The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 91 - Perpisahan Yang Tak Di Inginkan



Juni dan Ibunya sedang dalam perjalanan pulang. Mereka berkendara di waktu hampir subuh.


"Kau harus menjenguk Amel lagi Jun, dia belum sepenuhnya bisa tenang." Rahma menyarankan. Juni pun merespon dengan anggukan.


"Oh iya, tolong rahasiakan mengenai masalah keuangan kita dari Risa ya!" Rahma kembali berucap.


"Kenapa?" Juni mengernyitkan kening.


"Penyebab banyak perusahaan bangkrut itu karena perusahaan ayahnya Risa. Mamah tidak ingin Risa dan ayahnya terbebani." jelas Rahma sambil memainkan setir mobilnya dengan pelan.


"Baiklah kalau begitu," sahut Juni. "Mamah nggak marah sama Om Bayu?" tanya-nya serius.


Rahma tersenyum singkat. "Mamah lebih marah kepada diri sendiri. Karena kesalahan yang terjadi tidak sepenuhnya karena perusahaan ayahnya Risa saja!" tuturnya. Juni lantas mengangguk paham.


Tidak lama kemudian, keduanya tiba di depan rumah. Risa yang ternyata sudah menunggu, langsung keluar dari rumah. Dia menatap tajam ke arah kekasihnya.


"Hmm. . . ada yang marah tuh, ya sudah sana gih temui Risa!" usul Rahma sembari menepuk pundak putranya. Alhasil Juni pun segera berlari kecil untuk menghampiri Risa.


"Kamu dari mana sih?!" tanya Risa ketus.


"Kita bicara sambil duduk aja ya!" ajak Juni seraya memegangi bahu Risa, lalu mengajaknya duduk di sofa.


"Nah, sudah duduk. Sekarang ceritakan!" Risa mendesak.


Juni pun menceritakan mengenai masalah Amelia kepada Risa. Namun lagi-lagi dirinya tidak dapat menceritakan masalahnya sendiri.


"Benarkah? kenapa Amel jadi sampai begitu? berarti depresi dia lebih parah dariku Jun!" Risa menampakkan wajah iba. Dia sepertinya bersimpati dengan keadaan Amelia.


"Mungkin." Juni menjawab singkat. "Ris. . ." lirihnya memanggil nama sang kekasih. Hingga sontak menyebabkan atensi Risa tertuju kepadanya.


"Kenapa Jun?" Risa mengerutkan dahi.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut bersamamu ke London," ungkap Juni, yang tentu saja membuat mata Risa terbelalak.


"Bukannya kau sudah memutuskan akan ikut?" timpal Risa, hatinya mulai merasa kesal.


"Tidak bisa Ris!" Juni menggelengkan kepala.


"Apa alasannya?! jangan bilang karena Amel? hah!" Risa meninggikan nada suaranya.


"Buka--"


"Kamu Jun, Amel! Amel! Amel terus! kamu selalu memilihnya dibandingkan aku! bukankah kau mencintaiku?" mata Risa mulai berpendar dengan cairan bening.


"Aku. . ." Juni menunduk karena merasa kehabisan kata-kata. Dia tetap bersikeras menutup rapat-rapat masalah yang sedang di alami keluarganya. "Kita bisa saling berhubungan lewat internet Ris. Apa salahnya berpacaran jarak jauh, toh kamu tidak selamanya berada di London kan?" ujar Juni mencoba menunjukkan raut wajah bersemangat.


Risa mulai meneteskan air mata, dia juga sudah menenggak saliva-nya sekali. "Aku tidak tahu kapan aku akan kembali, tetapi kau belum menyebutkan alasan pasti mengenai batalnya kepergianmu," balasnya.


Mata Juni ikut berembun, dia yang tidak tega menyaksikan air mata Risa berjatuhan, mencoba mengusapnya. Namun langsung mendapat penolakan dari kekasihnya. Risa menghempaskan jauh-jauh tangan Juni darinya.


"Sepertinya usahaku sia-sia Jun, kau ternyata tetap memilih Amel. Kalau begitu kau berpacaran saja lagi dengannya!"


"Ris!" Juni kembali berusaha memegangi Risa. "Bukan karena Amel!" tegasnya.


"Terus karena apa?! hah!" Risa bertanya dengan nafas yang ngos-ngosan akibat meluapnya amarah. Sedangkan Juni hanya membisu.


"Kalau begitu, aku ingin kau memilih. Ikut denganku, atau tetap tinggal di sini tetapi hubungan kita berakhir?" Risa memberi pilihan. Lagi-lagi Juni terdiam seribu bahasa. Matanya terlihat meliar kemana-mana karena diserang rasa bingung.


"Maaf Ris. . . " air mata Juni perlahan menetes. "Aku tidak bisa ikut. . ." sambungnya, kemudian segera beranjak pergi meninggalkan Risa. Dia tidak sanggup lagi melihat kesedihan diwajah Risa.


