The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 39 - Perihal Kencan



Juni dan Risa berjalan dengan berdampingan. Tiba-tiba dari jauh, seorang lelaki paruh baya tampak berjalan mendekat. "Kamu Juni Anugerah yang ikut audisi tadi kan?" sapa-nya sembari menunjuk ke arah Juni.


"Iya!" Juni mengangguk.


"Kenalkan saya Pak Hendra!" saling bersalaman dengan Juni.


"Ada keperluan apa ya Pak?" Risa ikut merasa penasaran.


"Cuman mau menawarkan kamu buat jadi penyanyi di cafe saya. Nih alamatnya, silahkan dipikirkan dahulu ya. Ditunggu secepatnya!" ucap lelaki itu kepada Juni, yang kemudian bergegas pergi.


"Wah! baru juga penampilan pertama, udah dapat tawaran." Risa menyenggol sahabatnya dengan siku. Sedangkan Juni terlihat tidak bisa menyembunyikan senyum puas-nya.


"Tuh! tuh! senang banget kayaknya," goda Risa sekali lagi seraya mengaitkan tangan ke lengan Juni.


"Udah ah!" Juni merubah ekspresinya menjadi datar.


"Juni!" panggil Amelia yang baru muncul. Matanya langsung terfokus dengan gandengan Risa terhadap Juni.


"Mel!" Juni menarik tangannya dan segera berjalan menghampiri Amelia. Alhasil Risa pun terpaksa mengikuti dari belakang.


"Maaf aku nggak sempat lihat audisi kamu ya," kata Amelia lembut.


"Nggak apa--"


"Tenang aja Mel, ada aku kok tadi yang selalu support Juni." Risa menyilangkan tangan di dada, dia memotong kalimat yang hendak dilontarkan Juni. Namun Amelia hanya terdiam dan menatap Risa sinis.


"Uhuk! uhuk!" batuk Risa kembali pecah. Membuat Juni langsung menoleh ke arahnya.


"Aku duluan saja!" ujar Risa, lalu langsung beranjak pergi dari hadapan Juni dan Amelia.


"Ris!"


"Jun!" Amelia mencegah Juni yang ingin melangkahkan kaki untuk mengejar Risa.


"Sepertinya dia ingin sendiri," ungkap Amelia sambil menunjuk ke arah Risa dengan dagunya.


"Aku rasa dia sedang sakit," balas Juni yang perlahan menundukkan kepala.


"Sehat begitu kok dibilang sakit!" Amelia sedikit terkekeh. "Bicara tentang sakit. . . ayo temani aku ke rumah sakit menjenguk ibuku!" lanjut-nya sembari menggenggam jari-jemari Juni.


"Rumah sakit?" gumam Juni yang terdiam sejenak. "Tunggu, sekalian bareng Risa ya. Dia tadi mau membuktikan sesuatu padaku." Juni melepaskan tangan Amelia dan segera berlari mengejar Risa. Amelia yang melihat, hanya bisa menerima dengan hati kesalnya.


"Risa!" pekik Juni kepada sahabatnya yang tengah memegangi gawai-nya. Gadis tersebut sontak berbalik untuk melihat lelaki yang telah memanggilnya.


"Juni?" Risa tersenyum tipis. "Ya elah! baru ditinggal bentar sudah kangen!" ujar Risa dengan percaya diri.


"Bukan begitu, aku dan Amelia akan ke rumah sakit. Karena itu aku ingin mengajakmu sekalian." Juni menampakkan raut wajah serius.


"Oh! bilang dong dari tadi, soalnya aku nggak mau jadi nyamuk terus!" sahut Risa sambil ikut melangkah bersama Juni.


Amelia sudah terlihat berdiri di depan mobil. Sedari tadi wajahnya tampak cemberut.


"Ayo!" kata Juni.


"Tunggu!" Amelia mencegah Juni memasuki mobil. "Ris, kamu masuk duluan saja ya ke mobil!" tambah-nya lagi.


"Oke!" jawab Risa singkat, dia menatap Amelia dengan sudut matanya.


