
Risa menampakkan raut wajah semringah kala menyaksikan kemunculan Juni. Gadis berambut merah muda itu menatap sahabatnya dengan sorot mata yang dalam. Tanpa pikir panjang dia pun segera bergegas menghampiri Juni.
"Jangan baper ya, aku ke sini karena mau memeriksa saja!" ujar Juni.
"Rasa baper itu nggak bisa dibendung Jun. Baper ya baper!" Risa mencoba memeluk Juni.
"Ish, jaga jarak! aku nggak mau dekat-dekat kamu lagi. " Juni melangkah mundur. "Ayo pulang!" tambahnya sambil berbalik untuk berjalan menuju mobil.
"Cih! jujur aja kamu senang kan? mana ada cowok yang nggak senang kalau ada cewek yang menyerahkan diri." Risa menatap Juni dengan sudut matanya.
"Ris! kamu ya, sudah sana pulang sendiri saja!" Juni menjauhkan Risa dari mobilnya. Namun malah direspon dengan tawa geli oleh sahabatnya.
"Sini ku-cium, aku gemas sekali. Mmmuaach!" goda Risa dengan pose bibir ingin mencium. Tetapi segera ditepis oleh Juni, dengan menjambak ribuan helai rambutnya.
"Kamu kesambet setan apa Ris saat di London?!" ucap Juni dengan eskpresi serius.
"Aaa! sakit Jun!" keluh Risa yang tengah berusaha melepaskan cengkeraman tangan Juni.
"Nah sudah mulai kesakita--" Juni segera menghentikan aksinya saat hampir semua orang disekitarnya terpana melihat kelakuannya.
"Haiisss! kurang ajar, beneran minta dicium nih anak!" Risa menendang bokong Juni dengan jurus karate-nya.
"Aaaaa!" erang Juni yang hampir tersungkur. Dia hanya bisa menggertakkan gigi, kemudian masuk lebih dahulu ke dalam mobil. Dan tidak lupa untuk langsung menguncinya.
"Eh Jun! kok di kunci. Jangan main-main ah!" Risa berusaha keras menarik-narik pintu mobil.
"Naik abang baju hijau saja ya, kan kamu bisa keliling tuh. aku lagi kesal soalnya sama kamu!" ucap Juni yang sudah membuka kaca mobil. "Nah tuh sudah datang, aku sudah pesankan tadi!" lanjut-nya seraya menunjuk keberadaan ojek online yang baru datang.
"Eh nggak mau Jun! kamu tega banget sih!" Risa mencoba menghentikan kaca mobil yang ingin menutup kembali. Tetapi usahanya pupus, ketika Juni mulai menjalankan mobilnya.
Risa hanya bisa menghentakkan kaki kesal. Lantas dirinya pun terpaksa ikut ojek online yang telah dipesankan oleh Juni.
"Ngapain dia kembali ke sini juga!" gumam Risa sembari naik ke belakang motor lelaki berjaket hijau.
***
Pemilihan anggota klub pemusik untuk jurusan Seni Musik telah tiba. Semua mahasiswa/i diwajibkan untuk mengikutinya, toh mereka juga bisa memanfaatkan klub tersebut sebagai jalan untuk ajang menunjukkan bakat yang mereka miliki.
Juni mengeluarkan nafas lewat mulut, dia sedang duduk di kursi penonton untuk menunggu gilirannya. Sudah sedari tadi keringat dingin menemani-nya. Dirinya merasakan gugup yang teramat sangat.
"Kak Jun!" panggil seorang mahasiswi dengan perawakan mungil, dia sering di sapa dengan nama Mona. "Semangat ya Kak!" sambungnya dengan raut wajah malu-malu.
Juni tersenyum dan membalas, "Makasih ya Mon!"
"Aaaaa!" teman-teman Mona berteriak histeris. Ketika melihat Mona berhasil mendapatkan respon dari Juni.
"Bro! aku sudah yakin kamu lolos audisi!" Ervan merangkul pundak Juni. Dia adalah teman satu angkatan dengan-nya.
"Jangan ngibul kamu, dari mana juga tahu!" bantah Juni menatap Ervan malas.
"Tuh! sudah banyak penggemarnya!" Ervan menunjuk ke arah Mona dan teman-temannya.
"Tambah satu lagi!" Risa tiba-tiba muncul dan segera duduk di samping kanan Juni.
