
"Tenanglah Ris!" Jay mencoba menenangkan Risa yang masih menampakkan wajah cemberutnya.
"Ello, kenapa kau berbicara seperti itu?" Anggun mencoba menegur. Ello pun merasa menyesal, toh dia juga agak ketakutan dengan pelototan Risa.
"Maaf, maaf Ris! aku nggak bermaksud--"
"Cukup sudah! aku akan pergi saja!" Risa tidak mampu membendung amarah. Dia langsung beranjak pergi keluar dari cafe. Kali ini Jay yang berusaha mengikutinya.
Juni terlihat sudah naik ke atas panggung. Dia mencoba mencari keberadaan Risa. Namun dahinya langsung berkerut, karena tidak berhasil menemukan keberadaan kekasihnya. Dirinya sempat terdiam cukup lama.
'Risa kok tiba-tiba menghilang? jangan-jangan dia sudah pulang lagi' gumam Juni dalam hati.
"Ayo Jun!" salah satu temannya menegur, Juni lantas tersadar dan segera bernyanyi, meskipun tidak menyaksikan kehadiran Risa.
Di sisi lain, Risa ternyata hanya sedang duduk di gazebo yang ada di depan cafe. Tentu saja bersama Jay yang sebenarnya masih belum memahami perasaannya.
"Kau kenapa Ris?" tanya Jay lembut.
"Aku hanya ingin menenangkan perasaanku. Itu saja!" Risa menjawab singkat.
"Sepertinya kau sangat membenci ibumu ya?"
"Entahlah. Pokoknya kala aku melihat wajahnya, aku selalu ingat dengan kebiasaannya di masa lalu. Mabuk-mabukkan dan bermain dengan banyak lelaki." Risa bercerita dengan kepala yang menunduk sendu.
Jay memancarkan binar iba. "Pantas saja kau begitu membencinya. Tetapi bukankah itu sudah lama berlalu?" ujar-nya yang di akhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Aku tahu. Tetapi hatiku masih merasa kesal Jay, padahal aku terus berupaya menemui Ibu. . ."
"Mungkin kau butuh waktu," imbuh Jay sembari membelai pelan rambut Risa.
***
Tring. . .
Juni mengakhiri penampilannya dengan petikan gitar. Matanya kembali mengedar ke segala penjuru untuk menemukan Risa. Selanjutnya dia pun segera turun dari panggung, dan mencoba berjalan keluar dari cafe. Namun bukannya bertemu dengan Risa, dirinya malah berjumpa Amelia.
"Juni!" Amelia tersenyum lebar seraya memegangi tas karton di genggaman tangannya.
"Amel?" Juni tersenyum tipis.
"Kenapa wajahmu datar begitu? kau tidak senang ya bersua denganku?" tukas Amelia yang sekarang menunjukkan mimik wajah merengut.
"Eh siapa bilang! nggak kok!" tegas Juni sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ayo, kau mau pesan minuman?" tawarnya sambil menyamakan langkah dengan Amelia.
Jay yang tidak sengaja menyaksikan kehadiran Amelia hanya membulatkan mata. Dia sejenak memindahkan atensinya kepada Risa. Gadis itu sedang duduk membelakangi pemandangan yang terjadi di antara Juni dan Amelia.
'Haruskah aku mengatakannya pada Risa? tidak! mungkin amarahnya akan melonjak naik lagi. Aku tidak ingin melihat Risa frustasi!' batin Jay sambil menatap serius ke wajah gadis di depannya. Dia sama sekali tidak mendengarkan kalimat yang tengah diucapkan Risa.
"Jay?" Risa memergoki Jay yang masih bergumul dengan pikirannya sendiri. "Jay!" panggilnya sekali lagi dengan suara yang lebih nyaring dari sebelumnya.
"Eh!" Jay sontak tersadar. "Kenapa?" tanya-nya, yang tentu membuat dahi Risa mengukir kerutan.
"Apa kau mendengarkan omonganku?" ujar Risa.
"Maaf! pikiranku pergi kemana-mana, kau bicara apa?" Jay malah berbalik tanya. Risa lantas menggertakkan gigi dan melayangkan cap lima jarinya ke pipi Jay.
"Hei!" protes Jay sambil memegangi area pipinya.
"Harusnya aku-lah yang kesal Jay!" balas Risa tak ingin kalah.
Sedangkan di dalam cafe, Juni tengah duduk satu meja bersama Amelia. Keduanya saling terdiam dalam beberapa detik, seolah bingung hendak membicarakan apa.
"Jun, Risa sudah pernah lihat kamu tampil di sini nggak?" tanya Amelia, yang buka suara lebih dahulu.
"Tadinya bakalan menjadi pernah. Tetapi batal secara tiba-tiba!" jawab Juni dengan helaan nafas berat.
