The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 104 - The Story Of Juni (Perjuangan)



Juni menoleh ke arah gadis yang telah memanggilnya. Dia ternyata adalah Rahma, sepertinya kabar kegagalan Juni sudah terdengar sampai ke telinganya.


"Mamah. . ." lirih Juni sembari menatap nanar sang ibu.


Rahma tidak berucap apapun, dia hanya berjalan mendekati Juni. Kemudian membawa masuk putranya ke dalam dekapannya. Sekarang keduanya sama-sama menangis. Ditemani oleh suara tetesan hujan yang berjatuhan ke tanah.


***


Juni baru selesai mandi, dia menatap pantulan dirinya di cermin. Hela nafas panjang berhasil lolos melewati paru-parunya. Dia sebenarnya sudah merasa lelah dengan masalah yang ada dihidupnya.


Sekarang Juni tidak punya rencana lagi selain berlatih memainkan biola. Jika sedang di rumah dia sering menghabiskan waktunya dengan bermain biola. Suara yang ditimbulkan dari alat musik bergesek tersebut sedikit menenangkan pikiran Juni.


'Apa aku sudah gila? kenapa aku malah menyukai musik klasik sekarang?' keluh Juni dari lubuk hatinya. Seiring berjalannya waktu Juni semakin lihai bermain biola. Dia bahkan malah menyukainya.


Beberapa hari kemudian, tibalah sudah penampilan Juni bersama kelompoknya untuk mempersembahkan alunan musik mereka. Sekarang mereka sedang berada di atas panggung dan masing-masing sudah memegangi alat musiknya sendiri. Termasuk Juni yang sedari tadi wajahnya tampak ditekuk.


Musik pun perlahan dimulai. Juni dan kelompoknya memilih lagu Danse Macabre karya Camille Saint. Alunan musiknya sendiri agak dramatis dan mengunggah emosi.


Musik yang di awali dengan lantunan lembut tersebut perlahan berubah menjadi bertempo cepat. Suara gesekan biola yang lebih mendominasi mengharuskan Juni unjuk gigi. Dia semakin terbawa arus emosi. Apalagi mengingat kisah hidupnya semakin berantakan seolah tidak ada harapan sama sekali. Bahkan untuk bertemu dengan orang yang dicintai pun terasa sulit.


Juni menggesekkan biolanya semakin intens, karena terbawa perasaan. Hingga dirinya hampir tak menyadari kalau semua teman-temannya sudah mengakhiri penampilan mereka.


"Psst! Jun! kau tidak--"


"Eh! biarkan saja." Pak Dirga memotong ucapan Ratih yang hendak mencoba menyadarkan Juni.


Trak!


Ketika bilah biola patah barulah Juni menghentikan permainannya. Matanya langsung terbelalak kala dirinya baru menyadari tengah bermain sendirian. Ditambah ia juga telah mematahkan bilah biola yang merupakan salah satu fasilitas kampus. Namun tanpa diduga dia malah mendapatkan tepuk tangan meriah dari semua orang. Bahkan Pak Dirga tampak menatap kagum Juni.


"Itu permainan yang sangat bagus sekali. Benar-benar mengunggah emosi!" puji Pak Dirga seraya tersenyum lebar. Hingga membuat Juni mengharuskan dirinya untuk mengucapkan kata maaf dan terima kasih.


Penampilan Juni dan kelompoknya hari itu benar-benar berjalan sangat baik. Mereka bahkan mendapatkan nilai yang tinggi. Meskipun begitu Juni disuruh mengganti bilah biola yang sudah dipatahkannya.


"Kau hebat Jun! aku tidak menyangka kau bisa bermain dengan lihai secepat itu!" tutur Ratih.


"Ya iyalah, aku kan selalu berlatih di rumah. Bahkan terkadang sampai lupa makan tau!" balas Juni.


"Yang benar? aku jadi merasa bersalah karena terus mendesakmu, maaf ya. . ." Ratih mengusap tengkuknya tanpa alasan.


"Apaan sih! aku sebenarnya malah senang bisa belajar hal yang baru. Lagi pula kebisaan yang aku miliki berdampak positif untuk kualitas diriku juga kan?" ujar Juni dengan senyuman tipis.


"Kau benar!" respon Ratih sambil mengangguk pelan. "Jangan lupa mengganti bilah biola yang kau patahkan ya! nanti semua kelompok lagi yang kena imbasnya!" tambahnya yang segera beranjak pergi.


Drrrt. . . Drrrt. . .


Ponsel Juni bergetar. Dia pun segera memeriksa pesan yang baru masuk tersebut. Ternyata itu adalah pemberitahuan pesan, kalau Juni sudah menerima uang sepuluh juta di rekeningnya. Uangnya berasal dari pihak penyelenggara kontes The Real Singer 8. Juni mendapatkannya karena sudah berhasil lolos ke dua puluh besar.


'Apa ini mimpi? aku bisa pakai uang ini untuk pergi ke London!' pikir Juni, yang langsung bersemangat. Perasaannya yang kalut sontak berubah menjadi penuh energi. Juni pun bergegas untuk kembali ke rumah dengan mengendarai motornya.


Tak! Tak! Tak!


Sesampai di rumah, Juni segera mencari keberadaan ibunya untuk memberikan kabar. Namun langkah kakinya mendadak terhenti di depan pintu kamar Rahma. Sebab ia mendengar pembicaraan serius sang ibu melalui telepon.


Juni mendengar kalau ibunya masih dikejar-kejar oleh hutang. Hatinya menjadi semakin sedih kala menyaksikan Rahma bercucuran air mata akibat berusaha memohon perpanjangan waktu.


