The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 22 - Perceraian



Risa melangkahkan kaki untuk menuruni tangga. Muncul secercah harapan kala itu di hatinya. Gadis tersebut berprasangka kalau sang ayah dan ibu telah memiliki hubungan yang harmonis lagi.


"Mah! apa..." Risa langsung menjeda kalimatnya, saat melihat makanan sudah terusun rapi di meja. Sang ayah bahkan tampak tersenyum begitu lembut.


"Wah, ada apa nih! kok tumben banget bisa ngumpul!" seru Risa sembari duduk di kursi dekat ayahnya.


"Sudah nanti saja ngomongnya, lebih baik kita nikmati hidangannya dahulu..." ujar Anggun.


"Oh iya, Ayah sama Mamah nggak kelihatan melayat ke rumah Juni, padahal mereka kan sudah di anggap seperti keluarga sendiri," ucap Risa sambil menatap Bayu dan Anggun secara bergantian.


Bayu tersenyum dan berkata, "Kami tidak sempat Ris, ada hal yang harus diselesaikan lebih dulu, tetapi Ayah sudah mengirim karangan bunga untuk Fadli... Ayah tidak menyangka dia bisa pergi secepat itu..."


"Iya, Juni sangat terpukul dengan kepergian ayahnya..." imbuh Risa yang perlahan menampakkan raut wajah sendunya.


"Sudahlah... Ibu yakin Juni adalah anak yang kuat," Anggun menyahut dengan nada pelan.


Kala itu, ada satu hal yang mencuri perhatian Risa. Sedari tadi gadis tersebut berhasil memergoki kecanggungan antara ayah dan ibunya. Ekspresi kedua orang tuanya terlihat tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Kling!


Risa menghempaskan sendok dan garpu di meja makan, perlahan mulutnya mengukir sebuah seringai. "Oh... sepertinya aku salah paham! aku pikir kalian sudah berbaikan. Jadi... Ayah dan Mamah ingin membicarakan perihal apa? jujur saja! tidak perlu bertele-tele!"


"Risa... kami..." Anggun masih merasa enggan untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Kami... akan bercerai!" sambung Bayu, saat itu dia tidak berani menatap raut wajah sang anak.


"Oh... jadi acara makan malam ini sebenarnya cuman akal-akal kalian ya, hmmm... ide yang bagus!"


"Jadi begi..."


"Tunggu! aku... setuju dengan perceraian kalian. Lagi pula aku sudah menduga hal ini akan terjadi, jadi aku sama sekali tidak terkejut!" Risa menyela ucapan Anggun.


"Maafkan kami Risa..." ujar Bayu sembari berusaha mengelus pundak anaknya dengan pelan. Tubuh Risa hanya bisa mematung, sebenarnya dia berusaha keras membendung air mata yang memaksa untuk menetes.


"Kamu harus pilih mau ikut siapa sayang?" tanya Anggun menatap Risa dengan nanar.


"Bukankah Mamah sudah tahu jawabannya?" sahut Risa sembari menggertakkan giginya. Terbayang kesalahan sang ibu yang sering mabuk-mabukkan dan membawa lelaki asing saat pulang ke rumah.


"Aku memang salah! dan sangat tahu kalau kamu akan lebih memilih Ayahmu dibandingkan aku. Tetapi aku ini juga ibumu Ris..." perlahan mata Anggun mulai berembun, lalu menetes di pipinya. Risa memutar bola matanya, hatinya benar-benar merasa kesal.


'Di saat keadaan begini barulah dia menangis untukku. Bagaimana tidak? dia pasti tidak ingin hidup sendirian! kenapa baru sekarang Mamah sadar?' ucap Risa dalam hati.


"Mah! bukannya Mamah lebih suka bersenang-senang sendirian?... sebenarnya, Ayah juga sih! aku juga penasaran kenapa Ayah tidak pulang selama sebulan lebih!" timpal Risa, yang sekarang menatap tajam ke arah sang ayah. Namun Bayu tampak terdiam dan menundukkan kepala, seakan dia tidak mampu merespon pertanyaan dari Risa.