"Kenapa Mel?" tanya Juni dengan dahi yang mengernyit.


"Kenapa? kau tanya padaku kenapa? aku yang harusnya menanyakan itu Jun!" nafas Amelia mulai naik turun, dia pun kembali melanjutkan, "akhir-akhir ini kau banyak menghabiskan waktu dengan Risa dibandingkan aku. Jangan bilang kau sudah menyuka--"


"Jangan bicara yang tidak-tidak! andai aku menyukainya, mungkin hingga sekarang aku tidak akan mempertahankanmu. Toh aku harus bagaimana Mel? rumah Risa berada di sebelah rumahku, bahkan kelasnya tepat di samping kelasku. Bagaimana aku bisa menghindarinya?" jelas Juni seraya memegangi kedua bahu Amelia.


"Benarkah kau tidak menyukainya?" Amelia mulai mempercayai perkataan sang kekasih.


"Iya!" Juni mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Terus kenapa kau bersikeras membawanya ke rumah sakit?" tanya Amelia serius.


"Hanya ingin memastikan sesuatu. Bukankah kau juga merasa kalau perilaku Risa sangat berbeda dengan dahulu?" imbuh Juni sembari menyenderkan badannya ke mobil.


"Iya, dia sangat berbeda, tapi apa hubungannya dengan rumah sakit?" Amelia berbalik tanya.


"Ya kalau dia sedang sakit, berarti itulah alasan dia bersikap bar-bar!" balas Juni yang terlihat khawatir.


"Haiiss! kau ada-ada saja Jun, aku yakin Risa sehat kok!" ujar Amelia, lalu masuk ke dalam mobil.


"Kalian lama banget sih, aku hampir muntah tahu!" sindir Risa kepada dua sejoli yang baru masuk.


"Maaf ya Ris kalau kami lama." Amelia memberikan senyuman untuk Risa. Namun tidak di balas oleh sang gadis berambut merah muda.


"Sebelum ke rumah sakit kita beli sesuatu dahulu ya!" ungkap Juni, yang segera mendapatkan anggukan malas dari Risa. Namun mendapatkan senyum manis dari Amelia.


Di perjalanan, Amelia sengaja menunjukkan kemesraannya kepada Juni. Dia menyuapi camilan keripik kentang kepada sang kekasih. Bahkan Juni pun tampak menikmati momen tersebut.


"Jun, kalau aku terbukti sehat kau pokoknya harus tepati janjimu ya!" celetuk Risa yang segera membuat Amelia menatap Juni dengan binar getir.


'Astaga, topengnya tebal sekali.' kesal Risa dalam hati seraya meringiskan wajahnya.


"Janji? aku aja nggak tahu Mel!" Juni mengerutkan dahi.


"Iya, jangan dipikirkan!" balas Risa dengan dengusan kasarnya, dia sudah malas memperpanjang percakapannya dengan Amelia.


***


"Gimana Dok? teman saya sehat kan?" Juni sengaja bertemu langsung dengan dokter yang memeriksa Risa untuk memastikan.


"Sehat kok, dia cuman terkena batuk tidak berdahak. Gara-gara makanan yang manis-manis nih pasti!" dokter yang bernama Andi itu menunjuk ke arah Risa.


"Dok, semuanya gara-gara dia. Soalnya tempo hari dia memberikanku kue!" Risa berkilah seraya menunjuk ke samping, tepat dimana Juni berada.


"Apa?" protes Juni dengan tatapan tajamnya pada sang sahabat. Lantas Risa pun hanya bisa tertawa geli. Selanjutnya mereka keluar dari ruangan dokter.


"Amelia mana?" tanya Risa dengan kepala yang celingak-celingukan.


"Dia di kamar ibunya lah!" sahut Juni.


"Santai dong nyahutnya." Risa merangkul pundak Juni. "Aku kan sudah terbukti sehat nih, berarti kita--"


"Mel!" panggilan Juni kepada kekasihnya berhasil membuat wajah Risa menjadi cemberut. Gadis tersebut terpaksa harus melepaskan rangkulannya.


