The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 6 - Rumahku Bukan Surgaku



Tidak semua orang beranggapan tentang 'Rumahku adalah surgaku' itu benar. Iya, tidak semua orang merasa nyaman berada di rumahnya sendiri. Begitulah perasaan yang dimiliki Risa ketika dia memikirkan rumahnya.


Tempat yang disebut rumah itu, terkadang bising dan kadang begitu sepi. Mungkin untuk orang-orang yang berjalan melewati-nya akan kagum, betapa indah dan megah rumahnya.


Istilah 'Jangan menilai sesuatu dari sampulnya' adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan rumah Risa. Hal itu menjadi alasan yang kuat kenapa gadis tersebut lebih suka berada di rumah Juni dibandingkan rumahnya sendiri.


Ceklek!


Risa membuka pintu, dan segera melangkahkan kaki untuk masuk ke rumahnya. Suasana sepi lagi-lagi menyambut dirinya saat pulang. Kali ini dia pulang lebih cepat dari biasanya. Dikarenakan Juni dan keluarganya sedang berkunjung ke rumah nenek mereka.


BRAK!


Risa membanting pintu dengan sengaja untuk memecah keheningan. Perlahan dia berjalan mengintip ke ruang kerja ayah dan ibunya. Ruang kerja itu tampak kosong. Seperti biasa, ayah dan ibunya akan pulang larut lagi.


Risa merebahkan tubuhnya ke tempat tidur sembari menghela nafas panjang. Di tengah kesunyian terlintas dalam benaknya tentang Dina. Dia begitu takut kalau dirinya adalah salah satu penyebab menghilangnya gadis itu.


Risa tiba-tiba menyentuh perutnya yang bergemuruh karena lapar. Dia pun langsung beranjak pergi ke dapur. Gadis tersebut membuka makanan yang sudah disediakan oleh Mbok Ina di dalam tudung. Dia pun segera duduk di meja makan sendirian.


Mungkin seperti di film-film pada umumnya, pembantu rumah tangga akan menjadi teman baik anak majikan. Tetapi tidak untuk Mbok Ina, dia tidak sedekat itu dengan Risa. Itu pun karena Mbok Ina rumahnya dekat dan hanya perlu melaķukan pekerjaannya dari jam tujuh pagi hingga jam tujuh malam.


Tik Tok! Tik Tok!


Risa memakan nasinya pelan, dengan hanya ditemani oleh suara detik dari jam dinding. Ingin rasanya dia mengajak Juni untuk makan bersama. Pasti makanan yang ada di meja makan akan ludes olehnya.


Risa sebenarnya selalu berusaha mengajak Juni ke rumah. tetapi baik Juni maupun orang tuanya pasti akan menolak.


"Risa, perempuan sama laki-laki nggak boleh berduaan di rumah, nanti bisa menyebabkan fitnah, paling tidak harus ada satu orang yang mengawasi," kira-kira begitulah nasehat yang diberikan orang tua Juni. Risa sendiri sangat menghormati pemahaman dari mereka. Semuanya demi kebaikan anak-anaknya, tak terkecuali dirinya.


Trak!


Pintu depan terbuka, Risa tak sempat menghabiskan makanannya dan langsung berlari untuk memeriksa. 'Sepertinya hari ini ayah atau ibu pulang lebih cepat' ucap batin Risa seraya mengukir senyuman tipis.


***


"Ayo masuk!" ujar Ibunya Risa yang tersenyum lebar sambil menyuruh seorang lelaki asing masuk.


"Siapa lagi Mah?" ucap Risa dengan nada tinggi.


"Oh Risa kamu udah pulang ya? ini teman mama, Mas Galih," sahut Anggun yang terlihat sempoyongan karena mabuk.


Risa mengernyitkan dahi, dan langsung beranjak pergi ke kamar. Ini bukan kali pertama ibunya Risa membawa seorang lelaki ke rumah.


Suara bising yang sering terdengar berasal dari pertengkaran antara Bayu dan Anggun. Yang tidak lain ayah dan ibunya Risa. Hampir setiap hari mereka adu mulut. Dan Risa tahu betul nasib keluarganya sedang berada di ujung tanduk.


Melihat Ibunya yang mulai sering membawa lelaki asing ke rumah pun tak digubris oleh Risa. Sebab dia tak ingin berdebat dengan sang ibu.


BRAK!


