The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 114 - Bicara Kepada Bayu



Setelah Risa mengutarakan keinginannya untuk putus dengan Tom, dia segera mengundurkan diri dari pekerjaannya. Semua orang langsung menatapnya jijik, Risa dianggap sebagai pengkhianat.


Kala itu Risa tengah memilah-milih barangnya untuk dibawa pulang. Wajahnya masih tampak sembab. Beberapa rekan kerjanya menatap sinis ke arahnya. Bahkan ada yang sengaja menyindir di hadapan Risa.


"Sudah aku duga, dia pasti cuman mau mencicipi hartanya, iyakan?"


"Benar, aku kira dia gadis yang baik loh! apa dia tidak kasihan dengan Tom?"


Percakapan dua rekannya tersebut terdengar jelas di kuping Risa. Namun ia hanya terdiam, sebab Risa tak ingin menambah masalah jika meladeninya.


Dibandeng rekan kerja lainnya, hanya Hans yang merasa sedih dengan mundurnya Risa dari pekerjaannya. Ketika Risa ingin berpamitan dengan Hans, dia mendapatkan pelukan hangat dari lelaki itu.


"Aku sangat mengerti apa yang sedang kau rasakan. . ." ujar Hans, lalu perlahan melepaskan pelukannya.


"Apa aku keterlaluan?" tanya Risa dengan keadaan mata yang mulai berpendar.


Hans menggeleng. "Tidak! jika kau terus memaksakan diri, maka semuanya mungkin akan lebih parah. Tom mungkin akan tambah sakit hati, aku juga pernah mengalami cerita sepertimu. Dan aku berada di posisi sama persis denganmu!" ungkapnya yang mencoba menenangkan.


"Kau hampir menikahi seseorang?"


"Iya, aku mengakhirinya karena jatuh cinta kepada sahabat lelakiku. Bukankah nasibku lebih parah?" Hans memiringkan kepala sembari terkekeh. Risa yang mendengar sedikit merasa tenang, senyuman terpatri pelan di raut wajahnya. Setidaknya ada satu orang yang peduli dan memahami perasaannya.


Risa keluar dari butik sambil membawa kotak yang berisi barang-barangnya. Di depan butik, Juni sudah lama menunggu.


"Juni?" panggil Risa yang dengan dahi yang berkerut. Lelaki yang dipanggilnya sontak menoleh.


"Ris, kotak apa itu?" tanya Juni.


"Pertanda kalau pekerjaanku berakhir!" jelas Risa yang tentu berhasil menyebabkan mata Juni membola.


"Sudah nggak usah sampai kaget begitu. Ngomong-ngomong kau hari ini nggak kuliah?" respon Risa.


"Hari ini kebetulan cuman dua mata kuliah saja." Juni menatap nanar Risa dan melanjutkan, "kau tidak apa-apa kan?"


"Sedikit Baik. Ngomong-ngomong, aku sudah memberitahu Tom semalam."


"Benarkah? lalu?"


"Dia sangat marah, sampai tak ingin bicara lagi denganku." Risa menundukkan kepala.


"Aku jadi merasa bersalah. . ." lirih Juni. Dia dan Risa sempat saling terdiam sejenak.


"Sudahlah Jun, kita akan mulai semuanya dari awal!" Risa mencoba berpikir positif.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Juni. Dia dan Risa sekarang melangkah berbarengan menyusuri jalanan trotoar.


"Aku sudah punya banyak memiliki uang simpanan. Mungkin saatnya aku membangun usaha sendiri, atau bersamamu!" jelas Risa sembari melirik ke arah Juni.


"Jun, maukah kau bicara kepada ayahku?" tanya Risa yang perlahan meletakkan segelas tehnya.


"Apa dia marah kepadamu?" Juni memastikan. Risa pun langsung menjawab dengan anggukan.


"Aku akan berusaha. Apa hari ini dia ada di rumah?"


"Ada, dia kalau di London selalu pulang lebih cepat."


"Ya sudah, aku akan bicara kepadanya. Ris, aku akan pastikan semuanya baik-baik saja," ucap Juni lembut sembari memegang jari-jemari Risa.


"Aku tahu. . ." lirih Risa, tanpa sengaja cairan bening berhasil lolos dari kedua matanya. Sepertinya segala hujatan rekan kerja dan juga kemarahan orang lain kepadanya membuat hati Risa sesak.


Juni yang tak tega segera membawa Risa masuk ke dekapannya. Tangis Risa pecah seketika, dia mengeluarkan semua kekesalannya melalui bulir-bulir air mata yang berjatuhan. Dalam pelukan Juni, Risa merasa lebih tenang.


***


Sekarang Juni sudah sampai di depan rumah Risa. Dia segera mengikuti Risa yang sudah lebih dahulu berjalan menuju pintu. Ketika masuk, terlihatlah Bayu tengah duduk sendirian di balkon. Lelaki paruh baya itu tampak termenung seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Jun, jangan membuatnya makin marah ya!" ujar Risa memperingatkan.


"Gila kali, kalau aku bikin dia makin marah!" balas Juni. Dia pun segera berderap mendekati Bayu.


"Om?" panggil Juni pelan. Bayu langsung menoleh ke arahnya. Mimik wajahnya terlihat cemberut.


"Duduklah!" suruh Bayu ketus.


Juni menarik kursi yang ada di dekatnya, kemudian segera mendudukinya.


"Om, aku minta maaf dengan apa yang telah terjadi dengan Risa. Tetapi aku berjanji akan membuatnya bahagia!" tutur Juni yakin. Jujur saja, dia merasa sangat gugup. Dirinya tak menyangka akan berbicara dengan Bayu se-enggan ini. Padahal saat kecil hubungan keduanya bagaikan seorang ayah dan anak. Namun sepertinya pilihan Juni yang tak mau ikut ke London, telah membuat Bayu kecewa. Bahkan hatinya mungkin sudah tak bisa menpercayai Juni mampu membahagiakan putrinya.


"Aku ingin kau membuktikannya lebih dahulu. Meskipun aku seperti keluarga bagimu, tetapi aku sudah banyak melihat Risa menangis karena dirimu. Dan aku ingin pastikan itu tak akan terjadi lagi!" Bayu menegaskan.


"Aku berjanji tidak akan membuat Risa menangis lagi, kali ini aku benar-benar serius Om!" Juni berusaha meyakinkan.


"Buktikan!" sahut Bayu singkat.


"Mengenai cintaku?" Juni memastikan. Jujur saja tebakan Juni hampir membuat Bayu tertawa, namun dirinya berusaha sebisa mungkin terlihat tegas.


"Bukankah kau sekarang masih belum memiliki pekerjaan tetap? jika kau mau menikahi Risa, aku juga ingin memastikan dia menjalani hidup dengan nyaman!"


"Baik Om! aku akan berusaha!" Juni membungkukkan badannya beberapa kali. Setidaknya sikapnya yang sopan berhasil membuat hati Bayu sedikit luluh.


Risa yang sedari tadi menguping di balik dinding tersenyum simpul. Dia merasa sang ayah telah memberikan peluang untuk Juni.