Kala itu Amelia memperkenalkan Juni dan Risa kepada ibunya yang sedang terbaring lemah. Kamarnya lumayan sempit, dan membuat orang yang membesuknya kesusahan untuk duduk dan berbincang.


'Kasihan juga ya Amelia, hidupnya ternyata lumayan susah. Aku merasa jadi orang jahat. Hais! kenapa aku jadi lemah begini. Sumpah deh! aku nggak bisa melihat orang yang menderita secara langsung di depan mataku.' gumam Risa dalam hati, yang dilanjutkan dengan helaan nafas.


"Jun, kau dan Risa pulang saja gih. Aku masih ingin di sini!" ucap Amelia dengan nada pelan.


"Beneran tidak apa-apa Mel?" tanya Risa untuk memastikan.


"Iya Ris!" jawab Amelia dengan tatapan tajamnya, yang seketika membuat Risa menyunggingkan mulutnya ke kanan.


"Ya sudah kalau begitu, kami pulang duluan. Soalnya habis ini aku harus kerja." Juni menepuk pundak kekasihnya lembut. "Jaga diri dan ibumu ya!" lanjut-nya lagi dengan cara berbisik. Setelahnya Juni dan Risa pun langsung berpamitan.


"Jun, kau lupa dengan janji yang aku lontarkan beberapa jam yang lalu?" Risa kembali mengungkit perihal kencan. Dia dan Juni sudah berada di dalam mobil.


"Apa Ris?" Juni mengernyitkan dahi.


"Kamu lupa ya? atau memang sengaja tidak ingat?" Risa ikut mengerutkan dahinya. Gadis itu terdiam sejenak, dan perlahan matanya mulai berembun.


"Eh? kamu nangis Ris?" Juni mencengkeram lembut lengan Risa. Namun langsung mendapatkan tepisan.


"Nggak usah sok peduli monyet!" tukas Risa seraya menghapus air mata yang sedikit menetes di pipi.


"Ya sudah, apa maumu?" imbuh Juni sambil menghentikan mobil ke tepi jalan. Sepertinya dia ingin berbicara serius dengan Risa.


"Kalau terpaksa nggak usah lah!" Risa membuang muka dari Juni dengan ekspresi jengkelnya.


"Ayolah Ris, kenapa jadi baperan sih kamu?" keluh Juni yang meringiskan wajah. Dia sebenarnya sudah lelah menghadapi kelakukan sahabatnya yang menjadi-jadi.


"Idih! kalau cewek jatuh cinta ya baperan lah!" ucap Risa dengan wajah cemberut.


Juni mendengus kasar sejenak. "Oke, ayo kita berkencan!" ungkap Juni tiba-tiba.


"Nggak terpaksa kan tuh?"


"Nggak, anggap saja bayaran untuk hasil pemeriksaan tadi, tapi aku juga punya syarat!"


"Apa?" Risa menatap serius.


"Aku hanya akan melakukannya sekali ini!" tegas Juni menatap datar ke depan.


"Oke. . ." sahut Risa dengan lirihnya.


"Tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang. Kau tentu kan saja harinya!" tutur Juni seraya kembali menjalankan mobil.


'Wah! tidak sia-sia aku mengambil kelas teater sebagai mata kuliah tambahan,' ucap Risa dalam hati, lalu mengukir senyum simpul.


[Epilog Spesial Bab 39]


Saat Risa tidak sengaja batuk di hadapan Juni dan Amelia. Dia bergegas mencari tempat yang jauh dari keramaian, dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dia segera menghubungi seseorang dengan panggilan telepon.


Risa : Dokter Andi?


Dokter Andi : Risa? apa ada sesuatu yang terjadi? (dengan nada khawatir)


Risa : Aku baik-baik saja, tetapi aku butuh bantuan!


Dokter Andi : Bantuan?


Risa : Berbohonglah demi diriku, tapi ini untuk jaga-jaga saja. Takut dia tiba-tiba membawaku ke rumah sakit.