
Jay dan Helen terlihat sudah selesai menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa. Jam terbang pesawat mereka akan berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum itu, keduanya disuguhkan sarapan oleh Risa dan Bayu.
"Wah, makanannya terlihat lezat. Apa kau yang memasaknya?" tanya Helen sembari melirik ke arah Risa.
"Iya Tante, tetapi ini cuman nasi goreng biasa," terang Risa, dia mengukir senyuman tipis.
"Biar aku coba dulu kalau gitu." Helen melayangkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya seolah menikmati hidangan yang bergumul dalam indera pengecapnya.
"Enak banget! mana bisa makanan se-enak ini disebut makanan biasa!" ungkap Helen yakin.
"Tante jangan berlebihan deh!" balas Risa yang agak malu-malu.
"Beneran enak kok!" Jay ikut menimpali. Dia juga tampak menikmati suguhan makanan dari Risa.
"Oke, oke. Aku terima pujiannya. Terima kasih!" ujar Risa dengan senyum singkatnya.
Berbeda dengan Bayu yang sedari tadi terdiam. Wajahnya tertunduk lesu, seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bahkan kumis dan jenggotnya tidak ia cukur seperti biasanya. Lelaki paruh baya tersebut terpaku menatap makanan yang ada di depannya.
"Bay, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Helen dengan kening yang mengernyit.
"Eh!" Bayu tersadar dari lamunannya. "Nggak ada kok!" lanjutnya seraya berusaha bersikap normal sebisa mungkin.
Risa memperhatikan wajah ayahnya. Dia memang merasa ada yang aneh dengan tingkah sang ayah akhir-akhir ini. 'Apa yang terjadi sama ayah ya? sepertinya ada masalah yang berat. Ekspresinya tidak seperti biasanya. Haruskah aku nanti bicara kepadanya?' batinnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Risa pun segera bangkit dari tempat duduknya. Ia lantas berderap untuk membukakan pintu. Gadis itu tahu betul kalau orang yang sedang datang bertamu ke rumahnya adalah Juni dan Sofi.
Ceklek!
"Eh Sofi, sepertinya kau memang mau serius bicara sama Jay ya?" sapa Risa dengan senyumannya yang merekah.
"Eng-enggak juga Kak! aku cuman mau kasih ini!" Sofi menyodorkan sebuah kado kepada Risa.
"Astaga Sof, kasih langsung lah!" protes Juni sembari mendorong sang adik masuk ke rumah Risa.
"Juni benar, ayo!" Risa menarik lengan Sofi.
"Kak jangan! aku malu!" Sofi berusaha melepaskan cengkeraman Risa, namun usahanya tidak berhasil.
"Ya sudah, kamu duduk di sini dulu. Aku akan panggilkan Jay!" titah Risa, dia menyuruh Sofi menunggu di ruang tamu. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Kak Jun, aku mau pulang saja!" Sofi berusaha kabur, tetapi langsung dicegat oleh Juni.
"Kenapa? apa yang membuatmu malu?" tanya Juni.
"Bukankah sudah jelas kalau Kak Jay nggak suka sama aku. Jadi aku malu lah kalau harus mengungkapkan perasaanku yang jelas-jelas bertepuk sebelah tangan!" terang Sofi dengan ekspresi merengutnya.
"Tapi kamu harusnya manfaatkan kesempatan ini dong, kan sebentar lagi dia pergi. Dan mungkin saja nggak akan pernah ke sini lagi, gimana dong?"
Sofi mendengus kasar. Akhirnya ia mendudukkan diri ke sofa. Beberapa saat kemudian Jay pun muncul.
"Jay, Sofi mau bicara empat mata sama kamu. Jadi aku dan Juni menjauh dulu ya!" ujar Risa sembari menyeret Juni untuk ikut bersamanya.
"Ris! aku juga mau pergi!" imbuh Juni yang sontak membuat Risa memusatkan atensi kepadanya.
"Amel, dia tiba-tiba menghubungiku. Sepertinya dia sedang kesulitan, tidak apa-apa kan?" tutur Juni.
"Amel? berduaan?" Risa berbalik tanya.
"Mungkin, anggap saja ini pembalasanku terhadap kencanmu dan Jay kemarin. Yah, meskipun aku dan Amel tidak berkencan. . ."
