The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 56 - Lomba Makan



Bruk!


Risa tiba-tiba menghempaskan tangannya ke meja. Juni pun lantas tersentak kaget akan hal itu.


"Ris!" Juni menggertakkan giginya.


"Haha! aku cantik sekali ya sampai kamu kayak terhipnotis gitu!" ujar Risa percaya diri.


"Idih! yang pasti cantikan Selena Gomez!" balas Juni sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Emang kamu suka lagu barat?" tanya Risa.


"Eh bukan gi--"


"Ayo nyanyikan lagu berbahasa inggris kalau begitu!" Risa menyambar kalimat yang hendak dilontarkan Juni. Gadis tersebut berusaha menahan tawa kala melihat ekspresi bingung diwajah Juni.


"Ish! nyebelin banget nih anak!" Juni mencubit hidung Risa. Dia tidak bisa mengelak bahwa dirinya memang belum mampu menguasai bahasa inggris.


"Aaa!"


Plak!


Erang Risa yang reflek memukul tangan Juni. "Makanya belajar bahasa inggris dong! biar nanti bisa duet sama Ed Sheraan!" lanjutnya.


"Siapa?" Juni mengernyitkan dahi.


"Ish! kamu memang Indonesia banget ya, taunya cuman band Noah doang. Pffft!" ejek Risa seraya menyilangkan tangan di dada.


"Enak aja, buktinya aku tahu Selena Gomez!" bantah Juni tak ingin kalah.


"Yah tahu namanya doang, lagunya kagak!" tukas Risa yang sontak membuat Juni mengerjapkan matanya dua kali.


"Aku nggak pernah bermimpi menjadi penyanyi internasional. Jujur, menjadi penyanyi sekelas nasional saja masih ragu." Juni menghela nafas sejenak.


"Maunya apa? jadi biduan desa?" goda Risa dengan sedikit terkekeh.


"Haaiss! bukan begitu juga monyet!" geram Juni yang tak terima.


"Lomba makannya jadi nggak nih?" Risa mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu serius? ngomong-ngomong kamu nggak bakalan bisa ngalahin aku loh kalau soal makanan!" tutur Juni yakin.


Risa langsung menggeleng tak percaya. "Aku rasa kamu sudah tidak memiliki kelebihan itu! lihat tubuhmu sekarang!" remehnya seraya menilik badan sahabatnya.


"Lebih baik buktikan saja langsung. Ayo pesan baksonya sebanyak mungkin!" tantang Juni dengan santainya.


"Mas! pesan bakso kerikilnya yang full plis!" ucap Risa dengan nada tinggi.


Juni dan Risa sekarang tinggal menunggu pelayan mengantarkan pesanan. Tidak lama kemudian bakso yang mereka pesan sudah siap. Juni yang merasa lapar, sudah memegangi sendok dan garpu.


Ilustrasi bakso yang dimakan Juni & Risa :



"Eh tunggu dulu Jun!" cegah Risa kepada lelaki yang duduk di hadapannya.


"Kenapa? ada apa?" protes Juni.


"Bukankah kita akan lomba? berarti yang menang harus mendapat imbalan kan?" tutur Risa. Juni yang mendengar lantas berpikir sejenak.


"Bagaimana kalau truth or dare? jadi siapa yang paling banyak menghabiskan bakso, dialah pemenangnya!" usul Risa yang sontak membuyarkan lamunan Juni.


"Apa?" Juni meringiskan wajahnya.


"Kenapa? kau takut?" Risa melayangkan tatapan tajamnya.


"Ih! apaan sih! aku cowok loh Ris!" tepis Juni.


"Nggak perlu nyindir masalah gender lah nyetmo!" Risa menggertakkan gigi, dilanjutkan dengan melahap se-sendok bakso ke mulutnya.


"Monyet!" ucap Juni tepat ke arah wajah Risa, dia mencoba membenarkan ejaan sahabatnya. Kemudian ikut memakan baksonya.


"Aku sengaja menyensor ucapanku loh! malah dibenerin, nyebutnya tepat ke wajahku lagi," Risa menatap sinis ke arah sahabatnya. Namun Juni hanya merespon dengan tawa kecilnya sembari terus melahap baksonya.


Risa menggeleng maklum. "Aku nggak mau ngomongin tentang kamu Jun, nanti ngambek lagi!" sindir Risa tanpa melihat ke lawan bicaranya.


"Aku bingung kenapa sih monyet selalu jadi bahan ejekan? salah mereka apa?" ungkap Juni dengan nada dramatis.


Plak!


