The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 73 - Masakan Jay



Suara keributan terdengar dari arah dapur. Risa yang penasaran dengan penghasil sumber suara itu, segera keluar kamar untuk memeriksanya.


Tak! Tak! Tak!


Risa melangkah menuruni tangga pelan. Dia sekarang sudah berada di dapur, dan melihat Jay tengah sibuk bergumul dengan masakannya.


"Apakah ini nyata? seorang Jay sedang memasak?" Risa menatap heran sembari berjalan menghampiri Jay dengan berkacak pinggang.


"Apa kau meledekkku?" Jay terperangah akan respon Risa.


"Tidak seperti biasanya. . . soalnya aku tidak pernah melihatmu memasak sebelumnya!" Risa merubah pose-nya menjadi tangan yang menyilang di depan dada.


Jay menyingkirkan anak rambut yang jatuh di depan kening, lalu kembali memegangi taflon dan pengaduknya. "Memangnya kenapa? apa di negara ini seorang lelaki dilarang memasak?" tukasnya.


"Bukan begitu. Apa ada sesuatu yang spesial hari ini?"


Jay pun menjawab, "Hehe! kau benar Ris, ibuku akan ke sini!"


"Apa?! kapan? kenapa kau baru saja memberitahuku?" Risa mengangkat kedua tangannya dengan mimik wajah keheranan.


"Tenang saja, dia baru berangkat hari ini. Masakan yang aku buat sekarang sebenarnya untukmu!" ucap Jay.


"Bilang saja kau mau menjadikanku sebagai bahan percobaan."


"Eh! tentu tidaklah!" tegas Jay seraya menoleh selintas kepada gadis yang sedari tadi bersender di meja makan.


"Ngomong-ngomong, kenapa ibumu ke sini? kau tidak akan ngebet menikahiku kan?" ujar Risa blak-blakkan. Dia sekarang melayangkan pantatnya ke sebuah kursi. Aroma masakan Jay mulai menguar dan menyelimuti indera penciumannya.


"Menikah? tolong jangan bicara mengenai itu. Nanti aku benar-benar tertarik loh!" balas Jay. Dia merendahkan kapasitas api kompornya, lalu kembali menekuni hidanganya yang tampak seperti tumisan daging ayam.


"Tetapi aku ingin benar-benar jujur kepadamu, kalau--"


"Ris, nanti saja dahulu. Kita ngobrol sambil menikmati makanan saja ya?" potong Jay yang memang sengaja. Dahi Risa tampak berkerut, dirinya hanya bisa mengiyakan, lalu menghela nafas panjangnya.


Beberapa saat kemudian, Jay meletakkan hidangan yang telah jadi ke atas meja. Tepat di hadapan Risa yang sedang duduk melipat tangannya. "Lumayan juga masakan pertamamu!" puji Risa dengan setengah hati.


"Enggaklah! ini bukan masakan pertamaku. Aku juga pernah memasak dahulu, tetapi ber-abad-abad yang lalu," tutur Jay, yang sontak membuat tawa Risa pecah.


"Memangnya kau manusia purba Jay?" Risa melebarkan mata sambil mencoba menghentikan tawanya.


"Sekarang makanlah!" Jay menggeser piring yang berisi masakannya ke arah Risa.


"Baiklah, coba kita lihat bagaimana hasilnya."


"Fiuhh! semoga kau suka!" Jay berharap sembari mengusap-usapkan kedua tangannya.


Risa mulai menyendok sayuran dan daging, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Matanya lagi-lagi melebar dan terkesiap akan makanan yang telah menyentuh indera pengecapnya. "Ini enak Jay!" puji-nya. Jay yang mendengar lantas tersenyum lebar.


"Sekarang biarkan aku berbicara kepadamu, dan jangan menjedanya lagi, oke!" ungkap Risa, setelah menelan makanan yang dia sebut lezat.


"Bicaralah!"


Risa meletakkan sendoknya dan menatap Jay serius. "Aku mencintai Juni!" tegas-nya.


Jay tampak biasa saja, dia hanya membuang muka sejenak. Kemudian kembali memandang gadis yang duduk di hadapannya. "Aku sudah tahu, meskipun kau tidak mengatakannya!" terangnya.


"Very, very clear! (Sangat, sangat jelas!)" Jay tersenyum kecut.


