The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 61 - Kedatangan Jay



"Apa? ngapain dia mau ke rumahmu?" wajah Juni berubah menjadi cemberut.


"Parah sih alasannya, dia kehilangan paspor dan barang-barang penting lainnya!" jelas Risa.


"Benarkah? ternyata dia lebih bodoh dariku ya!" Juni menggeleng tak percaya.


"Kau tahu parahnya lagi? Jay menyalahkan semuanya kepadaku!" lidah Risa berdecak kesal.


"Kurang ajar dia!" cerca Juni.


"Sebenarnya dia ada benarnya sih. . ." lirih Risa, dia merasa bersalah.


"Apanya yang benar?" tanya Juni.


"Kalau semuanya salahku."


"Bagaimana bisa semuanya salahmu Ris? jelas-jelas dia yang teledor menjaga barangnya sendiri!" tutur Juni yakin.


"Tetapi aku tidak mengangkat telepon dan juga membalas pesannya. Jadi dia kebingungan deh pas sampai sini!" Risa menghela nafasnya.


"Kau kenapa juga nggak balas pesan dan telepon dia?" Juni menatap Risa selintas.


"Kau tahu kan Jun aku ini tidak suka basa-basi. Jay itu sering melakukannya, makanya aku tidak sama sekali berminat menjawab pesannya, bahkan membukanya sekali pun!" terang Risa.


"Jay sepertinya benar, kau memang salah!" ucap Juni yang sontak membuat Risa melayangkan pukulannya lagi.


"Kamu bukannya ngebelain aku juga!" protes Risa.


"Sudahlah, yang penting Jay baik-baik saja kan sekarang?" Juni kembali bertanya.


"Iya, kebetulan dia bertemu dengan ayahku. Jadi dia tidak apa-apa!" jawab Risa.


"Bagus deh!" respon Juni singkat. Tidak lama kemudian keduanya pun sampai di tempat tujuan. Mereka berjalan dengan berbarengan. Risa menggandeng lengan Juni dengan senyum simpul diwajahnya.


"Idih! nempel terus ya kamu!" sindir Juni sembari menatap ke samping tepat dimana Risa berada.


"Iya dong! kan kamu sekarang milikku!" ujar Risa yang sekarang menyenderkan kepalanya ke bahu Juni.


"Ris, ada banyak orang loh, kamu nggak malu?" tukas Juni seraya menggerak-gerakkan bahunya agar Risa segera goyah.


"Biarin lah sekali-kali," sahut Risa santai. Dia memindahkan tangannya ke jari-jemari Juni. Sekarang keduanya tengah saling bergandengan tangan.


"Jun, kamu sudah tidak suka camilan ini ya?" Risa mengambil camilan keripik kentang kesukaan Juni saat SMA.


"Suka kok! cuman sudah jarang makan!" jawab Juni. Risa pun kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap bisa menemukan sesuatu untuk dibeli. Hingga perhatiannya tertuju kepada Amelia yang sedang berdiri tidak jauh darinya.


'Ish ngapain dia di sini sih! menghancurkan moodku saja!' batin Risa dengan dahi yang mengernyit.


"Kenapa Ris?" tegur Juni sambil mengambil barang-barang yang tertulis di catatannya.


"Jun, pindah ke sebelah yuk!" usul Risa.


"Nanti dulu, aku masih belum selesai nih!" balas Juni.


"Kita nanti kembali lagi deh!" desak Risa.


"Kenapa sih? ngebet banget!" dahi Juni berkerut.


"Juni!" suara gadis yang tidak asing memanggil. Juni pun langsung menoleh ke pemilik sumber suara yang tidak lain adalah Amelia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Risa.


'Terlambat deh!' keluh Risa dalam hati, dia mengalihkan pandangannya dari Amelia.


"Eh Mel! sendiri aja?" sapa Juni.


"Iya!" sahut Amelia singkat.


"Ris, maaf ya perihal sore tadi. Aku reflek membalasmu, harusnya kau bicarakan baik-baik," tutur Amelia dengan nada pelan.


"Iya, aku juga minta maaf!" balas Risa yang masih enggan menatap Amelia.


"Emangnya ada apa sih?" Juni penasaran.


"Anu Jun, Risa--"


Setelah menemukan semua barang yang ada di catatan, Juni dan Risa pun lantas mengantri di depan kasir. Lagi-lagi mereka bertemu Amelia.


"Kalian belum pulang juga?" tegur Amelia, dia melirik ke arah Juni.