Risa langsung melayangkan cap lima jarinya ke pipi sahabatnya. "Diam Jun! orang makan nggak boleh sambil bicara!" geramnya.


"Eh! Ris--"


Sebelum Juni sempat menyelesaikan ucapannya, Risa langsung menegur dengan pelototannya. Juni pun mengangkat kedua tangan, lalu kembali melanjutkan menyantap hidangannya.


Juni dan Risa sudah menghabiskan satu porsi bakso mereka. Jujur saja, keduanya memang sudah kenyang. Namun perasaan ambisius yang mereka miliki, membuat kedua sahabat itu kembali memesan satu porsi bakso lagi. Alhasil pelayan pun mengantarkan hidangan pesanan mereka untuk yang kedua kalinya.


Risa menghela nafas panjang, kala menatap semangkok bakso di hadapannya. Juni yang tidak sengaja menyaksikan ekspresi lelah sahabatnya lantas buka suara.


"Kenapa Ris? nyerah?" Juni tertawa remeh.


"Enggak lah yaw!" tegas Risa. Mereka pun kembali memakan bakso porsi kedua.


Perlahan mata Juni dan Risa mulai berkaca-kaca. Dikarenakan isi perut mereka sudah hampir penuh, dan menolak untuk memberi ruang lagi.


Risa mulai meneteskan air matanya tanpa sengaja. Baru kali ini rasa kenyang sangat menyiksanya. Hal yang sama juga terjadi kepada Juni, hanya saja gelagatnya lebih santai dibanding Risa.


"Sudah cukup Ris? nanti berak di celana loh!" goda Juni, namun tidak membuat Risa berhenti melahap baksonya.


Glek!


Juni menenggak baksonya dengan paksa. "Uhuk! uhuk! uhuk!" alhasil dia pun ke-selek dengan bahan makanan tersebut.


"Tuh kan, ditegur sama setan penjaga sini. Makanya jangan terlalu percaya diri. . ." timpal Risa dengan nada pelan. Dia kembali menghela nafas panjang.


Setelah memakan waktu cukup lama. Risa dan Juni kembali berhasil menghabiskan bakso porsi kedua. Mereka menghabiskan dalam waktu yang bersamaan.


"Belum ada yang menang, jadi kita pesan lagi," ucap Juni, yang dilanjutkan dengan kembali memesan bakso porsi ketiga.


'Astaga, bertahanlah Ris! kamu pokoknya tidak boleh kalah. Supaya bisa kasih truth or dare sama Juni,' batin Risa yang menyunggingkan mulutnya ke kanan.


'Kamu pasti kalah Ris!' Juni ikut berkata dari dalam hatinya.


Satu mangkok bakso telah datang. Baik Juni dan Risa sama-sama mengukir senyum paksa diwajahnya. Mereka kembali memakan bakso porsi ketiganya.


Lama-kelamaan perut Risa mulai menolak. "Huwek!" dia hampir saja memuntahkan makanannya.


"Ris, sudahlah jangan dipaksakan lagi!" ujar Juni sembari menghapus air mata yang tidak sengaja berjatuhan.


Risa yang sudah tidak sanggup lagi akhirnya tepaksa menggeleng, dan meletakkan sendoknya kembali. Juni yang melihat sontak menelan satu sendok bakso lagi untuk menambah poin kemenangannya.


"Wuhuuu!!!"


Prok! Prok Prok!


Girang Juni yang disertai dengan tepuk tangannya. Risa hanya bisa menatap malas ke arah sahabatnya.


"Oke, cepat katakan pilihanmu? truth atau dare?" ucap Risa dengan raut wajah jengkelnya.


"Nanti saja, aku ingin menggunakannya di waktu yang tepat!" balas Juni yang tidak berhenti tersenyum.


"Terserah! tetapi jangan kelamaan ya, ini juga punya batas waktunya loh!" tegas Risa sambil mengangkat dagunya sekali.


"Idih. . . udah kalah banyak maunya, terserah aku dong!" sahut Juni, yang dilanjutkan dengan tawa kecilnya. Risa hanya bisa memutar bola mata jengah.


Malam semakin larut, Juni dan Risa memutuskan untuk kembali ke hotel. Keduanya sekarang kembali menaiki taksi.


"Kamu ini ya Jun. Cowok cuman punya uang setipis itu! Amel emangnya minta beliin apa aja sama kamu?" tukas Risa yang geram, karena sebagian besar biaya bakso dibayar olehnya.


"Hahaha! nanti aku bayar deh, kalau aku sudah kaya!" jawab Juni dengan tawa pecahnya.


"Idih! malah tawa lagi!" balas Risa, yang pada akhirnya ikut tertawa.