The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 80 - Kencan Bersama Jay



'Syukurlah pagi ini Juni ada kuliah. Jadi aku nggak perlu repot-repot mencari alasan,' batin Risa sembari mendengus lega. Dia tengah bersiap-siap untuk pergi bersama Jay.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Risa pun segera membukanya, dan dia langsung disambut dengan penampilan Jay yang membuatnya terkesiap dalam beberapa saat. Lelaki berambut perak itu tampak mengenakan kaos putih, yang dilengkapi jaket kulit hitam.


"Jay, kau terlihat lebih tampan!" Risa memuji tentang apa yang dilihat oleh dua matanya.


"Terima kasih! ini kan hari yang spesial untukku," ungkap Jay sembari menyisir rambut dengan jari-jemarinya. Risa memutar bola matanya sambil tersenyum. Dia menyuruh Jay menunggu di luar.


"Pakailah jaket kulitmu, oke?" pinta Jay. Namun sama sekali tidak dijawab oleh Risa. Gadis tersebut hanya menutup pintu kamarnya kembali.


"Ya sudah, aku tidak memaksa!" Jay mengalah dengan perasaan yang ciut.


Ceklek!


Risa membuka pintu kembali. Dia melakukan apa yang Jay suruh, yaitu mengenakan jaket kulit hitam miliknya. Jujur saja, Risa sangat jarang mengenakan benda itu.


"Wow! terima kasih Ris!" Jay mengukir semburat semringah.


"Kau harus bayar pengorbananku nih! belikan makanan yang enak!" ujar Risa seraya memanyunkan mulutnya.


"Tenang saja, itu beres!" sahut Jay santai. Selanjutnya mereka pun beranjak pergi untuk melakukan rencana yang di inginkan Jay.


Di sisi lain, tepat di sebuah ruangan yang dipenuhi akan instrumern musik klasik. Juni masih berkalut dalam pikirannya. Tatapannya merasa benar-benar mengecil tatkala menyaksikan sebuah biola yang disodorkan untuknya.


"Kenapa bengong Jun? kalau nggak bisa ya belajarlah! mumpung ada Kak Ello sebagai asisten Pak Dirga," ucap Ratih yang tampak tenang dengan alat musik parka-nya.


"Enggak! ngapain aku minta di ajarin sama dia!" tepis Juni, dia menatap sinis ke arah Ello.


"Ya demi nilai kamu-lah!" Ratih mengernyitkan keningnya. Namun Juni hanya bisa memutar bola mata malasnya.


'Andai kelas musik klasik adalah mata kuliah pilihan, 100 % aku tidak akan pernah memilihnya. Ini apa? mata kuliah wajib!' batin Juni sembari menekan jidatnya sendiri.


"Kenapa Jun? mikirin Risa?" Ello tiba-tiba menegur.


"Ini Kak, Juni belum menguasai cara bermain biola!" Ratih menyahut pertanyaan yang tidak seharusnya dijawab olehnya.


"Benarkah?" pffft!" Ello menggeleng remeh. Kemudian segera lekas-lekas pergi dari meja Juni.


"Tuh kan! Kak Ello nggak bakalan mau ngajarin kalau tidak dipinta baik-baik. Bukannya kamu kerja bareng dia di cafe ya?" Ratih kembali berimbuh.


"Iya Tih. . . dan aku juga nggak sesering itu ketemu dia. Karena dia jarang datang ke sana akhir-akhir ini," jelas Juni.


"Lalu kapan kau akan belajarnya? jika kau tidak bisa, maka nilai kami akan jelek juga dong. Dikarenakan satu orang sepertimu tidak bisa!" tukas Ratih, yang sontak membuat Juni menghela nafas berat.


"Aku akan urus diriku sendiri. Toh presentasi kan masih lama!" Juni melakukan pembelaan.


"Iya tahu, tapi apa salahnya bersiap jauh-jauh hari," ungkap Ratih dengan tatapan sinisnya. Sedangkan Juni hanya terdiam menatap kosong ke arah biolanya yang tak bergeming.


***


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Risa yang menatap Jay dengan sudut matanya.


"Pokoknya kau pasti suka!" yakin Jay. Membuat Risa sedikit tertawa kecil.


"Nggak apa-apa kan, cuman satu hari doang kok!"