"Maafkan aku Jay, harusnya aku tidak memberikanmu harapan kosong. Saat di Bali, aku benar-benar terbawa suasana, karena bertengkar hebat dengan Juni. . ." Risa benar-benar merasa tidak enak. Kepalanya perlahan menunduk ke bawah. Dirinya tidak sanggup menatap ke arah lawan bicaranya.


"Tidak apa-apa. Tetapi aku akan tetap menunggumu," tutur Jay, yang membuat Risa mendongakkan kepala dan menatapnya dengan mata yang membola.


"Jangan bodoh Jay! perasaanku tidak akan berubah!"


"Tidak ada yang tak mungkin. Jika perasaan tak bisa berubah, mungkin suasana yang akan berubah. Maupun sebaliknya, aku akan menunggu sampai waktunya tepat!" Jay berucap dengan penuh keyakinan. Risa sontak menggeleng tak percaya, disertai kernyitan di keningnya. Lalu kembali melahap makanan yang ada di depannya.


"Kalau begitu. . . berarti kau mendoakan sesuatu yang buruk terhadap hubunganku dan Juni dong! iyakan?" Risa menatap tajam ke manik biru milik lelaki berambut perak di depannya.


"Bukan itu maksudku Ris, kau salah paham. Sejujurnya aku juga merasa bahagia ketika menyaksikanmu tertawa senang ketika bersama Juni. Tetapi aku hanya mempertahankan harapan yang ada dihatiku. Aku tidak tahu sampai kapan akan menunggu. Sambil menanti, aku pasti juga akan berusaha melupakanmu. Aku tidak akan berniat jahat seperti gadis berambut keriting itu!" jelas Jay panjang lebar.


"Gadis berambut keriting? Amel?" terka Risa. Jay pun merespon dengan anggukan kepala.


"Apa dia akan melakukan sesuatu yang buruk? apa yang telah dikatakan Amel kepadamu?"


"Dia hanya bilang ingin menjadi egois. Aku tidak tahu rencananya, yang jelas itu terdengar jahat di telingaku. Berhati-hatilah Ris, kalau ada apa-apa katakan saja kepadaku!" Jay menatap khawatir.


Risa yang mendengar memegangi area jidatnya, seolah sedang berpikir. Perlahan ia pun kembali menampakkan mimik wajah seriusnya. "Jay, sampai kapan kau akan menginap di sini?" tanya-nya.


"Entahlah, mungkin akhir bulan. Yang pasti sampai urusan pasporku terselesaikan!"


Brak!


"Bagaimana kalau kau dekati Amel!" usul Risa setelah memukul meja secara tiba-tiba. Hal tersebut berhasil memberikan efek kejut terhadap badan Jay.


"Risa! perlukah sampai memukul meja begitu?!" Jay menggertakkan gigi kesal.


"Maaf! aku kembali terbawa suasana. Aku hanya mengusulkan rencana kepadamu," Risa menciut.


Jay memutar bola mata dan berkata, "Plis Ris, aku nggak mau dipaksa untuk berdekatan dengan gadis jahat itu. Ogah pokoknya!"


"Jahat? kenapa kau berpikir dia begitu?"


"Egois bagiku adalah sebuah kejahatan. Kau juga berpikir seperti itu kan?" Jay mengangkat kedua tangan dengan raut wajah heran.


"Terserah! nih habiskan makananmu sendiri. Aku ada janji sama Juni!" Risa bangkit dari kursinya, dan segera beranjak menuju kamar.


"Boleh aku ikut?!" tanya Jay yang memekik keras. Namun tidak mendapatkan sama sekali jawaban.


Risa memandangi pantulan dirinya di cermin. Penuturan Jay mengenai Amelia agak mengganggu jalan pikirannya.


'Kira-kira Amel sedang merencanakan apa? jangan-jangan dia berpura-pura sakit juga lagi sepertiku. Mungkinkah?. . . kalimat yang terakhir kali di bilang kepadaku adalah, bahwa lelaki yang istimewa dihidupku bukan hanya Juni. Maksudnya apa ya?' batin Risa seraya terus mencari-cari jawaban dalam kepalanya.


Drrt. . . Drrt. . .


Suara getaran ponsel berhasil merunyamkan segala hipotesis yang tengah disusun rapi oleh Risa. Dia langsung membuka pesan yang tertera dengan nama Juni. Lelaki tersebut ternyata hanya memberitahu, kalau dirinya telah lebih dahulu pergi ke cafe.


"Duluan? katanya mau bareng. Dasar nih anak! aku ajak Jay aja kalau gitu!" gumam Risa dengan raut wajah cemberut.