
Amelia keluar dari pintu, dia juga terlihat begitu cantik dengan dress berwarna navy polos. Rambutnya disanggul ke atas dengan sedikit helaian rambut yang ditinggal pada area pelipisnya. Juni terpesona, dia tak mampu melepaskan pandangannya kepada sang kekasih.
"Hellooo! aku ada di sini!" Risa sengaja menutupi penglihatan Juni dari Amelia. Alhasil Juni pun mendorong wajah Risa tanpa ampun. Risa hanya bisa mengangakan mulutnya dengan mata yang melotot.
"Kurang ajar sekali nih anak!" geram Risa sembari mengacak rambut Juni yang sudah rapi.
"Risaaa!!!" pekik Juni yang tidak terima mahkota kepalanya di obrak-abrik. Lantas kedua sahabat itu pun saling bergulat untuk saling menghancurkan penampilan. Amelia yang sudah tiba di dekat mobil merasa enggan mengganggu perseteruan antara Juni dan Risa.
"Ju-ju-juni." Amelia memanggil dengan enggan. "Juni." kali ini dia mulai mencondongkan kepalanya ke arah kaca mobil.
"Juni!" akhirnya Amelia bersuara dengan nada tinggi. Sontak Juni dan Risa pun tersadar, lalu segera menoleh ke arah Amelia. Tampilan kedua sahabat tersebut sudah terlihat berantakan.
"Maaf Mel!" ucap Risa seraya membuka pintu mobil, kemudian pindah duduk ke belakang.
"Mel! maaf ya, Risa tadi jahil banget. Harusnya aku nggak usah ngajak dia!" tutur Juni dengan dahi yang berkerut.
"Haaiisss! kutu kampret berhenti nggak!" sumpah Risa yang tidak terima dirinya disalahkan.
"Lah! kenapa kamu nyalahin Risa? sudahlah. . ." ujar Amelia yang sudah duduk di samping Juni. Dia berusaha merapikan rambut Juni dengan lembut.
"Bhuwek!" Risa bertingkah seakan-akan ingin muntah melihat kemesraan di antara Juni dan Amelia.
"Kamu kenapa Ris?" Amelia yang mendengar gelagat Risa segera menegur.
"Oh nggak apa-apa! mag-ku kambuh kayaknya. Santai aja Mel! ayo jalan Jun, nanti telat!" sahut Risa santai. Juni pun mulai menjalankan mobilnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka tiba di tempat acara reuni, karena tempatnya lumayan dekat dengan rumah Amelia.
"Ris, rambutmu sedikit berantakan tuh!" tegur Amelia sembari mencoba merapikan rambut Risa.
"Oh, aku bisa sendiri kok Mel!" tepis Risa yang sontak merapikan rambutnya sendiri dengan tangan.
"Ayo Mel!" ajak Juni.
"Cuman Amel aja yang di ajak?" sindir Risa pada Juni yang sudah berjalan lebih dahulu bersama Amelia.
"Jun, Risa marah tuh!" Amelia merasa khawatir.
"Udah ah! dia sudah gede bisa ngurus dirinya sendiri. Kalau mau ikut dia pasti menyusul kok!" balas Juni sambil menggenggam jari-jemari Amelia. Risa yang melihat penampakan tersebut langsung merengut, dia pun akhirnya berjalan dengan mengepalkan kedua tangannya.
Wush!
Risa melingus begitu saja melewati Juni dan Amelia. Dia masuk lebih dahulu ke dalam ruangan. Ketika gadis itu membuka pintu, dia segera disambut oleh semua teman-temannya.
"Risa?!" Agus sontak berdiri dari tempat duduknya. Penampilannya sekarang hampir sama seperti biasa.
"Wah Risa, kamu kemana aja?"
"Makin cantik deh!"
"Kamu makin keren Ris!"
"Gimana kabarnya sekarang?"
Beragam sapaan didapatkan oleh Risa, gadis yang berhasil banyak menarik perhatian saat di sekolah dahulu. Juni yang tengah menyaksikan mengukir senyum simpul. Raut wajahnya sangat jelas bahwa dia sedang merasa bahagia dengan kehadiran Risa.
Amelia yang tidak sengaja melihat ekspresi Juni mulai merasa tersisihkan. Dia menatap Juni dengan penuh tanya. 'Jun, apa benar kau mencintaiku?' batin Amelia.
"Ris! sumpah rambutmu kenapa jadi kayak barbie? mentang-mentang sudah tinggal di London! betingkah kali!" sarkas Agus dengan cengirnya.
"Idih! bilang aja kamu mau bilang aku cantik Gus!" sahut Risa seraya memutar bola matanya. "Oh iya, Irfan mana?" tanya Risa.
Risa menggeleng. "Males, aku jadi nyamuk terus! hari ini aku mau senang-senang sendiri dahulu. Kalau sama Juni nanti aja pas di rumah!" tutur Risa dengan senyum smirk-nya.
"Hah? di rumah? emang kamu satu rumah sama Juni?" Agus merasa dibuat kaget.