Risa menghela nafasnya dengan tatapan malasnya ia pun berucap, "Ya sudah, tetapi jangan lama-lama!"
"Uw. . . makasih sayang!" Juni mencubit pipi Risa gemas. "Tidak akan lama kok, oke?" tambahnya.
'Huhh! Oke, aku akan biarkan saat ini Jun. Tapi kalau nanti, aku akan pastikan kau dan Amel nggak bakalan ketemu lagi!' Risa mencoba menenangkan diri dalam batinnya.
"Jay! hati-hati di jalan ya, maaf aku tidak bisa melepas kepergianmu!" Juni bersalaman dengan Jay. "Maaf juga kalau ada salah ya!" sambungnya. Tetapi Jay malah mengerutkan dahi, pertanda dirinya tidak mengerti.
Risa yang tidak sengaja menyaksikan adegan itu akhirnya terpaksa turun tangan. Dia kembali menjadi seorang penerjemah untuk kedua lelaki di hadapannya.
"Oh. Aku juga minta maaf kalau pernah menyakitimu!" balas Jay yang pada akhirnya mengerti. Juni hanya tersenyum dan menganggukkan kepala seolah mengerti.
"Dia bilang--"
"Aku langsung pergi ya Ris!" potong Juni seraya bergegas keluar dari rumah. Risa hanya mampu menghela nafas berat, lalu segera beranjak pergi ke arah dapur.
Hening menyelimuti suasana di antara Jay dan Sofi. Keduanya memang tidak mempunyai hubungan akrab sedikit pun. Hanya pernah saling berbicara secara selintas.
"Kata Risa, ada yang ingin kau bicarakan kepadaku?" Jay mencoba memulai percakapan lebih dahulu, yang tentu saja menggunakan bahasa inggrisnya.
Sofi hanya terdiam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jay. Selanjutnya gadis tersebut langsung memberikan sebuah hadiah berbentuk persegi kepada lelaki berambut perak di depannya.
"What is this?" Jay membolak-balik hadiah yang sudah berada dalam genggamannya.
"Aku langsung pergi!" ucap Sofi. Dia lekas-lekas berdiri dan berlari menuju pintu keluar.
"Hei!" panggil Jay. Dia sebenarnya melupakan nama adik kandung Juni itu. Keningnya tampak mengernyit kala melihat aksi Sofi. Setelahnya ia pun membuka hadiah pemberian Sofi dan menemukan selembar kertas yang bertuliskan,
'Setelah aku bertemu dengan Kak Jay, aku berusaha belajar bahasa inggris lebih giat. Agar aku bisa lebih memahami Kakak. Aku tahu, Kak Jay menyukai Kak Risa, tetapi bukankah hati tidak bisa memilih dengan siapa dia akan jatuh cinta?. . . aku cuman berharap Kak Jay tidak melupakanku. Aku harap dapat bertemu dengan Kakak lagi suatu hari. Maaf ya Kak kalau bahasa inggrisnya belepotan. Terus ada kata Kak-nya di depan nama Kakak, itu karena aku tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan nama saja. Semoga Kak Jay suka sama hadiahnya, P.S Sofi.'
Jay mengukir senyuman kala membaca tulisan berbahasa inggris Sofi yang terkesan tidak karuan. Namun untung saja lelaki berambut perak tersebut paham dengan apa yang ingin disampaikan Sofi.
"Benar-benar menggemaskan. Pantas saja wajahnya selalu memerah!" gumam Jay yang tengah senyum-senyum sendiri.
Semua barang sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Helen dan Jay telah benar-benar siap pergi.
Grab!
Jay memeluk Risa erat. "Berkunjunglah ke London lagi!" tukasnya sambil mengusap lembut pundak Risa.
"Aku usahakan, tetapi sepertinya tidak akan. Kau saja yang ke sini lagi, oke?" Risa membalas menepuk-nepuk pundak lelaki yang sedang memeluknya.
"Mungkin." Jay perlahan melepaskan pelukannya, kemudian menunjukkan raut wajah ambigu. Selanjutnya dia dan ibunya segera beranjak pergi menuju bandara.
Risa dan Bayu berdiri berdampingan untuk melepas kepergian dua insan dari negeri Inggris itu.
"Risa, ada yang ingin Ayah bicarakan!" celetuk Bayu, setelah mobil Jay berjalan semakin jauh dari pandangannya. Risa pun menatap heran ke arah sang ayah.