'Maafkan aku Ris. . . maafkan aku. . .' batin Juni setelah keluar dari rumah Risa. Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri beberapa kali.


Risa kembali mendudukkan dirinya ke sofa. Sekarang dia menangis tersedu-sedu. Hatinya terasa sangat hancur. Bagaimana bisa orang yang selama ini dia percaya mencintainya dapat pergi begitu saja? bahkan lebih memilih gadis lain.


Risa merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Lebih sakit dibandingkan ketika Juni tidak membukakan jendela beberapa tahun yang lalu.


'Juni membiarkanku pergi lagi. Mungkin aku tidak sepenting itu dalam hidupnya. Padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk dirinya.' Risa membatin dalam keadaan masih terisak. Kakinya berderap menuju dapur. Hingga atensinya terfokus pada pisau dapur yang tergeletak. Risa mengambilnya dan menatap benda tajam tersebut. Dia juga sesekali melirik ke arah urat nadi tangannya.


'Amel beruntung, bisa melewati depresinya bersama orang yang dia cintai. Sedangkan aku? aku selalu berjuang sendirian. Aku harap ayah memenuhi janjinya, kalau dia akan selalu menyisihkan waktunya bersamaku,' gumam Risa sambil memainkan pisau yang ada di genggamannya.


Bruk!


Risa menancapkan pisau ke meja. Dia sepertinya mengurungkan niat, karena terpikir dengan janji sang ayah. 'Mati tidak sepadan dengan masa depan yang akan aku miliki nanti!' Risa mencoba menguatkan diri.


"Coba kita lihat saja Jun, setelah tiba di London. Aku tidak akan menjaga diriku lagi, aku akan melupakanmu!" Risa bertekad.


***


Seminggu telah berlalu. Bayu dan Risa telah bersiap untuk berangkat menuju bandara. Sebelum itu Bayu mengajak sang putri berpamitan dengan keluarga Rahma.


Juni dan Risa yang sudah tidak bertegur sapa selama seminggu akhirnya saling bertatap muka. Risa menampakkan ekspresi datar, seolah tidak ada yang terjadi. Sedangkan Juni berusaha sebisa mungkin menahan air mata yang ingin berjatuhan. Dia sebenarnya tidak rela berpisah dengan Risa. Tetapi keadaanlah yang memaksanya.


"Ris, aku punya sesuatu untukmu, tunggu ya!" ucap Juni, yang dilanjutkan dengan berlari menuju kamarnya. Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa tas karton dalam genggamannya. Namun raut wajah Risa masih terlihat biasa saja. Dia bahkan tidak tertarik sama sekali.


"Ini!" Juni menyodorkan tas karton kepada Risa.


"Terima kasih!" Risa memaksakan dirinya tersenyum. "Selamat tinggal Jun!" tambahnya, lalu segera berbalik dan mengekori Bayu masuk ke dalam mobil.


Hati Juni terasa dihujam pisau ketika mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Risa untuknya. Dia tidak mampu menyaksikan mobil Risa bergerak, hingga akhirnya Juni pun masuk ke rumah, dan mengurung diri di dalam kamar.


"Kamu sama Juni putus?" tanya Bayu, yang merasa aneh dengan sikap putrinya dan Juni.


"Begitulah. Mulai hari ini, aku mohon jangan menyebut nama Juni lagi di hadapanku!" Risa menegaskan sambil membuang muka dari sang ayah. Dia menatap ke jendela mobil.


Bayu yang mendengar hanya terdiam dan berusaha memahami. Sebenarnya dia merasa bersalah dengan apa yang di alami Risa.


"Maafkan Ayah, karena--"


"Stop! semuanya sudah terjadi. Jangan dibahas lagi Yah!" Risa sengaja menyambar ucapan ayahnya.


Setelah memakan waktu beberapa menit, Risa dan Bayu pun sampai di bandara. Mereka duduk di ruang tunggu sebentar.


"Yah, aku mau ke toilet ya!" ujar Risa, yang langsung mendapat persetujuan dari sang ayah.


Risa sebenarnya tidak pergi ke toilet. Dia hanya berusaha mencari bak sampah yang besar. Gadis tersebut berniat membuang hadiah pemberian Juni. Sebelum itu, dia melampiaskan amarahnya dengan menginjak-injak tas kartonnya. Pada akhirnya ia pun melemparkan hadiah tersebut ke tempat sampah. Padahal dirinya belum menengok sama sekali isi dari hadiahnya.


...-----...


Uneg-uneg Author :


Karena Juni sama Risa udah pisah di bab ini. Nanti di bab-bab selanjutnya akan ada bab the story of Juni sama the story of Risa. Menceritakan kehidupan mereka saat sudah tidak bersama, sebelum mereka anu (nggak mau spoiler :v), yang penasaran stay terus ya. Jangan lupa, vote, like dan komentarnya ya! love you ♡♡♡