
"Eh Ris, sejak kapan kamu bisa berenang?" tanya Juni.
"Sejak SMP, kenapa?" Risa berbalik tanya.
"Penasaran doang. Soalnya waktu kecil kamu kan pernah hampir tenggelam gara-gara main di sungai." Juni memberi alasan.
"Oh jadi karena itu kamu nekat nyeburin diri ke laut?" Risa menatap Juni dengan sudut matanya.
"Begitulah! kamu juga ngapain berendam ke tengah laut! gila!" timpal Juni seraya menggeleng tak percaya.
"Kamu yang lebih gila, nggak bisa renang nekat nyebur!" Risa tak ingin kalah.
"Sudah ah! bayar taksinya gih!" ujar Juni yang sontak membuat Risa melotot ke arahnya. "Bercanda, kali ini aku deh yang bayar," sambungnya dengan senyuman terpaksa.
Hari berganti hari, festival telah selesai. Semua orang tengah bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali Juni dan Risa, keduanya sama-sama sudah siap dengan tasnya yang tertatata rapi.
"Jun, kau ada beli oleh-oleh nggak?" tanya Ello sembari memasang ransel hitamnya.
"Belum," jawab Juni dengan gelengan kepala.
"Oh!" respon Ello singkat. Hubungan keduanya menjadi dingin, semenjak Juni melayangkan pelototannya kepada Ello tempo hari.
Sekarang semuanya tengah menunggu di bandara. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Jay yang berlari semakin mendekat.
"Ris, lihat tuh! teman bule kamu kayaknya nyariin!" ucap Winda sambil menarik-narik lengan baju Risa.
"Risaaa!" pekik Jay yang sontak menarik semua atensi semua orang di sekitar, tak terkecuali Juni.
'Astaga, ada kakek-kakek dateng!' cibir Juni dalam hati. Dia terpusat dengan rambut Jay yang di cat warna putih.
Jay sudah tiba di hadapan Risa dengan nafas yang tersengal-sengal. Sebelum bicara dia lebih dahulu berusaha mengatur deru nafasnya.
"Jay, apa yang kau lakukan di sini?" Risa berbisik ke telinga Jay. Sebenarnya dirinya mencoba menahan malu sedari tadi. Panggilan Jay terhadapnya membuat orang-orang disekitarnya saling berbisik, seolah sedang membicarakan sesuatu.
"What?" Jay melebarkan matanya. Dia menggeleng tak percaya. "Aku ke sini ya mau ketemu kamu lah, masa ketemu Juni!" jelasnya yang berakhir menunjukkan tangannya ke arah Juni.
"Harusnya kamu telepon aku dulu lah!" ungkap Risa dengan dahi yang mengernyit.
"Bagaimana telepon, kamu aja nggak angkat dan nggak balas pesanku. Sudahlah, terima saja kehadiranku di sini!" ujar Jay seraya mengukir senyuman diwajahnya.
"Siapa bilang aku nggak terima, mending kenalan aja nih sama teman-temanku," kata Risa sembari menarik lengan Winda untuk mendekat. "Kali aja suka kan!" sambungnya namun sengaja memakai bahasa indonesia agar Jay tak mengerti. Alhasil Jay malah berinteraksi dengan Winda dan Gita cukup lama. Kedua gadis tersebut memang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berbicara dengan pria tampan.
'Ish Risa kurang ajar! Jay malah disodorin dua nyamuk,' batin Juni yang segera dilanjutkan dengan sedikit kekehnya.
'Kesalahan besar aku bilang sama Jay akan kasih dia kesempatan. Harusnya kemarin aku pikirkan baik-baik sebelum bicara.' Risa mengeluh dalam hati. Dia menyesali tindakannya tempo hari.
Tidak lama kemudian, pesawat yang akan dinaiki Juni dan Risa siap berangkat. Semuanya pun bergegas untuk melangkahkan kaki. Namun Jay tiba-tiba saja mencengkeram lengan Risa.
"Aku akan menemuimu secepatnya," ujar Jay serius. "I love you Ris!" tambahnya. Beberapa orang yang tidak sengaja mendengar pernyataan Jay lantas bersorak.
"Ciee. . . suit! suit!"
"Terima aja Ris!"
"Kayak di film AADC aja nih kalian, yuhu. . . Rangga dan Cinta. . ."