"Idih! ngapain kamu ke sini?" Juni meringiskan wajah saat melihat kedatangan Risa.
"Hai Ris!" sapa Ervan seraya melambaikan tangan.
"Emang kenapa?" tanya Juni.
"Dia cantik!" Ervan tersenyum sambil menatap ke arah Risa. Namun segera mendapatkan pukulan dijidat dari Juni.
"Aduh! kenapa aku kena pukul? emang aku salah apa Jun?" protes Ervan yang tidak terima jidatnya dipukul.
"Jun, kamu urutan nomor berapa?" tanya Risa santai.
"Hampir terakhir kayaknya," jawab Juni. "Ngapain kamu di sini?" Juni menatap sahabatnya.
"Pakai tanya segala lagi, ya buat dukung kamu lah. Toh habis audisi kalian, selanjutnya kan jurusan kami!" terang Risa seraya menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Kalian pacaran atau apa? bukannya kamu pacaran sama Amel, Jun?" Ervan mencoba masuk ke dalam percakapan dua sahabat di sebelahnya.
"Kami--"
"Iya, aku pacar kedua Juni!" Risa menyambar perkataan Juni.
"Hah?" Ervan terperangah.
"Ih nih anak, otaknya udah sengklek kali!" Juni memukul pundak Risa.
"Haha! Hei kamu," Risa menunjuk ke arah Ervan dan menambahkan, "aku cuman bercanda!"
"Hahaha! iya, iya aku mengerti!" Ervan mengangguk-anggukkan kepala dengan tawa gelinya.
"Amel nggak datang Jun?" Risa menatap Juni sembari menopang dagunya.
"Enggak!" sahut Juni singkat.
"Jangan bilang, dia masih nggak tahu kamu bisa nyanyi!" tebak Risa.
"E-e-nak aja, ya tahulah!" bantah Juni dengan dahi yang berkerut. Melihat gelagat Juni yang agak gelisah, Risa pun melayangkan tatapan tajamnya.
"Sudah Ris, jangan bikin ulah! ini momen berhargaku." Juni memperlihatkan raut wajah datarnya. Lantas Risa hanya bisa terkekeh mendengar jawaban ambigu dari sang sahabat.
Beberapa saat kemudian, akhirnya nama Juni dipanggil ke depan. Hal tersebut sontak membuat Risa dan yang lain bertepuk tangan dengan penuh semangat.
Berbeda dengan Juni, yang masih berusaha mengatur kegugupannya. Sekarang dirinya sudah berada di atas panggung. Para senior segera menyuruhnya untuk menampilkan bakat yang ia miliki.
'Astaga, apa bisa aku melakukannya? tanganku terus gemetaran. Semua mata orang-orang di sini tertuju padaku. Ayah, andai kau masih ada.' ucap Juni dalam hati sambil mengambil gitar yang disodorkan oleh panitia.
"Ayo, dipersilahkan!" ujar salah satu dosen yang duduk dikursi juri.
Juni mengangguk pelan. Dia memulai memetik senar gitarnya. Hal itu sontak membuat Mona dan teman-temannya berteriak histeris, seolah tidak sabar untuk menyaksikan penampilan Juni.
Risa yang melihat tingkah sekumpulan gadis tersebut merasa jijik. 'Lebay banget mereka! pengen aku jitak kepalanya satu-satu!' geram Risa dalam hati. Selanjutnya Risa kembali menyaksikan penampilan Juni, ekspresinya berubah datar seketika kala melihat kegelisahan diwajah sahabatnya.
Juni terus menundukkan kepala, dia masih mengumpulkan keberanian. Peluh mulai menghiasi pelipisnya.
"Jun! Juni!" pekik Risa dari kursi penonton, yang sontak membuat atensi semua orang tertuju kepadanya. Tak terkecuali Juni. Sekarang kedua sahabat itu saling bertukar pandang dari kejauhan. Risa tersenyum sambil mengangkat tangan dengan kepalan-nya. Ekspresi gadis tersebut membuat Juni yakin.
Dengan menghela nafas sejenak, Juni pun mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Meskipun dengan suara yang sedikit bergetar akibat gugup, tetapi dia bisa tampil dengan sangat bagus.
Juni memilih lagu kesukaannya dan Risa untuk ditampilkan, yaitu lagu Langit Tak Mendengar dari Noah. Entah kenapa lagu itu tiba-tiba terlintas dalam benaknya.