
Hans menemani Risa berhadapan dengan Tom. Beberapa pertanyaan dijawab sangat baik oleh Risa. Setelahnya gadis itu pun langsung diperbolehkan keluar dari ruangan.
"Risa, kamu turun duluan ya. Ada yang mau aku urus dahulu!" ujar Hans, lalu berlalu pergi begitu saja. Bahkan sebelum Risa sempat bersuara.
Setelah menghela nafasnya, Risa pun segera melangkahkan kakinya memasuki lift. Sebelum pintu lift hendak menutup, Tom tiba-tiba datang dan ikut masuk ke dalam. Lelaki tersebut terlihat berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
Pintu lift menutup rapat, sekarang Risa dan Tom berduaan di dalam. Lelaki berambut pirang itu tampak sudah memasukkan ponselnya ke saku celana. Risa pun mencoba menyapa dengan senyuman enggan, tetapi dibalas Tom dengan raut wajah datar.
'Ish kebiasaan cowok! kalau sukses bertingkah sesuka hati sama perempuan. Coba pas mereka di bawah, baru sok-sokan mau melakukan apapun demi gadis yang mereka cintai!' batin Risa sembari meringis jijik.
Trak!
Lift yang tadinya berjalan lancar tiba-tiba tersendat dan mengeluarkan suara nyaring. Kejadian tersebut membuat Tom seketika gelagapan dan bingung. Dia mencoba berusaha membuka pintu lift sekuat tenaga, tetapi sama sekali tidak mampu.
"Apa ini?! ada apa ini! cepat lakukan sesuatu!" Tom tiba-tiba panik, dia menghimpitkan badannya ke ujung dinding. Bahkan nafasnya mulai ngos-ngosan.
Risa yang melihatnya sontak melebarkan mata. Namun dirinya berusaha menenangkan lelaki yang merupakan atasannya tersebut.
"Tenanglah! aku akan lakukan sesuatu," ucap Risa, lalu segera menekan tombol darurat yang sudah tersedia di dalam lift.
"Tolonglah! siapapun! lift ini tiba-tiba mati. Sedang ada keadaan darurat di sini!" pekik Risa sambil mendekatkan mulutnya ke tombol darurat yang berupa alat perekam itu. Tetapi dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari luar.
Bruk!
Tom tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke lantai. Keringat bahkan mulai membanjiri seluruh badannya. Risa yang menyaksikan lantas segera menghampirinya.
"Apa kau mengalami claustrophobia?" tanya Risa, yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Tom.
'Aku harus lakukan sesuatu!' gumam Risa dalam hati, kemudian segera menggunakan ponselnya karena berniat menghubungi seseorang. Namun gilanya, ponsel kesayangannya tersebut malah kehabisan baterai. Hingga tanpa basa-basi, Risa pun mengambil ponsel milik Tom yang tersimpan di dalam saku celana.
"Aku harus pinjam ponselmu!" kata Risa seraya menekan layar ponsel dengan bergesakan. Dia segera melakukan panggilan darurat.
Pihak berwajib menyuruh Risa bersabar untuk menunggu dan bisa melakukan sesuatu kepada Tom. Selanjutnya, ketika Risa hendak berbicara ke depan CCTV. Tangan Tom tiba-tiba menggenggam lengannya.
"Jangan kemana-mana. . ." ungkap Tom lirih. Tubuhnya sudah gemetaran, tangannya semakin mencengkeram kuat lengan Risa.
"Hei!" Risa mengambil sapu tangan di tasnya, lalu mengusap peluh yang mengalir deras di pelipis Tom. Selanjutnya, gadis itu menangkup wajah Tom. "Coba pejamkan matamu, dan bayangkan tempat yang membuatmu bahagia! tempat yang membuatmu nyaman," tambahnya dengan nada pelan agar perasaan Tom dapat menjadi lebih tenang.
"Lalu bernafaslah pelan-pelan." Risa kembali berucap. Tom kembali merespon Risa dengan anggukan. Dia menuruti saran gadis tersebut.
Tidak semudah itu bagi Tom untuk tenang. Dia kembali memegangi erat pergelangan tangan Risa. Lelaki tersebut masih gemetaran dan hampir menangis. Risa yang juga memiliki phobia sangat paham dengan perasaan Tom sekarang.
"Hei Tom, hiruplah udara melalu hidung dan keluarkan dari mulutmu secara perlahan! begini, huh, hahh. . ." Risa mencontohkan apa yang diucapkannya dengan baik. Alhasil Tom pun mengikuti arahannya. Dia mencoba mengulangi apa yang dicontohkan Risa beberapa kali.
"Bagus Tom!" puji Risa, hingga membuat Tom semakin percaya diri dan menjadi lebih tenang. Matanya sekarang hanya tertuju ke arah Risa seorang.
Tidak lama kemudian terdengar suara rekaman yang sepertinya berasal dari petugas keamanan. Mereka menyebutkan kalau lift sedang rusak, dan akan membuka pintunya secepatnya.