"Enggak! tapi tetanggaan." Risa menatap ke arah Juni dengan binar matanya. Sahabatnya itu tampak tidak terpisahkan dengan Amelia.
"Kamu masih suka sama Juni?" tebak Agus, yang merasa curiga dengan gelagat Risa. Dia sudah mengetahui perasaan Risa terhadap Juni, sejak memergokinya mencium pipi Juni setahun yang lalu.
"Iya, suka banget. Kamu tahu nggak Gus, waktu di London aku selalu mikirin dia!" Risa menghela nafasnya sejenak. "Aku berusaha melupakannya tapi tidak bisa, dan saat mendengar ayahku akan kembali lagi berbisnis di sini, tiba-tiba saja aku kembali bersemangat!" pandangan Risa tidak teralihkan dari Juni.
Dari kejauhan Risa bisa melihat kedatangan Irfan. Benar yang dikatakan Agus, lelaki tersebut sekarang lebih berotot dan tambah macho. Dia bahkan sudah memangkas rambut kribo-nya demi mengabdikan diri menjadi polisi.
"Irfan!" seru Risa dengan nada tinggi. Lantas Irfan pun menoleh, mulutnya langsung mangap ketika menyaksikan keberadaan Risa.
"Wah, Ris! hahaha! kamu tambah keren!" ucap Irfan dengan penuh semangat.
"Kamu yang makin keren Fan! macho kali lah! makin banyak nanti cewek yang kepincut!" balas Risa sambil menekan-nekan otot di bahu Irfan.
"Ah! itu sudah pasti!" Irfan tampak percaya diri.
"Kok Juni nggak gabung sama kita ya?" tanya Risa seraya menatap Agus dan Irfan secara bergantian.
"Dia memang begitu Ris sejak pacaran sama Amelia, udah jarang nimbrung bareng kami. Kecuali dipaksa baru mau!" jelas Irfan.
"Oh, pantesan dia nggak punya banyak teman!" Risa mendengus kasar.
"Semuanya Dj akan memainkan musik untuk kalian, jika ingin bergoyang dan bersenang-senang dipersilahkan. Ayo jangan lewatkan keseruan yang hanya diadakan setahun sekali ini!" pembawa acara bersuara dengan lantang, kemudian disusul dengan musik yang bertempo dengan cepat. Kala itu Dj memainkan lagu Uptown Funk milik Bruno Mars.
"Ayo kita ke lantai dansa!" ajak Risa yang sudah memutar-mutar badannya menuju lantai dansa. Alhasil Agus dan Irfan pun ikut menyusul. Agus melakukan goyangan asal-asalannya. Sedangkan Irfan masih setia dengan gerakan menjijikannya, pantatnya berputar dengan lincah, dia seakan lupa dengan otot-otot yang sudah dimilikinya.
"Tunggu ya, aku mau ajak Juni!" Risa segera berlari ke arah Juni.
"Mel! aku boleh pinjam Juni bentar nggak?" ujar Risa dengan mengukir senyuman lebar.
"Mau ngapain kamu?" Juni bertanya dengan dahi yang mengernyit.
"Bo-boleh Ris. . ." jawab Amelia dengan hati yang terasa berat.
"Ayo Jun!" Risa menarik paksa tangan Juni.
"Mel, kamu mau ikut?" Juni berbalik untuk menatap sang kekasih. Namun Amelia hanya menggelengkan kepala sambil memberikan isyarat tangan untuk menyuruhnya pergi.
"Tuh! Amel-nya nggak mau, ayo!" Risa kembali menyeret Juni bersamanya.
"Sudah ku-bilang kan Ris, kalau nggak dipaksa pasti susah ngajak dia nimbrung!" sindir Agus pada Juni yang baru bergabung.
"Sudah dong, ini aku udah gabung!" ujar Juni yang segera menari dengan gerakan robot. Lantas Agus, Irfan dan Risa tertawa geli menyaksikan gerakannya.
Lama-kelamaan lantai dansa semakin ramai, Dj yang merasa terbawa suasana segera mengganti lampu dengan bola disko. Penerangan agak sedikit gelap dan remang-remang. Musik yang dimainkan pun berubah menjadi lagu romantis. Risa memanfaatkan momen tersebut untuk membawa Juni lebih dekat dengannya. Dia melingkarkan tangannya ke pundak Juni, lalu menempelkan jidatnya ke dahi Juni.
"Ris!" Juni mencoba membuat Risa menjauh, namun tidak bisa melawan sahabatnya yang bersikeras. Dia terpaksa menerima tatapan lekat dari Risa.
Perlahan tangan Risa mulai menangkup wajah Juni. Tanpa pikir panjang dia pun melayangkan bibirnya ke pipi sang sahabat. Sontak mata Juni membulat sempurna, tubuhnya mematung sejenak.
"Ris! cukup!!!" Juni mendorong Risa dengan paksa, dia menatap tak percaya. Kemudian segera beranjak pergi meninggalkannya.