"Aku tahu hutangku hanya tinggal lima belas juta, tetapi sekarang aku benar-bena tidak memiliki uang sebanyak itu!" ucap Rahma sambil terisak.


'Sepertinya aku tidak bisa pergi sekarang!' batin Juni seraya menundukkan kepala. Dia menunggu ibunya mematikan panggilan telepon.


Rahma terlihat sudah terdiam, Juni pun segera menghampirinya. Dia memposisikan dirinya duduk di sebelah sang ibu.


"Eh Juni!" Rahma merasa sedikit kaget dengan kedatangan Juni. Dia segera menghapus air mata yang ada dipipinya.


"Mah, hutangnya tinggal berapa?" tanya Juni lembut.


"Ngapain kamu mikirin hutang Mamah! itu biar Mamah aja yang urusin!" Rahma menepuk pelan pundak Juni.


"Benarkah? berapa banyak?"


"Sekitar sepuluh juta."


"Tapi Jun, Mamah--"


"Enggak! pokoknya Mamah harus pakai duit itu buat bayar hutang! sekarang katakan kepadaku hutangnya tinggal berapa?" Juni akhirnya terpaksa bertindak tegas. Agar sang ibu tidak terus-terusan menolak bantuannya.


"Lima belas juta Jun, uangmu itu bahkan tidak cukup. . ." sahut Rahma yang di akhiri dengan nada lirih.


"Kalau begitu lima jutanya pakai uang kuliahku saja Mah!" Juni mengusulkan, dan langsung mendapatkan pelototan dari Rahma.


"Enggak! pokoknya Mamah nggak mau mencemari uang yang telah dipersiapkan ayahmu itu!" tegas Rahma, hingga membuat Juni seketika ciut.


"Ya sudah, kalau begitu bayar sepuluh juta dahulu saja!" ujar Juni, dan kali ini Rahma mau menerimanya.


***


Keesokan harinya saat di kampus. Juni tengah duduk santai di dalam kelas bersama Ervan. Tiba-tiba seorang asisten dosen memanggil namanya.


"Juni, Pak Erik mencarimu. Kau disuruh pergi ke ruangannya!" perintah asisten dosen tersebut.


"Astaga, kau melakukan kesalahan apa Jun? jangan-jangan gara-gara insiden bilah biola kemarin itu lagi!" tebak Ervan dengan keadaan mata yang membola.


"Apaan sih! aku sudah menggantinya dengan bilah biola milikku!" bantah Juni, yang segera berlalu pergi. Dia sekarang berada di ruangan Pak Erik. Anehnya Juni tidak sendiri, ada Ratih dan Ello juga tampak hadir di sana.


Ceklek!


Pak Erik baru saja masuk, dia segera duduk bersama Juni dan yang lain.


"Sebelumnya Bapak ingin mengucapkan selamat kepada kalian bertiga. Kalian adalah mahasiswa yang dipilih untuk mendapatkan beasiswa ke London!" terang Pak erik pelan.


Deg!


Jantung Juni berdegub kencang. Dia benar-benar lupa mengenai kabar beasiswa tersebut.


'Benar! ada beasiswa ke London. Aku hampir lupa! apa ini mimpi? aku? terpilih? bagaimana bisa?' gumam Juni dalam hati yang masih merasa tak percaya.


"Tapi sebelumnya Bapak minta maaf, karena kami hanya akan memilih dua kandidat. Bapak sebenarnya memilih Ratih dan Ello, tetapi Pak Dirga bersikeras merekomendasikan Juni. Jadi, karena waktu masih banyak, Bapak akan memberikan kalian kesempatan untuk membuktikan kesungguhan kalian." Pak Erik menjelaskan panjang lebar.


"Jadi kami harus menjalani sejenis tes?" tanya Ratih.


"Iya!" Pak Erik mengangguk yakin. Setelah selesai memberitahukan pengumuman, Juni Ratih dan Ello pun dipersilahkan keluar dari ruangan.


Ketika berada di luar Ello langsung mencengkeram erat kerah baju Juni.


"Bagaimana caramu membayar Pak Dirga hah! seandainya bukan kamu, aku dan Ratih tidak harus melakukan tes lagi!" geram Ello dengan nada penuh penekanan.


"Kak Ello kenapa marah! Juni pantas mendapatkan kesempatan itu. Kakak tidak melihat betapa hebatnya penampilannya kemarin!" Ratih mencoba membantu Juni.


"Jika kau ingin bertarung, lakukanlah saat tes penentuan nanti!" tegas Juni sembari melepaskan paksa tangan Ello dari kerah bajunya. Alhasil Ello pun hanya bisa mengepalkan tinju di tangannya.


Ketiga kandidat diberi waktu sekitar dua bulan untuk bersiap sebelum melakukan tes penentuan. Juni kala itu benar-benar belajar sungguh-sungguh. Dia bahkan rela les bahasa inggris setiap hari agar bisa berbicara fasih dengan menggunakan bahasa tersebut.


Selain itu Juni juga berusaha belajar mengenai musik klasik yang sebenarnya dulu sangat dibencinya. Sekarang anehnya, dia malah ketagihan mendengarkannya. Bahkan ia berniat ingin menguasai instrumen-instrumen musik yang sering digunakan untuk membuat alunan klasik.


***


Dua bulan kemudian. . .


Juni, Ratih dan Ello telah melakukan tes. Sekarang Pak Erik akan memberitahukan siapa yang terpilih melalui surat resmi.


Dalam genggaman Juni sudah ada surat yang diberikan oleh Pak Erik. Dia mencoba mencari tempat yang jauh dari keramaian untuk memeriksa isi surat tersebut. Juni perlahan membuka amplopnya, lalu segera membaca pemberitahuannya. Dan dia dinyatakan. . .