Risa membanting pintu kamarnya, membuat suara pintu itu sedikit menggema. Risa mengamuk, dia melemparkan produk-produk kosmetik yang ada di lemari riasnya. Saking marahnya, gadis itu menghempaskan semua benda yang ada di kamarnya.


"Aaarrghh!" Risa menggeram karena marah. Tak terasa air matanya menetes, Risa bersimpuh di tengah-tengah benda yang berserakan.


Tring . . Tring . . Tring


Ponsel Risa tiba-tiba berdering, dia langsung mengatur deru nafas sembari menghapus air matanya. Ternyata itu panggilan telepon dari Juni.


Risa : Jun? (Dengan suara parau)


Juni : Ris, aku sedang di depan rumahmu!


Risa : Oh iya, sebentar, cepat banget pulangnya?


Risa : Oh . . a-a-aku lagi batuk!


Juni : Yang bener? padahal tadi baik-baik aja. Ya sudah cepetan turun.


Risa segera bersiap-siap menemui Juni, membereskan wajahnya yang terlihat sembab.


***


"Jun!" Risa memanggil sahabatnya yang sedang melihat ke arah jalan seraya memegang kantong pelastik hitam ditangannya. Juni berbalik dan langsung melambaikan tangannya dengan wajah datar.


"Kenapa?" Risa membuka pintu pagar.


Juni mendekatkan wajahnya ke wajah Risa untuk melihat dengan jelas keadaan gadis itu. Risa membulatkan matanya dan langsung menjewer kuping Juni.


"Aaaaaa!" Juni pun memekik kesakitan.


"Udah to the point aja, mau ngajak makan kan?" tukas Risa, sembari menyilangkan tangan di dada. Juni terdiam sambil melihat ke halaman rumah Risa.


"Nyokap kamu udah dateng ya?" tanya Juni penasaran.


"Iya," jawab Risa singkat.


"Kalau begitu makan-makan di rumahmu aja yuk, nih aku bawakan oleh-oleh, udah lama juga aku nggak ke rumahmu," Juni mencoba masuk melewati pagar. Hal itu sontak membuat Risa kaget dan segera menghentikan Juni agar tidak masuk ke rumahnya.


"E-e-eh Jun! nanti aja ya! anu nyokapku lagi sensitif banget!" Risa menghalangi jalan Juni.


"Terus?" balas Juni tak acuh.


"Hah? kamu nggak ngerti? kalau cewek lagi sensitif ya pasti marah-marah lah!" Risa membentak dengan kerutan di dahinya. Juni menatap sang sahabat yang terlihat marah dan berpikir sejenak. Dia pun akhirnya mengurungkan niatnya karena Risa terus bersikeras menolak.


"Oke. . Oke, kita makan diluar aja kalau begitu!" imbuh Juni.


"Di warung Pak Ali?" sahut Risa semringah.


"Iya!" balas Juni dengan seringainya.


***


"Bagaimana? apa kau-sudah ingat hal penting mengenai Dina?" tanya Juni pelan.


"Hal terakhir aku lihat Dina itu... dia ada di UKS bareng Amelia, mungkin bokapmu harus tanya ke dia!" sahut Risa seraya menyamakan langkahnya dengan Juni.


"Aku yakin, bokapku udah tanya ke dia," balas Juni sembari menatap ke depan.


"Iya bener, aku juga yakin!" ujar Risa santai. Tiba-tiba saja dirinya dikejutkan oleh sesuatu. Sontak gadis itu pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Juni bingung, dia ikut menghentikan langkah kakinya.


Tangan Risa menunjuk ke arah apotek yang berada tepat di seberang jalan. Di sana Juni dan Risa bisa melihat Dina yang tengah duduk sendirian. Gayanya terlihat lusuh, tidak seperti biasanya. Kedua sahabat itu sontak saling bertukar pandang, dan segera berusaha menyebrangi jalan.


"Din..." Risa segera menutup mulut Juni yang tengah mencoba memanggil Dina.


"Jangan dipanggil, nanti dia lari!" titah Risa dengan nada yang pelan.


"Dina!" Juni tetap berteriak memanggil Dina, setelah berhasil melepaskan tangan Risa dari mulutnya.


"Bodoh!" geram Risa seraya menepuk pundak Juni dengan sekuat tenaga.


Alhasil Dina yang mendengar teriakan Juni, langsung menoleh ke arah kedua sahabat tersebut. Gadis itu terlihat tergesak-gesak pergi dari apotek. Dia berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari Juni dan Risa.