"Benarkah? kenapa?" Amelia mencondongkan kepalanya. Dia tertarik dengan penuturan yang baru saja dikatakan Juni.
"Mungkin ada yang mendesak kali, makanya dia pergi," imbuh Amelia. "Oh iya, aku punya sesuatu untukmu!" lanjutnya sembari menyodorkan tas karton yang tadi ia bawa.
"Apa ini?" kening Juni mengernyit.
"Ambil saja lah! anggap saja sebagai hadiah. Karena kau sudah banyak membantuku. Apalagi ketika aku kesulitan merawat ibuku," tutur Amelia, tersenyum tipis.
"Ngapain repot-repot sih Mel. Lagian aku tulus kok bantuin kamu."
"Aku juga tulus kok!" Amelia bersikeras.
"Ya sudah, kalau begitu aku terima ya?" Juni melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
***
"Inilah alasanku tidak jatuh cinta kepadamu Jay, kau itu cuek banget! aku mau cari Juni saja!" Risa bangkit dari tempat duduknya. Namun segera mendapatkan cegatan dari Jay.
"Nanti saja-lah, tunggu ibu dan saudara tirimu itu pulang, nanti kau kesal lagi loh!" Jay memegangi lengan Risa.
"Aku cuman mau ketemu Juni kok!" Risa tetap bersikukuh. Alhasil Jay pun mengalah, toh dia tidak bisa mengalahkan keinginan Risa yang sedang keras kepala.
Risa sekarang berderap masuk ke dalam cafe. Kepalanya celingak-celingukan untuk mencari batang hidung kekasihnya. Pupil matanya membesar ketika menyaksikan Juni sedang mengobrol bersama Amelia. Dia semakin kesal, karena melihat semburat tawa diwajah Juni. Lelaki tersebut seakan sangat menikmati pembicaraannya.
"Ada yang selingkuh nih. Mungkin Juni belum move on sama mantannya!" Ello tiba-tiba bersuara tepat ke telinga Risa.
Buk!
Karena kesal, Risa melayangkan tinjunya ke wajah Ello. Amarahnya berhasil kembali membuat dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
"Mulutmu itu lebih panas dari pada kompor di rumahku, persetan dengan saudara tiri sepertimu!!!" geram Risa yang disertai sumpah serapahnya.
"Ris!" Juni datang dari belakang. Dia mencoba menenangkan Risa. Namun langsung mendapatkan tepisan dari kekasihnya.
"Apaan sih kamu Jun! ladeni Amel saja sana!" tukas Risa. Dia segera beranjak pergi keluar cafe. Juni yang merasakan ada kesalahpahaman mencoba mengejar Risa.
Anggun yang juga tidak sengaja melihat kemarahan Risa hanya bisa terdiam. Dia tidak mampu melakukan apapun untuk menenangkan putrinya. Jika nekat, mungkin malah akan menambah kekesalan dalam diri Risa.
"Risaaa!" Juni berusaha meraih lengan Risa. Sudah dua kali ia mendapatkan penolakan. Hingga akhirnya Juni pun memaksa badan Risa berbalik dan menatapnya.
"Apaa? hah!!" mata Risa menyalang, pertanda amarahnya belum pudar sepenuhnya.
"Kamu yang kenapa Ris?" Juni mengguncang badan Risa.
"Apa? justru kamu yang kenapa? bukannya menghabiskan waktu denganku, malah pilih sama Amel!" ungkap Risa dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kamu yang aneh! kenapa tiba-tiba menghilang? aku tadi sudah tampil loh!" Juni mengerutkan dahi.
Risa melepaskan cengkeraman Juni. "Aku hanya. . ." ucapnya yang tak mampu melanjutkan. Dia sekarang memegangi kepalanya sendiri. Mata Risa bahkan mulai sedikit ber-air.
"Kamu baik-baik saja kan?" Juni merasa cemas.
"Aku butuh obatku Jun, berikan sekarang juga!" ujar Risa. Dia berusaha menenangkan diri, dengan cara meliarkan pandangannya kemana-mana.
"Oke, ya sudah, ayo ikut aku!" Juni membawa Risa ikut bersamanya. Jay yang baru saja datang berusaha menghampiri Risa.
"Stop Jay!" tegas Juni sembari menampakkan ekspresi serius. Alhasil Jay pun urung, dia paham dengan maksud lelaki yang sedang menggandeng tangan Risa.
Namun siapa sangka Juni kembali lagi kepada Jay untuk memberitahukan, "Go home first Jay! me and Risa will be long. (Pulanglah lebih dahulu Jay! aku dan Risa akan lama.)"
Setidaknya begitulah kalimat yang di ucapkan suara wanita dari aplikasi penerjemah Googl€.
Jay hanya tertawa kecil sambil menggeleng tak percaya.
"Jay!" Amelia tiba-tiba menyapa. Jay lantas menoleh dan mengangkat kedua alisnya penuh tanya.