"Baru aja selesai," jawab Juni singkat.


"Eh Jun kamu mau tahu apa yang terjadi tadi sore?" ucap Amelia, yang sontak membuat Risa melayangkan pelototannya.


"Mel, sudahlah!" dahi Risa berkerut.


"Ada apa sih? ayolah ceritakan padaku?" Juni semakin dibuat penasaran.


"Risa mengamuk kepadaku Jun, dia sampai menjambak rambutku loh!" tutur Amelia sambil tertawa kecil dan menatap ke arah Risa. "Kekanakan sekali kan?" tambahnya, yang semakin membuat Risa geram.


"Benarkah? kenapa?" tanya Juni.


"Dia mengira kau menyelingkuhimu, padahal aku sedang bersama temanku loh!" terang Amelia.


"Hah? jangan bohong Mel! jelas-jelas kamu bermesraan gitu!" timpal Risa dengan nada tinggi. Alhasil semua mata orang di sekitarnya tertuju ke arahnya.


"Ris, sudahlah! ada banyak orang!" tegur Juni dengan sedikit terkekeh. Risa hanya bisa mendengus kasar dan memutar bola mata jengah. Sekarang dia menundukkan kepala dengan wajah yang cemberut.


Juni, Risa dan Amelia telah keluar dari super market. Amelia tidak berhenti mengajak Juni berbincang. Hingga membuat Risa berjalan sendirian memasuki mobil. Juni pun bergegas mengekorinya.


"Jun!" Amelia memegangi lengan lelaki yang hendak pergi meninggalkannya. Juni berbalik dan menoleh dengan tatapan penuh tanya.


"Kamu tahu kan kita sedang break, yang artinya aku masih mencintaimu!" tutur Amelia.


"Maaf Mel, bagiku kita sudah putus sepenuhnya!" tegas Juni seraya melepaskan tangan Amelia dengan pelan. Kemudian segera pergi menyusul Risa.


"Habis ini kita nonton yuk ke bioskop!" ajak Juni seraya menutup pintu, lalu menjalankan mobilnya.


"Nggak mau! sama Amel aja gih!" ketus Risa yang tengah membuang muka dari Juni.


"Kamu cemburu?" Juni sedikit terkekeh.


"Aku cuman sebel aja sama Amel, sok dewasa banget! alay!" terang Risa dengan tangan yang menyilang di depan dada.


"Dia emang dewasa kok," balas Juni.


"Kamu membela dia Jun!" Risa menatap tak percaya.


"Bukannya gitu, aku cuman berkata jujur!" ungkap Juni. Namun Risa hanya terdiam seribu bahasa, dia merasa kecewa dengan pernyataan Juni. Entah kenapa dirinya merasa ciut terhadap kehadiran Amelia.


"Amel terlalu dewasa malah, sampai membuatku bosan. Dia sangat berbeda denganmu yang selalu bisa membuatku tersenyum," lanjut Juni.


"Jangan lebay!" Risa tak ingin percaya. Dia masih menatap ke jendela mobil.


"Idih! malah ngambek lagi!" Juni menggeleng maklum.


"Kita langsung pulang kan?" tanya Risa yang ingin memastikan.


"Ya sudah deh, pulang saja kalau begitu," balas Juni dengan menyunggingkan mulutnya ke kanan. Dia merasa gemas dengan sikap Risa.


***


Jay baru saja tiba di rumah Risa. Dia datang bersama Bayu. Kepalanya langsung celingak-celingukan untuk mencari gadis yang sedang ingin ditemuinya.


"Om, Risa-nya kemana?" tanya Jay.


"Kayaknya lagi sama Juni deh!" sahut Bayu.


"Hah? ngapain?"


"Mereka memang begitu Jay, sangat dekat sejak kecil!" balas Bayu. Tetapi Jay hanya terdiam setelah mendengar penuturannya.


Tidak lama kemudian, tampak mobil yang datang dan berhenti tepat di depan rumah sebelah. Jay yang penasaran lantas mengintip dari jendela. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan kehadiran Risa yang keluar dari mobil. Lelaki berbadan jangkung tersebut bergegas keluar dari rumah.


"Risaaa!" pekiknya dengan senyuman yang merekah. Juni dan Risa pun segera menoleh ke arah Jay. Risa terpaksa membalas senyuman Jay dengan kecut. Berbeda dengan Juni, dia menampakkan raut wajah merengut.


'Astaga, aku tidak menyangka dia datang secepat ini,' keluh Juni dalam hati.