Tom tak henti memandangi wajah Risa. Namun dirinya tersadar, kalau ekspresi Risa terlihat gelisah. Seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
"Kau kenapa? apa ada masalah?" tanya Tom serius.
"Tom aku..." Risa menggaruk tengkuk tanpa alasan. Dia merasa bersalah.
"Apa?" desak Tom.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita... maafkan aku Tom! hiks! hiks!" Risa akhirnya berterus terang, dibarengi tangisan rasa bersalahnya.
"Apa maksudmu? aku benar-benar tak paham?" Tom masih tak percaya.
"Aku mencintai lelaki lain Tom... sebenarnya... aku tidak pernah mencintaimu..." ungkap Risa lagi.
Deg!
Jantung Tom serasa disambar petir. Hatinya terasa sangat sakit. Dia menatap Risa dengan nanar. Bagaimana bisa gadis yang selama ini selalu dipercayainya akan selalu bersamanya akan pergi ke lain hati? bahkan mengaku tak pernah mencintai?
Tom merasakan sakit hati yang teramat dalam. Dia merasa tercekat. Lelaki tersebut terdiam seribu bahasa. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Risa.
"Tom! maafkan aku, kau boleh menamparku jika kau mau!" Risa bergegas mengekori Tom sambil berceloteh dengan linangan air mata. Namun Tom tetap mendiamkannya, dia malah bergegas melajukan mobilnya.
Sekarang Risa menangis histeris. Bayu yang kebetulan mendengar keributan tersebut bergegas menghampiri putrinya.
"Risa, kau kenapa menangis?" tanya Bayu khawatir. Tanpa sepatah kata pun, Risa langsung memeluk Bayu.
"Aku telah menyakiti hatinya Yah... maafkan aku, hiks!" ujar Risa seraya menenggelamkan wajahnya di pundak ayahnya.
"Apa maksudmu?" Bayu masih tak paham.
"Aku memutuskan hubungan dengan Tom..." lirih Risa.
"Kenapa?!" Bayu terkejut seraya melepaskan pelukannya.
"Aku ingin kembali lagi bersama Juni." Risa menjelaskan dengan kepala yang menunduk. Bayu yang mendengar sontak menghela nafas panjang, kemudian melingus pergi meninggalkan Risa.