Tidak lama kemudian keduanya tiba di sebuah salon. Risa yang tersadar akan tempat tersebut sontak mengerutkan dahi. Dia bingung akan rencana Jay.


"Kau mau memotong rambutmu?" tanya Risa.


"Bukan aku, tetapi kau!" sahut Jay.


"Apa?! hei, aku mengikuti maumu hari ini, bukan berarti harus melakukan yang kau inginkan ya!" protes Risa. Dia menggertakkan gigi geram.


"Cuman mewarnainya kok! itu saja. Kau tidak bosan dengan rambut merah muda-mu itu? aku rindu rambut hitammu." Jay sengaja bertutur kata lembut, agar Risa bisa luluh dengan ajakannya.


"Huhh! awas kau Jay!" geram Risa. Namun kaki-nya dilangkahkan memasuki salon yang ada di depannya. Sedangkan Jay segera duduk di ruang tunggu.


"Mbak, tolong rubah warna rambutku menjadi hitam. . ." ujar Risa dengan nada pelan. Sejujurnya dia belum berniat merubah tampilan kembali seperti dulu.


Setelah menunggu setengah jam. Risa pun muncul dari balik pintu. Jay yang melihat lantas bangkit dari tempat duduknya. Dia terpana dengan tampilan anyar rambut Risa.


"Nah begini. Kau tahu? kecantikanmu lebih alami!" puji Jay dengan senyuman lebar yang tak dapat dibendung.


"Puas kamu? hah?" Risa menonjok area perut Jay dengan kekuatan sedang, dan tentu dapat di atasi oleh lelaki berambut perak tersebut.


"Puas banget lah! pffft!" Jay malah terkekeh menyaksikan raut wajah marah Risa. Gadis itu tampak lebih dahulu berjalan menuju mobil.


"Ayo Jay! kau mau membuang waktumu?" tegur Risa yang heran melihat Jay masih bengong dan terdiam di tempat.


"Oh iya, ayo kita pergi!" Jay gelagapan masuk ke dalam mobil.


Ketika sedang menyetir, Jay tidak membuang waktunya untuk mencuri pandang ke arah Risa. Dia selalu tidak puas menyaksikan wajah gadis disampingnya tersebut.


"Aku cantik banget ya!" Risa bermaksud bercanda, dia memainkan beberapa helai rambutnya dengan tangan.


"Banget! parah. Aku jadi ingin menciummu!" tukas Jay blak-blakkan. Menyebabkan Risa reflek membelalakkan mata.


"Jangan macam-macam ya! kau sudah pernah mencuri ciumanku saat di Bali. Jadi itu sudah cukup!" tegas Risa sambil membuang muka dari lelaki berambut perak di sebelahnya.


"Cukup bagimu. Tapi tidak untukku!" balas Jay. "Bukankah kau juga begitu dengan Juni, satu ciuman tidak akan cukup?" lanjutnya.


"Jay, aku tidak ingin membicarakan perihal ke-mesumanmu itu!" Risa menggelengkan kepala beberapa kali. Dia benar-benar menolak berbicara perihal sentuhan, atau apalah itu. Mobil tiba-tiba berhenti, karena kebetulan dengan menyalanya lampu merah. Jay menggunakan kesempatan tersebut untuk mendekatkan wajahnya ke arah Risa.


"Jay, kau harusnya bersyukur aku sudah mengikuti keinginanmu hari ini. Plis deh, jangan kalap!" Risa kembali menegaskan.


"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin menatapmu saja," kata Jay dengan binar mata yang hanya menyorot seorang Risa. Menyebabkan jantungnya berdebaran semakin kuat.


"Ya sudah, terserah!" respon Risa. Dia kembali harus membuang muka, karena merasa tidak enak dengan tatapan Jay. Dirinya tampak santai memandangi pemandangan keluar jendela.


"Tatap aku sebentar saja!" Jay menggerakkan kepala Risa, agar bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas.


"Kalau tuh bibir melayang ke mulutku. Nih ya!" ancam Risa seraya mengarahkan kepalan tinjunya ke arah Jay. Namun lelaki yang di ancamnya hanya tergelak geli.


"Jangan marah! semakin kau menunjukkan ekspresi menggemaskan itu, keinginanku tambah menggebu loh!" ujar Jay.