"Aku sangat ingin hidup sendirian tanpa kalian, tetapi... aku tahu kalau tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jadi, tentu aku akan memilih..." ucap Risa yang di akhiri dengan lirih.


"Ikut sama Mamah ya sayang... Mamah janji akan berubah!" mohon Anggun pada putri semata wayangnya.


"London? Risa, kalau kamu tinggal di sana berarti akan berpisah dengan Juni kan? apa kamu mampu meninggalkan sahabatmu dan Mamah?" kali ini Anggun memohon dengan duduk di dekat Risa sambil meneteskan linangan air mata.


Sebenarnya Risa merasa tidak tega melihat sang ibu menangis. Jujur saja, sejak kecil gadis itu memang lebih dekat dengan ayahnya.


"Ayah! aku akan ikut ke London!" kata Risa, yang sontak membuat Anggun membulatkan mata. Wanita paruh baya itu merasa sangat kecewa dengan pilihan putri semata wayangnya. Pembicaraan berakhir kala Risa berdiri dan segera beranjak pergi ke dalam kamarnya.


Risa menghempaskan badannya ke kasur dan menghela nafas kasar. Dia merasa kalau dia telah memilih opsi yang tepat. Toh sekarang Juni sedang tidak peduli lagi padanya.


'Mungkin dengan pergi jauh dari sini, hidupku akan menjadi lebih baik' gumam Risa dalam hati, matanya terpejam untuk membawa jiwanya lebih tenang.


***


Beberapa hari telah berlalu, Juni yang mulai terlihat agak kurus bersiap untuk pergi ke sekolah.


Setelah hampir dua minggu dia menutup dirinya dari siapapun. Akhirnya kembali melanjutkan kehidupannya seperti biasa.


Kali ini Juni lebih pendiam dari biasanya, membuat Agus dan Irfan mulai merasa canggung untuk mengajaknya bercanda. Senyum yang diberikan lelaki itu pun selalu kecut. Meskipun begitu, ada satu hal yang membuat Juni penasaran saat pergi ke sekolah.


'Risa? dimana dia, sudah lama dia tidak terlihat. Apa dia masih marah padaku, gara-gara aku membiarkannya kehujanan?' benak Juni bertanya-tanya seraya terus menoleh ke bangku kosong milik Risa.


Awalnya Juni menganggap ketidakhadiran Risa hanya hal biasa. Tetapi setelah melihat sahabatnya itu sudah absen lebih dari tiga hari, barulah Juni merasa khawatir.


"Fan, aku boleh tanya?" sapa Juni untuk yang pertama kali, setelah sekian lama terus mendiamkan semua orang.


"Akhirnya kau bicara juga! aku kira kamu sudah bisu Jun!" sarkas Agus menatap Juni dengan sinis.


"Udah ah!" tegur Irfan sembari menepuk pelan lengan Agus.


"Tanya apa Jun?" ujar Irfan dengan pose mengangkat dagunya.


"Tunggu! biar aku tebak! pasti kamu mau tanya tentang Risa kan?" terka Agus sambil menyilangkan tangan di dada. Alhasil Juni pun merespon dengan menganggukkan kepala.


"Oh itu... jadi kamu masih belum tahu Jun?" ucap Irfan heran, dia tidak habis pikir dengan Juni.


"Sudah aku duga!" celetuk Agus.


"Risa katanya pindah ke London Jun, kata Pak Diwan orang tuanya bercerai," jelas Irfan pelan.


Deg!


Jantung Juni serasa di sambar petir, matanya membulat sejenak. Sekarang dia berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju toilet. Juni berusaha tenang, karena lagi-lagi dirinya tidak bisa membendung air mata yang ingin menetes.


'Bagaimana bisa aku tidak tahu! apa yang telah aku lakukan... Risa, kenapa kau tidak pernah bilang padaku? apa benar aku memang sahabat sejatimu? tetapi kenapa kau tutupi semua masalahmu dariku. Aku benar-benar merasa sangat kecewa, sedih dan marah!' Juni mengeluh dari dalam hatinya.


Akhirnya lelaki tersebut hanya bisa menangis dengan perasaan yang berkecamuk. Kekalutan yang sedang dia rasakan semakin bertambah kala mengetahui kepergian sang sahabat.