"Bertahanlah sebisa mungkin, kami akan segera membantu!" ucap si petugas keamanan. Sekarang Risa memposisikan dirinya duduk di sebelah Tom yang sudah agak sedikit tenang. Namun lelaki itu terlihat terus memejamkan mata dan mengatur deru nafasnya.
Tom masih terdiam, sepertinya rasa panik yang menimpanya sekarang telah membuatnya enggan bicara.
"Nah ketemu! wow, kau sudah memutar lagunya ratusan kali," Risa memanggut-manggutkan kepalanya, kemudian segera memutar lagu kesukaan Tom. Yang ternyata adalah musik klasik berjudul Sleep Away karya dari Bob Acri.
"Ngomong-ngomong aku juga suka lagu ini. Musiknya membuatku tenang dan membawaku masuk ke dalam mimpi. . ." celetuk Risa yang perlahan ikut memejamkan matanya.
Benar saja, karena lantunan musik favoritnya Tom dapat membuang rasa paniknya jauh-jauh. Meski dirinya harus terus mencuci otaknya sendiri, kalau tidak sedang berada di tempat yang sempit.
Para petugas keamanan terlihat berkerumun di depan lift tempat Risa dan Tom terjebak. Bahkan beberapa karyawan kantor juga ikut bergerombol menyaksikan kejadian itu. Setelah cukup lama berjuang akhirnya para petugas keamanan berhasil membuka paksa pintu lift.
"Apa kalian baik--" petugas keamanan harus menjeda kalimatnya, karena melihat Risa dan Tom sedang tertidur. Orang-orang yang berada di lokasi sontak merasa bingung harus berbuat apa. Mereka sempat mendiamkan momen itu sejenak. Apalagi kepala Tom tampak menyandar ke bahu Risa.
Pemandangan tersebut sontak menimbulkan banyak spekulasi. Terutama dari para karyawan yang kebetulan melihat. Bahkan ada yang sengaja mengambil foto Tom dan Risa agar dapat dijadikan sebagai bukti.
Risa yang merasa mendengar suara keributan perlahan membuka mata. Dan dia sangat terkejut tatkala menyaksikan banyak pasang mata tertuju kepadanya. Dirinya juga baru tersadar kalau kepala Tom menyender ke pundakknya. Alhasil Risa pun segera membangunkan Tom.
"Bangunlah, Tom!" ujar Risa sembari mendorong kepala Tom menjauh.
Tom tampak mengerjapkan matanya, dia langsung tersadar. Risa mencoba mengajak Tom berdiri dan memberitahukan, "Bangunlah! banyak karyawanmu yang melihat!"
Tom segera membuka matanya lebar-lebar. ia berusaha bersikap senormal mungkin, padahal rasa pusing dikepalanya masih terasa.
"Bos! Risa! kalian tidak apa-apa kan?!" Hans tiba-tiba datang menghampiri, karena merasa sangat cemas.
"Tidak apa-apa, cuman Tom saja yang--" Risa menjeda ucapannya ketika Tom mendadak menatap serius ke arahnya. Sepertinya lelaki tersebut merahasiakan phobianya. Risa lantas mengunci mulutnya rapat-rapat, lalu beranjak pergi. Sedangkan Tom hanya terdiam dan terpaku saat melihat kepergian gadis yang sudah banyak membantunya itu.
Risa telah sampai di kediamannya. Dia segera mengisi energi untuk ponselnya. Ketika ia menyalakan kembali gawai-nya, sebuah pesan langsung diterimanya.
Drrt. . . Drrtt. . .
Risa segera memeriksa pesan yang baru masuk tersebut. Dan dia mendapat pesan dari Irfan, yang merupakan temannya saat SMA.
Irfan mengirim link misterius. Risa pun segera memencet tulisan biru pada layar ponselnya tersebut. Penglihatannya seketika disambut dengan penampilan Juni yang sedang mengikuti audisi.
Risa sekarang terpana. Bahkan senyuman mulai terukir diwajahnya. Jujur, dia sangat rindu melihat Juni bernyanyi. Entah kenapa tiba-tiba saja pipinya memerah malu, sebab lagu yang sedang dilantunkan Juni seakan ditujukan untuknya.
'Apa lagu itu untukku?' benak Risa bertanya-tanya. Setelah puas menyaksikan video audisi Juni, tangan Risa pun digerakkan untuk memeriksa komentar di bawahnya.
Dari banyaknya komentar, ada satu komentar yang membuat hati Risa menjadi hancur berkeping-keping.
...'Dia sudah punya pacar, aku melihatnya berpelukan dengan seorang gadis berambut ikal!'...
Kira-kira begitulah bunyi komentar yang membuat senyum Risa langsung memudar. Siapa lagi gadis berambut ikal selain Amelia. Karena merasa kesal Risa pun kembali mematikan ponselnya. Dua tetes cairan bening berhasil lolos dan mengalir dari matanya.
...______________...
•Info : Claustrophobia adalah istilah psikologis untuk orang yang phobia terhadap tempat sempit.