Beragam respon menyambar ke telinga Risa. Juni yang juga menyaksikan hal itu menghentiķan langkahnya. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan sahabatnya terhadap Jay.
Risa melepaskan genggaman Jay pelan dan berkata, "Ya sudah Jay, sampai jumpa lagi!"
"Oke, see you!" balas Jay.
"Bye Jay!" Juni melambaikan tangannya ke arah Jay. Dia tampak puas dengan perlakuan Risa kepada Jay.
Juni mempercepat jalannya agar bisa menyamakan langkah dengan sahabatnya. "Cie, cie yang sudah ditembak! dor!" goda Juni yang sudah berjalan berbarengan bersama Risa.
"Senang banget kamu kayaknya ya Jun!" Risa menatap dengan sinis.
"Lah! siapa yang senang!" bantah Juni, tetapi raut semringah diwajahnya tidak mampu membohongi Risa.
"Kelihatan dari wajahmu loh kalau kamu lagi seneng banget," tutur Risa. Namun Juni hanya merespon dengan memajukan bibir bawahnya.
"Eh jangan gitu bibirnya!" tegur Risa. Lantas Juni pun langsung menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Juni penasaran.
"Keluar jati diri monyet kamu, haha!" Risa berakhir dengan tawa geli. Kedua sahabat tersebut kembali akrab dan tampak menikmati kebersamaannya. Alhasil Winda dan Gita yang tidak sengaja melihat momen itu tertarik membicarakannya.
"Eh Ta! bukannya kemarin Risa bilang dia udah benci sama Juni? kok sekarang kayaknya suka lagi," ucap Gita sembari menatap ke arah Risa dengan sinis. Dia merasa sangat iri dengan gadis berambut merah muda tersebut.
"Entahlah! Risa memang susah ditebak orangnya," balas Winda seraya menggidikkan bahu.
***
Seperti awal kepergiannya, Risa kembali pulang menaiki mobil Juni. Kali ini suasana di antara keduanya lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Ris, Amel dari kemarin nggak balas-balas pesanku loh. Menghubungi lewat telepon pun tidak ada!" ungkap Juni. Dia memandang ke arah sahabatnya yang sedang menyetir.
"Benarkah?" Risa terlihat terkejut. Terbukti dari belalak kedua matanya. "Jangan-jangan dia selingkuh lagi!" lanjutnya.
"Hah?" respon Juni datar.
"Apanya yang 'hah'? kamu kelihatan biasa aja. Udah nggak cinta lagi ya sama Amel?" ujar Risa dengan tawa kecilnya.
"Jakarta hujan terus ya!" Juni sengaja mengubah topik pembicaraan. Perlahan Risa menghentikan mobil, dikarenakan kembali terjebak dikemacetan. Alhasil dia melupakan pertanyaan yang tadi dia lontarkan kepada sahabatnya.
"Macet lagi!" keluh Risa setelah dengusan kasarnya.
"Ngomong-ngomong kalau tidak macet mungkin kita tidak pernah bertemu," celetuk Juni yang menatap ke arah sahabatnya.
"Kau benar, mungkin jika saat itu kau menolak ajakanku kita juga tidak akan seakrab ini kan?" balas Risa, dia menoleh ke samping tepat dimana Juni sedang duduk. Keduanya saling memandang satu sama lain dalam sesaat.
"Jun, kamu sudah jatuh cinta denganku ya?" goda Risa, yang sontak membuat Juni mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Pede banget!" respon Juni sambil menggeleng maklum.
"Emang! cewek itu peka loh. Apalagi sama tatapan cowok yang sedang jatuh hati padanya, kayak yang kamu lakuin tadi," tutur Risa dengan mencondongkan kepalanya ke arah Juni berada.
"Aku. . ." Juni kembali menoleh ke arah Risa. Membuat jarak di antara wajahnya dan sahabatnya menjadi sangat dekat.
"Aku. . . pengen kentut!" ucap Juni yang membuat Risa reflek mendorongnya menjauh.
"Ish! keluar sana!" geram Risa menatap tak percaya. Dia menutup lubang hidungnya rapat-rapat untuk berjaga-jaga. Juni yang menyaksikan ekpresi tersebut lantas tertawa terbahak-bahak. Selanjutnya dia keluar dari mobil sesaat untuk mengeluarkan angin yang terjebak dalam perutnya.
"Kurang ajar kali punya teman kek gitu!" gerutu Risa dengan dahi berkerut.